16.5.11

Atas Nama Cinta

Apa yang pernah kamu lakukan atas nama cinta? Apa yang akan kamu lakukan atas nama cinta? Ada 1001 hal yang bisa dilakukan atas nama cinta. 

Adalah cinta yang membuat seseorang tersenyum dan bahagia, cinta juga yang membuat seseorang marah dan menangis. Emosi yang teraduk-aduk. Semangat yang naik turun. Hidup yang lebih berwarna.

"Cinta itu buta". Aku tidak setuju. Bisa jadi, cinta itu bisa melihat hal yang tidak bisa dilihat oleh mata. Sebetulnya, bukan cinta yang buta, tetapi mereka yang tidak memiliki cinta, seringkali dibutakan oleh apa yang ingin mereka lihat.

D'oh, tampaknya aku melantur kesana kemari, ya.

Lagi-lagi diingatkan, betapa hanya ada satu cinta yang memang tidak terbatas dan terkira. Unconditional love. 

How deep the Father's love for us,
How vast beyond all measure
That He should give His only Son
To make a wretch His treasure
Aku pikir, aku masih jauh dari cinta yang seperti itu. Cinta yang karenanya aku rela memberikan apa yang paling berharga untuk cinta terhadap orang-orang yang bahkan tidak layak menerima cinta itu. Aku baru sampai pada tahap mencoba menjaga cinta orang-orang yang menyayangi aku dan membiarkannya terus bertumbuh.


 

8.5.11

Wêr Bisto: Lagu Dari Masa Lalu



Daftar ini:
1. Jessica - How Will I Know (who You Are)
2. Britney Spears - Baby One More Time
3. Blof - Harder Dan Ik Hebben Kan
4. Lou Bega - Mambo No.5
5. City To City - Road Ahead
6. Jennifer Lopez - If You Had My Love
7. Ronan Keating - When You Say Nothing At All
8. Christina Aguilera - Genie In A Bottle
9. Live - Dolphin's Cry
10. Marco Borsato - Binnen
11. Lene Marlin - Sittin Down Here
12. Kelis - Caught Out There
13. Abel - Onderweg
14. Mel C & Lisa 'left Eye' Lopes - Never Be The Same Again
15. Mary Mary - Praise You
16. Sonique - It Feels So Good
17. Marc Anthony - You Sang To Me
18. Anastacia - I'm Outta Love
19. Twarres - Wer Bisto
20. U2 - Beautiful Day

Adalah lagu-lagu yang menemani hari-hari pertamaku di Rotterdam, lebih dari 10 tahun yang lalu. Beberapa lagu di daftar ini bukanlah tipe lagu yang aku suka, tetapi sejalan dengan waktu aku bisa menikmati lagu-lagu itu.

Sekarang, ketika aku mendengar salah satu dari lagu-lagu ini, aku seakan memasuki mesin waktu. Terbawa kenangan saat itu. Aku bisa mengingat dengan jelas unit kecilku, kuatnya angin yang menghembus mukaku saat naik sepeda, bahkan pakaian orang-orang di sekitarku.

Musik punya kekuatan besar membawaku ke tempat-tempat tertentu di masa lalu atau masa kini.


catatan: lagu di atas berjudul Wer Bisto dibawah oleh Twarres. Aku sendiri tidak bisa mengerti arti lagu ini karena dinyanyikan dalam Bahasa Frisian.

7.5.11

Sahabat Pena

Aku melihat sebuah spanduk dari kantor pos di jalan tol cipularang. Spanduk itu bertuliskan,"Pos Express, sehari sampai, pasti" (mudah-mudahan itu kalimat yang tertulis, soalnya aku sedang menyetir dengan kecepatan cukup tinggi saat itu).

Spanduk itu mengingatkan aku kepada para sahabat pena. Jauh sebelum era surat elektronik dan bahkan jauh sebelum telepon menjadi sebuah kebutuhan penting, surat dari kantor pos adalah satu-satunya alat komunikasi dengan mereka yang berada jauh. Maklum, jangankan telepon genggam, telepon rumah saja belum ada.

Kertas surat itu berwarna putih, dengan warna biru dan merah di pinggirnya. Itu yang aku ingat dari kertas surat standar yang banyak dijual waktu itu. Kalau ada uang lebih, aku membeli kertas surat yang lebih cantik, lebih wangi. Tidak jarang, kertas surat itu diperoleh dengan cara barter dengan kawan-kawan lain pengoleksi kertas surat.

Buat aku, kertas surat itu tidak hanya dikoleksi. Aku memakainya untuk menuliskan surat ke sahabat pena aku. Sayang aku tidak ingat, bagaimana aku bisa mengenal mereka. Rasanya, aku berkorespondensi melalui majalah anak-anak saat itu. Lebih sedih lagi, aku bahkan tidak bisa mengingat siapa nama mereka dan dimana mereka tinggal. Lagi-lagi, aku hanya bisa menebak-nebak. Sebagian besar sahabat pena aku adalah perempuan. Seumuran dengan aku. Satu diantaranya tinggal di daerah Jawa Timur, entah itu Surabaya atau Malang. Sahabat pena lain tidak menyisakan terlalu banyak kenangan. 

Aku bisa jadi tidak bisa mengingat banyak tentang siapa yang menjadi sahabat penaku. Tetapi, aku bisa mengingat perasaan menunggu surat yang datang. Tidak pernah bisa cepat. Tidak pernah aku mendapatkan jawaban dalam satu hari. Itu tidak mungkin. Jadi, aku harus menunggu cukup lama untuk memperoleh surat balasan. Oh, rasanya deg-deg-an dan menyenangkan sekali. Aku sendiri tidak pernah bisa langsung menuliskan jawaban. Aku menunggu beberapa waktu, mengumpulkan cerita-cerita menarik. 

Untuk itu, aku harus ke kantor pos. Membeli perangko dan mengirimkan surat langsung dari kantor pos ketimbang di kotak pos. Aku punya perasaan bahwa surat akan lebih cepat sampai kalau aku langsung ke kantor pos. Sebuah kantor pos dekat terminal angkutan kota di daerah rumahku menjadi pilihan. Aku juga bisa mengingat sebuah kantor pos lain di dekat sekolahku sebagai pilihan lain. Iya, kantor pos dekat sekolah aku sambangi untuk mengirimkan surat dan menabung di TABANAS (oh, jadulnya!).

Sekarang, tidak ada lagi sahabat pena. Kegiatan yang paling dekat yang aku lakukan yang hampir mirip dengan itu hanyalah mengirimkan kartu pos dan kartu Natal. Itu pun berhenti dua atau tiga tahun lalu. Semua dilalukan melalui keyboard, entah itu surat elektronik, skype atau bahkan langsung lewat telepon. Justru, semua menjadi lebih cepat. Dalam hitungan detik, sahabat atau keluarga sudah bisa menerima surat yang aku kirim. Eh, disaat semua begitu mudah, aku tidak lagi terbiasa menuliskan surat yang bercerita mengenai banyak hal kepada sahabat-sahabat di luar sana. Ah barangkali segala sesuatu yang memudahkan terkadang memang punya sisi yang tidak terlalu baik. Aku bahkan tidak yakin aku bisa menulis begitu panjang dengan pen dan kertas, seperti dulu.

Hmmm, dipikir-pikir, aku sepertinya tidak punya alamat rumah sahabat dan keluarga, aku hanya punya nomor telepon, alamat e-mail atau PIN BB mereka!

1.5.11

May Day 2011

Setahun lalu, aku punya kesempatan untuk melihat pawai perayaan hari buruh di Paris. Aku hanya berkesempatan melihatnya dari jauh, di bagian akhir pawai tersebut. Polisi berjaga di beberapa tempat. Tetapi tidak ada kesan seram, lebih terasa sebagai sebuah perayaan.

Tahun ini, aku berusaha menghindari perayaan yang berlangsung di daerah Bundaran HI. Demo. Begitulah kalimat yang dipakai oleh sejumlah kicauan di twitter. Tidak ada keinginan untuk melihat lebih dekat dan yang terpikir adalah bagaimana menghindari kemacetan yang terjadi.

Aku sendiri adalah buruh. Pekerja. Hanya saja, aku cukup beruntung. Sekalipun aku pekerja kontrak, aku memperoleh imbalan yang layak, jaminan kesehatan yang lebih dari cukup dan kepuasan batin dari apa yang aku lakukan di dalam pekerjaanku.

Dalam hal itu, aku minoritas. Sebagian besar pekerja di negeri ini harus menelan ketidakadilan dengan jenis kontrak dan imbalan yang mereka miliki. Setiap saat, ada begitu banyak calon pekerja yang siap mengisi posisi kosong manapun. 

Aku pernah bekerja di sebuah radio yang lebih sering mangkir membayar gaji penyiar dan kalau pun digaji maka angka yang diberikan adalah angka yang jauh dari apa yang seharusnya diberikan. Pemilik dengan santai berkata,"lebih mudah cari penyiar baru, ketimbang cari pembantu," kepada penyiar yang protes dan mengancam keluar dan tidak bekerja lagi.

Pahit. 

Bagaimana dengan kamu? Ikut serta dalam pawai perayaan atau menghindari karena takut macet? ;)


Ini adalah foto yang aku ambil tahun lalu. Buat yang mengerti Bahasa Perancis, silahkan artikan sendiri. :) Dan ini adalah tulisanku yang lain, 4 tahun lalu, untuk media bersama. http://narasimelly.wordpress.com/2011/05/01/kerja-tak-paksa/