29.6.14

Soal Berlari

Seingatku, dari kecil, aku selalu senang berolahraga. Kenangan masa kecil membawaku ke permainan kasti dan menjadi salah satu olahraga yang pertama kali aku kenal (kecuali kalau bermain layangan dan mengejar kapakan dianggap olahraga). Kemudian sebagai anak Indonesia, pasti mencoba bulutangkis. Belajar berenang sendiri dengan modal lihat kiri kanan dan sedikit nekat. Bermain basket dan voli yang memang merupakan pelajaran sekolah. Mendaftarkan diri untuk mengenal karate. Berlatih tenis dan tidak pernah berhasil (tampaknya ini jadi salah satu olahraga yang tidak akan pernah bisa aku kuasai). Mengambil mata kuliah softball yang merupakan impian  kecil. Ikut aerobik termasuk berbagai jenis trend yang ada di dalamnya. Setelah bekerja, baik di Bandung maupun di Jakarta, mulai mengenal gym. Di tahun 2011 untuk pertama kali mencoba yoga.

Betul juga, selalu senang berolahraga walaupun tidak pernah secara serius berlatih. Apa yang aku maksud dengan serius adalah berolahraga dengan pelatih, masuk klub dan semacamnya.  Eh, karate tidak bisa sendiri sih.

Bukan berarti hari-hari aku selalu penuh dengan latihan. Aku bisa bilang secara umum aku berolahraga seminggu sekali atau dua kali. Di antara itu, selalu ada bulan-bulan dimana aku tidak berolahraga sama sekali. Ini semakin parah ketika aku bekerja penuh waktu, kerja kantoran.

Sampai tahun lalu, aku jatuh sakit. 

Sungguh menyebalkan sekali harus beristirahat total sampai sekian lama. Berat badan yang menggila setelah sakit dan keinginan untuk menjaga kesehatan lebih baik membuat aku bertekad untuk kembali rutin berolahraga.

Aku memilih berlari. 

Apakah aku mengikuti trend saat itu? Bisa jadi. Ada beberapa sahabat yang sudah berlari, baik baru mulai maupun yang sudah beberapa tahun berlari. Update status dari mereka menjadi dorongan sendiri. Aku nekad untuk mengikuti lari 5 kilometer dengan persiapan hanya 2 minggu. Aku pikir, kalau kepepet toh aku selalu bisa berjalan kaki. Pertimbangan lain adalah minimnya alasan untuk mangkir lari. Kalau untuk ke gym, aku harus mempertimbangkan waktu dengan baik. Dengan perjalanan ke gym, parkir dan mandi, setidaknya butuh 2,5 jam untuk berolahraga di gym. Berlari hanya membutuhkan sepatu olahraga. Kebetulan area sekitar tempat tinggal aku cukup bersahabat untuk lari, baik pagi maupun sore. Tidak ada biaya bulanan, tidak perlu personal trainer, dan hanya butuh 20-30 menit untuk melakukan itu semua. Bukan itu saja, kalau aku harus melakukan perjalanan dinas, aku tetap bisa berlari hanya bermodal sepatu olahraga itu. 

Awalnya, aku ingin bisa melakukannya setiap hari tetapi akhirnya aku bertahan di 2-3 kali seminggu. Aku beruntung, ada kawan-kawan kantor yang berminat lari sekali setiap minggu. Kalau bosan, aku masih bermain bulutangkis dan berenang serta yoga sesekali.

Kebiasaan ini sudah berjalan lebih dari 1 tahun, tepatnya 13 bulan. Aku kehilangan sejumlah kilogram. Bangun pagi yang lebih segar dan terutama mood-swing yang tidak terlalu parah. 

Tetapi, ini semua adalah sebuah perjuangan tersendiri buat aku. Setiap harinya. Lebay? Begitulah.

Bulan Juni ini, ritme di kantor berubah. Aku tidak begitu berhasil beradaptasi dengan ritme baru dan ini menjadi sebuah alasan dan pembenaran yang kuat untuk membuat aku menghindari lari. Ah, memang aku ini jago buat pembenaran sih. Ditambah hujan yang bisa datang pagi dan malam, alasan menjadi semakin bertambah. Tiap pagi aku mau lari, tapi juga tiap pagi aku bisa menemukan 1001 alasan untuk tidak berlari. Tiga minggu dan badanku sakit semua. 

Kemarin aku mencoba berlari. Saat itu, aku berpikir ini sudah terlalu siang. Biasanya, jam 6 aku sudah siap lari. Pagi itu, jam menunjukkan pukul 7. Kemudian, aku melakukan apa yang selalu aku lakukan ketika sejuta alasan muncul di kepala. Aku bilang diriku sendiri untuk maju satu satu. "Oke deh, gak lari, tapi bangun yuk." Kemudian pelan-pelan mengganti pakaian. Sampai akhirnya, biarpun masih bimbang antara lari atau tidak, aku memutuskan memakai sepatu. Dan, aku berlari.

Aku bukan pelari cepat dan bukan pelari jarak jauh. Aku hampir tidak berlari lebih dari 30 menit dan dengan pace yang hampir selalu masuk kategori jogging. Barangkali, aku ini tepatnya pencari endorphine. Aku selalu merasa lebih baik setelah berlari.  

Ini merupakan hal yang sulit aku tulis tanpa kemudian pesannya disalahartikan sebagai sebuah kesombongan. Perjuangan untuk menulis cerita ini. Sesungguhnya, aku tidak tahu apakah minggu depan aku masih bisa mempertahankan kebiasaan ini. Buat aku, untuk bisa konsisten merupakan perjuangan tersendiri, tetapi aku berharap aku bisa memenangkan sebagian besar peperangan batin yang selalu ada. Tidak selalu tetapi sebagian besar, itu sudah lebih dari cukup.

Pada akhirnya, ini bukan soal berlari lagi, ini soal mencoba memenangi pertarungan di dalam diri sendiri atas apa yang perlu aku lakukan.