15.5.10

Perjalanan

Dudok, Sabtu, 15 Mei 2010.

Aku kembali berada di dalam sebuah kafe yang selalu menjadi favoritku. Dudok. Pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat, karena aku kerap menyambangi Dudok di Rotterdam bukan di Den Haag, sebagaimana aku lakukan sekarang.

Aku kembali ke tempat yang telah menjadi rumah kedua bagiku setelah Bandung. Itu juga tidak sepenuhnya tepat, karena rumah keduaku adalah Rotterdam dan kali ini aku berada di Den Haag. Tapi untukku, perbedaan itu terlalu tipis, keduanya selalu punya tempat khusus di hatiku.

Enam bulan terakhir, keseharianku mengalami  berbagai perubahan dalam waktu yang cepat. Sebuah rutinitas yang aku jalani selama tiga tahun terakhir mengalami metamorfosa.  

Jakarta. Bandung. Den Haag.

Dengan dibumbui beberapa drama, aku mengurangi aktivitasku di Jakarta dan lebih banyak menghabiskan waktu di Bandung. Perjalanan Bandung-Jakarta kembali aku lakukan setiap minggu dengan membawa kendaraan sendiri, bersama Papi dan Mami. Tempat tinggal di Jakarta dilepas. dan bersamaan dengan itu kamar di Bandung kembali dipermak sedemikian rupa untuk menjadi tempat tinggal baruku. Jalan Tol Cipularang menjadi menu mingguan. Hari kerja di Jakarta berangsur berkurang menjadi hanya 2 hari seminggu. Jumlah hari kerja di Jakarta yang sama persis dengan hari kerja Papi di Jakarta.

Tidak aku sadari, aku telah menciptakan rumah di Jakarta. Tempat tinggal yang nyaman walaupun sangat mungil. Wilayah jajahan yang sangat diakrabi walaupun terbatas di seputaran Casablanca-Kuningan-Menteng-Thamrin-Cikini. Pertemanan yang lintas umur dan jenis pekerjaan tapi terbukti ampuh mengatasi berbagai sakit kepala yang muncul atas nama pekerjaan. Serta sebuah hubungan yang kembali dibangun setelah menerima berbagai hantaman dan menjadi semakin kuat dan kuat.

Setelah membangun segala kenyamanan itu, aku sekarang melakukan sebuah perjalanan baru menjauh dari itu semua. Dan, itu adalah sesuatu yang (sebetulnya) menyesakan dada.

Aku telah mengambil sebuah keputusan karena sebuah rasa. Kesadaran bahwa seorang anak memang tidak akan pernah bisa memberikan balasan yang cukup bagi orang tua. Keinginanku adalah untuk  menjadikan mereka sebagai prioritas utamaku. Saat ini.

Selama sepuluh tahun terakhir, aku telah diberikan berbagai kesempatan yang sangat aku syukuri. Mulai dari sekolah sampai mengajar, siaran sampai bernyanyi, keliling berbagai tempat, peneliti lepas sampai akhirnya memegang sebuah proyek di lembaga internasional.  Tidak semua aku lakukan dengan nilai sempurna, tapi tidak ada satupun yang aku sesali.

Jadi, kenapa tidak untuk berhenti sejenak (karena memang buat beberapa orang, aku dilihat menyia-nyiakan karirku), dan kembali ke Bandung?

“Berhenti sejenak” adalah sebuah “understatement”. Ketika membuat keputusan ini, aku kuatir aku akan bosan karena tidak ada kerjaan. Ealaa, aku malah kemudian kesulitan bernapas karena hal-hal yang aku lakukan kemudian. Menyelesaikan buku-buku Papi yang tertunda, membangun sebuah usaha baru bersama abang, membantu teman-teman paduan suara mengorganisasi sebuah festival besar, sembari bekerja paruh waktu untuk kampusku mengurusi alumninya yang berasal dari berbagai belahan dunia.

Selama 3 bulan, aku jalani semuanya dengan senang hati.

Tetapi, perjalanan ini ternyata membawaku kembali lebih jauh. lagi Beribu-ribu kilometer dari kota kelahiranku. Perpindahan ini membawaku kembali ke Belanda. Sebuah kabar menggembirakan datang di pertengahan April dan setelah terkatung-katung menunggu debu vulkanik dari Islandia berhenti, aku tiba.

Dan, disinilah aku. Di Dudok. Dimana aku biasa membeli apple pie mereka yang kondang itu. Aku kerap membawanya sebagai buah tangan atau sekedar aku nikmati sembarimenghabiskan waktu bersama teman-teman ditemani secangkir coklat panas. Sepuluh tahun dan tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Tapi kali ini, aku sendirian, menikmati matahari yang tumben memutuskan untuk muncul sambil mencoba menyelesaikan sebuah tulisan yang harus diberikan besok malam.

Perjalananku ke tempat ini pun merupakan perjalanan reuni. Aku habiskan hari-hariku untuk mengunjungi Dindin-Roos-Rene di Purmerend, Ratna-Nara-Eko di Paris, Mansi-Bram di Den Haag, Alfie di Brussel, Sarah di Rotterdam, dan mudah-mudahan aku masih bisa bertemu Aida, Mia, Hermina-Lovina-Rene, Patsy, Tifa, Claudia dan Nicolette, Pawel, Marc dan bahkan Jolita di Lithuania sana.

Aku pikir, ini adalah sebuah perjalanan reuni bagiku. Perjalanan reuni besar yang dimulai sejak akhir tahun lalu. Sebuah kesempatan untuk balik kanan dan melihat banyak hal yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Mengingatkanku akan hal-hal penting dalam hidupku dan hal-hal penting untuk menjadi aku yang lebih baik lagi. Semacam detoksifikasi dari hidup beritme super cepat yang terjadi dalam tiga tahun terakhir yang berisi begitu banyak hal termasuk barangkali racun-racun yang membuat aku lupa akan hal-hal penting.

Dan terkadang, perlu ambil sebuah keputusan yang membuat kita jauh dari seluruh kenyamanan yang ada – untuk sementara waktu. Untuk memungkinkanku melihat semua dalam jarak yang tepat dan perspektif yang pas. Ini, tidak aku rencanakan tapi juga tidak aku sesali.

1 comment:

  1. mbakdan3:50 pm

    huaa... melly.. nitip dark chocolate yang isinya marzipan duooonggs.. di sini syusah bener nyarinya.. :D hihihi

    ReplyDelete