13.2.09

Pertemanan: Masa Lalu, Masa Kini dan FB

Secara keseluruhan, minggu ini dilalui dengan menyenangkan dengan cara yang santai. Berturut-turut menghabiskan malam dengan perempuan-perempuan yang berhasil membuat aku nyaman dengan mereka dan nyaman dengan diriku sendiri.

Machiato dan kue apel yang lezat, menemani obrolanku dengan seorang teteh. Kakak dalam Bahasa Sunda. Ngalor ngidul kemana-mana. Tidak terasa, tempat kami bertemu sudah mau tutup. Seorang kawan lain mampir ke rumah, dan kami menghabiskan malam di tempatku, mencoba meng-update hari-hari kami selama beberapa bulan terakhir. Maklum, kesibukan kami berdua (dan terutama karena kantor dia tidak lagi berada di jarak yang wajar untuk bisa makan siang bersama) membuat aku dan dia tidak bisa terlalu sering bertemu.

Dan, semalam, aku menghabiskan malam bersama mereka yang datang dari masa lalu. Tanpa disengaja direncanakan untuk terjadi seperti itu. Hanya reservasi di tempat yang selalu penuh itu yang menjadikan pertemuan ini memerlukan sedikit "perencanaan". Bitches Unite, begitu salah satu dari kami menyebut pertemuan kami. Bernostalgia sambil bercerita tentang berbagai hal yang terjadi di sekitar kami saat ini. Mereka bukanlah sahabat dari masa lalu, bukan sahabat dalam pengertian teman-teman dimana aku menghabiskan sebagian besar waktu bersama di masa lalu, tapi tampaknya waktu malah membuat kami menemukan lebih banyak kemiripan di masa ini.

Kecuali dua pertemuan pertama, pertemuan terakhir bisa ada karena status Facebook. Sebelumnya, aku dan dia sudah mencoba bertemu, tapi tokh tidak pernah berhasil karena -antara lain- jam kerja yang kurang kompak! Satu diantaranya betul-betul baru terkoneksi karena Facebook. Secara umum, kami tahu kabar satu sama lain dari situs satu itu.

Kalau kamu penikmat Facebook, pasti merasakan bagaimana beberapa bulan ini kita dihujani foto-foto dari masa lalu. Tidak semua menyenangkan, beberapa lebih membuka hal-hal yang tidak menyenangkan, walaupun sebagian besar berhasil membuat aku tersenyum. Lebih dari itu, ide yang dilanjutkan dengan undangan reuni pun berdatangan. Mulai dari reuni besar sampai reuni kecil-kecilan. Buat aku yang sedikit telmigapo -telat mikir gancang poho- aku mengalami kesulitan untuk mengingat sejarah yang ada di belakang. Muka yang sudah berubah dan nama yang tidak akrab di kuping membuat aku perlu sedikit kerja keras untuk mengingat semuanya.

Melihat foto masa lalu dan semua tawa canda di masa itu merupakan satu hal yang menyenangkan, tetapi apa yang ada pada saat ini merupakan hal yang perlu dinikmati. Orang berubah (atau mungkin tidak berubah?) menyebabkan tidak semua ikatan di masa lalu bisa terus bisa dinikmati pada masa kini. Tetapi, itu juga yang menciptakan pertemanan baru dari lingkungan lama yang begitu menyenangkan! Setiap orang maju dengan cara masing-masing, beberapa pertemanan bertahan dengan cara yang unik, beberapa berhenti pada tingkatan "apa kabar". Pertemuan dengan mereka yang membuat kita nyaman adalah pertemuan dengan teman-teman yang memang perlu dijaga!

Buat aku, teman-temanku adalah yang terbaik dan mereka selalu berhasil membuat aku berkata,"aku bahagia!"


11.2.09

Belajar Bahasa Inggris

"Aku lagi belajar, Mba", begitu katanya, ketika aku tanya kenapa dia masih ada di kantor sore-sore begini tanpa memasang musik apapun seperti yang biasa dia lakukan.

Jawaban yang bikin aku terdiam. Dia, seorang perempuan dari proyek tetangga dengan tugas seorang clerk. Dia membantu menerima telepon, mempersiapkan dan mengirimkan dokumen, membuat kopi atau teh untuk atasan atau tamu proyeknya. Di waktu senggang, dia asik dengan komputernya. Aku pikir, dia bermain game atau internet. Maklum, beberapa kali aku memergokinya sedang asik dengan permainan komputer.

Tapi ternyata tidak untuk kali ini. Dia berada di belakang komputer untuk belajar sendiri. Dia bilang dia belajar Bahasa Inggris. Ini membuat aku terkejut, karena aku tidak menyangka bahwa dia adalah seorang perempuan yang masih mau belajar Bahasa Inggris, secara mandiri pula. Dia tidak mau hanya berhenti sampai pada posisi dia sebagai janitor.

Aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku merinding waktu dia bilang sedang belajar. Barangkali karena aku sudah lama sekali tidak lagi belajar. Keinginan sih segunung: belajar menulis Bahasa Inggris lebih baik lagi (teteh......!!!!), belajar memotret khusus (mudah-mudahan ini tidak sekedar rencana, aku sudah tidak sabar ikut kursus itu), belajar main piano (pop saja, sebagai ambisi yang tidak pernah berakhir), belajar Bahasa Spanyol (bahkan aku tidak memanfaatkan 6 bulan serumah dengan seorang "native"). Semua itu menuntut aku meluangkan waktu secara khusus, berkomitmen untuk mencapai kemampuan tertentu, untuk menjadi aku yang lebih baik lagi.

Jadi, mari belajar?