24.4.11

Born To Die


Waktu kecil, hari ini identik dengan telur. Mewarnai telur dengan kreativitas masing-masing. Mencari telor yang sudah disembunyikan, terkadang begitu banyak sampai harus disimpan di rok, tidak jarang, telor-telor itu sulit sekali ditemukan. Aku ingat, mencoba memakan salah satu telor itu. Dalamnya tidak lagi putih. Ada sedikit sisa warna spidol yang dipakai menghias telor didalamnya. Herannya, aku masih makan dengan enak telor-telor itu.

Sekarang-sekarang ini, Paskah identik dengan libur panjang. Mulai dari Jumat Agung sampai Hari Paskah. Sebetulnya, disini orang lebih banyak berpikir bahwa hari Jumat itu adalah Paskah. Karena disini, kami adalah minoritas. Perayaan-perayaan hari besar seperti ini hanya dikenal jika merupakan tanggal berwarna merah yang bukan terjadi di Hari Minggu. Paskah selalu terjadi di hari Minggu. Inilah rangkaian hari libur yang setiap tahun berlangsung pada tanggal yang berbeda-beda tetapi selalu jatuh pada hari yang sama.

Dunia lebih mengenal Natal ketimbang Paskah. Setidaknya, dilihat dari gencarnya pertokoan menjadikan Natal tema belanja di setiap bulan Desember. Disini, gaung Paskah tidak terlalu kencang terdengar di pertokoan. Kecuali di negara-negara dengan mayoritas penduduk merayakan Paskah.

Lantas, apa artinya? Apakah ini hanya sebuah hari raya yang kalah gaung dengan Natal?

Tidak ada kompetisi hari raya. Tentu saja. Tetapi, tanpa Paskah, sia-sialah keyakinanku.

DIA lahir di Hari Natal. Mati di Jumat Agung. Bangkit di Hari Paskah.

Aku begitu bersuka merayakan Natal. Kado Natal. Kue Natal. Makanan Natal. Kemeriahan yang luar biasa. Sangat berbeda dengan Paskah. Tidak ada lagi kebaktian subuh yang identik aku lakukan pada saat Paskah. Bangun jam 4 pagi untuk berada di gereja jam 5 pagi. Tidak ada lagi puasa menjelang Paskah. Tidak ada renungan panjang yang aku lakukan menjelang Paskah. Aku menerimanya sebagai kesempatan untuk rehat panjang dari pekerjaan sehari-hari.

Sedih sekali.

Tanpa kebangkitanNya, percumalah semua yang aku yakini.

Paskah memang berlangsung sepi tanpa kemeriahan a la Natal. Tetapi sungguh, dalam hening ini aku meneteskan air mata. Aku bersyukur atas hidup yang telah diberikanNya. Aku bersyukur bahwa DIA telah lahir untuk mati untuk aku dan juga untukmu. Sungguh. Aku bersyukur karena DIA bangkit.

Inilah cerita Natal yang sesungguhnya.

Selamat Paskah, video di atas adalah petikan lagu "Born To Die" yang dibawakan Shawn & Shawn