29.6.09

Maling Pemberi Pelajaran

Finley the Fire Engine. That’s the sound, the sound of his sirens. Finley the Fire Engine. Here comes Finley, it's time to play.

Kami sedang menonton film anak-anak tentang mobil pemadam kebakaran itu sambil menyanyikan lagu pembuka. Kami semua; Aku, Salva dan Jiro tertawa-tawa melihat aksi lucu mobil pemadam kebakaran. Aku ingat, kami sedang menonton episode dimana Finley kedatangan mobil pemadam kebakaran kecil bernama Henry.

Tidak disangka, pada saat kami sedang menikmati hari libur itu, pencuri juga sedang mengincar mobilku yang diparkir di depan rumah! Episode itu belum lagi selesai, ketika seorang tetangga berteriak memberitahu bahwa kaca mobilku pecah. Kami semua bergegas keluar rumah, hanya untuk mendapati bahwa tas plastik berisi pakaian yang kotor sudah hilang. Beberapa menit kemudian aku menyadari bahwa kamera Canon 500D dibawa si maling. Tambahan beberapa menit lagi, aku ingat bahwa tas kecil tempat aku menyimpan hard disk eksternal, dua buah SD card, berbagai kabel charger, modem eksternal semuanya sudah digondol.

Aku hanya bisa terdiam.

Berbalik badan, aku memutuskan untuk tidur. Aku membiarkan adik-adikku membereskan pecahan kaca dan pergi ke bengkel untuk memperbaiki kaca mobil yang rusak. Aku tidak pergi ke kantor polisi, karena untuk itu aku harus membayar laporan, kehilangan dan barang-barang yang hilang tidak akan pernah kembali. Kemudian aku diberitahu, bahwa kasus aku bukan yang pertama yang terjadi di jalan itu.

Pada awalnya, aku berpikir bahwa aku lebih rela melepas baju-baju yang hilang ketimbang kamera tersayang, yang merupakan kado ulang tahun dari diriku sendiri. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku sedih sekali kehilangan baju-baju itu. Aku bukan pecinta merk pakaian, tapi baju-baju itu tanpa disadari adalah baju ber-merk dengan harga yang lumayan yang sangat aku sukai karena pakaian itu melekat pas di badanku dan membuat aku merasa cantik. Sampai dua hari sesudahnya, rasa sakit masih aku rasakan setiap kali aku membuka lemari pakaianku. Ini membuat aku sadar, betapa kuat keterikatanku terhadap benda-benda yang sebetulnya hanyalah sebuah benda mati!

Aku terhenyak. Betapa banyak benda mati yang aku beli dan bisa membuat aku bahagia, tetapi semuanya adalah benda mati dan pada akhirnya hampir selalu bisa dibeli. Benda-benda itu juga tidak lebih berharga dibandingkan keluarga dan sahabat yang ada di sekitarku. Mereka tidak bisa aku beli dengan harga berapapun. Kehilangan mereka tidak bisa tergantikan.

Aku kemudian teringat pada file-file yang ada di hard disk eksternal itu. Seluruh file personal aku ada disana. Termasuk ribuan foto yang aku ambil selama beberapa tahun terakhir. Aku jarang mencetak foto, lebih banyak disimpan dalam bentuk file. Di hard disk tersebut juga tersimpan seluruh file pekerjaan dan tulisan aku. Kapasitas penyimpanan di komputer jinjing aku sangat terbatas, jadi beberapa waktu lalu aku memutuskan memindahkan semua ke hard disk eksternal. Kehilangan file itu membuat aku sungguh lemas. Apalah arti file itu buat si pencuri, tetapi file itu sangat berarti buat aku. Tetapi kemudian aku berpikir, kalau aku tidak cukup perduli untuk memindahkan file itu ke dalam DVD dan mencetak foto-foto tersebut, barangkali aku memang tidak cukup perduli dengan file-file tersebut.

Dan, berbicara tentang kenangan yang ada di file tersebut, mudah-mudahan ingatan aku cukup bersahabat untuk menyimpan semua kebahagiaan yang tersimpan dalam bentuk file itu di dalam ingatanku.




***

Aku teledor. Aku harus menerima fakta bahwa aku teledor. Terlepas dari keheranan semua orang,"Kok kakak bisa meninggalkan barang di mobil, biasanya kakak yang paling galak untuk tidak meninggalkan apapun di mobil." Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Aku tidak mengerti kenapa aku begitu. Aku bahkan nyaris meninggalkan tas (dengan dompet dan telepon genggam) di dalam mobil, kalau saja di detik-detik terakhir aku memutuskan untuk membawa tas ke dalam rumah. Apapun itu, sudah terjadi. Aku teledor dan itu membuat aku kehilangan banyak hal yang berharga buat aku.

Aku juga tidak bisa terima bahwa ini adalah bagian dari "amal". Aku tidak ingin meneriakkan amal yang aku lakukan. Itu tidak lagi menjadi amal kalau begitu. Amal adalah ketika aku dengan sadar menyadari bahwa aku harus berbagi kepada mereka yang tidak seberuntung aku sehingga ada keseimbangan. Itu aku lakukan dengan senang hati, karena aku sadar, semua hanya titipan dan aku dianugerahi banyak hal sehingga bisa memiliki sedikit kelebihan. Kalau itu dipaksa, itu bukanlah amal.

Hanya saja, aku musti mengakui bahwa kejadian ini membuat aku diingatkan bahwa aku mulai lupa bahwa semua yang aku miliki adalah anugerah. Aku bisa mendapatkannya karena aku diberi kesehatan dan kesempatan.

Sangat mudah untuk bersyukur ketika aku sehat dan bahagia, tetapi bisakah aku bersyukur ketika Tuhan mengijinkan aku disentil karena keteledoran aku? Mampukah aku melihat bahwa kejadian ini sangatlah kecil dan ringan dibandingkan kehilangan orang-orang yang aku sayangi? Sanggupkah aku bilang, terimakasih Tuhan, Engkau tidak lelah mengingatkan aku untuk tidak teledor, untuk tidak terikat kepada barang-barang mati ini dan untuk selalu menikmati dan mensyukuri berkat yang aku terima?


***

Bohong kalau aku bilang aku tidak merasa marah kalau ingat ini semua, tetapi aku punya orang-orang yang begitu mengasihi aku dan setia menemani aku dalam kondisi ini. Seperti kata adikku,"berarti tandanya lu harus mulai belanja lagi, itung-itung kemarin ganti musim, berarti ganti mode."

Jadi, mau menemaniku belanja? Barangkali, sekaligus membayari belanjaanku? *wink*