7.5.11

Sahabat Pena

Aku melihat sebuah spanduk dari kantor pos di jalan tol cipularang. Spanduk itu bertuliskan,"Pos Express, sehari sampai, pasti" (mudah-mudahan itu kalimat yang tertulis, soalnya aku sedang menyetir dengan kecepatan cukup tinggi saat itu).

Spanduk itu mengingatkan aku kepada para sahabat pena. Jauh sebelum era surat elektronik dan bahkan jauh sebelum telepon menjadi sebuah kebutuhan penting, surat dari kantor pos adalah satu-satunya alat komunikasi dengan mereka yang berada jauh. Maklum, jangankan telepon genggam, telepon rumah saja belum ada.

Kertas surat itu berwarna putih, dengan warna biru dan merah di pinggirnya. Itu yang aku ingat dari kertas surat standar yang banyak dijual waktu itu. Kalau ada uang lebih, aku membeli kertas surat yang lebih cantik, lebih wangi. Tidak jarang, kertas surat itu diperoleh dengan cara barter dengan kawan-kawan lain pengoleksi kertas surat.

Buat aku, kertas surat itu tidak hanya dikoleksi. Aku memakainya untuk menuliskan surat ke sahabat pena aku. Sayang aku tidak ingat, bagaimana aku bisa mengenal mereka. Rasanya, aku berkorespondensi melalui majalah anak-anak saat itu. Lebih sedih lagi, aku bahkan tidak bisa mengingat siapa nama mereka dan dimana mereka tinggal. Lagi-lagi, aku hanya bisa menebak-nebak. Sebagian besar sahabat pena aku adalah perempuan. Seumuran dengan aku. Satu diantaranya tinggal di daerah Jawa Timur, entah itu Surabaya atau Malang. Sahabat pena lain tidak menyisakan terlalu banyak kenangan. 

Aku bisa jadi tidak bisa mengingat banyak tentang siapa yang menjadi sahabat penaku. Tetapi, aku bisa mengingat perasaan menunggu surat yang datang. Tidak pernah bisa cepat. Tidak pernah aku mendapatkan jawaban dalam satu hari. Itu tidak mungkin. Jadi, aku harus menunggu cukup lama untuk memperoleh surat balasan. Oh, rasanya deg-deg-an dan menyenangkan sekali. Aku sendiri tidak pernah bisa langsung menuliskan jawaban. Aku menunggu beberapa waktu, mengumpulkan cerita-cerita menarik. 

Untuk itu, aku harus ke kantor pos. Membeli perangko dan mengirimkan surat langsung dari kantor pos ketimbang di kotak pos. Aku punya perasaan bahwa surat akan lebih cepat sampai kalau aku langsung ke kantor pos. Sebuah kantor pos dekat terminal angkutan kota di daerah rumahku menjadi pilihan. Aku juga bisa mengingat sebuah kantor pos lain di dekat sekolahku sebagai pilihan lain. Iya, kantor pos dekat sekolah aku sambangi untuk mengirimkan surat dan menabung di TABANAS (oh, jadulnya!).

Sekarang, tidak ada lagi sahabat pena. Kegiatan yang paling dekat yang aku lakukan yang hampir mirip dengan itu hanyalah mengirimkan kartu pos dan kartu Natal. Itu pun berhenti dua atau tiga tahun lalu. Semua dilalukan melalui keyboard, entah itu surat elektronik, skype atau bahkan langsung lewat telepon. Justru, semua menjadi lebih cepat. Dalam hitungan detik, sahabat atau keluarga sudah bisa menerima surat yang aku kirim. Eh, disaat semua begitu mudah, aku tidak lagi terbiasa menuliskan surat yang bercerita mengenai banyak hal kepada sahabat-sahabat di luar sana. Ah barangkali segala sesuatu yang memudahkan terkadang memang punya sisi yang tidak terlalu baik. Aku bahkan tidak yakin aku bisa menulis begitu panjang dengan pen dan kertas, seperti dulu.

Hmmm, dipikir-pikir, aku sepertinya tidak punya alamat rumah sahabat dan keluarga, aku hanya punya nomor telepon, alamat e-mail atau PIN BB mereka!

No comments:

Post a Comment