25.6.11

Kamera dan Foto

Aku senang mengambil foto. Entah sejak kapan. Kamera pertama yang bisa aku ingat adalah kamera tua milik papi. Entah produk dari mana. Berbentuk persegi panjang. Harus dikokang setiap mau ambil foto. Memakai film.

Kamera pertamaku adalah sebuah Nikon F90 atau F70 - aku tidak terlalu yakin soal seri. Bukan kamera baru, second-hand camera. Sekalipun barang bekas, harganya tidak murah. Dibelikan waktu aku kuliah karena beberapa pelajaran mengharuskan kami mengambil foto. Well, itu alasan mulia yang aku kasih. Alasan asli ya sekedar ingin punya kamera sih. Sayang sekali, kamera ini hilang begitu saja beberapa tahun lalu. Aku teledor sekali. Aku bisa ingat kapan terakhir kamera itu aku lihat di sekitar rumah, tapi kemudian tidak bisa ditemukan dimanapun. Tidak banyak foto yang bisa aku simpan dari kamera ini.

Setelah itu, aku beralih memakai kamera saku. Pilihanku adalah Canon. Masih pakai film. Saat itu, kesukaanku adalah memotret landscape. Bisa jadi ini bawaan dari kebiasaan jaman kuliah yang lebih sering memotret kawasan perkotaan, bangunan dan atau pemandangan suatu kawasan. Semua untuk kebutuhan melakukan rona wilayah. Aku ingat, aku suka sekali warna hijau yang dihasilkan kameraku. Sangat kuat. Semakin rajinlah aku mengambil gambar pemandangan. Kamera ini menyimpan berbagai kenangan di Rotterdam dan kota-kota lain di Belanda maupun negara sekitarnya. 

Lagi-lagi aku kehilangan jejak dengan kamera itu. Entah dimana. 

Pada satu saat, aku memutuskan untuk membeli Canon Ixus. Inilah kamera digital pertamaku yang selalu berada di tas dan aku bawa kemana-mana. Setiap ada kesempatan, aku mengambil gambar. Foto-foto di tulisan awal blog ini berasal dari kamera tersebut. Foto-foto yang kemudian banyak dipakai di tempat aku bekerja, juga berasal dari kamera tersebut. Sayang sekali, kamera ini pun harus aku relakan. Dia dijambret di bandar udara di Hanoi, Vietnam di pertengahan tahun 2008. Tidak kalah kesal, kamera itu berisi sekumpulan foto-foto perjalananku dan teman-teman di Kuala Lumpur yang diambil oleh Iman.

Memang pada saat aku kehilangan Ixus pertamaku, aku sudah memiliki Canon DSLR. Aku jadikan hadiah ulang tahunku di tahun yang sama. Niatku, dengan kamera ini aku akan lebih banyak mengambil foto dan terutama portrait. Aku merasa portrait punya tantangan tersendiri. Aku bisa terdiam lama melihat foto-foto wajah yang diambil dengan sangat bagus oleh pemotretnya. Mereka berbicara lebih dari 1000 bahasa. 

Ketertarikanku untuk mengambil kamera DSLR adalah saat aku sering memegang Nikon D70 yang dimiliki oleh dua orang kawan: Jimbong dan Mba Okol. Nikon D70 pertama kali aku pegang di Aceh, Mba Okol meminjamkannya padaku dalam banyak kesempatan. Rasanya luar biasa. Memegang dan memencet tombol "klik" dan pada saat itu juga momen tersebut terekam di dalam kamera. Aku merasakan sensasi tersendiri di tanganku dan senang luar biasa melihat foto-foto yang tersimpan. Jimbong meminjamkan kameranya padaku pada perjalanan kami ke Xiamen, China dan aku senang luar biasa untuk bisa memakai kamera itu. Rasanya ada begitu banyak hal yang bisa aku simpan melalui kamera tersebut.

Aku tidak pernah mendapatkan ilmu dasar fotografi. Dua tahun lalu, aku bersemangat untuk ikut kursus di tempat yang sama dengan Dinda - seorang kawan lain yang juga pemotret asik. Padatnya pekerjaan membuat aku menyerah dan tidak pernah jadi mengambil kursus. Karena itu, aku selalu menolak dibilang pemotret. Aku sesungguhnya buta dengan pengetahuan dasar seperti diagframa dan exposure. Well, aku tahu sangat sedikit sih. Sebagian besar, aku hanya memakai feeling. Modal dari pengalaman yang lalu membuat aku tahu beberapa aturan yang harus aku ikuti. Aku juga tidak lagi mahir untuk urusan retouch foto. Kalau 10 tahun lalu, photoshop adalah sahabat maka sekarang-sekarang ini, aku hanya mengandalkan penyesuaian level dan curve saja, itu pun hanya terbatas pada apa yang tersedia di iphoto.

Jadi, terlepas dari kesukaanku memotret dan melihat foto-foto bagus yang dapat dinikmati dengan mudah di internet, aku gamang kalau harus dibilang sebagai pemotret. Saat ini, aku tidak punya kamera DSLR karena maling membawanya dari dalam mobil di pertengahan 2009. Aku tinggal mengandalkan Ixus dan DSLR pinjaman saja. Masih berpikir panjang untuk beli kamera baru. 

Sebagi pengobat rindu, aku lebih banyak mengambil foto dengan iphone dan menyimpannya di instagram. Lebih praktis. Aku lakukan karena aku suka. Tidak pernah berpikir bahwa akan ada orang yang tidak aku kenal akan menyukai foto-fotoku. 

Hari ini aku kembali kaget. Tanda "like" di foto-foto itu membuat aku terhenyak tidak percaya. Jelas aku senang melihat orang suka foto-foto itu, tetapi aku juga merasa bahwa foto-foto itu masih belum layak dapat tanda "like". Aku masih minder untuk urusan potret memotret. Aku hanya tahu, aku suka sekali memotret dan berharap aku bisa lebih serius belajar dan memahami berbagai aturan dasar.

Jadi, mari berburu foto lagi...