24.4.09

Selami Pikiran. Selami Tulamben.

Pada mulanya…

Sepuluh tahun yang lalu, untuk pertama kali aku mengenal komunitas menyelam sebagai bagian dari pekerjaanku. Orang yang menjadi sumber informasi itu pun dengan semangat mengajak aku belajar menyelam. Waktu itu, aku merasa itu terlalu mahal dan terlalu besar. Pikiran itu aku simpan saja di dalam hati. Empat tahun yang lalu, lagi-lagi karena urusan pekerjaan aku kembali mengenal kelompok selam lain. Kaufik, sebagai sumber informasi utama merupakan orang yang paling semangat mengompori aku untuk ikut belajar. Aku tersulut. Entah berapa kali aku mencoba bergabung di salah satu dari sekian banyak kelas yang diadakan oleh Kaufik. Sampai-sampai aku malu sendiri karena menjadi orang yang cuman omong-omong dan berencana tanpa ada aksi apapun!

Sampai di awal tahun 2007, aku kembali diingatkan dengan keinginanku yang satu itu. Teman masa sekolahku, Unieng, baru saja menjadi salah satu PADI OWSI (Open Water Scuba Instructor) perempuan pertama di Bali. Itu pun baru di awal tahun 2008, aku mulai tanya-tanya untuk mengambil kursus itu. Unieng sudah mengirimkan open water manual sejak awal 2008. Katanya,” Yang penting langsung pegang buku deh.. biar ada feeling kalo udah mulai kursus. haha.“ Dan dia benar, buku itu membuat aku tidak bisa begitu saja membuang ide untuk belajar selam buru-buru. Buku itu selalu aku lihat setiap aku menonton tivi karena aku letakan di jajaran buku persis di sebelah televisi. Tapi, sesekali melihat dan membaca buku itu tidak membuat aku menyelam, bukan?

Saking seringnya aku membuat rencana untuk ambil kursus satu ini, dua bulan lalu mantan boss aku sampai bertanya,”udah jadi ke Bali dan dapat sertifikatnya?”. Ouch. Aku buru-buru buat rencana baru. Kontak Unieng, pesan tiket (walaupun dengan perasaan ketar ketir karena pekerjaan di kantor sedang bertumpuk-tumpuk), dan kembali membaca buku manual dari awal!
Ah, pokoknya tiket sudah di tangan dan ijin cuti sudah diperoleh.


***

Maka terjadilah, perlawanan terhadap diri sendiri!

Untuk pertama kali aku menjejakan kaki di bagian timur Bali. Tiba dini hari, tidak banyak yang bisa aku lihat. Baru setelah bangun dari tidur, aku melihat alam yang indah di depan mata. Hijaunya pepohonan, laut yang tenang dengan air yang bening, pantai berpasir. Sempurna!

Tapi aku disini bukan untuk bermalas-malasan di tepi pantai sambil membaca buku. Aku datang untuk menuntaskan rencana yang sudah terlalu lama disimpan. Menuntaskan open water course, secepatnya!

Aku dan Unieng pergi ke daerah Tulamben, sekitar setengah jam dari Desa Lipah, Amed. Setengah dari materi hari itu berhasil aku selesaikan dengan mudah. Tidak ada masalah. Termasuk mendadak harus belajar mengapung dan melakukannya selama 10 menit tanpa berhenti. Rasa lapar menghentikan kegiatan siang itu!

Kembali ke kolam setelah makan siang ternyata tidak semudah yang aku kira. Ketika Unieng berkata bahwa kami akan mencoba melatih tanda kehabisan udara dan Unieng akan menutup tanki udara aku sebentar, aku langsung lemas. Jantungku berdebar begitu keras. Perutku mual bukan kepalang. Badanku begitu tegang. Walhasil, aku bahkan tidak berani berada di dalam air!
Gila! Betul-betul gila!

Aku bolak balik ke kamar mandi hanya untuk muntah. Rasa mual tidak berkurang. Kembali ke air, jantungku tidak keru-keruan sehingga napasku menjadi sangat tidak teratur. Aku merasa sesak napas. Padahal Unieng dengan sabar terus memberi tanda untuk mengambil napas panjang dan dalam. Satu cara yang paling baik untuk bernapas di dalam air dengan bantuan tanki udara itu.

Pelan-pelan, aku kembali ke kolam, melakukan setiap training satu demi satu. Sulit sekali. Aku nyaris selalu butuh berhenti setelah dua training. Aku menolak untuk masuk ke bagian kolam yang dalam. Ehm, dalam sekitar dua meter saja! Padahal sebelum makan siang, aku sudah berada di bawah sana dengan santai melakukan ini dan itu. Sore itu, aku seperti kehilangan akal sehatku!

Aku bahkan tidak tahan untuk tidak menangis karena kesal dengan diriku sendiri. Aku diberi kesempatan untuk menelepon untuk menenangkan diri. Unieng bahkan menemaniku ngobrol kesana kemari. Aku bisa melihat kelelahan di wajahnya, tapi dia masih tetap tersenyum, menemaniku berbicara.

Aku memang punya ketakutan terhadap ruang tertutup. Aku bahkan tidak bisa memakai helm tipe full-face karena biasanya aku menjadi panic dan bahkan tidak bisa membuka helm tersebut. Aku bisa sesak napas melihat adegan seseorang diceburkan ke air di film-film laga.

Anehnya, itu semua tidak terlihat mempengaruhiku pada sesi pagi sampai siang hari, loh!

Aku mencoba masuk ke kolam kembali. Unieng, sambil tersenyum mengingatkan bahwa semua kepanikanku itu hanyalah sesuatu yang “berlarian dari kuping kiri ke kuping kanan”. Semua hanya bayanganku.

Lewat telepon, Abang bercerita tentang masa-masa pelatihan naik gunung. Abang berbagi cerita mengenai orang-orang yang patah semangat untuk melanjutkan pendakian. Abang juga bercerita tentang pelatih yang membiarkan siswa tergantung di tebing ketika mulai mandek meneruskan pemanjatan.

Ah, betapa pikiran punya kekuatan yang begitu besar! Sugestiku membuat aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk sekedar bernapas dengan tenang pun sulit aku lakukan. Berbagai pikiran melintas, termasuk pikiran untuk menyerah. Aku bahkan menyesali kenapa aku bahkan berminat untuk melakukan hal ini. Mencari masalah untuk diri sendiri. Aku berpikir untuk keluar kolam dan menyudahi semuanya. Tokh, ini harusnya merupakan kegiatan senang-senang. Aku masih bisa menghabiskan sisa hariku dengan bersenang-senang di tepi pantai, snorkeling, atau sekedar berjalan-jalan.

Matahari semakin surut. Kolam semakin gelap. Ketakutanku semakin tinggi. Saat itu ada beberapa orang lain di sekitar kolam. Semua memberikan dukungan penuh kepadaku. Seorang perempuan muda dengan tenang berkata,”it is worthed.” Dia bilang, dia bahkan butuh waktu 5 minggu untuk melakukan apa yang aku lakukan di kolam. Unieng terus memompakan semangat dan tersenyum kepadaku. Tapi dia tidak pernah mengusulkan berhenti atau beristirahat. Unieng terus berkata,”sebentar lagi” atau “satu jam lagi” atau “satu lagi”. Ah!

Ternyata, hari pertama di kolam renang seperti tamparan keras di mukaku. Aku berpikir, bahwa cinta aku pada pantai dan laut serta waktu yang aku pakai untuk mempelajari manual open diver sudah cukup menjadi bekal mengambil kursus untuk open water. Aku tidak pernah berpikir bahwa butuh urusan non-teknis untuk bisa menyelam! Aku harus melawan ketakutan-ketakutan yang hanya ada di dalam pikiranku sendiri. Berlari-lari di antara kuping kiri dan kuping kananku. Pikiran yang begitu kuat, yang mampu membuat aku begitu lemah dan tidak bisa melakukan apapun.

Ketika aku berhasil menyelesaikan semua, badanku terasa lemas. Tidak aku hiraukan senyuman orang-orang di sekitarku. Aku hanya ingin berganti pakaian. Sepanjang perjalanan pulang ke Bayu Cottages, aku kembali memutar kejadian hari itu berulang kali di pikiranku. Aku masih tidak percaya betapa aku begitu ketakutan. Aku begitu lega semua bisa selesai. Aku menyadari bahwa aku baru saja melawan diriku sendiri, melawan pikiran-pikiran yang sering muncul di benakku yang sebetulnya merupakan ketakutan yang tidak diperlukan.

Bukan sekali dua kali, aku begitu bersemangat mengerjakan sesuatu, dan kemudian aku tinggalkan begitu saja karena aku bosan atau karena aku berpikir hal itu terlalu besar. Kejadian di kolam renang mengingatkanku untuk menjaga motivasi, menghiraukan pikiran negatif tidak berdasar, dan menyelesaikan sampai titik penghabisan!

Hari itu, aku tidur dengan satu kesadaran baru. Sebuah cermin besar yang diberikan pada hari itu membuat aku melihat diriku lebih jelas, termasuk melihat betapa aku mudah dibodohi oleh hal-hal yang sebetulnya hanya eksis di dalam pikiranku.



***

Gigitan Ikan Hijau

Pagi itu aku bangun dengan lebih segar. Kali ini, aku memutuskan untuk makan besar dan melupakan untuk sementara kebiasaanku untuk menghindari goring-gorengan. Nasi goreng lengkap dengan buah dan kopi Bali.

Hari itu, untuk pertama kali aku mengintip ada apa di bawah sana.

Beban tangki dan BCD yang nyaris sampai 20 kilogram itu langsung terasa ringan begitu masuk ke dalam air. Tidak ada suara lain kecuali napas aku. Melihat bintang laut hijau yang memukau yang tampaknya berada tidak jauh dari wilayah telur seekor tiger fish. Tidak heran, ikan itu langsung berenang kencang ke arah kami. Aku tidak berani bergerak dan hanya memegang tangan Unieng erat-erat. Tapi tidak ada yang terjadi, dia hanya berusaha mengusir kami. Aku melihat sekumpulan eel, naik dan turun, agak geli tapi menarik. Aku melihat sekilas bekas kapal perang yang karam tersebut. Tidak terlalu jauh, karena itu terlalu dalam dan gelap. Kami berhenti di satu tempat, mencoba mempraktekan beberapa hal dari latihan di kolam. Pada saat itu, segerombolan ikan menghampiri kami. Ah! Sampai-sampai seekor ikan super kecil berwarna hijau mengigit kecil lututku. Ehm, barangkali rasanya enak buatnya.

Hari itu, dua kali aku kembali ke laut. Aku menikmati keduanya, walaupun aku lebih senang ketika aku turun di pagi hari pada waktu matahari sedang cerah, air hangat, laut tampak cerah! Aku menikmati berbagai kehidupan di bawah air. Aku hanya tidak menikmati proses naik ke permukaan. Reverse block, katanya. Kupingku agak sakit. Sehingga kami harus naik perlahan-lahan. Menurut Unieng, barangkali aku ini memang malas untuk naik lagi ke permukaan dan lebih betah ngendon di bawah sana. Bisa jadi, Ning!

Hal yang sama aku lakukan keesokan harinya. Hari ketiga aku di Bali. Masih menyelam di sekitar Tulamben, tapi kali ini aku dibawa ke coral garden. Hari itu, lebih banyak diver berkeliaran, termasuk kapal-kapal yang mengantar para diver. Kami harus berhati-hati. Hari itu, aku menikmati pemandangan yang berbeda. Nudibranch hitam putih, napoleon fish, longnosed unicorn fish adalah sebagian kecil yang aku lihat hari itu. Unieng bercerita bahwa pada saat ramai, bisa ada 300 orang yang menyelam di daerah tersebut!

Hari itu, aku menyelam dengan lebih santai. Aku tokh tidak perlu bawa alat-alat. Seorang porter perempuan dengan gagah membawa tangki kami, berjalan dengan santai dan pasti di atas batu-batu itu. Aku saja mengalami kesulitan untuk berjalan disitu. Disitu memang ada beberapa porter yang siap membantu diver membawa tangki.

Dengan berakhirnya dive aku yang terakhir, berakhir juga kursus yang aku ikuti. Setelah menyelesaikan kuis dan test tertulis yang dilakukan di Bayu Cottages di pagi hari dan melalui 4 kali penyelaman, aku memperoleh open water diver certificate. Gila! Lega banget.

Aku merasa beruntung karena punya teman yang begitu sabar, tenang dan baik menemani aku melewati titik-titik tersulit. Unieng selalu tersenyum, tertawa dan menggoda aku untuk memastikan aku memahami semua aturan yang ada dan terutama memastikan aku menikmati alam bawah laut itu dengan penuh rasa senang. Abang juga tidak berhenti menggodaku dan memompa semangatku. Sampai sekarang, aku masih senyum-senyum mengingat semuanya. Setiap ingatanku membawaku kembali ke Amed dan Tulamben, aku kembali berterimakasih ke Unieng buat kegigihannya. Passion dia terhadap kehidupan bawah laut betul-betul menular!



***

Sampai nanti!

Berat rasanya untuk meninggalkan Amed yang begitu tenang. Pantai yang sepi dan jernih. Bawah laut yang menggoda. Sahabat yang begitu sabar.

Sepanjang perjalanan pulang, aku disuguhi pantai, sawah, gunung dan berbagai keindahan alam. Ah, aku menemukan titik favorit baru di Bali. Ning, sungguh, aku pengen balik lagi.