29.3.09

Adiksi

Ketika dokter cantik itu berkata bahwa aku memiliki "adiksi", aku kaget. Tidak pernah terlintas dalam benakku bahwa aku punya kecanduan yang harus dihentikan. Adiksi yang membuat pola makan aku menjadi jelek, dan berarti aku harus melewati masa-masa "sakau", sehingga mood dan konsentrasi aku tidak lagi tergantung kepada coklat dan makanan manis yang nikmat itu.

Informasi ini seperti alarm yang membuat aku bangun dari tidur panjang. Aku hanya mau memperbaiki pola makan dan aku mengharapkan sebuah tabel atau daftar makanan yang membantu aku merencanakan makanan yang harus aku masak sehari-hari, yang boleh dan tidak boleh aku makan. Ternyata, aku harus terlebih dulu menyembuhkan penyebab utama dari kekacauan tersebut.

Adiksi itu datang perlahan dan bahkan tidak pernah aku sadari. Masih jelas di ingatan, bagaimana aku heran ketika dokter tersebut dengan cepat menunjukkan berbagai gejala adiksi tersebut di tengah-tengah cerita mengenai kegiatan aku selama seminggu terakhir. Well, kalau aku sangat tergantung pada rokok, alkohol atau obat-obatan, barangkali aku akan lebih cepat mencari jalan keluar. Tapi siapa sangka bahwa ada begitu banyak hal lain, yang tampak remeh, yang bisa membuat kita mempunyai ketergantungan berlebihan?

Dokter tersebut memberi analogi menarik. Bagaimana demam bisa diturunkan dengan obat penurun demam, tetapi tanpa mengobat sumber penyakitnya maka demam yang merupakan gejala tersebut bisa muncul lagi. Berat badan berlebih atau sangat kurang yang muncul karena pola makan yang buruk bisa jadi merupakan gejala yang tampak di luar. Penyakit sebetulnya tersembunyi dengan baik di balik berbagai gejala tersebut. Ada banyak hal yang bisa menjadi sumbernya, dan bukan tidak mungkin terdapat lebih dari satu sumber.

Kesadaran ini membuat aku punya motivasi baru yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Karena aku mau, aku bisa melalui hari-hariku dengan konsentrasi dan mood yang lebih terjaga tanpa harus tergantung ini dan itu. Kalau dokter itu benar, hari-hari di depan akan kembali seperti menaiki roller coaster mood. Aku harus bertahan, bukan?