4.1.14

Selamat Ulang Tahun, Di


Dia ini adik bontot. Namanya juga anak bontot, manja dan ketergantungan sih jelas ada. Jangan salah, bukan hanya dia yang dengan mudah mengandalkan kakak-kakaknya tapi sebetulnya kami ini yang juga tergantung dia. Dari kecil, dia ini yang paling sering disuruh-suruh. Aku tidak bisa mengingat semuanya, satu diantaranya adalah urusan bolak balik ke warung dekat rumah.

Waktu dia akan lahir, ayahku sedang belajar di luar Indonesia. Dia ini terlalu cepat keluar. Aku hanya ingat bagaimana rumah menjadi ramai. Malam itu, aku diungsikan ke kamar paling belakang dengan kebingungan luar biasa. Malam itu juga, aku kemudian ikut ibuku ke rumah sakit, menunggu persalinan. Dia keluar dengan perjuangan luar biasa dari ibuku.

Dia ini menghabiskan 12 bulan pertama dengan bolak balik jatuh baik itu dari tempat tidur maupun kursi. Dia juga yang bolak balik menghabiskan waktu di rumah sakit. Nasibnya, sejak hari pertama sudah akrab dengan berbagai selang infus.

Sekarang, tinggi besar dan tidak ada sisa-sisa bayi yang sering jatuh dan opname.

Untuk dia, makan adalah nasi. Tidak perlu repot memikirkan makanan berkelas macam-macam. Daging babi sudah lebih dari cukup. Tidak sulit kalau tidak punya keinginan makanan yang macam-macam.

Urusan makan memang merupakan satu hal yang paling menonjol tapi bukan satu-satunya. Dia juga senang bernyanyi. Sesekali masih harus dipaksa tapi toh akan tetap dia nyanyikan juga. Senang sekali bisa mendengar dia bernyanyi.

Buat aku, dia ini memang yang paling perasa. Kadang-kadang keterlaluan, terlalu memakai rasa baik itu sedih, kecewa maupun marah. Tidak jarang, ini membuat dia dapat dengan mudah bersimpati kepada sekitarnya. Beruntunglah kalau memang menjadi orang yang dia perhatikan.

3 Januari adalah hari kelahirannya. Selamat ulang tahun, Di. Semakin bijak, semakin kaya pengalaman.