13.9.13

Zona Nyaman

Sudah paling benar kalau bisa bermalas-malasan di rumah. Cukup mengenakan kaos kebesaran dengan celana pendek, duduk manis di sofa sambil membaca buku atau menonton televisi. Ada cukup makanan dan minuman. Lebih asik kalau itu dilakukan setelah bekerja seharian dan di luar sedang ada hujan deras.

Nyaman.

Itu adalah salah satu posisi wenak yang semakin jarang bisa aku lakukan. Walhasil, itu menjadi kenyamanan yang mahal. 

Naik pesawat lebih dari 10 jam jelas lebih nyaman kalau bayar lebh mahal untuk mendapatkan ruang duduk lebih lebar dan bahkan bisa tidur terlentang di pesawat. Naik taksi yang tentu saja lebih mahal ketimbang naik angkutan umum yang belum tentu datang sesuai waktu dan tanpa air conditioner. Membayar lebih supaya bisa masuk jalan tol supaya bisa lebih nyaman mengendarai. Errr, sepertinya contoh yang terakhir tidak bisa terjadi di Jakarta ya.

Bisa jadi bisa merasa nyaman memang selalu menjadi sesuatu yang mahal. Ada harga yang harus dibayar. Bekerja keras setiap hari untuk memperoleh kenyamanan, begitu keras terkadang bahkan tidak tahu kenyamanan seperti apa yang dicari. Ya, harga yang harus dibayar tidak melulu identik dengan nilai nominal yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan kenyamanan. 

Kalau itu adalah pekerjaan dan kegiatan sehari-hari, kenyamanan itu menyenangkan. Aku tahu pasti apa yang harus dilakukan - tidak berarti dapat melakukan secara sempurna tetapi segala sesuatunya akrab dan tidak menyulitkan. 

Setelah berusaha sedemikian rupa untuk merasa nyaman, bukankah saatnya untuk menikmati itu semua? 

Pertanyaaannya kemudian, jika pelajaran sering sekali diperoleh dari banyak tidak tahu apakah kemudian seseorang masih bisa terus belajar ketika segala sesuatu mulai terasa akrab dan cukup diketahui? 


No comments:

Post a Comment