21.7.10

Seragam Yang Beragam

Enam belas tahun lalu, aku bergabung ke dalam satu keluarga besar yang suka bernyanyi atau setidaknya mencintai nyanyian. Aku sebetulnya tidak terlalu sering menghabiskan waktu bersama keluarga tersebut, lebih banyak bermain di tempat lain, tetapi aku tahu bahwa mereka adalah keluarga yang tidak bisa begitu saja aku lepaskan.

Disitu aku belajar banyak, lebih dari sekedar bernyanyi. Aku belajar mengenal berbagai karakter, aku belajar untuk menghargai orang dan banyak sekali kemampuan dan keterampilan yang aku pergunakan di tempat kerja, aku peroleh dari situ.

Keluarga ini terdiri dari berbagai karakter. Terkadang ada karakter ekstrim yang bikin pusing kepala, tetapi lebih banyak karakter menyenangkan dengan "sense of humor" yang begitu menyegarkan. Semua menjadi satu walaupun tidak berarti bahwa semua menjadi satu karakter. Justru setiap orang tetap pada karakter masing-masing tetapi sejalan dengan waktu, kami semua terus bersama dengan segala perbedaan itu.

Bisa jadi itu adalah buah dari berbagai latihan yang kami lakukan. Sebagai bagian dari sebuah paduan suara, tidak ada seorang pun yang menjadi lebih penting dari yang lain. Setiap orang dalam kelompok itu adalah penting. Berbagai suara yang dihasilkan harus menjadi sebuah komposisi yang satu, yang harmoni, yang dapat dinikmati. Seorang yang ingin menonjolkan diri akan membuat seluruh komposisi berantakan. Sebaliknya, seseorang yang tidak mau memberikan kekuatan yang sama pun akan membuat seluruh komposisi berantakan.

Kalau ada istilah sepakat untuk tidak bersepakat barangkali -walaupun tidak sepenuhnya tepat- bisa diterapkan. Bernyanyi dalam sebuah paduan suara bukan berarti semua harus "seragam". Bernyanyi dalam sebuah paduan suara mengajarkan aku untuk tetap menjadi diriku sendiri tetapi juga mengeluarkan yang terbaik sembari melatih mata untuk tetap memperhatikan konduktor dan melatih telingaku untuk juga mendengar suara-suara di sekitarku. 

Tidak  mungkin berlatih tanpa seluruh penyanyi hadir. Tidak bisa menghadirkan kompisisi indah tanpa seluruh penyanyi mengikuti apa yang tertulis. Tidak bisa dinikmati jika seseorang merasa perlu menonjolkan diri atau sebaliknya merasa malas untuk melakukan yang terbaik.

Bekerja sama dalam segala perbedaan untuk menghasilkan sebuah hasil terbaik, melalui latihan terus menerus, mengikuti aturan dan terutama memakai hati untuk merasakan sebuah komposisi.

Itu adalah resep utama yang aku pelajari selama bertahun-tahun dan ternyata itu juga resep penting dalam banyak hal yang aku lakukan selama ini di berbagai kegiatan yang aku lakukan. Tahun ini, aku kembali bekerja bersama keluarga besar ini melakukan sebuah kegiatan yang menjadi ajang belajar terbaik yang pernah aku alami. Aku kembali bergabung untuk mempersiapkan Festival Paduan Suara ITB 2010. Sebuah kegiatan besar dua tahunan yang diselenggarakan oleh keluarga ini. Pertama kali aku mempersiapkan festival ini adalah di tahun 2006 dan saat itu aku harus belajar menjaga keseimbangan antara kegiatan festival, perkuliahan dan pertemanan serta keluarga. Kali ini, aku merasa beruntung untuk kembali bekerja dengan keluarga besar ini, untuk bersama-sama menyelenggarakan kegiatan ini dengan pendekatan berbeda dan tentu saja mudah-mudahan hasil yang jauh lebih baik. Tahun ini ada ambisi besar untuk membuat sebuah kegiatan yang bersifat dan standar internasional karena keyakinan bahwa paduan suara di Indonesia mampu melakukannya dan karena kami yakin, kami mampu melakukannya. 

Festival ini kerja keras banyak pihak. Seperti sebuah paduan suara, pekerjaan ini melibatkan berbagai pihak yang sama sekali tidak seragam. Pihak yang terlibat tidak melulu mereka yang mencintai atau menyukai dunia kepaduansuaraan tetapi keterlibatan mereka diperlukan untuk menciptakan festival ini. Kenapa tidak, tokh kami terbiasa untuk menjadi seragam yang beragam. Dan, sebagaimana bernyanyi dalam paduan suara, keterlibatan setiap orang dalam persiapan festival adalah sama pentingnya. Untunglah, kami terlatih untuk menghargai ini semua.

Hanya tinggal beberapa hari lagi dan seperti biasa semua tekanan mulai makin keras dirasakan. Tetapi aku yakin terhadap kekuatan keluarga ini, bukan saja pada kemampuan bernyanyi dan bekerja tetapi pada keterikatan yang membuat kami satu. Pada akhirnya, sebuah keluarga adalah sebuah keluarga - apapun yang saat itu dihadapi.

Selamat bekerja ya teman-teman.





15.5.10

Perjalanan

Dudok, Sabtu, 15 Mei 2010.

Aku kembali berada di dalam sebuah kafe yang selalu menjadi favoritku. Dudok. Pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat, karena aku kerap menyambangi Dudok di Rotterdam bukan di Den Haag, sebagaimana aku lakukan sekarang.

Aku kembali ke tempat yang telah menjadi rumah kedua bagiku setelah Bandung. Itu juga tidak sepenuhnya tepat, karena rumah keduaku adalah Rotterdam dan kali ini aku berada di Den Haag. Tapi untukku, perbedaan itu terlalu tipis, keduanya selalu punya tempat khusus di hatiku.

Enam bulan terakhir, keseharianku mengalami  berbagai perubahan dalam waktu yang cepat. Sebuah rutinitas yang aku jalani selama tiga tahun terakhir mengalami metamorfosa.  

Jakarta. Bandung. Den Haag.

Dengan dibumbui beberapa drama, aku mengurangi aktivitasku di Jakarta dan lebih banyak menghabiskan waktu di Bandung. Perjalanan Bandung-Jakarta kembali aku lakukan setiap minggu dengan membawa kendaraan sendiri, bersama Papi dan Mami. Tempat tinggal di Jakarta dilepas. dan bersamaan dengan itu kamar di Bandung kembali dipermak sedemikian rupa untuk menjadi tempat tinggal baruku. Jalan Tol Cipularang menjadi menu mingguan. Hari kerja di Jakarta berangsur berkurang menjadi hanya 2 hari seminggu. Jumlah hari kerja di Jakarta yang sama persis dengan hari kerja Papi di Jakarta.

Tidak aku sadari, aku telah menciptakan rumah di Jakarta. Tempat tinggal yang nyaman walaupun sangat mungil. Wilayah jajahan yang sangat diakrabi walaupun terbatas di seputaran Casablanca-Kuningan-Menteng-Thamrin-Cikini. Pertemanan yang lintas umur dan jenis pekerjaan tapi terbukti ampuh mengatasi berbagai sakit kepala yang muncul atas nama pekerjaan. Serta sebuah hubungan yang kembali dibangun setelah menerima berbagai hantaman dan menjadi semakin kuat dan kuat.

Setelah membangun segala kenyamanan itu, aku sekarang melakukan sebuah perjalanan baru menjauh dari itu semua. Dan, itu adalah sesuatu yang (sebetulnya) menyesakan dada.

Aku telah mengambil sebuah keputusan karena sebuah rasa. Kesadaran bahwa seorang anak memang tidak akan pernah bisa memberikan balasan yang cukup bagi orang tua. Keinginanku adalah untuk  menjadikan mereka sebagai prioritas utamaku. Saat ini.

Selama sepuluh tahun terakhir, aku telah diberikan berbagai kesempatan yang sangat aku syukuri. Mulai dari sekolah sampai mengajar, siaran sampai bernyanyi, keliling berbagai tempat, peneliti lepas sampai akhirnya memegang sebuah proyek di lembaga internasional.  Tidak semua aku lakukan dengan nilai sempurna, tapi tidak ada satupun yang aku sesali.

Jadi, kenapa tidak untuk berhenti sejenak (karena memang buat beberapa orang, aku dilihat menyia-nyiakan karirku), dan kembali ke Bandung?

“Berhenti sejenak” adalah sebuah “understatement”. Ketika membuat keputusan ini, aku kuatir aku akan bosan karena tidak ada kerjaan. Ealaa, aku malah kemudian kesulitan bernapas karena hal-hal yang aku lakukan kemudian. Menyelesaikan buku-buku Papi yang tertunda, membangun sebuah usaha baru bersama abang, membantu teman-teman paduan suara mengorganisasi sebuah festival besar, sembari bekerja paruh waktu untuk kampusku mengurusi alumninya yang berasal dari berbagai belahan dunia.

Selama 3 bulan, aku jalani semuanya dengan senang hati.

Tetapi, perjalanan ini ternyata membawaku kembali lebih jauh. lagi Beribu-ribu kilometer dari kota kelahiranku. Perpindahan ini membawaku kembali ke Belanda. Sebuah kabar menggembirakan datang di pertengahan April dan setelah terkatung-katung menunggu debu vulkanik dari Islandia berhenti, aku tiba.

Dan, disinilah aku. Di Dudok. Dimana aku biasa membeli apple pie mereka yang kondang itu. Aku kerap membawanya sebagai buah tangan atau sekedar aku nikmati sembarimenghabiskan waktu bersama teman-teman ditemani secangkir coklat panas. Sepuluh tahun dan tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Tapi kali ini, aku sendirian, menikmati matahari yang tumben memutuskan untuk muncul sambil mencoba menyelesaikan sebuah tulisan yang harus diberikan besok malam.

Perjalananku ke tempat ini pun merupakan perjalanan reuni. Aku habiskan hari-hariku untuk mengunjungi Dindin-Roos-Rene di Purmerend, Ratna-Nara-Eko di Paris, Mansi-Bram di Den Haag, Alfie di Brussel, Sarah di Rotterdam, dan mudah-mudahan aku masih bisa bertemu Aida, Mia, Hermina-Lovina-Rene, Patsy, Tifa, Claudia dan Nicolette, Pawel, Marc dan bahkan Jolita di Lithuania sana.

Aku pikir, ini adalah sebuah perjalanan reuni bagiku. Perjalanan reuni besar yang dimulai sejak akhir tahun lalu. Sebuah kesempatan untuk balik kanan dan melihat banyak hal yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Mengingatkanku akan hal-hal penting dalam hidupku dan hal-hal penting untuk menjadi aku yang lebih baik lagi. Semacam detoksifikasi dari hidup beritme super cepat yang terjadi dalam tiga tahun terakhir yang berisi begitu banyak hal termasuk barangkali racun-racun yang membuat aku lupa akan hal-hal penting.

Dan terkadang, perlu ambil sebuah keputusan yang membuat kita jauh dari seluruh kenyamanan yang ada – untuk sementara waktu. Untuk memungkinkanku melihat semua dalam jarak yang tepat dan perspektif yang pas. Ini, tidak aku rencanakan tapi juga tidak aku sesali.

24.1.10

Selamat Menempuh Hidup Baru, Abang!

Abang,
Kali ini, aku melakukannya sesuai dengan permintaanmu.Kamu mau menghabiskan waktu berdua tanpa harus dicekcoki berbagai urusan lain. Hari ini kamu ingin dapat memenuhi egomu untuk bersamaku.

Abang,
Hari ini, kita memperoleh kesempatan untuk melihat sebuah film. Bukan film pilihanmu, tetapi film pilihanku. Kesempatan yang aku lepas karena hari ini, kita melakukan banyak hal sesuai dengan caramu. Kita memang punya selera yang sedikit berbeda urusan film dan musik, tapi tokh kita tetap dapat menikmati film dan musik bersama-sama. Sering kamu mengalah untuk mendengarkan musik pilihanku, dan di lain waktu aku mengalah untuk menikmati musik pilihanmu. Tapi tokh cukup banyak film dan musik yang sama-sama kita sukai, kan? Jadi, tidak perlu membesar-besarkan perbedaan yang ada. Semua dinikmati saja!

Sayang,
Kali ini, ritual tahunan pun aku lakukan dengan caramu. Tidak ada perayaan. Tidak ada keriaan. Tidak ada lilin. Sebagai ganti, di meja terdapat sebuah kue coklat dan secangkir kopi hitam pekat. Kue coklat itu terasa sedikit pahit di bagian tertentu, dan kamu terkejut dengan rasa panas di dalam coklat itu. Hidup pun baru lengkap dengan seluruh rasa pahit dan manis, dan sesekali ada kejutan panas. Semua membuat hidup terasa lebih lengkap, bukan?


Sayang,
Kata orang, pada angka inilah hidup malah baru dimulai. Jadi, tidak salah kalau aku bilang, selamat menempuh hidup baru, kan? Lakukan dengan caramu, untuk menikmati dan menghidupi setiap hari yang akan kamu lalui. Supaya hidup semakin terus bermakna.

Selamat ulang tahun, terimakasih untuk ada dalam hari-hariku.

7.1.10

Jangan Sayang, Buang Saja!

Adalah sebuah tabiat lamaku menyimpan barang dengan pertimbangan "siapa tahu nanti butuh" atau tidak dibuang karena benda tersebut memberi kenangan tertentu - tanpa fungsi yang jelas. Tiket nonton dan kartu tanda kepanitiaan adalah dua hal yang aku kumpulkan dan didokumentasikan di agenda. Post it berisi to-do-list tidak langsung aku buang karena aku merasa membutuhkan bukti rekam tertulis atas hal-hal yang aku kerjakan. Daftar ini bisa sangat panjang!

Ketika aku tinggal di sebuah unit mungil, aku dipaksa untuk bijak dalam membeli dan menyimpan barang. Tidak ada kemewahan ruang yang membuat aku bisa semena-mena menyimpan ini dan itu. Aku mulai menyortir pakaian dan tas yang bertumpuk. Sebagian aku berikan kepada beberapa orang, mereka bisa memakainya atau menjualnya. Tumpukan majalah yang menjadi satu titik lemahku pun aku singkirkan. Hanya majalah yang betul-betul penting - dan itu biasanya berhubungan dengan kondisi sosial politik dan ekonomi bukan fashion  - yang aku simpan. Sisanya, lagi-lagi aku berikan kepada pramubakti kantor. Dia bisa jual majalah itu dengan harga yang lumayan.

Aku bisa dengan santai menuduh kedua orangtuaku yang menurunkan kebiasaan ini. Ketika akhir tahun kemarin aku melakukan pembersihan besar-besaran di rumah orangtuaku, aku menghadapi kesulitan untuk meyakinkan orangtuaku, terutama ayahku untuk menyingkirkan begitu banyak perkakas bekas. Paku-paku. Sekumpulan kunci. Sekrup. Pigura yang setengah rusak. Kumpulan cakram padat dari program komputer jaman kiwari. Semua yang disimpan atas nama "siapa tahu nanti dibutuhkan".

Kenyataan bahwa barang-barang itu dilapisi debu yang super tebal dan bahkan keberadaannya pun lebih sering tidak disadari merupakan sebuah bukti bahwa barang-barang tersebut tidak dipakai. Ketika seseorang butuh paku, dia akan membeli paku baru dan tidak membongkar kaleng-kaleng bekas yang bertumpuk-tumpuk di rak buku.

Proses membersihkan sebuah kamar lama yang kemudian menjadi kamar baruku menghasilkan 5 plastik besar sampah, yang sebagian dibeli oleh tukang pengumpul brangkal dan barang bekas! Hanya untuk satu kamar, loh.

Aku memutuskan melakukan hal yang sama di meja kantorku.Ini adalah posisi dan meja ke-4 yang aku miliki selama bekerja disini. Sebetulnya, aku cukup rutin membersihkan mejaku - terutama ketika ada tenggat waktu sebuah laporan, karena aku butuh sebuah ruang kerja yang rapi dan bersih sebelum memulai kerja besar. Paling tidak, setiap kali pindahan, aku membuang dokumen-dokumen yang tidak lagi dibutuhkan. Tapi tokh, aku masih menghasilkan setumpuk sampah yang cukup besar. Aku tahu sih, sebagian besar sampah kertas itu masih bisa dipakai ulang atau setidaknya dijual.

Aku baru tahu, bahwa apa yang aku lakukan bisa jadi adalah cara untuk "unclutter my life". Membuang tumpukan-tumpukan percecelan (istilahku, aku tidak bisa mendefinisikan kata yang satu ini) dalam hidupku. Melangkah ke depan, tidak hanya butuh perencanaan matang luar biasa dan mimpi besar, tetapi melepas hal-hal yang menghambat kita maju. Terkadang ada perasaaan "sayang" untuk membuang hal yang begitu melekat pada kehidupan kita, tapi tokh tetap harus dilakukan. Kaki kita sulit melangkah ketika ada begitu banyak hal menghambat perjalanan!

Jadi, apakah sebarapa banyak "clutter" yang kamu bawa dari tahun-tahun di belakang?


Oya, ini dia artikel yang aku temukan hari ini: 12 ways to unclutter your life.