13.4.11

Keluarga Baruku

Perkenalkan, ini keluarga baruku.



Sebetulnya, dibilang keluarga baru tidak terlalu tepat. Aku sudah bersama-sama dengan mereka selama 5 tahun. Setiap keluarga pasti ada anggota yang datang dan pergi, begitu juga dengan keluarga yang satu ini. Awalnya, aku bisa sedikit belagu menjadi satu-satunya perempuan. Setiap hari dikelilingi para pria yang berbagai macam. Eh, jangan berpikir terlalu jauh. Aku tidak tahu banyak macam dari pria-pria itu, hanya apa yang aku lihat ketika kami sama-sama sibuk dengan tugas masing-masing.

Ini adalah komposisi keluarga yang paling baru, lengkap dengan seorang bapak yang sabar menghadapi segerombolan manusia yang beranekaragam kelakuannya. Terlepas dari tingkat senioritas beliau dalam pengetahuan, pengalaman dan usia, bapak ini sangat rendah hati dan tidak sungkan untuk berbagi apapun di dalam keluarga besar ini.

Membangun keluarga ini tidak mudah. Bukan saja proses pencarian yang luar biasa berbelit tetapi juga begitu banyak ketidakpastian yang menyebabkan proses itu tidak bisa berlangsung dengan cepat dan seringkali berbeda dengan harapan awal.

Bersama merekalah, aku menghabiskan sebagian besar waktuku. Selama sembilan atau bahkan sebelas  jam sehari, aku berada dalam satu ruangan bersama mereka semua. Tidak dalam arti harafiah, tetapi ya, setidaknya aku berada di dalam satu gedung. Tata letak ruangan terbaru membuat aku berada terpisah dari keluarga besar ini.

Seperti sebuah keluarga, terkadang aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi bagian dari keluarga ini. Semua terjadi begitu saja. Manis dan pahit ya ditelan saja. Aku beruntung, selama ini aku nyaman sekali berada di tengah keluarga yang satu ini. Bukan berarti aku selalu bersenang-senang dan semua berjalan lancar seperti jalanan ibukota di hari raya. Tidak. Sebaliknya, ada kala aku merasa frutasi, sedih, marah, kesal dan bahkan ingin menyerah. Tapi toh, sebagaimana sebuah keluarga, aku selalu kembali kepada mereka. Pada akhirnya, keluarga ini adalah penopangku untuk menghadapi hari-hari kerjaku. Berada di tengah-tengah keluargaku yang satu ini, aku bisa berkata,"Baiklah, mari kita hadapi bersama."

Nah, kalau di rumah, di keluarga intiku, aku pernah di-setrap berdiri di pojokan ketika aku membuat salah. Berdiri sambil angkat satu kaki. Itulah bedanya dengan keluargaku yang satu ini. Seandainya aku bisa melakukan itu, barangkali lebih seru. Tapi, aku kan bukan orang tua mereka, lagian apa jadinya kalau di kantor ada yang berdiri di sebuah pojokan sambil angkat kaki?

Poni Baru

Aku sedang ingin centil. Atau, barangkali aku sekedar sedang bosan berat hari itu. Tidak juga, aku sedang kesal dan tidak bisa berpikir terlalu jenih. Maklum, hari Senin. Jadi, aku memutuskan untuk keluar kantor dengan tujuan menangkan diri sambil mencari udara segar. Tanpa tujuan yang pasti, aku berakhir di sebuah salon yang belum pernah aku datangi. Dekorasi bersih berwarna putih tanpa ada pelanggan lain kecuali penjaga meja tamu.

Sejam kemudian, aku mendapat tampilan baru dari sebuah poni pendek yang sekarang menghias mukaku.

Macam-macam komentar orang tentang poni itu. Paling seru sih dari satu kawan satu tim, dia kuatir untuk jalan dengan aku,"takut disangka monyet, Mba", begitu ujarnya. 

Barangkali, aku harus berganti nama menjadi Dora. 

Bisa jadi, tindakan potong poni itu adalah hal kecil yang aku lakukan secara cepat tanpa pikir panjang. Ya, aku merindukan "happy-go-lucky" yang ada di diriku. Aku tidak bisa ingat, kapan terakhir aku melakukan sesuatu yang spontan seperti itu. Ehm, tapi aku ingat kapan terakhir aku belanja secara spontan tanpa pikir panjang. Ha!

Barangkali terlalu berlebihan kalau aku bilang, aku merasa lebih ringan. Memang rambutku beratnya berapa ton, sih? Tapi memang itu perasaanku ketika melihat kaca dan melihat pantulan poni baru.

Ada kalanya, kita harus membuang hal-hal yang begitu melekat di keseharian kita, bukan? Syukur-syukur bisa jadi lebih cihuy.