6.10.09

Kenikmatan Si Pemotret

Kris, adikku, baru saja membeli kamera digital baru. Barang yang sebetulnya sudah aku incar, terutama sejak kamera tersayang digondol maling beberapa bulan yang lalu.

Beberapa tahun aku berupaya menyisihkan sedikit dari penghasilanku untuk membeli kamera DSLR. Sebelum itu, aku cukup berpuas hati dengan beberapa kesempatan untuk memegang kamera pinjaman. Kamera yang cukup lama ada di tanganku adalah Nikon D70 milik dua orang teman: Mba Okol dan Jimbong. Lama aku berharap salah satu dari mereka akan melepas barang kesayangan mereka itu. No luck *wink, Mba*

Entah bagaimana, di satu hari di Bulan Februari, ada keinginan mendadak yang muncul begitu saja untuk langsung pergi ke BEC dan membelanjakan salah satu pos tabunganku untuk kamera DSLR itu. Aku anggap ini adalah hadiah bagi diriku sendiri. Tidak banyak survey yang aku lakukan. Harga adalah pertimbangan utama. Maklum, aku ini bukan pemotret andal, hanya seseorang yang menyukai potret. Kalau saja potret aku menghasilkan uang, barangkali aku akan lebih gigih menabung.


Aku sempat berbicara dengan beberapa rekan yang aku tahu punya foto-foto yang luar biasa. Dinda, Buyung, Dita adalah tiga diantaranya. Pembicaraan dengan mereka membuat aku cukup percaya diri untuk membeli Canon EOS400D sebagai pendamping kamera pocket aku saat itu, IXUS 75. Aku bertekad untuk pelan-pelan menabung membeli lensa sementara aku harus terus mengasah kemampuan aku memotret dengan lebih baik, lebih tajam dan lebih berbicara.

Sayang sekali, dua kamera itu sama-sama digondol maling. IXUS75 itu hilang di Noi Bai International Airport di Hanoi di pertengahan tahun lalu. EOS400D itu diembat tanpa ijin dari mobil yang tengah diparkir di depan rumah di tengah hari bolong di sebuah akhir pekan di Bulan Juli.

Sekarang, aku harus cukup puas dengan IXUS860IS. Sebuah kamera pocket yang tentu saja jauh dari kesan profesional. Kamera ini selalu aku bawa kemana-mana. Sudah lama memang, aku punya kebiasaan untuk selalu membawa kamera pocket di dalam tas. Bentuknya ringan dan pemakaiannya mudah. Aku bisa merekam banyak hal dari kehidupan sehari-hari aku. Kamera ini juga punya fitur menarik seperti color accent, salah satu menu favorit aku. Layar yang lebar adalah faktor utama mengapa aku membeli kamera ini setahun lalu, layar yang sama besar dengan layar IXUS75.

Kalau membandingkan hasil kamera pocket dengan kamera DSLR, aku sering kesal. Rasanya berbeda. Tapi, dipikir-pikir lebih lanjut, ini adalah tantangan untuk mengasah "rasa" dalam mengambil potret.

Aku tidak pernah belajar komposisi. Untuk yang ini, aku suka dapat bisikan dari Iman. Aku tidak punya pengetahuan mendalam tentang berbagai teknik fotografi dan juga kamera. Beruntung aku mendapat buku menarik dari Kiki tentang ini. Rencana untuk ikut salah satu pelatihan foto jurnalistik itu pun gagal karena keteloderan melihat tenggat waktu pendaftaran. Aku hanya tahu kenikmatan yang diperoleh dari foto-foto itu.

Aku tidak punya kategori foto bagus. Maklum, aku ini pemotret amatir yang hanya berfoto untuk menyenangkan diri sendiri. Tetapi aku tahu, foto-foto mana yang membuat aku bahagia dan foto-foto mana yang sama sekali tidak memberi dampak apapun buat aku. Aku berterimakasih pada para pemotret jempolan itu, sudah memberi kenikmatan visual buat aku.

Kalau kalian kebetulan lihat-lihat foto jepretanku, silahkan kasih komentar supaya aku bisa terus mengasah asa lewat foto. Sementara itu, aku harus cukup puas dengan kamera DSLR pinjaman dari Kris atau Abang sambil menabung untuk bisa beli kamera lagi.