17.11.11

Libur yang Tertunda

Tahun ini penuh dengan liburan singkat di akhir pekan dan tahun depan aku berencana untuk libur panjang. Ini berarti perencanaan yang harus lebih panjang dan uang yang harus mulai disisihkan. Sebetulnya dua hal ini adalah hal kecil dibandingkan dengan urusan cuti. Aku berencana pergi bersama seorang sahabat, tapi dia pun ragu untuk menentukan tanggal apalagi untuk segera memesan tiket. 

Pagi ini, aku melihat sekumpulan foto Unieng di Gorontalo. I should have been there. Sebuah ide yang muncul di pertengahan tahun dan aku tunggu-tunggu dengan penuh rasa deg-degan. Maklum, saat rencana dibuat, aku belum tahu seperti apa jadwal di kantor. Akhirnya, aku tidak jadi kesana karena ada pekerjaan.

See, liburan menjadi sulit kalau sudah melibatkan urusan kantor.


Lain halnya dengan sebuah rencana liburan keliling-keliling Asia Tenggara di pertengahan 2008. Tiket sudah dibeli di awal tahun karena ada promo besar saat itu. Apapun yang terjadi, tiket sudah dibeli bukan? Aku sendiri ketar ketir tidak bisa berangkat tetapi permohonan cuti sudah disampaikan jauh-jauh hari. Hasilnya? Aku tetap berangkat dong! Maklum, tiket dan akomodasi sudah dibayar. Mana mau rugi bandar.

Tiga rencana perjalanan aku batalkan baru-baru ini: Gorontalo, Ujung Kulon dan Cirebon. Tidak ada rugi materi karena tidak ada tiket yang sudah terbeli. Walaupun begitu, ada rasa menyesal dan sebuah harapan untuk masih bisa melakukan liburan yang tertunda. 

Dipikir-pikir memang lebih baik langsung hajar saja beli tiket dan bayar akomodasi supaya lebih ngotot untuk berangkat ya?


Iya gak, sih?