28.1.09

Pria Pemimpiku

Bermimpi pun tidak, bahwa aku bisa kembali melewati 24 Januari bersamanya. Aku takut kecewa. Aku memilih untuk tidak bermimpi.

Tapi dia tidak pernah berhenti bermimpi. Tentang banyak hal. Tentang hasrat, tentang hidup, tentang kerja, tentang banyak hal. Mimpi yang selalu diletakan begitu tinggi, tapi tidak terlalu tinggi sehingga masih selalu terlihat oleh mata. Mimpi yang menjadi api, yang membakar energi dan menjadikannya berbagai kerja.

Berawal dari berbagai mimpi, banyak hal dia wujudkan. Satu demi satu. Perlahan tapi pasti. Tidak jarang, dia harus berhenti sejenak mengumpulkan energi yang habis sambil memandang pasti mimpi-mimpi di depan mata.

Dia pria pemimpiku, yang tidak pernah berhenti bermimpi dan terutama tidak pernah berhenti hanya sampai mimpi tetapi terus berkarya untuk membuat mimpi itu menjadi nyata.

Aku pun tidak takut lagi untuk bermimpi, bersamanya.



Selamat ulang tahun, mudah-mudahan kita bisa terus berbagi mimpi dan karya dan kasih.


20.1.09

Gila Kerja Gila

Baru minggu lalu, aku meledek salah satu mitra kerja utamaku karena ada di kantor di hari cuti. Dia adalah seorang kasubdit di institusi pemerintah yang bekerja pagi, siang dan malam (terkadang subuh), dan bahkan di hari libur sekalipun (dia pernah meneleponku dari kantor di tanggal merah atau hari Sabtu!). Pekerja keras, kataku. Waktu itu, aku kaget melihat dia sudah ada di kantor, sepengetahuanku hari itu dia masih terhitung cuti. "Tidak betah di rumah,"katanya.

Ah, rumah itu menyenangkan. Bisa nonton DVD sampai bego. Bisa baca buku sepuasnya. Bisa kerja di sofa nyaman. Bisa tidur siang. Bisa bermalas-malasan.

Itu pikirku.

Beberapa hari lalu, aku ke dokter. Aku terus-terusan batuk selama dua minggu, dan mulai terasa mengganggu. Sebetulnya, tujuan lain adalah mengantar dia yang sudah demam selama 2 hari. Aku takut dia terkena tipus atau demam berdarah. Aku sendiri sudah hampir membatalkan janji temu dengan dokter cantik itu, tapi aku lupa dengan niat itu sewaktu aku berhasil menemukan gedung tempat rumahsakit itu beroperasi.

Jadi, kami berdua harus diperiksa, diambil darah, menunggu hasil tes darah sambil makan siang. Pikirku, setelah ini aku bisa kembali lagi ke kantor.

Itu pikirku. Kenyataan berkata lain. Aku diminta untuk istirahat total selama 7 hari. Aku pikir, dia yang sakit, ternyata aku yang sakit. Aku mengidap semua yang aku pikir diidap oleh dia. Kacau, ada yang tidak beres ini. Aku merasa sehat, tetapi darahku berkata sebaliknya. Tidak kompak!

Inilah aku, di hari keenamku berada di rumah. Kemarin sore, keinginan untuk ke kantor begitu kuat. Dipicu oleh kemacetan arus pulang kantor dekat rumah, aku membayangkan tumpukan email, serentetan "to do list", krang kring telepon, orang hilir dan mudik, dan memikirkan sejumlah keputusan-keputusan cepat yang aku harus buat. Sial, aku kangen gila sama kerja gila aku sehari-hari.

Sehari lagi, dan aku sudah bisa kembali bekerja!

9.1.09

Rumah Di Balik Bukit

Rumah, adalah tempat dimana hati kita berada. Lebih dari sekedar batu bata yang dibangun oleh para tukang. Lebih dari sekedar sebuah alamat yang dipakai untuk melakukan surat menyurat.

Jangan menyerah, untuk bisa tiba di rumah. Percayalah, semua kelelahan itu akan terbayarkan.

Satu dari kelompok musik yang tidak pernah berhenti membuat aku terpesona...

3.1.09

Halilintar 2008

Kalau berkesempatan main ke Dunia Fantasi, cobalah naik "halilintar". Sebuah roller coaster. dan sekaligus pemompa adrenalin terbaik di tempat itu. Beberapa detik pertama adalah perjalanan awal yang "biasa-biasa" saja. Meluncur datar dan tidak terlalu cepat. Kemudian kereta akan beranjak naik dengan tempo lambat. Dari situ, kereta meluncur kencang kebawah. Duh, aku bisa merasakan jantungku berdebar kencang dan suaraku berteriak kencang. Sesampai di bawah, kereta diputar dalam tempo cepat. Dalam waktu cepat, kereta kembali ke stasiun awal dan berhenti. Cepat sekali, semua terjadi.

Seperti tahun 2008.

Pekerjaan lama dengan segudang tanggung jawab baru (terimakasih buat (mantan) boss yang memutuskan keluar *sigh*). Sebuah liburan panjang keliling Asia Tenggara yang membuat aku hitam gosong. Kecanduan facebook. Menikmat potret memotret. Keluar rumah dan menempati tempat tinggal baru. Sebagian besar di luar rencana dan tidak pernah aku duga. Terjadi dalam kecepatan tinggi lengkap dengan tikungan-tikungan yang membuat aku deg-degan sepanjang tahun.

Hubunganku dengan orang-orang yang aku kasihi pun tak luput dari "naik" dan "turun" dalam tempo yang berbeda-beda. Keluarga, sahabat dan tentu saja abang. Mereka adalah hal terbaik dalam hidupku. Mereka memberikan aku air mata karena bahagia, sedih, sukacita, marah, kecewa dan air mata penuh ucapan syukur. Hubunganku dengan DIA juga melewati titik terendah dan tertinggi. Ini sebuah perjalanan panjang yang masih harus aku jalani untuk terus menuju titik tertinggi.

Rasanya seperti baru kemarin saja memulai 2008. Membuat tujuh resolusi yang merupakan lemparan dari Leon. Tiba-tiba, aku sudah harus mengucapkan selamat tinggal kepada 2008!

***

Di penghujung tahun, aku dan keluarga memutuskan untuk melewati Natal di Bali. Berada di salah satu tujuan wisata terpopuler di Indonesia bahkan dunia, kami lebih dari sekedar bersenang-senang. Kami melewati beberapa pertengkaran hebat. Tapi... tahukah kamu, bagaimanapun kami bertengkar, kami selalu kembali tertawa-tawa dan berpelukan! Cinta mengatasi semua itu.

Sebuah penutup tahun yang manis untukku. Sebuah jaminan bahwa sekalipun tahun 2009 masih akan menjadi perjalanan halilintar tersendiri, cinta akan tetap menjadi kekuatan bagiku. Bukan saja dari orang-orang yang aku kasihi dan juga mengasihiku, tetapi terutama dari DIA yang BESAR dan PENUH KUASA yang mengasihi setiap kita tanpa syarat.

Selamat Natal dan Selamat Tahun Baru. Mari ngantri naik halilintar lagi...yuuukkk....