24.1.14

Selamat Ulang Tahun

Dia adalah lelaki yang selalu sendiri dan terbiasa sendiri. Anak tunggal. Bapak dan Emak sudah lama pergi terlebih dulu. Kasih keduanya ketika masih hidup tercurah hanya padanya. Penuh. 

Biarpun tampak selalu sendiri, sesungguhnya dia adalah orang yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Sebisa mungkin, akan selalu berbuat sesuatu untuk orang lain. Terkadang urusan orang lain ini bisa mengambil porsi paling besar dalam pikiran dan hatinya. Terutama ketika hal tersebut melihatkan orang-orang yang tidak bisa memperjuangkan dirinya, orang-orang yang dengan keterbatasan dalam berbagai artiannya. 

Bekerja baginya adalah menghasilkan karya dari hati. Bentuknya bisa sangat beragam. Tidak heran kalau hasil kerjanya pun beragam. Jika sudah bekerja, maka seluruh perhatian akan tertuju pada satu hal tersebut. Pagi, siang dan malam tidak memiliki arti apapun. Selama masih ada energi, pekerjaan itu akan dilakukan sampai selesai tuntas.

Jam kerja tidak beraturan. Jam makan pun demikian. Sesuatu yang awalnya sulit aku pahami. Untuk urusan makan, prinsipnya sederhana sekali. Lapar ya makan. Tidak ada jam makan. Kalau tidak lapar berarti tidak perlu makan.

Dalam banyak hal, prinsip yang dia pegang sederhana saja. Isi otaknya? Tidak melulu sederhana. Ada begitu banyak hal yang bisa dibahas, dianalisis dan juga dikerjakan. Bersamanya memang selalu ada yang bisa dikerjakan. Bersamanya juga aku bisa menikmati diam. 

Tindakan yang dia ambil seringkali diartikan berbeda. Tidak masalah. Interpretasi bisa dilakukan secara bebas oleh siapa saja. Isi hati dan pikiran, tetap milik dia seorang. 

Selamat ulang tahun. Kebahagiaan luar biasa adalah aku bisa ikut menikmati hari-harimu. Doaku bagi mimpi-mimpi yang tengah dan masih akan diwujudkan. 

4.1.14

Selamat Ulang Tahun, Di


Dia ini adik bontot. Namanya juga anak bontot, manja dan ketergantungan sih jelas ada. Jangan salah, bukan hanya dia yang dengan mudah mengandalkan kakak-kakaknya tapi sebetulnya kami ini yang juga tergantung dia. Dari kecil, dia ini yang paling sering disuruh-suruh. Aku tidak bisa mengingat semuanya, satu diantaranya adalah urusan bolak balik ke warung dekat rumah.

Waktu dia akan lahir, ayahku sedang belajar di luar Indonesia. Dia ini terlalu cepat keluar. Aku hanya ingat bagaimana rumah menjadi ramai. Malam itu, aku diungsikan ke kamar paling belakang dengan kebingungan luar biasa. Malam itu juga, aku kemudian ikut ibuku ke rumah sakit, menunggu persalinan. Dia keluar dengan perjuangan luar biasa dari ibuku.

Dia ini menghabiskan 12 bulan pertama dengan bolak balik jatuh baik itu dari tempat tidur maupun kursi. Dia juga yang bolak balik menghabiskan waktu di rumah sakit. Nasibnya, sejak hari pertama sudah akrab dengan berbagai selang infus.

Sekarang, tinggi besar dan tidak ada sisa-sisa bayi yang sering jatuh dan opname.

Untuk dia, makan adalah nasi. Tidak perlu repot memikirkan makanan berkelas macam-macam. Daging babi sudah lebih dari cukup. Tidak sulit kalau tidak punya keinginan makanan yang macam-macam.

Urusan makan memang merupakan satu hal yang paling menonjol tapi bukan satu-satunya. Dia juga senang bernyanyi. Sesekali masih harus dipaksa tapi toh akan tetap dia nyanyikan juga. Senang sekali bisa mendengar dia bernyanyi.

Buat aku, dia ini memang yang paling perasa. Kadang-kadang keterlaluan, terlalu memakai rasa baik itu sedih, kecewa maupun marah. Tidak jarang, ini membuat dia dapat dengan mudah bersimpati kepada sekitarnya. Beruntunglah kalau memang menjadi orang yang dia perhatikan.

3 Januari adalah hari kelahirannya. Selamat ulang tahun, Di. Semakin bijak, semakin kaya pengalaman.

2.1.14

Let It Go: Lepaskanlah.


Let it go, let it go, can't hold it back any more.

Bagaimana kehebohan peralihan tahun buatmu? Semeriah pesta rakyat di Bundaran HI Jakarta atau Pesta Lampion di Bandung? Berlibur ke Bali atau Singapore dan bersama-sama orang tersayang ikut menghitung peralihan waktu dari 2013 ke 2014? Berkumpul bersama keluarga sambil berbeque di halaman belakang rumah? Atau barangkali seperti aku, melewati waktu tersebut sebagaimana tengah malam lainnya: tidur?

Ada yang berpendapat bahwa malam tahun baru adalah malam biasa sebagaimana malam lainnya dan tidak perlu ada keriaan khusus untuk itu. Pendapat ekstrim lainnya, merayakan tersebut bisa menyalahi aturan agama. Ada yang mengatakan berbagai pesta rakyat adalah pemborosan. Hmmm, aku sendiri baru tahu kalau kembang api itu harganya mahal sekali. Bakar uang katanya. 

Menurutku, setahun sekali melepas segala beban adalah penting. Berkumpul dengan berbagai orang yang tidak saling mengenal tetapi toh bisa sama-sama punya satu tujuan, menikmati malam tahun baru bersama dengan damai, saling melempar senyum dan tawa. Di Jakarta, hidup sehari-hari sudah penuh stress dan kenapa tidak, sekali setahun semua itu dilepas walaupun untuk sementara. 

Standing frozen
In the life I've chosen
You wont find me
The past is in the past
Buried in the snow

Memang tidak ada keharusan merayakan pergantian tahun. Betul, hanya sebuah malam lain. Satu dari 365 malam lainnya. Tidak perlu diistimewakan.

Kali ini, aku ingin membuatnya berbeda. Iya sih, aku melewatinya di dalam mimpi yang tidak bisa lagi aku ingat. Tidur 8 jam yang membuat aku segar. Tetap saya, boleh dong aku menjadikannya sebuah momen untuk sesuatu yang berbeda, yang baru, yang membuat langkahku tidak sepenuhnya "bagaimana nanti". 

Di awal 2010, aku membuang barang-barang tidak berguna. Tahun ini, aku ingin membuang bukan sekedar barang fisik tetapi hal-hal yang tidak berguna yang memperlambat langkah, yang membuat aku bolak balik melihat ke belakang, yang membuat aku tidak yakin untuk maju lebih cepat. Aku berharap ini membuat aku bisa melangkah lebih ringan.

Aku bukan tipe pembuat resolusi, apalah arti itu semua? Hidup bukan sebuah cetak biru yang sudah disusun sedemikian rupa. Dijalankan dengan sepenuh hati tetapi tidak dikemudikan dengan berbagai target. Sialnya, aku mendapat sebuah pertanyaan yang mengusik yang membuat aku berpikir, apakah ini semata cara untuk tidak punya ekspetasi sehingga aku tidak perlu kecewa?

Jadi, aku memutuskan melepas ragu dan kekuatiran tersebut. Aku menggambarkan mimpi-mimpi itu lagi. Kali ini aku berjalan dengan langkah lebih ringan, mudah-mudahan.


It's time to see what I can do
To test the limits and break through
No right, no wrong, no rules for me,
I'm free!