17.11.11

Libur yang Tertunda

Tahun ini penuh dengan liburan singkat di akhir pekan dan tahun depan aku berencana untuk libur panjang. Ini berarti perencanaan yang harus lebih panjang dan uang yang harus mulai disisihkan. Sebetulnya dua hal ini adalah hal kecil dibandingkan dengan urusan cuti. Aku berencana pergi bersama seorang sahabat, tapi dia pun ragu untuk menentukan tanggal apalagi untuk segera memesan tiket. 

Pagi ini, aku melihat sekumpulan foto Unieng di Gorontalo. I should have been there. Sebuah ide yang muncul di pertengahan tahun dan aku tunggu-tunggu dengan penuh rasa deg-degan. Maklum, saat rencana dibuat, aku belum tahu seperti apa jadwal di kantor. Akhirnya, aku tidak jadi kesana karena ada pekerjaan.

See, liburan menjadi sulit kalau sudah melibatkan urusan kantor.


Lain halnya dengan sebuah rencana liburan keliling-keliling Asia Tenggara di pertengahan 2008. Tiket sudah dibeli di awal tahun karena ada promo besar saat itu. Apapun yang terjadi, tiket sudah dibeli bukan? Aku sendiri ketar ketir tidak bisa berangkat tetapi permohonan cuti sudah disampaikan jauh-jauh hari. Hasilnya? Aku tetap berangkat dong! Maklum, tiket dan akomodasi sudah dibayar. Mana mau rugi bandar.

Tiga rencana perjalanan aku batalkan baru-baru ini: Gorontalo, Ujung Kulon dan Cirebon. Tidak ada rugi materi karena tidak ada tiket yang sudah terbeli. Walaupun begitu, ada rasa menyesal dan sebuah harapan untuk masih bisa melakukan liburan yang tertunda. 

Dipikir-pikir memang lebih baik langsung hajar saja beli tiket dan bayar akomodasi supaya lebih ngotot untuk berangkat ya?


Iya gak, sih?




14.11.11

Urusan Kantor

Baru sadar, aku menulis urusan kantor melulu ya. So much with work-life balance, I guess.

Ada permintaan untuk menulis yang lainkah? :)

Fresh Graduate

Masih teringat betapa geregetannya aku di masa awal bekerja setelah lulus kuliah. Bukan pekerjaan pertama, sih tetapi berbeda rasanya bekerja setelah benar-benar lulus. Itu memberikan sedikit perbedaan cara pandang bekerja. Setidaknya itu yang aku rasakan.

Lulus sebagai sarjana teknik dari kampus yang tidak jelek-jelek amat membuat aku punya berbagai mimpi. Ternyata, beberapa bulan pertama pekerjaan yang dilakukan lebih banyak berurusan dengan telepon dan telepon dan telepon! Buat janji ini itu, cek ini itu, cari data ini itu. Apa bedanya sih sama resepsionis? Sekolah capek-capek,kokujung-ujungnya hari-hariku dipenuhi dengan menelepon orang? Jangan tanya sulitnya seperti apa ya. Saat itu, telepon genggam belum sepopuler sekarang. SMS masih dibatasi oleh jenis provider. Terbayang kesalnya aku ketika orang yang harus dikontak tidak berada di tempat atau sulit dihubungi. Belum lagi telepon di kantor itu dipakai beramai-ramai dan aku harus berbagi dengan kawan-kawan lain.

Tugasku dan Yani - seorang kawan seperjuangan - antara lain adalah mempersiapkan catatan rapat dan pertemuan. Tugas yang terlihat mudah ini ternyata cukup tricky. Sekali waktu, kami hanya menuliskan kesimpulan rapat dan ternyata kami seharusnya menuliskan catatan rapat yang lengkap memberi informasi siapa mengatakan apa. Lain waktu kami menuliskan lengkap dan ternyata membuat ada salah paham karena sebetulnya keputusan rapat adalah B bukan A sebagaimana catatan kami yang memang verbatim. Ini "hanya" urusan menuliskan hasil rapat. Dalam hati, kenapa juga tidak menuliskan sendiri selama pertemuan ya?

Lama kemudian aku mensyukuri semua ini. Berada di posisi yang harus selalu siap disuruh apapun dan kapanpun, mulai dari urusan telepon sampai menuliskan catatan rapat, memudahkan pekerjaanku selanjutnya. Tahun-tahun pertamaku adalah tahun-tahun berharga aku yang tidak mungkin aku lupakan. Tahun-tahun pertamaku itu membentuk etos kerjaku hingga saat ini; melatih aku berkomunikasi dengan baik serta mempertajam bagaimana aku menangkap hal-hal di sekitarku.

Saat ini, ketika aku melihat mereka yang baru saja lulus bekerja, para fresh graduates itu, aku sering bertanya-tanya, apakah aku tampak seperti mereka ya? Kekagetan menghadapi tantangan di pekerjaan, kekesalan karena harus selalu siap sedia, kebingungan dalam membuat interpretasi terhadap tugas-tugas yang diberikan hanya sebagian kecil yang menjadi warna hari-hari para pekerja baru. Kekuatiran salah ucap dan memilih lebih banyak diam, sembari kemudian punya sejuta komentar yang siap diluncurkan di luar kantor di tengah kawan-kawan yang tidak bekerja sekantor. Ha! Aku ingat betapa besar energi aku untuk melakukan banyak hal bersamaan dan betapa aku sangat bersemangat setiap menghadapi hal-hal yang baru.

Saat ini, tidak sekali dua kali aku merasakan kesulitan untuk memperoleh apa yang aku harapkan dari para pekerja baru sekarang-sekarang ini, tetapi melihat ke belakang, aku pikir ini sebuah adalah bagian dari proses.Tampaknya, energi besar yang tampak selalu siap dipergunakan adalah hal paling aku rindukan dari menjadi alumni baru dan pekerja baru. Jadi, mari dikombinasikan sajalah.


ps: FB tidak akan lagi melakukan posting otomatis dari blog lagi nih, malas amat ya nulis di note dan di FB pada saat yang sama.

1.11.11

Kolega Kantor

Aku pikir dengan bekerja tetap di sebuah kantor akan membuat aku memiliki sekelompok kolega yang relatif tetap dari masa ke masa. Ini bayanganku selagi aku masih menjalani pekerjaan panggilan eh, paruh waktu maksudnya. Aku biasa dipanggil kerja untuk satu proyek dalam kurun waktu tertentu (biasanya hanya beberapa minggu ke beberapa bulan). Itu berarti harus mengenal orang baru dan beradaptasi dengan cepat dilanjutkan dengan bekerja sama dalam waktu singkat dan cukup intensif. Begitu laporan selesai, semua bubar jalan. Ada saat dimana aku bertemu dengan kolega baru di sebuah pekerjan baru, tapi lebih sering sih tim kerja adalah orang-orang baru.

Aku sendiri bersyukur dengan pola kerja seperti itu. Aku malah menikmati sekali siklus semacam itu. Tidak heran selama 5 tahun aku jalani dengan santai. Aku tidak pernah ambil pusing dengan jenis orang yang ada dalam tim kerja, suck it up dan kerjakan saja semua sebaik-baiknya. Masa-masa itu, aku tidak mengenal istilah "main dengan teman kantor". Pertemananku datang dari jaringan yang berbeda yang tidak berasal dari pekerjaan.

Sewaktu pertama kali aku kembali memutuskan kerja kantoran, aku adalah anggota baru dari sebuah tim yang sudah terlebih dulu bekerja sama selama 2-3 tahun. Sedikit canggung tetapi karena sudah dipaksa untuk selalu adaptasi maka aku tidak mengalami kesulitan berarti. Hanya saja, aku tetap saja tidak mengenal "main dengan teman kantor". 

Barangkali itu memang sudah jadi kebiasaan, dekat tapi tidak dekat dengan lingkungan kerjaan.

Lima tahun berkantor, kebiasaan ini mulai berubah. Tanpa aku sadari, tim kerja telah menjadi rumah lain dimana aku menghabiskan sebagian besar waktuku. Bayangkan saja, 9 jam sehari aku berada di kantor, terkadang lebih dari itu. Walaupun dalam keseharian masing-masing bekerja di ruang kerja masing-masing tetapi ada begitu banyak interaksi yang dilakukan secara bersama-sama. Diskusi kecil membahas masalah ini dan itu. Rapat-rapat yang cukup rutin (baca: keseringan) yang dilakukan di kantor yang selalu berisi bukan saja hal serius tetapi hal-hal yang serius...garingnya. Istirahat kecil di jam kerja karena ada yang membawa kue dengan berbagai alasannya. Sesi karaoke dengan daftar lagu yang super beragam. Sesi curcol yang berlangsung di sudut-sudut gedung kantor. 

Aku sudah bisa bilang "main dengan teman kantor". Pada saat itulah, aku malah harus juga terbiasa untuk melepas pergi beberapa kawan. Kantoran maupun freelance, sama saja. Siklus itu selalu ada. Orang datang dan pergi pada waktunya masing-masing.

Tapi kali ini sih aku ingin sekali bisa berkata bahwa mereka bukan sekedar teman kantor tetapi juga teman berbagi segala suka duka pekerjaan selama beberapa tahun terakhir. Biarpun terbiasa, tidak pernah menjadi lebih mudah setiap saat harus melepas seorang kolega. Barangkali, itu hal yang baik. Tidak perlu bertemu melulu urusan pekerjaan tetapi barangkali bisa berbagai hal menarik lainnya di masa datang.

I wish all of you great success in the future, dear colleagues

10.10.11

Main ke museum

Ternyata menyenangkan.

Aku bersama Salva dan Jio memutuskan mampir ke Museum Geologi, Bandung. Aku sendiri sudah beberapa kali mampir kesini. Banyak juga orang Bandung yang belum pernah mampir ke sana - apalagi kalau sekolah tidak punya program mengunjungi museum ya. Aku sendiri berpikir bahwa Museum Geologi itu salah satu museum paling oke yang ada di Bandung. Aku tahu kalau Dinda punya pikiran yang sama dengan aku.

Seingatku, mengunjungi Museum Geologi itu harus pakai tiket. Murah sih tapi bayar. Ternyata aku salah. Masuk museum itu gratis. Tidak perlu pakai uang sepeser pun! Museum memang ramai, barangkali karena gratis atau karena hari itu hari Minggu. Sebagian besar adalah orang dewasa yang membawa anak-anak kecil. 

Aku juga membawa dua krucil yang masing-masing berumur (nyaris) 5 tahun dan 3,5 tahun. Aku mengiming-imingi mereka dengan kata "dinosaurus". Aku ingat ada kerangka dinosaurus disana. Baru setelah berada di museum, aku tahu bahwa aku salah. Disana ada kerangka T-rex dan bukan Dinosaurus. Bukan itu saja, ada kerangka gajah, kuda nil dan kura-kura dari jaman lampau. Semua dilengkapi dengan cerita dan gambar-gambar ilustrasi.

Awalnya sih, Salva dan Jio agak takut melihat tulang belulang itu. Hanya sebentar saja. Kemudian mereka asik bertanya ini dan itu. Aku memang belum bisa menjelaskan lengkap apa yang terpampang disana. Ada begitu banyak informasi dan aku sendiri tidak yakin semua bisa terserap dengan mudah. Beberapa hal yang menarik perhatian mereka adalah kerangka t-rex dan kura-kura (soalnya aneh, tidak seperti kura-kura ya), ilustrasi dinosaurus, bebatuan yang bisa mereka pegang dan maket-maket peta gunung berapi lengkap dengan lampu berwarna warni.

Aku sempatkan mampir ke toko souvenir. Awalnya aku berharap bisa menemukan sesuatu yang menarik dan unik sebagai kenang-kenangan. Sayang sekali, sebagian besar kenang-kenangan itu lebih  buat orang dewasa. Aku tertarik untuk membeli buku panduan tetapi kualitas cetak buku itu rendah, seperti fotokopian buram dengan bercak-bercak hitam. Walhasil, kami malah bermain sebentar sekali di halaman museum yang luas. Salva khusus minta "foto di dekat bendera". Susah tuh, soalnya benderanya tinggi dan aku hanya bermodal kamera telepon! 

Aku senang-senang saja deh menemani mereka mampir ke museum ini. Sekarang berpikir, kemana lagi ya?


Tentang Blog dan Menulis

Blog ini memang setia sekali ya. Aku hanya sesekali menengoknya. Berbeda sekali dengan tahun-tahun pertama aku mengenal blog. Sehari bisa menulis beberapa kali. Itu semua terekam di archive sepanjang November 2004. 

Aku tidak selalu senang membaca tulisan-tulisan di awal masa-masa nge-blog. Beberapa ingin sekali aku hapus. Terlalu galau dan sibuk sama diri sendiri. Semua ditulis. Remeh temeh tidak penting yang terasa begitu penting. Sampai sekarang, aku bertahan membiarkan tulisan-tulisan lama itu tersimpan. Sebagai pengingat buat diri sendiri bahwa ada begitu hal yang bisa jadi penting buat aku saat itu tapi kemudian teruji bukanlah hal penting. Sebagai penjaga emosi untuk tidak perlu pusing dengan hal-hal yang akan lewat. Sebagai dokumentasi proses aku menulis. 

Terlepas dari kualitas tulisan, tahun-tahun pertama adalah tahun-tahun aku terus menulis. Sebuah proses panjang yang membuat aku terbiasa memaparkan ulang apapun yang ada di otakku dengan lebih runtut. Tahun 2010 adalah tahun dimana aku hanya menulis 4 kali! Well, it was one of the toughest time in my life and also a time to get a closure.

Menurutku menulis memang sebuah ritual yang membuat aku bisa melihat apa yang tengah aku lakukan dari sudut yang berbeda. Aku bersyukur ada di saat ada berbagai kemudahan untuk bisa melakukan itu. Sewaktu belum ada blogspot, aku harus bersusah payah untuk coba menulis via geocities. Aku sendiri sudah tidak ingat apa-apa soal account disitu. Aku hanya ingat beberapa nama blogger-blogger awal yang membuat aku kebelet untuk punya buku harian di web seperti mereka. Ealah, ketika sudah dibuat mudah, hanya bertahan beberapa tahun dan sekarang lebih sering sibuk berkicau ketimbang blogging

Beruntung sampai sekarang blogspot masih ada, masih gratis dan masih mudah diakses. Begitu juga beberapa blog lain yang ada di alamat berbeda. Setidaknya, beberapa blog yang bisa aku ingat. Entah berapa banyak blog yang dibuat iseng dan tidak bisa aku ingat lagi. Ada juga blog yang memang menjadi tempat bermain tersembunyi, sih. 

Apa orang masih menulis di blog? Beberapa blogger lama masih menulis di blogspot dan setia dengan layout gratis yang disediakan blogspot. Beberapa rajin mem-posting ulang tulisan lama via twitter (you know who you are...hehehehe). Sebagian besar lebih aktif di twitter atau facebook.

Tidak ada masalah dengan itu semua. Teknologi memungkinkan setiap orang bebas berekspresi lewat tulisan, foto, video dan bentuk media lain. Blog hanya salah satu dari sekian banyak channel. Aku sendiri ingin bisa bilang aku masih suka nge-blog. I got the best supporting system  from blogging. Aku mendapat teman-teman terbaik dari dunia blog. Sebagian besar sudah tidak aktif tetapi kami semua masih super aktif berbagi - kali ini tidak via tulisan tetapi langsung bertemu.



25.6.11

Kamera dan Foto

Aku senang mengambil foto. Entah sejak kapan. Kamera pertama yang bisa aku ingat adalah kamera tua milik papi. Entah produk dari mana. Berbentuk persegi panjang. Harus dikokang setiap mau ambil foto. Memakai film.

Kamera pertamaku adalah sebuah Nikon F90 atau F70 - aku tidak terlalu yakin soal seri. Bukan kamera baru, second-hand camera. Sekalipun barang bekas, harganya tidak murah. Dibelikan waktu aku kuliah karena beberapa pelajaran mengharuskan kami mengambil foto. Well, itu alasan mulia yang aku kasih. Alasan asli ya sekedar ingin punya kamera sih. Sayang sekali, kamera ini hilang begitu saja beberapa tahun lalu. Aku teledor sekali. Aku bisa ingat kapan terakhir kamera itu aku lihat di sekitar rumah, tapi kemudian tidak bisa ditemukan dimanapun. Tidak banyak foto yang bisa aku simpan dari kamera ini.

Setelah itu, aku beralih memakai kamera saku. Pilihanku adalah Canon. Masih pakai film. Saat itu, kesukaanku adalah memotret landscape. Bisa jadi ini bawaan dari kebiasaan jaman kuliah yang lebih sering memotret kawasan perkotaan, bangunan dan atau pemandangan suatu kawasan. Semua untuk kebutuhan melakukan rona wilayah. Aku ingat, aku suka sekali warna hijau yang dihasilkan kameraku. Sangat kuat. Semakin rajinlah aku mengambil gambar pemandangan. Kamera ini menyimpan berbagai kenangan di Rotterdam dan kota-kota lain di Belanda maupun negara sekitarnya. 

Lagi-lagi aku kehilangan jejak dengan kamera itu. Entah dimana. 

Pada satu saat, aku memutuskan untuk membeli Canon Ixus. Inilah kamera digital pertamaku yang selalu berada di tas dan aku bawa kemana-mana. Setiap ada kesempatan, aku mengambil gambar. Foto-foto di tulisan awal blog ini berasal dari kamera tersebut. Foto-foto yang kemudian banyak dipakai di tempat aku bekerja, juga berasal dari kamera tersebut. Sayang sekali, kamera ini pun harus aku relakan. Dia dijambret di bandar udara di Hanoi, Vietnam di pertengahan tahun 2008. Tidak kalah kesal, kamera itu berisi sekumpulan foto-foto perjalananku dan teman-teman di Kuala Lumpur yang diambil oleh Iman.

Memang pada saat aku kehilangan Ixus pertamaku, aku sudah memiliki Canon DSLR. Aku jadikan hadiah ulang tahunku di tahun yang sama. Niatku, dengan kamera ini aku akan lebih banyak mengambil foto dan terutama portrait. Aku merasa portrait punya tantangan tersendiri. Aku bisa terdiam lama melihat foto-foto wajah yang diambil dengan sangat bagus oleh pemotretnya. Mereka berbicara lebih dari 1000 bahasa. 

Ketertarikanku untuk mengambil kamera DSLR adalah saat aku sering memegang Nikon D70 yang dimiliki oleh dua orang kawan: Jimbong dan Mba Okol. Nikon D70 pertama kali aku pegang di Aceh, Mba Okol meminjamkannya padaku dalam banyak kesempatan. Rasanya luar biasa. Memegang dan memencet tombol "klik" dan pada saat itu juga momen tersebut terekam di dalam kamera. Aku merasakan sensasi tersendiri di tanganku dan senang luar biasa melihat foto-foto yang tersimpan. Jimbong meminjamkan kameranya padaku pada perjalanan kami ke Xiamen, China dan aku senang luar biasa untuk bisa memakai kamera itu. Rasanya ada begitu banyak hal yang bisa aku simpan melalui kamera tersebut.

Aku tidak pernah mendapatkan ilmu dasar fotografi. Dua tahun lalu, aku bersemangat untuk ikut kursus di tempat yang sama dengan Dinda - seorang kawan lain yang juga pemotret asik. Padatnya pekerjaan membuat aku menyerah dan tidak pernah jadi mengambil kursus. Karena itu, aku selalu menolak dibilang pemotret. Aku sesungguhnya buta dengan pengetahuan dasar seperti diagframa dan exposure. Well, aku tahu sangat sedikit sih. Sebagian besar, aku hanya memakai feeling. Modal dari pengalaman yang lalu membuat aku tahu beberapa aturan yang harus aku ikuti. Aku juga tidak lagi mahir untuk urusan retouch foto. Kalau 10 tahun lalu, photoshop adalah sahabat maka sekarang-sekarang ini, aku hanya mengandalkan penyesuaian level dan curve saja, itu pun hanya terbatas pada apa yang tersedia di iphoto.

Jadi, terlepas dari kesukaanku memotret dan melihat foto-foto bagus yang dapat dinikmati dengan mudah di internet, aku gamang kalau harus dibilang sebagai pemotret. Saat ini, aku tidak punya kamera DSLR karena maling membawanya dari dalam mobil di pertengahan 2009. Aku tinggal mengandalkan Ixus dan DSLR pinjaman saja. Masih berpikir panjang untuk beli kamera baru. 

Sebagi pengobat rindu, aku lebih banyak mengambil foto dengan iphone dan menyimpannya di instagram. Lebih praktis. Aku lakukan karena aku suka. Tidak pernah berpikir bahwa akan ada orang yang tidak aku kenal akan menyukai foto-fotoku. 

Hari ini aku kembali kaget. Tanda "like" di foto-foto itu membuat aku terhenyak tidak percaya. Jelas aku senang melihat orang suka foto-foto itu, tetapi aku juga merasa bahwa foto-foto itu masih belum layak dapat tanda "like". Aku masih minder untuk urusan potret memotret. Aku hanya tahu, aku suka sekali memotret dan berharap aku bisa lebih serius belajar dan memahami berbagai aturan dasar.

Jadi, mari berburu foto lagi...


20.6.11

Senin

Lebih banyak yang setuju dengan "I hate Monday" ketimbang bersemangat menghadapi hari Senin. Timeline di akhir pekan penuh dengan keluh kesah untuk bisa menunda Senin. Aku juga begitu.

Sungguh, aku merindu hari-hari dimana aku begitu bersemangat untuk melakukan ini dan itu. Perjalanan pagi yang penuh dengan rencana dan hal-hal yang harus diselesaikan. Akhir pekan yang dipenuhi berbagai ide untuk  minggu ke depan. 

Seorang teman menduga aku sudah "burnout". Bisa jadi. Kalau begitu, aku harus segera cari cara untuk mengobatinya dan sabar menunggu segala sesuatunya sembuh. Supaya, bisa semangat lagi menghadapi hari, termasuk hari Senin.

Barangkali sedikit kecupan dan peluk hangat bisa membantu memberi semangat pagi ini? 

16.5.11

Atas Nama Cinta

Apa yang pernah kamu lakukan atas nama cinta? Apa yang akan kamu lakukan atas nama cinta? Ada 1001 hal yang bisa dilakukan atas nama cinta. 

Adalah cinta yang membuat seseorang tersenyum dan bahagia, cinta juga yang membuat seseorang marah dan menangis. Emosi yang teraduk-aduk. Semangat yang naik turun. Hidup yang lebih berwarna.

"Cinta itu buta". Aku tidak setuju. Bisa jadi, cinta itu bisa melihat hal yang tidak bisa dilihat oleh mata. Sebetulnya, bukan cinta yang buta, tetapi mereka yang tidak memiliki cinta, seringkali dibutakan oleh apa yang ingin mereka lihat.

D'oh, tampaknya aku melantur kesana kemari, ya.

Lagi-lagi diingatkan, betapa hanya ada satu cinta yang memang tidak terbatas dan terkira. Unconditional love. 

How deep the Father's love for us,
How vast beyond all measure
That He should give His only Son
To make a wretch His treasure
Aku pikir, aku masih jauh dari cinta yang seperti itu. Cinta yang karenanya aku rela memberikan apa yang paling berharga untuk cinta terhadap orang-orang yang bahkan tidak layak menerima cinta itu. Aku baru sampai pada tahap mencoba menjaga cinta orang-orang yang menyayangi aku dan membiarkannya terus bertumbuh.


 

8.5.11

Wêr Bisto: Lagu Dari Masa Lalu



Daftar ini:
1. Jessica - How Will I Know (who You Are)
2. Britney Spears - Baby One More Time
3. Blof - Harder Dan Ik Hebben Kan
4. Lou Bega - Mambo No.5
5. City To City - Road Ahead
6. Jennifer Lopez - If You Had My Love
7. Ronan Keating - When You Say Nothing At All
8. Christina Aguilera - Genie In A Bottle
9. Live - Dolphin's Cry
10. Marco Borsato - Binnen
11. Lene Marlin - Sittin Down Here
12. Kelis - Caught Out There
13. Abel - Onderweg
14. Mel C & Lisa 'left Eye' Lopes - Never Be The Same Again
15. Mary Mary - Praise You
16. Sonique - It Feels So Good
17. Marc Anthony - You Sang To Me
18. Anastacia - I'm Outta Love
19. Twarres - Wer Bisto
20. U2 - Beautiful Day

Adalah lagu-lagu yang menemani hari-hari pertamaku di Rotterdam, lebih dari 10 tahun yang lalu. Beberapa lagu di daftar ini bukanlah tipe lagu yang aku suka, tetapi sejalan dengan waktu aku bisa menikmati lagu-lagu itu.

Sekarang, ketika aku mendengar salah satu dari lagu-lagu ini, aku seakan memasuki mesin waktu. Terbawa kenangan saat itu. Aku bisa mengingat dengan jelas unit kecilku, kuatnya angin yang menghembus mukaku saat naik sepeda, bahkan pakaian orang-orang di sekitarku.

Musik punya kekuatan besar membawaku ke tempat-tempat tertentu di masa lalu atau masa kini.


catatan: lagu di atas berjudul Wer Bisto dibawah oleh Twarres. Aku sendiri tidak bisa mengerti arti lagu ini karena dinyanyikan dalam Bahasa Frisian.

7.5.11

Sahabat Pena

Aku melihat sebuah spanduk dari kantor pos di jalan tol cipularang. Spanduk itu bertuliskan,"Pos Express, sehari sampai, pasti" (mudah-mudahan itu kalimat yang tertulis, soalnya aku sedang menyetir dengan kecepatan cukup tinggi saat itu).

Spanduk itu mengingatkan aku kepada para sahabat pena. Jauh sebelum era surat elektronik dan bahkan jauh sebelum telepon menjadi sebuah kebutuhan penting, surat dari kantor pos adalah satu-satunya alat komunikasi dengan mereka yang berada jauh. Maklum, jangankan telepon genggam, telepon rumah saja belum ada.

Kertas surat itu berwarna putih, dengan warna biru dan merah di pinggirnya. Itu yang aku ingat dari kertas surat standar yang banyak dijual waktu itu. Kalau ada uang lebih, aku membeli kertas surat yang lebih cantik, lebih wangi. Tidak jarang, kertas surat itu diperoleh dengan cara barter dengan kawan-kawan lain pengoleksi kertas surat.

Buat aku, kertas surat itu tidak hanya dikoleksi. Aku memakainya untuk menuliskan surat ke sahabat pena aku. Sayang aku tidak ingat, bagaimana aku bisa mengenal mereka. Rasanya, aku berkorespondensi melalui majalah anak-anak saat itu. Lebih sedih lagi, aku bahkan tidak bisa mengingat siapa nama mereka dan dimana mereka tinggal. Lagi-lagi, aku hanya bisa menebak-nebak. Sebagian besar sahabat pena aku adalah perempuan. Seumuran dengan aku. Satu diantaranya tinggal di daerah Jawa Timur, entah itu Surabaya atau Malang. Sahabat pena lain tidak menyisakan terlalu banyak kenangan. 

Aku bisa jadi tidak bisa mengingat banyak tentang siapa yang menjadi sahabat penaku. Tetapi, aku bisa mengingat perasaan menunggu surat yang datang. Tidak pernah bisa cepat. Tidak pernah aku mendapatkan jawaban dalam satu hari. Itu tidak mungkin. Jadi, aku harus menunggu cukup lama untuk memperoleh surat balasan. Oh, rasanya deg-deg-an dan menyenangkan sekali. Aku sendiri tidak pernah bisa langsung menuliskan jawaban. Aku menunggu beberapa waktu, mengumpulkan cerita-cerita menarik. 

Untuk itu, aku harus ke kantor pos. Membeli perangko dan mengirimkan surat langsung dari kantor pos ketimbang di kotak pos. Aku punya perasaan bahwa surat akan lebih cepat sampai kalau aku langsung ke kantor pos. Sebuah kantor pos dekat terminal angkutan kota di daerah rumahku menjadi pilihan. Aku juga bisa mengingat sebuah kantor pos lain di dekat sekolahku sebagai pilihan lain. Iya, kantor pos dekat sekolah aku sambangi untuk mengirimkan surat dan menabung di TABANAS (oh, jadulnya!).

Sekarang, tidak ada lagi sahabat pena. Kegiatan yang paling dekat yang aku lakukan yang hampir mirip dengan itu hanyalah mengirimkan kartu pos dan kartu Natal. Itu pun berhenti dua atau tiga tahun lalu. Semua dilalukan melalui keyboard, entah itu surat elektronik, skype atau bahkan langsung lewat telepon. Justru, semua menjadi lebih cepat. Dalam hitungan detik, sahabat atau keluarga sudah bisa menerima surat yang aku kirim. Eh, disaat semua begitu mudah, aku tidak lagi terbiasa menuliskan surat yang bercerita mengenai banyak hal kepada sahabat-sahabat di luar sana. Ah barangkali segala sesuatu yang memudahkan terkadang memang punya sisi yang tidak terlalu baik. Aku bahkan tidak yakin aku bisa menulis begitu panjang dengan pen dan kertas, seperti dulu.

Hmmm, dipikir-pikir, aku sepertinya tidak punya alamat rumah sahabat dan keluarga, aku hanya punya nomor telepon, alamat e-mail atau PIN BB mereka!

1.5.11

May Day 2011

Setahun lalu, aku punya kesempatan untuk melihat pawai perayaan hari buruh di Paris. Aku hanya berkesempatan melihatnya dari jauh, di bagian akhir pawai tersebut. Polisi berjaga di beberapa tempat. Tetapi tidak ada kesan seram, lebih terasa sebagai sebuah perayaan.

Tahun ini, aku berusaha menghindari perayaan yang berlangsung di daerah Bundaran HI. Demo. Begitulah kalimat yang dipakai oleh sejumlah kicauan di twitter. Tidak ada keinginan untuk melihat lebih dekat dan yang terpikir adalah bagaimana menghindari kemacetan yang terjadi.

Aku sendiri adalah buruh. Pekerja. Hanya saja, aku cukup beruntung. Sekalipun aku pekerja kontrak, aku memperoleh imbalan yang layak, jaminan kesehatan yang lebih dari cukup dan kepuasan batin dari apa yang aku lakukan di dalam pekerjaanku.

Dalam hal itu, aku minoritas. Sebagian besar pekerja di negeri ini harus menelan ketidakadilan dengan jenis kontrak dan imbalan yang mereka miliki. Setiap saat, ada begitu banyak calon pekerja yang siap mengisi posisi kosong manapun. 

Aku pernah bekerja di sebuah radio yang lebih sering mangkir membayar gaji penyiar dan kalau pun digaji maka angka yang diberikan adalah angka yang jauh dari apa yang seharusnya diberikan. Pemilik dengan santai berkata,"lebih mudah cari penyiar baru, ketimbang cari pembantu," kepada penyiar yang protes dan mengancam keluar dan tidak bekerja lagi.

Pahit. 

Bagaimana dengan kamu? Ikut serta dalam pawai perayaan atau menghindari karena takut macet? ;)


Ini adalah foto yang aku ambil tahun lalu. Buat yang mengerti Bahasa Perancis, silahkan artikan sendiri. :) Dan ini adalah tulisanku yang lain, 4 tahun lalu, untuk media bersama. http://narasimelly.wordpress.com/2011/05/01/kerja-tak-paksa/

24.4.11

Born To Die


Waktu kecil, hari ini identik dengan telur. Mewarnai telur dengan kreativitas masing-masing. Mencari telor yang sudah disembunyikan, terkadang begitu banyak sampai harus disimpan di rok, tidak jarang, telor-telor itu sulit sekali ditemukan. Aku ingat, mencoba memakan salah satu telor itu. Dalamnya tidak lagi putih. Ada sedikit sisa warna spidol yang dipakai menghias telor didalamnya. Herannya, aku masih makan dengan enak telor-telor itu.

Sekarang-sekarang ini, Paskah identik dengan libur panjang. Mulai dari Jumat Agung sampai Hari Paskah. Sebetulnya, disini orang lebih banyak berpikir bahwa hari Jumat itu adalah Paskah. Karena disini, kami adalah minoritas. Perayaan-perayaan hari besar seperti ini hanya dikenal jika merupakan tanggal berwarna merah yang bukan terjadi di Hari Minggu. Paskah selalu terjadi di hari Minggu. Inilah rangkaian hari libur yang setiap tahun berlangsung pada tanggal yang berbeda-beda tetapi selalu jatuh pada hari yang sama.

Dunia lebih mengenal Natal ketimbang Paskah. Setidaknya, dilihat dari gencarnya pertokoan menjadikan Natal tema belanja di setiap bulan Desember. Disini, gaung Paskah tidak terlalu kencang terdengar di pertokoan. Kecuali di negara-negara dengan mayoritas penduduk merayakan Paskah.

Lantas, apa artinya? Apakah ini hanya sebuah hari raya yang kalah gaung dengan Natal?

Tidak ada kompetisi hari raya. Tentu saja. Tetapi, tanpa Paskah, sia-sialah keyakinanku.

DIA lahir di Hari Natal. Mati di Jumat Agung. Bangkit di Hari Paskah.

Aku begitu bersuka merayakan Natal. Kado Natal. Kue Natal. Makanan Natal. Kemeriahan yang luar biasa. Sangat berbeda dengan Paskah. Tidak ada lagi kebaktian subuh yang identik aku lakukan pada saat Paskah. Bangun jam 4 pagi untuk berada di gereja jam 5 pagi. Tidak ada lagi puasa menjelang Paskah. Tidak ada renungan panjang yang aku lakukan menjelang Paskah. Aku menerimanya sebagai kesempatan untuk rehat panjang dari pekerjaan sehari-hari.

Sedih sekali.

Tanpa kebangkitanNya, percumalah semua yang aku yakini.

Paskah memang berlangsung sepi tanpa kemeriahan a la Natal. Tetapi sungguh, dalam hening ini aku meneteskan air mata. Aku bersyukur atas hidup yang telah diberikanNya. Aku bersyukur bahwa DIA telah lahir untuk mati untuk aku dan juga untukmu. Sungguh. Aku bersyukur karena DIA bangkit.

Inilah cerita Natal yang sesungguhnya.

Selamat Paskah, video di atas adalah petikan lagu "Born To Die" yang dibawakan Shawn & Shawn

19.4.11

That's Why We Are Here

Aku harus menuliskan lima kata dalam Bahasa Inggris ini. Buat aku, kalimat ini sangat lekat dengan sosok salah satu atasanku. Dia bekerja bersama dengan aku dalam waktu sangat singkat. Tiga bulan saja. Kalimat ini yang paling membekas di benakku.

That's why we are here.

Itu yang diungkapkannya ketika kami menghadapi sejumlah masalah. Sebetulnya, pekerjaan apa sih yang tidak punya masalah. Bahkan liburan pun punya masalah sendiri (biasanya masalah uang yang kurang atau waktu liburan yang terlalu sedikit sih). Jadi, setiap hari, selalu ada masalah baru atau masalah lama muncul di depan meja menunggu untuk jalan keluar.

Tidak sekali dua kali, masalah itu muncul bukan karena apa yang kita lakukan tetapi lebih ke apa yang dilakukan oleh pihak ketiga. Masalah juga bisa muncul karena keputusan yang dibuat oleh pihak-pihak yang bahkan sudah tidak lagi terlibat di dalam pekerjaan itu. Apapun itu, adalah tugas kami untuk menyelesaikan masalah yang muncul, satu demi satu.

Ya, karena itulah kenapa saya dan teman-teman satu tim ada di kantor ini. Bekerja memastikan rencana bukan sekedar rencana. Bekerja memastikan sesedikit mungkin masalah, dan kalaupun ada (percayalah, selalu ada masalah di setiap pekerjaan) selesaikanlah masalah itu secepat dan sebisa mungkin.

Soal siapa yang sebetulnya membuat masalah itu muncul, cukuplah menjadi olahraga ngomel-ngomel di waktu senggang. 
Kamu sendiri bagaimana? Kalau punya pekerjaan tidak ada masalah, mau banget deh bergabung.


17.4.11

Akhir Pekan

Dari banyak hal yang bisa dilakukan di akhir pekan, aku paling doyan untuk diam di rumah, nonton televisi dan tidur. Cukup bahkan mungkin tidur yang berlebihan. Itu lebih baik.

Akhir pekan ini adalah campuran antara bekerja dan bersenang-senang. Aku menghabiskan beberapa jam di hari Sabtu dan Minggu untuk membereskan urusan kantor. Bukan sesuatu yang aku pilih dengan senang hati, tapi toh dilakukan tanpa beban juga sih.


Sebagian besar waktu di luar urusan kerja itu, aku masih bisa menyalurkan hobi akhir pekan untuk bermalas-malasan. Seperti biasa, berakhir dengan perasaan menyesal.

Bagaimana tidak menyesal, menjelang akhir pekan, otak aku sudah penuh dengan hal-hal yang bisa dan harus dilakukan di akhir pekan. Membereskan rumah adalah salah satu yang rutin ada di daftar tunggu. Aku gilir sih. Ruang tengah, lemari pakaian, dapur dan kamar mandi. Tempat tinggalku toh tidak besar, tapi karena ini bebersih akhir pekan, aku butuh waktu yang lebih lama. Jadi, aku melakukan jadwal bergilir seperti itu. Dengan catatan, aku tidak sedang malas atau tidak harus ke Bandung. 

Akhir pekan kali ini, selain membereskan dapur dan kulkas, aku merapihkan kotak perkakas dan tumpukan DVD. Tepatnya, memisahkan DVD film horor itu, membungkusnya dengan kertas HVS, memberi tanda dan memastikan aku tidak perlu melihat sampul DVD itu pada malam-malam di depan.

Dari banyak hal yang ingin aku lakukan di akhir pekan, ada satu yang sudah 2 bulan terakhir tidak berhasil aku lakukan. Berjalan keluar rumah barang 5 menit untuk mengunjungi gym terdekat. Lari atau berenang barang satu atau dua jam *mengambil napas super panjang*. Ini sudah menjadi semacam cita-cita di atas langit saking tidak pernah terwujud! Kalau hari kerja ada berbagai macam alasan untuk menghindari gym, tetapi di hari libur kok ya malah lebih banyak lagi alasan untuk itu.

Aku sendiri tidak habis pikir, sampai beberapa waktu yang lalu, aku merasakan kebutuhan luar biasa untuk selalu bergerak. Aku bahkan pernah menghabiskan waktu istirahat makan siangku untuk melakukan cardio barang 40 menit dan kemudian makan siang di depan komputer sambil bekerja. Tiga kali seminggu, aku harus pergi sebelum jam 6 pagi untuk bisa memulai latihan sebelum ke kantor. Sekarang, di saat gym hanya 5 menit dari rumah, aku seperti punya 1001 alasan untuk menghindarinya.

Saat ini, sudah hampir jam 8 malam. Sebetulnya aku masih bisa olahraga barang sejam disana. Tinggal ganti pakaian, berjalan kaki barang 5-10 menit dan sebelum jam 10 aku sudah selesai berolahraga dan tiba di rumah. Tapi *mengambil napas super panjang kedua* aku malah ada disini, menulis blog, sambil membereskan pekerjaan kantor yang akan dibahas besok siang (alasan ya)*. 

Ah, 48 jam di akhir pekan memang tidak pernah cukup untuk segudang impian. Paling pas buat bermalas-malasan. Bayangkan kalau saja jam bisa berjalan sedikit lebih lambat pada hari Sabtu dan Minggu. Atau, mau temani aku untuk berenang malam ini?



*halaman FB juga terbuka loh


14.4.11

lifes perfect, it aint perfect you dont know what the struggles for



I was burned but I call it a lesson learned
mistake overturned, so I call it a lesson learned
my soul had returned so I call it a lesson learned
Lagu ini mengingatkanku pada keponakan cantik yang mengingatkanku pada diri sendiri pada waktu seumurnya. Ael. Kami tengah karaoke bersama dan dia memutuskan menyanyikan lagu ini. Suara dia memang bagus sekali. Sore itu, dia membawakan lagu itu dengan penuh rasa. Sedikit membuat jiper, maklum bernyanyi di tempat karaoke tidak identik dengan suara bagus dan teknik cihuy.

Lagu ini adalah lagu yang paling aku putar waktu nyetir. Alasannya tidak jelas. Satu hal saja, aku suka sekali. Itu saja.

Hari ini, aku kembali memutar lagu ini berulang-ulang. Kali ini bukan di dalam mobil tapi di kantor. Untunglah tidak banyak orang tersisa, jadi tidak ada yang protes.

Setiap hari, selalu ada pelajaran berharga. Di hari-hari tertentu, ada ujian khusus yang terjadi begitu saja. Terkadang, aku dapat nilai bagus. Sesekali, aku dapat nilai merah. Kesal sebentar, marah untuk sementara, dan kemudian membuang semua emosi dan tersenyum.


My soul had returned so I call it a lesson learned

13.4.11

Keluarga Baruku

Perkenalkan, ini keluarga baruku.



Sebetulnya, dibilang keluarga baru tidak terlalu tepat. Aku sudah bersama-sama dengan mereka selama 5 tahun. Setiap keluarga pasti ada anggota yang datang dan pergi, begitu juga dengan keluarga yang satu ini. Awalnya, aku bisa sedikit belagu menjadi satu-satunya perempuan. Setiap hari dikelilingi para pria yang berbagai macam. Eh, jangan berpikir terlalu jauh. Aku tidak tahu banyak macam dari pria-pria itu, hanya apa yang aku lihat ketika kami sama-sama sibuk dengan tugas masing-masing.

Ini adalah komposisi keluarga yang paling baru, lengkap dengan seorang bapak yang sabar menghadapi segerombolan manusia yang beranekaragam kelakuannya. Terlepas dari tingkat senioritas beliau dalam pengetahuan, pengalaman dan usia, bapak ini sangat rendah hati dan tidak sungkan untuk berbagi apapun di dalam keluarga besar ini.

Membangun keluarga ini tidak mudah. Bukan saja proses pencarian yang luar biasa berbelit tetapi juga begitu banyak ketidakpastian yang menyebabkan proses itu tidak bisa berlangsung dengan cepat dan seringkali berbeda dengan harapan awal.

Bersama merekalah, aku menghabiskan sebagian besar waktuku. Selama sembilan atau bahkan sebelas  jam sehari, aku berada dalam satu ruangan bersama mereka semua. Tidak dalam arti harafiah, tetapi ya, setidaknya aku berada di dalam satu gedung. Tata letak ruangan terbaru membuat aku berada terpisah dari keluarga besar ini.

Seperti sebuah keluarga, terkadang aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi bagian dari keluarga ini. Semua terjadi begitu saja. Manis dan pahit ya ditelan saja. Aku beruntung, selama ini aku nyaman sekali berada di tengah keluarga yang satu ini. Bukan berarti aku selalu bersenang-senang dan semua berjalan lancar seperti jalanan ibukota di hari raya. Tidak. Sebaliknya, ada kala aku merasa frutasi, sedih, marah, kesal dan bahkan ingin menyerah. Tapi toh, sebagaimana sebuah keluarga, aku selalu kembali kepada mereka. Pada akhirnya, keluarga ini adalah penopangku untuk menghadapi hari-hari kerjaku. Berada di tengah-tengah keluargaku yang satu ini, aku bisa berkata,"Baiklah, mari kita hadapi bersama."

Nah, kalau di rumah, di keluarga intiku, aku pernah di-setrap berdiri di pojokan ketika aku membuat salah. Berdiri sambil angkat satu kaki. Itulah bedanya dengan keluargaku yang satu ini. Seandainya aku bisa melakukan itu, barangkali lebih seru. Tapi, aku kan bukan orang tua mereka, lagian apa jadinya kalau di kantor ada yang berdiri di sebuah pojokan sambil angkat kaki?

Poni Baru

Aku sedang ingin centil. Atau, barangkali aku sekedar sedang bosan berat hari itu. Tidak juga, aku sedang kesal dan tidak bisa berpikir terlalu jenih. Maklum, hari Senin. Jadi, aku memutuskan untuk keluar kantor dengan tujuan menangkan diri sambil mencari udara segar. Tanpa tujuan yang pasti, aku berakhir di sebuah salon yang belum pernah aku datangi. Dekorasi bersih berwarna putih tanpa ada pelanggan lain kecuali penjaga meja tamu.

Sejam kemudian, aku mendapat tampilan baru dari sebuah poni pendek yang sekarang menghias mukaku.

Macam-macam komentar orang tentang poni itu. Paling seru sih dari satu kawan satu tim, dia kuatir untuk jalan dengan aku,"takut disangka monyet, Mba", begitu ujarnya. 

Barangkali, aku harus berganti nama menjadi Dora. 

Bisa jadi, tindakan potong poni itu adalah hal kecil yang aku lakukan secara cepat tanpa pikir panjang. Ya, aku merindukan "happy-go-lucky" yang ada di diriku. Aku tidak bisa ingat, kapan terakhir aku melakukan sesuatu yang spontan seperti itu. Ehm, tapi aku ingat kapan terakhir aku belanja secara spontan tanpa pikir panjang. Ha!

Barangkali terlalu berlebihan kalau aku bilang, aku merasa lebih ringan. Memang rambutku beratnya berapa ton, sih? Tapi memang itu perasaanku ketika melihat kaca dan melihat pantulan poni baru.

Ada kalanya, kita harus membuang hal-hal yang begitu melekat di keseharian kita, bukan? Syukur-syukur bisa jadi lebih cihuy.



12.4.11

Ritual Malam

Setelah seharian bekerja adalah kenikmatan luar biasa bisa kembali berada di rumah. 

Sepulang dari kantor, kalau sedang tidak malas, memasak makan malam adalah bagian dari proses menenangkan diri. Well, tidak usah berpikir terlalu jauh tentang kemampuan memasakku. Aku memakan yang aku masak, barangkali itulah yang terpenting.
Kalau sedang malas, televisi  menjadi pilihan. Terutama karena sekarang ini sedang musim American Idol, aku bisa duduk anteng di depan layar kaca jadul merk Chystal yang merupakan televisi lungsuran dari adik ipar. 

Ada satu kebiasaan lain yang tidak lagi rutin aku lakukan. Membaca. Aku terbiasa dan membiasakan diri untuk membaca beberapa halaman menjelang tidur. Saat ini, aku membaca kisah klasik karya Arundathi Roy. Uh, lebih berat dari yang aku bayangkan. Walhasil, aku hanya maju beberapa halaman setiap malamnya. Kalau terlalu lelah, aku memutuskan untuk melupakan buku itu.

Sebetulnya, satu hal yang paling sering aku lakukan adalah bercerita tentang segala sesuatu yang terjadi pada hari itu ke Abang. Cerita itu bisa datang dari hal-hal di kantor, di perjalanan pulang, di internet atau berbagai hal lain yang nyantol di ingatanku hari itu.

Buat aku seringkali waktu tenang menjelang tidur adalah waktu yang berharga. Tidak sekali dua kali, aku menghabiskannya hanya dengan duduk diam di ruang tengah ini, tidak melakukan apapun. Aku membiarkan pikiranku melayang-layang kesana-sini. Bayangkan gelombang air laut yang menghampiri pantai. Itulah yang terjadi. Aku membiarkan pikiranku terhadap segala hal yang terjadi sepanjang hari itu seperti gelombang yang semakin mendekati pantai dan semakin mengecil.

Sebetulnya, ini adalah ritual malam yang cukup aku rindu. Setelah menghadapi berbagai hal sepanjang hari itu, penting bagiku untuk melepas semuanya. Melepas hal-hal yang menjadi beban untuk dihadapi kemudian tetapi mendekap erat hal-hal yang membuat aku tersenyum dan menjadi kekuatan baru untuk menghadapi besok. 

Saat teduh untuk bersyukur atas hari ini.

Seperti saat ini.

5.4.11

Ayunkan Langkahmu

Sebuah upaya untuk mencapai titik tujuan dimulai dengan sebuah langkah. Bahkan ketika itu sebuah langkah kecil.

Titik tujuan bisa hanya tiga langkah ke depan di sebuah jalan datar yang mulus tetapi juga bisa sebuah titik di ujung tinggi sebuah gunung yang curam yang memberikan pemandangan dahsyat atau sebuah titik tujuan bisa berupa sebuah kawasan yang harus ditempuh dengan berbagai moda dan memakan waktu panjang.

Apapun titik tujuan itu, satu langkah diperlukan untuk memulai. Satu langkah. Kemudian langkah lainnya.

Tidak jarang, ayunan langkah dilakukan secara estafet. Bergantian. Seperti pelari estafet, sebuah tongkat diberikan dari satu pelari ke pelari lainnya. Semua sepakat menuju satu titik akhir yang sama. Keberhasilan itu ditentukan oleh setiap pelari dan setiap langkah yang dilakukan.

Terkadang tugas kita berada di pelari awal. Menjadi langkah pertama untuk memulai rangkaian perjalanan. Sebagian besar kita menjadi pelari tengah, melanjutkan penerus kita dan memastikan tongkat berlanjut. Bisa jadi kita tidak tahu siapa pelari terakhir dan bagaimana kita mengakhirinya

"Damn you", untuk dia yang kemudian memutuskan berhenti melangkah entah karena dirasakan terlalu berat atau karena garis akhir itu tidak terlihat. Ia telah menyia-nyiakan rangkaian langkah yang perlahan tetapi pasti dilakukan oleh pelari lain.

Bahkan satu langkah paling kecil tetap berarti ketimbang berhenti di tengah jalan, tapi terkadang itu resiko berjalan bersama-sama untuk sebuah tujuan yang lebih besar.

-sebuah tulisan lama yang dibuat sebagai hasil obrolan ngalor ngidul di suatu malam, sekitar 1,5 bulan yang lalu, melambai ke Kia-

12.1.11

Lingkaran Penuh Warna

Tahun 2010 betul-betul menjadi sebuah tahun perjalanan yang membawa aku semacam menyelesaikan satu putara. Full Circle. Seperti aku tulis di pertengahan tahun lalu, ini adalah perjalanan reuni panjang yang ternyata terus aku lakukan sampai akhir tahun 2010 dan akhirnya berada di titik yang kurang lebih sama dengan akhir tahun 2009.

Tidak pernah aku berencana terlalu banyak dan secara khusus di 2010 aku lebih tidak berani berencana apapun. Sepakat untuk menikmati saja dan berharap dapat mendapat energi baru yang perlahan menipis. Sungguh sulit buat aku untuk mengumpulkan energi dengan begitu banyak perpindahan tempat dan begitu banyak kegiatan baru yang aku lakukan. Kalau bukan begitu, itu bukan tahun perjalanan ya?

Tahun penuh warna dan aku memang suka itu. Segala sesuatu terasa membosankan kalau hanya satu warna. Biru, hitam, kuning, merah, putih dan warna apapun itu semua hadir di 2010. Terkadang membuat mata sakit karena warna yang terlalu menyengat, terkadang memberi perasaan adem tetapi secara keseluruhan membuat aku lebih baik. Setidaknya, rangkaian warna itu mampu membuat aku punya energi untuk menghadapi 2011.

Aneh sekali.

Barangkali pada akhirnya, di saat semua warna itu berputar dengan cepat, warna putih keluar dengan tegas. Seperti sebuah kertas baru berwarna putih, mari kita warnai tahun yang baru ini.