31.8.13

Belajar Membangun Percakapan

Berbagai applikasi media sosial memberi kemudahan untuk berinteraksi dengan banyak orang yang tidak melulu ada dalam satu tempat. Buat aku, interaksi dengan orang-orang yang berada jauh dan seringkali belum pernah aku temui secara fisik berawal dari blog. Friendster muncul dan memberi kesempatan untuk kembali terkoneksi dengan kawan-kawan. Gong besar adalah ketika ada Facebook. Awalnya hanya sedikit kawan bisa aku temui disana, apalagi kawan-kawan Indonesia. Jadi, di awal pertemanan ada beberapa orang yang tidak terlalu dikenal menjadi kawan untuk saling bermain.

Sekarang, semua sudah jauh lebih beragam. Aku sendiri pengguna twitter dan path, sesekali berbagi foto di instagram. Tidak melulu bercerita tentang diri sendiri atau bertukar kabar dengan kawan-kawan, lewat media tersebut aku bisa dapat berita terbaru, gosip seru, kebodohan yang menjadi bahan tertawaan bersama dan juga inspirasi.

Beberapa waktu lalu, di twitter, path dan facebook aku mendapat gambar ini. "No, we don't have wi-fi...TALK to each other!" Telak sekali. Dengan media sosial yang ada di ponsel masing-masing, satu hal pertama yang selalu ditanyakan  di restoran, cafe atau tempat baru lain adalah soal wi-fi dan password wi-fi. Aku masih mencoba memahami hal ini bagi kawan-kawan yang sedang berlibur dan perlu memberi kabar dengan cara murah dengan memakai koneksi wi-fi. Aku juga tahu ada kawan-kawan yang bekerja di luar gedung kantor dan membutuhkan koneksi internet untuk pekerjaan, entah itu untuk cek email atau memang pekerjaan tersebut baru bisa dilakukan dengan koneksi internet. Ada yang seperti itu. Saya berkeyakinan sebagian besar yang bertanya mengenai wi-fi ini tidak melakukan dua hal tersebut tetapi semata-mata untuk menjaga status di media sosial yang "up to date". Saya termasuk didalamnya. Pertanyaan ini semacam reaksi refleks ketika memasuki tempat baru.


Dengan maraknya media untuk bersosialisasi, apakah kita masih bisa membangun percakapan langsung? Ada orang yang seru di media sosial tetapi ketika ditemui langsung tidak ada komunikasi seru timbal balik. Basi.

Pertanyaan penting lain buat aku, apakah aku masih bisa membangun percakapan dengan orang-orang yang aku temui secara fisik, "face to face"? Apakah aku bisa memfokuskan diri kepada dia yang ada di depan mataku tanpa  harus menanggapi dorongan dari dalam diri sendiri untuk mencek ponsel dan apa yang terjadi di dunia luar sana? Apakah aku bisa menyimpan ponsel dan gadget lain untuk menikmati pertemuan yang sedang berlangsung? Atau jangan-jangan aku membutuhkan ponsel tersebut karena aku kebingungan mencari topik pembicaraan? Untunglah aku masih memiliki kawan-kawan yang bisa diajak bertemu dan berbicara ngalor ngidul kesana kemari, kadang sampai beberapa jam, tanpa harus meninggalkan kawan bicara untuk cek status. Well, terkadang aku masih melakukan satu atau dua lirikan ke ponsel tetapi mudah-mudahan tidak membuat lawan bicara merasa kesal karena itu.

Keterampilan membangun percakapan di media sosial tentunya berbeda dengan dunia nyata. Sama-sama harus diasah. Tetapi, kalau berbagai media itu dimaksudkan untuk menghubungkan kita dengan orang-orang yang sulit ditemui dalam dunia nyata, mengapa kita tidak memberi perhatian pada mereka yang ada dalam keseharian dunia nyata kita?