14.11.11

Urusan Kantor

Baru sadar, aku menulis urusan kantor melulu ya. So much with work-life balance, I guess.

Ada permintaan untuk menulis yang lainkah? :)

Fresh Graduate

Masih teringat betapa geregetannya aku di masa awal bekerja setelah lulus kuliah. Bukan pekerjaan pertama, sih tetapi berbeda rasanya bekerja setelah benar-benar lulus. Itu memberikan sedikit perbedaan cara pandang bekerja. Setidaknya itu yang aku rasakan.

Lulus sebagai sarjana teknik dari kampus yang tidak jelek-jelek amat membuat aku punya berbagai mimpi. Ternyata, beberapa bulan pertama pekerjaan yang dilakukan lebih banyak berurusan dengan telepon dan telepon dan telepon! Buat janji ini itu, cek ini itu, cari data ini itu. Apa bedanya sih sama resepsionis? Sekolah capek-capek,kokujung-ujungnya hari-hariku dipenuhi dengan menelepon orang? Jangan tanya sulitnya seperti apa ya. Saat itu, telepon genggam belum sepopuler sekarang. SMS masih dibatasi oleh jenis provider. Terbayang kesalnya aku ketika orang yang harus dikontak tidak berada di tempat atau sulit dihubungi. Belum lagi telepon di kantor itu dipakai beramai-ramai dan aku harus berbagi dengan kawan-kawan lain.

Tugasku dan Yani - seorang kawan seperjuangan - antara lain adalah mempersiapkan catatan rapat dan pertemuan. Tugas yang terlihat mudah ini ternyata cukup tricky. Sekali waktu, kami hanya menuliskan kesimpulan rapat dan ternyata kami seharusnya menuliskan catatan rapat yang lengkap memberi informasi siapa mengatakan apa. Lain waktu kami menuliskan lengkap dan ternyata membuat ada salah paham karena sebetulnya keputusan rapat adalah B bukan A sebagaimana catatan kami yang memang verbatim. Ini "hanya" urusan menuliskan hasil rapat. Dalam hati, kenapa juga tidak menuliskan sendiri selama pertemuan ya?

Lama kemudian aku mensyukuri semua ini. Berada di posisi yang harus selalu siap disuruh apapun dan kapanpun, mulai dari urusan telepon sampai menuliskan catatan rapat, memudahkan pekerjaanku selanjutnya. Tahun-tahun pertamaku adalah tahun-tahun berharga aku yang tidak mungkin aku lupakan. Tahun-tahun pertamaku itu membentuk etos kerjaku hingga saat ini; melatih aku berkomunikasi dengan baik serta mempertajam bagaimana aku menangkap hal-hal di sekitarku.

Saat ini, ketika aku melihat mereka yang baru saja lulus bekerja, para fresh graduates itu, aku sering bertanya-tanya, apakah aku tampak seperti mereka ya? Kekagetan menghadapi tantangan di pekerjaan, kekesalan karena harus selalu siap sedia, kebingungan dalam membuat interpretasi terhadap tugas-tugas yang diberikan hanya sebagian kecil yang menjadi warna hari-hari para pekerja baru. Kekuatiran salah ucap dan memilih lebih banyak diam, sembari kemudian punya sejuta komentar yang siap diluncurkan di luar kantor di tengah kawan-kawan yang tidak bekerja sekantor. Ha! Aku ingat betapa besar energi aku untuk melakukan banyak hal bersamaan dan betapa aku sangat bersemangat setiap menghadapi hal-hal yang baru.

Saat ini, tidak sekali dua kali aku merasakan kesulitan untuk memperoleh apa yang aku harapkan dari para pekerja baru sekarang-sekarang ini, tetapi melihat ke belakang, aku pikir ini sebuah adalah bagian dari proses.Tampaknya, energi besar yang tampak selalu siap dipergunakan adalah hal paling aku rindukan dari menjadi alumni baru dan pekerja baru. Jadi, mari dikombinasikan sajalah.


ps: FB tidak akan lagi melakukan posting otomatis dari blog lagi nih, malas amat ya nulis di note dan di FB pada saat yang sama.