20.1.09

Gila Kerja Gila

Baru minggu lalu, aku meledek salah satu mitra kerja utamaku karena ada di kantor di hari cuti. Dia adalah seorang kasubdit di institusi pemerintah yang bekerja pagi, siang dan malam (terkadang subuh), dan bahkan di hari libur sekalipun (dia pernah meneleponku dari kantor di tanggal merah atau hari Sabtu!). Pekerja keras, kataku. Waktu itu, aku kaget melihat dia sudah ada di kantor, sepengetahuanku hari itu dia masih terhitung cuti. "Tidak betah di rumah,"katanya.

Ah, rumah itu menyenangkan. Bisa nonton DVD sampai bego. Bisa baca buku sepuasnya. Bisa kerja di sofa nyaman. Bisa tidur siang. Bisa bermalas-malasan.

Itu pikirku.

Beberapa hari lalu, aku ke dokter. Aku terus-terusan batuk selama dua minggu, dan mulai terasa mengganggu. Sebetulnya, tujuan lain adalah mengantar dia yang sudah demam selama 2 hari. Aku takut dia terkena tipus atau demam berdarah. Aku sendiri sudah hampir membatalkan janji temu dengan dokter cantik itu, tapi aku lupa dengan niat itu sewaktu aku berhasil menemukan gedung tempat rumahsakit itu beroperasi.

Jadi, kami berdua harus diperiksa, diambil darah, menunggu hasil tes darah sambil makan siang. Pikirku, setelah ini aku bisa kembali lagi ke kantor.

Itu pikirku. Kenyataan berkata lain. Aku diminta untuk istirahat total selama 7 hari. Aku pikir, dia yang sakit, ternyata aku yang sakit. Aku mengidap semua yang aku pikir diidap oleh dia. Kacau, ada yang tidak beres ini. Aku merasa sehat, tetapi darahku berkata sebaliknya. Tidak kompak!

Inilah aku, di hari keenamku berada di rumah. Kemarin sore, keinginan untuk ke kantor begitu kuat. Dipicu oleh kemacetan arus pulang kantor dekat rumah, aku membayangkan tumpukan email, serentetan "to do list", krang kring telepon, orang hilir dan mudik, dan memikirkan sejumlah keputusan-keputusan cepat yang aku harus buat. Sial, aku kangen gila sama kerja gila aku sehari-hari.

Sehari lagi, dan aku sudah bisa kembali bekerja!

No comments:

Post a Comment