11.3.09

JJF 2009: tumbuh kembang anak baru gede!

Sejak tahun 2004, aku sudah jatuh cinta pada acara satu ini. Aku begitu menikmati JJF 2005 sampai sampai aku memutuskan untuk selalu menabung setiap bulan untuk bisa beli tiket di tahun berikutnya. Karena, saat itu harga tiket masih mahal dan gaji sangat tidak bersahabat untuk bisa dengan mudah membeli tiket.

Sejak itu, setiap tahun, aku tidak pernah melewatkan JJF, sampai tahun ini.

Tiket memang masih tidak murah, tetapi sebetulnya lebih murah daripada tiket-tiket tahun sebelumnya. Ini bukan karena aku dapat tiket burung kepagian, loh! Walaupun sudah dengan persiapan jauh-jauh hari, tidak berarti aku berhasil mendapat semua tiket yang aku butuhkan. 5 hari sebelum festival dimulai, aku butuh tiket lebih untuk adik-adik yang di saat terakhir diputuskan atau memutuskan menontong. Jangan tanya bagaimana perjuangan untuk memperoleh itu. Disitu aku sadar, aku tidak punya bakat calo dan bakat cari untung berlebih. Beberapa tiket di tanganku adalah tiket gratis dari sponsor utama acara itu yang dijual seharga beberapa ratus ribu -tetap dibawah harga pasaran saat itu. Kalau saja aku tahu itu tiket gratis, rasanya aku memilih beli tiket lebih mahal tapi memang dibandrol segitu! (Dan aku barangkali harus lebih ganas membeli tiket-tiket murah di awal penjualan itu).


Kali ini juga, aku memutuskan nonton beramai-ramai dengan abang dan adik-adikku. Biasanya, aku selalu menonton seorang diri, walaupun berakhir dengan nonton bersama karena bertemu teman atau berkenalan dengan orang baru disana. Itu bisa terjadi loh, karena entah kenapa ada keterikatan yang tidak terlihat antar sesama penonton: terikat pada musik jazz.

Ini yang paling aku rindu dari JJF dan tidak aku dapatkan di JJF 2009. Suasana akrab dan hangat baik antara penonton dan pengunjung maupun antar pengunjung. Bagaimana mau akrab kalau ada puluhan ribu orang di Jakarta Convention Center? Walhasil, semua ruangan penuh pengunjung. Antrian panjang tidak terelakan, baik itu untuk memasuki ruang pertunjukan, tempat makan sampai toilet! Kalau lihat obrolan di milis JJF, celoteh berputar di urusan ini dan bahwa festival ini kehilangan jiwa jazz-nya!

Ah, ini memang Java JAZZ Festival. Tapi aku pikir, jazz itu luas. Ini juga konsekuensi dari sebuah acara yang ingin membuat musik sebagai alat untuk menyatukan berbagai bakat, berbagi hasrat bermusik bersama. Siapalah aku untuk mencap musisi jazz dan non jazz. Aku bersyukur masih ada assembly 1 dan 3, tempat dimana pemusik jazz kelas wahid bermain. Oleta Adams, Laura Fygi, Diane Reeves, New York Voices, Ivan Lins dan masih banyak lagi bisa ditemukan disana. Walaupun harus mengantri dan ngomel pada mereka yang memotret dengan blitz, aku masih sangat menikmati jiwa dan semangat musisi-musisi itu. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kepuasan untuk itu memang jauh berkurang.

Kekecewaan terbesar adalah Brian McKnight. Dia memang bukan musisi jazz. Dia adalah musisi favorit sepanjang masa buatku. Sejak album pertama sampai sekarang, aku tergila-gila Brian McKnight. Sayang sekali, pertunjukannya ternyata adalah bagian dari promosi album dua anak lelakinya, yang walaupun tidak jelek tetapi tetap bukan Brian McKnight. (Aku juga tahu, Brian McKnight baru mengeluarkan album baru, jadi konser ini semi promo, deh). Apa mau dikata, harga tiket jauh lebih murah daripada konser tunggal Brian McKnight! Aku berharap dia bermain dengan grand piano, tetapi yang ada adalah minus one (ehm, yaaa Brian sempet bermain keyboard untuk beberapa lagu termasuk Never Felt This Way). Persis seperti konser Boyz II Men. Eh, tidak persis karena masih ada pemain drum dan bassist. Brian memang tetap oke, hanya aku kehilangan jiwa dari musisi sekaliber Brian. Kalah jauh dibandingkan jiwa yang aku dapat dari Sensual, sebuah band baru dari Belanda yang membuat aku langsung beli CD mereka. Aku nonton mereka tengah malam! Aku yang awalnya mengantuk, langsung bangun dan bertahan sampai pertunjukan usai.

Aku pikir, ini adalah bagian tak terelakan dari semakin besarnya JJF. Seperti anak baru gede (yang sering dijadikan kambing hitam kehebohan di JJF) yang masih terus cari jati diri, ingin cari perhatian sebanyak mungkin, terus bersolek dan tentu saja sesekali tergelincir. JJF tidak mungkin menyenangkan semua pihak, tapi menurut aku sih kehadirannya tetap penting bagi musik dan penikmat musik.