31.12.09

Selamat Tinggal 2009

Aksara. Adiksi. Abang. Acting PM. Assertive. Berenang. Belitung. Botan. Bunga Rampai. Casman. Cinta. Dias. Diving. Endah n Resa. Grand Indonesia. iMac. Jason Mraz. JJF 2009. Lusi. M21. Maling. Maurice. Melsamedia. Papi. Pawel. Phoenam. Pepenero. Teteh. The Apartment. The Girls. Twitter. Yogya.

Dan, saat ini aku berada di penghujung 2009!

Aku tidak pernah bisa menjadi ahli dalam urusan mengucapkan selamat tinggal. Selagi mungkin, aku selalu yakin perpisahan hanyalah sebuah titik untuk menanti perjumpaan selanjutnya. Kecuali untuk yang satu ini. Waktu. Tidak akan pernah kembali.

Selamat tinggal 2009.

Berat sekali untuk melepas 2009. Apa yang terjadi tidak akan kembali. Hanya tersimpan di dalam kenangan dan berharap semua itu tidak mudah tergerus oleh waktu.

Sebuah perjalanan yang banyak merubah diriku.

Di akhir 2009, aku membuat sebuah keputusan besar. Meninggalkan banyak hal yang membesarkan aku. Melepas banyak hal yang merupakan kenyamanan bagiku. Aku mundur dari kehidupan di ibukota dengan teman-teman yang memberikan persahabatan luar biasa dan tim kerja yang membuat aku bisa melakukan banyak hal yang tidak pernah aku bayangkan. Semuanya telah memberikan makna untuk tahun 2009.

Aku sudah membongkar seluruh kotak-kotak yang berisi seluruh barangku dari sebuah unit kecil di apartemen mungil di tengah kota Jakarta. Proses yang tidak mudah, bukan saja karena mengosongkan tempat tinggal yang telah memberi banyak kenangan seringkali terhenti karena keinginan untuk melamun yang tiba-tiba saja muncul. Tetapi seluruh barang sudah tertata rapi di kamar lamaku. Rumah lama yang justru menjadi rumah baru bagiku.

Selamat datang 2010.

Saatnya kembali ke kota kelahiranku, untuk keluargaku.





There is only one thing in my list of resolution that is to write more.
That part of my brain has been idle for too long.

Halilintar 2008
Pertama di 2008
10 hal dari 2006 untuk 2007
Fokus
Tahun Baru




25.12.09

Ulang Tahun Tanpa "Semoga Panjang Umur"

Hari ulang tahunNya memang selalu diperingati dengan luar biasa. Musim liburan panjang. Berbagai potongan harga di banyak toko. Pohon natal yang didandani oleh perhiasan gemerlapan. Gereja yang penuh sesak dengan pengunjung tahunan (atau semesteran, karena ada Paskah di semester berikut). Alunan lagu dalam berbagai melodi dan irama. Kunjungan keluarga dan berbagai makanan yang nikmat. Meriah dan gemerlap, layaknya sebuah perayaan besar.

Tetapi, dimana Dia yang kita rayakan hari kelahiranNya itu?
Apakah ada tempat itu, di tengah kesesakan berbagai semangat berpesta?

Hari ini memang hari ulang tahunNya, tapi justru Dia yang memberikan dan tidak meminta hadiah. Dia memberikan diriNya untuk saya dan kamu, tidak melalui kado-kado Natal yang dibeli di saat-saat akhir untuk orang-orang terkasih, tetapi melalui kehadiranNya di dunia ini. Itu hadiah teristimewa yang diberikanNya. Dia tidak perlu ucapan "Semoga panjang umur" karena justru Dia memberi keselamatan itu, kekekalan itu, untuk kamu dan saya.

Selamat Ulang Tahun! Terimakasih karena hari ini, aku diberi kesempatan untuk berpesta karena sukacita atas kehadiranMu di tengah kami. Biarlah aku boleh selalu ingat, untuk merayakannya bersamaMu.


"Jangan takut, karena ini kabar sukacita"

25.11.09

Musik Adalah Obat.

Buat aku, musik bisa menghilangkan rasa perih dan sakit. Literally.

Perutku sakit. Badanku meriang. Satu-satunya yang bisa aku bayangkan adalah rumah dan tempat tidur, ditemani dengan sup hangat dan selimut tebal. Sayangnya, jam 6 sore itu aku masih di kantor dan cuaca di luar sangat tidak bersahabat. Aku bahkan sudah memberitahu Dias bahwa aku tidak jadi berangkat dan berkeinginan langsung pulang. Dias mengingatkan aku untuk makan yang hangat-hangat, dan itulah yang pada awalnya mau aku lakukan.

Tapi, tawaran untuk melihat Reunion Concert Impromptu Singers ternyata lebih kuat. Dengan setengah sadar aku masih mengemudikan mobil ke Goethe Haus.

Dan, sebuah keputusan tepat, karena selama tiga jam kemudian aku tidak merasakan sakit apapun, aku malah merasa bahagia sekali.

Impromptu Singers mulai dengan membawakan lagu-lagu rohani. Sejak "Lord Prayer" mengalun, aku merasa begitu tenang, damai dan senang sekali. Rasanya, setiap kata yang keluar menguatkan aku. Bahkan ketika mereka mulai menyanyikan lagu "Kekuatan dan Penghiburan" yang hampir bikin aku menangis.


Buat aku, konser mereka membuat aku merasa sangat terhibur. Bahkan di satu titik, aku sempat malu karena memikirkan pendapat orang lain yang melihat aku terus menerus tersenyum. Tapi, memang aku tidak bisa tidak, selalu tersenyum sepanjang lagu.

Ketika Impromptu Singers membawakan lagu-lagu pop seperti Imagine, Let's Hang On, Le Ragazze dan banyak lagi, aku rasanya sih ingin turun dari kursi dan bergerak mengikuti lagu. Ah, sayang sekali, nonton konser paduan suara itu lebih tertib ketimbang konser jazz atau rock!

Duduk di baris terdepan, di sisi dimana penyanyi Alto dan Tenor lebih sering berdiri, membuat aku lebih bisa mendengar dengan jelas suara dokter cantik yang ternyata bukan hanya gape di ruang klinik tapi juga gape bernyanyi. Suara altonya bener bener bikin sirik. Kok bisa ya, ada orang cantik, pintar, baik hati dan bersuara bagus sekaligus (ha!).

Ini memang konser reuni. Bukan penampilan kompetisi choral music choir. Aku merasakan persahabatan dan kehangatan penampilan Impromptu Singers. Aku bahkan terinfeksi oleh penampilan mereka. Sungguh, aku lupa semua sakit dan memang musik selalu jadi obat terbaik bagi jiwa.


Thank you for the music, the songs I'm singin Thanks for all the joy they're bringin Who can live without it, I ask in all honesty What would life be? Without a song or a dance what are we? So I say thank you for the music For giving it to me



6.10.09

Kenikmatan Si Pemotret

Kris, adikku, baru saja membeli kamera digital baru. Barang yang sebetulnya sudah aku incar, terutama sejak kamera tersayang digondol maling beberapa bulan yang lalu.

Beberapa tahun aku berupaya menyisihkan sedikit dari penghasilanku untuk membeli kamera DSLR. Sebelum itu, aku cukup berpuas hati dengan beberapa kesempatan untuk memegang kamera pinjaman. Kamera yang cukup lama ada di tanganku adalah Nikon D70 milik dua orang teman: Mba Okol dan Jimbong. Lama aku berharap salah satu dari mereka akan melepas barang kesayangan mereka itu. No luck *wink, Mba*

Entah bagaimana, di satu hari di Bulan Februari, ada keinginan mendadak yang muncul begitu saja untuk langsung pergi ke BEC dan membelanjakan salah satu pos tabunganku untuk kamera DSLR itu. Aku anggap ini adalah hadiah bagi diriku sendiri. Tidak banyak survey yang aku lakukan. Harga adalah pertimbangan utama. Maklum, aku ini bukan pemotret andal, hanya seseorang yang menyukai potret. Kalau saja potret aku menghasilkan uang, barangkali aku akan lebih gigih menabung.


Aku sempat berbicara dengan beberapa rekan yang aku tahu punya foto-foto yang luar biasa. Dinda, Buyung, Dita adalah tiga diantaranya. Pembicaraan dengan mereka membuat aku cukup percaya diri untuk membeli Canon EOS400D sebagai pendamping kamera pocket aku saat itu, IXUS 75. Aku bertekad untuk pelan-pelan menabung membeli lensa sementara aku harus terus mengasah kemampuan aku memotret dengan lebih baik, lebih tajam dan lebih berbicara.

Sayang sekali, dua kamera itu sama-sama digondol maling. IXUS75 itu hilang di Noi Bai International Airport di Hanoi di pertengahan tahun lalu. EOS400D itu diembat tanpa ijin dari mobil yang tengah diparkir di depan rumah di tengah hari bolong di sebuah akhir pekan di Bulan Juli.

Sekarang, aku harus cukup puas dengan IXUS860IS. Sebuah kamera pocket yang tentu saja jauh dari kesan profesional. Kamera ini selalu aku bawa kemana-mana. Sudah lama memang, aku punya kebiasaan untuk selalu membawa kamera pocket di dalam tas. Bentuknya ringan dan pemakaiannya mudah. Aku bisa merekam banyak hal dari kehidupan sehari-hari aku. Kamera ini juga punya fitur menarik seperti color accent, salah satu menu favorit aku. Layar yang lebar adalah faktor utama mengapa aku membeli kamera ini setahun lalu, layar yang sama besar dengan layar IXUS75.

Kalau membandingkan hasil kamera pocket dengan kamera DSLR, aku sering kesal. Rasanya berbeda. Tapi, dipikir-pikir lebih lanjut, ini adalah tantangan untuk mengasah "rasa" dalam mengambil potret.

Aku tidak pernah belajar komposisi. Untuk yang ini, aku suka dapat bisikan dari Iman. Aku tidak punya pengetahuan mendalam tentang berbagai teknik fotografi dan juga kamera. Beruntung aku mendapat buku menarik dari Kiki tentang ini. Rencana untuk ikut salah satu pelatihan foto jurnalistik itu pun gagal karena keteloderan melihat tenggat waktu pendaftaran. Aku hanya tahu kenikmatan yang diperoleh dari foto-foto itu.

Aku tidak punya kategori foto bagus. Maklum, aku ini pemotret amatir yang hanya berfoto untuk menyenangkan diri sendiri. Tetapi aku tahu, foto-foto mana yang membuat aku bahagia dan foto-foto mana yang sama sekali tidak memberi dampak apapun buat aku. Aku berterimakasih pada para pemotret jempolan itu, sudah memberi kenikmatan visual buat aku.

Kalau kalian kebetulan lihat-lihat foto jepretanku, silahkan kasih komentar supaya aku bisa terus mengasah asa lewat foto. Sementara itu, aku harus cukup puas dengan kamera DSLR pinjaman dari Kris atau Abang sambil menabung untuk bisa beli kamera lagi.

25.9.09

Sebuah Whitney Houston Moment


Aku besar dengan lagu-lagu Whitney Houston. Maklum, generasi delapan puluhan ini tidak punya banyak pilihan. Saat ini, musik yang aku dengar sangat tergantung pada apa yang diputar di radio. Tidak ada pilihan di televisi yang hanya ada satu, dan pilihan lagu di Aneka Ria Safari itu adalah lagu-lagu semacam pulangkan aku pada orang tuamu.

Semalam gara-gara flu, aku terpaksa mendekam di rumah dan membuat aku membongkar koleksi CD, terutama CD di bagian bawah. Yup, aku memutuskan bermain-main dengan mesin waktu. Aku memilih CD lama, antara lain CD dari Whitney Houston.

Ada banyak lagu-lagu Whitney yang popular. Dari lagu bertempo cepat sampai lagu mellow semua kumplit. Berhubung sudah malam dan sedang setengah tidur-tiduran di sofa, lagu mellow tampak lebih pas.

Dan, ya ampun, ternyata aku masih bisa ingat lirik dari lagu-lagu Whitney!

Aku mulai dengan memasang lagu Saving All My Love For You. Rat, masih inget gak, waktu kita bahas apa sih maksudnya lagu ini, sekitar hmmm, 10 tahun lalu? ;)

Semalam, aku asik ikut bernyanyi lagu-lagu Whitney. Kalau saja aku ada di tempat karaoke, sepertinya aku paling tidak mendapat angka 90!

Buset. Aku betul-betul bisa mengingat. Ternyata otak aku memang punya kapasitas mengingat ya.


***

Beberapa bulan terakhir, aku sering main ke berbagai tempat karaoke. Sebagian besar sih bersama keluarga. Kami biasa pilih macam-macam lagu. Lagu lama sampai lagu terbaru semua bisa dipilih. Aku biasanya paling parah untuk mengingat lirik. Bahkan untuk mengingat lagu-lagu baru yang terkadang pendek dan kata-katanya juga cuman itu-itu saja. Seperti lagu kelompok Kuburan yang berjudul Lupa atau lagu Melly yang hanya berisi kalimat “I love you”.

Di acara makan malam ulang tahun ayahku, aku dan adik-adikku memutuskan menyanyikan sebuah lagu rohani yang sebetulnya lagu yang cukup sering dinyanyikan di gereja. Tapi kami semua tokh lupa lirik lagu tersebut. Untunglah ada teknologi. Blackberry dan google membantu kami dengan lirik lagu tersebut.

Barangkali itu yang menyebabkan otakku sedikit malas mengingat. Hari gini, urusan mengingat lirik adalah hal sepele. Tinggal lihat di internet semua tersedia.

Coba aja 15 sampai 20 tahun lalu, cari lirik lagu itu bisa sampe berjam-jam dan penuh usaha!

Aku masih inget, duduk di sebelah radio atau tape, mencoba mencatat setiap kata dari sebuah lagu. Lebih berat lagi kalau itu lagu berbahasa Inggris. Maklum, disini lidah Indonesia. Bahasa Inggris itu bahasa ketiga atau keempat setelah Bahasa Sunda dan Batak (yuk mariii). Tidak heran, kalimat yang berhasil aku tulis kadang-kadang sangat aneh, biasanya pasti karena aku salah mendengar. Waktu SMA, aku suka tukar-tukaran lirik lagu dengan Lia. Aku punya koleksi lirik lagu yang lumayan banyak. Ditulis dengan cantik, lengkap dengan tulisan warna warni dan gambar-gambar warna warni yang tidak penting.

Ah, rasanya aku bisa lihat semua buku itu. Entah kemana perginya buku-buku itu.

Bisa jadi, karena musti usaha dan juga barangkali karena otakku masih segar dan masih punya kapasitas yang besar, aku bisa mengingat lagu-lagu itu sampai sekarang. Aku juga kaget, kok bisa aku mengingat lagu-lagu ini; the greatest love of all, one moment in time, I have nothing, didn’t we almost have it all. Lagu dengan lirik mendayu-dayu dan beda banget dengan lirik lagu penyanyi perempuan seperti Beyonce yang begitu kuat. Ah, hidup lagu jadul, deh.

***

Ngomong-ngomong, Whitney Houston sekarang dimana sih? Menghapal lirik dan menyanyikannya sih masalah sepele tapi lagu-lagu Whitney itu lagu-lagu besar yang sulit dinyanyikan dengan sukses kecuali oleh penyanyi sekaliber dia. Aku sih cukup puas bernyanyi tingkat rumah deh, hanya untuk kuping sendiri, kalangan super terbatas.

Bagaimana dengan kamu? Apa masih hapal dengan lagu-lagu jadul tahun delapan puluhan yang liriknya panjang dan gombal banget itu?

1.7.09

As Long As We Have Music

For as long as I have music
As long as there's a song for me to sing

I can find my way, I can see a brighter day

The music in my life will set my spirit


Aku pikir, itu juga yang ada di benak setiap kawan kawan aku yang sedang dalam perjalanan ke Eropa dalam rangka ITB Cultural Tour (ICT) 2009. Sebuah perjalanan yang dinilai cukup ambisius, yang memakan energi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Perjalanan yang memakan waktu dalam proses rencana dan persiapan dan juga uang yang tidak sedikit.

Sebelum berangkat, paduan suara ini menyelenggarakan dua kali konser pre-kompetisi. Dua kota dipilih: Bandung dan Jakarta.

Aku berkesempatan menonton konser yang terakhir. Diselenggarakan di Jakarta tanggal 12 Juni yang lalu. Walaupun molor, aku menikmati pertunjukan selama lebih dari dua jam itu. Terlepas dari berbagai kekurangan ini itu, aku menikmati setiap lagunya. Sama seperti aku menikmati film di bioskop dan show di Java Jazz Festival. Perasaanku bercampur aduk. Ada lagu yang membuat aku merasa bahagia, sedih, senang dan juga deg degan!

Ada rasa cemburu melihat teman-teman berada di panggung, tetapi juga ada rasa lega bahwa aku berada di deretan penonton. Kali ini, aku bisa menikmati Mas Indra memimpin teman-teman, menikmati komposisi lagu yang dibawakan, menikmati kostum yang indah dan juga musik yang membuat aku melupakan kepusingan urusan pekerjaan (walaupun aku disana bersama beberapa kawan-kawan dari kantor).

Pada saat yang sama, aku juga merasa kuatir bagaimana mereka akan bisa berangkat untuk ITB Cultural Tour dengan urusan duit yang belum selesai, dengan jadwal kompetisi dan konser yang begitu ketat, dengan perjalanan yang berat! Kawan-kawanku itu harus mempersiapkan bukan saja fisik tetapi juga mental. Aku masih teringat perjalanan kami ke China beberapa tahun lalu. Untuk hanya ikut satu kompetisi besar di satu kota saja, fisik dan mental cukup terkuras. Kali ini, mereka harus melakukan 27 performances, di 21 kota, di 5 negara dalam kurun waktu sekitar 3 minggu saja.

Setelah konser, aku merasa yakin mereka akan mampu melakukannya. PS ITB telah melangkah begitu jauh. Dalam perjalanannya, PS ITB telah terus bertumbuh melewati berbagai jatuh bangun, pujian dan cercaan, mahasiswa yang semakin cepat datang dan pergi, urusan uang yang tidak pernah selesai dan berbagai hal lain. Perjalanan ini akan menjadi satu titik baru dalam sejarah PS ITB. Perjalanan ini bisa jadi ambisius tetapi semua daya dan upaya sudah dikerahkan untuk itu.

Selama ada musik, kita pasti akan selalu menemukan jalan!

Selamat berjalan dengan musik, teman-teman.

When the dreams I keep inside me
Seem to fade and almost die
Then I call upon my music
And it helps to dry my tears
And I know that I can make it
I'll go on despite my fears

As long as WE have music!

29.6.09

Maling Pemberi Pelajaran

Finley the Fire Engine. That’s the sound, the sound of his sirens. Finley the Fire Engine. Here comes Finley, it's time to play.

Kami sedang menonton film anak-anak tentang mobil pemadam kebakaran itu sambil menyanyikan lagu pembuka. Kami semua; Aku, Salva dan Jiro tertawa-tawa melihat aksi lucu mobil pemadam kebakaran. Aku ingat, kami sedang menonton episode dimana Finley kedatangan mobil pemadam kebakaran kecil bernama Henry.

Tidak disangka, pada saat kami sedang menikmati hari libur itu, pencuri juga sedang mengincar mobilku yang diparkir di depan rumah! Episode itu belum lagi selesai, ketika seorang tetangga berteriak memberitahu bahwa kaca mobilku pecah. Kami semua bergegas keluar rumah, hanya untuk mendapati bahwa tas plastik berisi pakaian yang kotor sudah hilang. Beberapa menit kemudian aku menyadari bahwa kamera Canon 500D dibawa si maling. Tambahan beberapa menit lagi, aku ingat bahwa tas kecil tempat aku menyimpan hard disk eksternal, dua buah SD card, berbagai kabel charger, modem eksternal semuanya sudah digondol.

Aku hanya bisa terdiam.

Berbalik badan, aku memutuskan untuk tidur. Aku membiarkan adik-adikku membereskan pecahan kaca dan pergi ke bengkel untuk memperbaiki kaca mobil yang rusak. Aku tidak pergi ke kantor polisi, karena untuk itu aku harus membayar laporan, kehilangan dan barang-barang yang hilang tidak akan pernah kembali. Kemudian aku diberitahu, bahwa kasus aku bukan yang pertama yang terjadi di jalan itu.

Pada awalnya, aku berpikir bahwa aku lebih rela melepas baju-baju yang hilang ketimbang kamera tersayang, yang merupakan kado ulang tahun dari diriku sendiri. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku sedih sekali kehilangan baju-baju itu. Aku bukan pecinta merk pakaian, tapi baju-baju itu tanpa disadari adalah baju ber-merk dengan harga yang lumayan yang sangat aku sukai karena pakaian itu melekat pas di badanku dan membuat aku merasa cantik. Sampai dua hari sesudahnya, rasa sakit masih aku rasakan setiap kali aku membuka lemari pakaianku. Ini membuat aku sadar, betapa kuat keterikatanku terhadap benda-benda yang sebetulnya hanyalah sebuah benda mati!

Aku terhenyak. Betapa banyak benda mati yang aku beli dan bisa membuat aku bahagia, tetapi semuanya adalah benda mati dan pada akhirnya hampir selalu bisa dibeli. Benda-benda itu juga tidak lebih berharga dibandingkan keluarga dan sahabat yang ada di sekitarku. Mereka tidak bisa aku beli dengan harga berapapun. Kehilangan mereka tidak bisa tergantikan.

Aku kemudian teringat pada file-file yang ada di hard disk eksternal itu. Seluruh file personal aku ada disana. Termasuk ribuan foto yang aku ambil selama beberapa tahun terakhir. Aku jarang mencetak foto, lebih banyak disimpan dalam bentuk file. Di hard disk tersebut juga tersimpan seluruh file pekerjaan dan tulisan aku. Kapasitas penyimpanan di komputer jinjing aku sangat terbatas, jadi beberapa waktu lalu aku memutuskan memindahkan semua ke hard disk eksternal. Kehilangan file itu membuat aku sungguh lemas. Apalah arti file itu buat si pencuri, tetapi file itu sangat berarti buat aku. Tetapi kemudian aku berpikir, kalau aku tidak cukup perduli untuk memindahkan file itu ke dalam DVD dan mencetak foto-foto tersebut, barangkali aku memang tidak cukup perduli dengan file-file tersebut.

Dan, berbicara tentang kenangan yang ada di file tersebut, mudah-mudahan ingatan aku cukup bersahabat untuk menyimpan semua kebahagiaan yang tersimpan dalam bentuk file itu di dalam ingatanku.




***

Aku teledor. Aku harus menerima fakta bahwa aku teledor. Terlepas dari keheranan semua orang,"Kok kakak bisa meninggalkan barang di mobil, biasanya kakak yang paling galak untuk tidak meninggalkan apapun di mobil." Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Aku tidak mengerti kenapa aku begitu. Aku bahkan nyaris meninggalkan tas (dengan dompet dan telepon genggam) di dalam mobil, kalau saja di detik-detik terakhir aku memutuskan untuk membawa tas ke dalam rumah. Apapun itu, sudah terjadi. Aku teledor dan itu membuat aku kehilangan banyak hal yang berharga buat aku.

Aku juga tidak bisa terima bahwa ini adalah bagian dari "amal". Aku tidak ingin meneriakkan amal yang aku lakukan. Itu tidak lagi menjadi amal kalau begitu. Amal adalah ketika aku dengan sadar menyadari bahwa aku harus berbagi kepada mereka yang tidak seberuntung aku sehingga ada keseimbangan. Itu aku lakukan dengan senang hati, karena aku sadar, semua hanya titipan dan aku dianugerahi banyak hal sehingga bisa memiliki sedikit kelebihan. Kalau itu dipaksa, itu bukanlah amal.

Hanya saja, aku musti mengakui bahwa kejadian ini membuat aku diingatkan bahwa aku mulai lupa bahwa semua yang aku miliki adalah anugerah. Aku bisa mendapatkannya karena aku diberi kesehatan dan kesempatan.

Sangat mudah untuk bersyukur ketika aku sehat dan bahagia, tetapi bisakah aku bersyukur ketika Tuhan mengijinkan aku disentil karena keteledoran aku? Mampukah aku melihat bahwa kejadian ini sangatlah kecil dan ringan dibandingkan kehilangan orang-orang yang aku sayangi? Sanggupkah aku bilang, terimakasih Tuhan, Engkau tidak lelah mengingatkan aku untuk tidak teledor, untuk tidak terikat kepada barang-barang mati ini dan untuk selalu menikmati dan mensyukuri berkat yang aku terima?


***

Bohong kalau aku bilang aku tidak merasa marah kalau ingat ini semua, tetapi aku punya orang-orang yang begitu mengasihi aku dan setia menemani aku dalam kondisi ini. Seperti kata adikku,"berarti tandanya lu harus mulai belanja lagi, itung-itung kemarin ganti musim, berarti ganti mode."

Jadi, mau menemaniku belanja? Barangkali, sekaligus membayari belanjaanku? *wink*

17.6.09

Mereka Membuat Aku "Awesome"

Menurutmu, bagaimana sih orang bisa disebut "awesome" - terjemahan bebas aku - orang yang "hebat"?

Buat aku, orang yang hebat adalah orang yang menghargai hidup, mencintai hidup dan memakai hidupnya untuk "menyentuh" orang lain dengan caranya masing-masing. Ini definisi yang aku pakai untuk memberi label "hebat" kepada orang-orang di sekitarku. Aku bersyukur aku dikelilingi orang-orang seperti itu disekitarku. Mereka jugalah yang membuat aku menjadi hebat.

Orang hebat yang berada di lingkaran terdekatku adalah setiap anggota keluargaku dan si abang tentunya. Semua berjumlah 7 orang. Orangtuaku, dan 4 orang adikku yang dengan segala ribut-ribut yang terjadi antara aku dan mereka, mereka adalah adik-adik paling hebat yang aku miliki, dan tentu saja si abang yang selalu bilang,"kekuranganku adalah kelebihanku" itu.

Penghargaan itu juga bisa aku berikan kepada tujuh perempuan yang telah menjadi sahabat dan juga membuat aku menjadi hebat.

Ratna yang aku kenal sejak aku sekolah dasar, seorang teman yang menemani aku melewati begitu banyak hal. Ratna yang hebat karena bisa tahan dengan kecerewetan aku yang bisa jadi mendominasi percakapan-percakapan kami.
Lia adalah teman sebangku yang terlepas dari perbedaan jalur sekolah dan karir selalu bisa memahamiku dan menemaniku berbicara tentang banyak hal, penting maupun tidak penting, dalam hidup ini.
Dindin yang aku kenal sebagai temannya teman malah terbukti malah menjadi salah satu teman terbaikku. Dindin adalah orang dengan talenta dan kreatifitas luar biasa dan kegigihannya dalam belajar banyak hal membuat aku kagum.
Hera adalah teman di masa sekolah yang justru menjadi lebih aku kenal dalam beberapa tahun terakhir. Tulisan dan cara pandangnya membuat aku selalu bilang dia itu hebat.
Unieng adalah teman berbagi di saat aku berada jauh dari tanah air. Unieng adalah pekerja keras yang tahu menikmati hidup dan terlepas dari minimnya komunikasi antara kami berdua, dia tidak pernah berhenti menjadi teman.
Silverlines yang mengajari aku begitu banyak hal, terutama menjadi perempuan dan menikmati serta memanfaatkan segala kelebihan dan kekurangan menjadi perempuan.
Dias, dengan siapa aku menghabiskan begitu banyak waktu dan cerita dari urusan pekerjaan sampai urusan hati. Seorang pekerja keras yang cerdas dan rendah hati.

Menurutku, karena orang-orang hebat inilah aku bisa menghargai diriku sebagai orang hebat:
  • yang menikmati pekerjaanku, terlepas dari ritme kerja yang gila serta segala keruwetan yang sering membuat aku musti minta sesi curcol
  • yang menikmati 4 kali liburan (cukup) panjang selama setahun terakhir, hal langka yang terjadi di lingkungan kerja aku
  • yang menikmati kulit hitam dari sengatan matahari dari liburan terakhir
  • yang menikmati menulis dan mengambil foto yang walaupun dilakukan amatiran ternyata bisa dinikmati oleh orang lain di luar dirinya
  • yang menikmati acara kumpul keluarga, walaupun harus berakhir dengan dompet yang terkuras
  • yang menikmati hari-hari bersama si abang, lengkap dengan semua keributan-keributan kecilnya
  • yang menikmati persahabatan baik dengan mereka yang aku kenal sejak lama tetapi berada beribu-ribu kilometer jauhnya dan juga dengan teman-teman dengan siapa aku menghabiskan hari-hari menyenangkan di kota ini.
Aku pikir, ini adalah hebatnya seorang Diny yang berhasil membuat aku tersipu membaca pujiannya dan membuat aku menuliskan hal-hal hebat ini. Aku pikir, ini adalah latihan yang baik untuk menghargai diri sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita.

Karena aku yakin, setiap orang adalah hebat dengan cara pandang masing-masing, kenapa kamu tidak tuliskan kehebatanmu? Kalau pun tidak dipublikasikan, tuliskanlah untuk dirimu sendiri.

Karena, kamu pun orang hebat!

28.4.09

Potongan Berita Hari Ini

Ketika aku membaca berbagai berita hari ini...



"Our modeling shows sea levels will rise up to 7cm. That will force the relocation of millions". Juzhong Zhuang. The New York Times.

Ketika seorang ekonom berbicara tentang lingkungan dan secara khusus pemanasan global hanya akan mengarah ke satu hal. Uang.

"The Indonesian Medical Association has urged the government to regulate advertisements promoting foreign-owned health services in order to increase public confidence in the local health care system". Fahmi Idris, the chairman. Jakarta Globe.

Ketika kualitas pelayanan kesehatan yang baik tidak lagi dilihat sebagai cara untuk mendapatkan kepercayaan.

"18% of places at UGM are for national exam takers...it's about having the freedom to select our own students". Surya Baskara, Spokesperson for Gadjah Mada University. Jakarta Globe.

Ketika warga negara mencoba mendapatkan hak untuk memperoleh pendidikan.

"Governing the Facebook Service in an Open and Transparent Way". Mark Zuckerberg Note.

Sebuah situs dengan populasi yang terlalu besar dan membutuhkan tata pemerintahan tersendiri?

"I told my father that this is my age of studying in school, and I didn't want to marry". Rekha Kalinda (12). The Huffington Post.

Ketika berita di televisi dan koran dipenuhi dengan kisah pernikahan model putri yang belum lagi 17 tahun dengan pangeran dari negeri seberang.

24.4.09

Selami Pikiran. Selami Tulamben.

Pada mulanya…

Sepuluh tahun yang lalu, untuk pertama kali aku mengenal komunitas menyelam sebagai bagian dari pekerjaanku. Orang yang menjadi sumber informasi itu pun dengan semangat mengajak aku belajar menyelam. Waktu itu, aku merasa itu terlalu mahal dan terlalu besar. Pikiran itu aku simpan saja di dalam hati. Empat tahun yang lalu, lagi-lagi karena urusan pekerjaan aku kembali mengenal kelompok selam lain. Kaufik, sebagai sumber informasi utama merupakan orang yang paling semangat mengompori aku untuk ikut belajar. Aku tersulut. Entah berapa kali aku mencoba bergabung di salah satu dari sekian banyak kelas yang diadakan oleh Kaufik. Sampai-sampai aku malu sendiri karena menjadi orang yang cuman omong-omong dan berencana tanpa ada aksi apapun!

Sampai di awal tahun 2007, aku kembali diingatkan dengan keinginanku yang satu itu. Teman masa sekolahku, Unieng, baru saja menjadi salah satu PADI OWSI (Open Water Scuba Instructor) perempuan pertama di Bali. Itu pun baru di awal tahun 2008, aku mulai tanya-tanya untuk mengambil kursus itu. Unieng sudah mengirimkan open water manual sejak awal 2008. Katanya,” Yang penting langsung pegang buku deh.. biar ada feeling kalo udah mulai kursus. haha.“ Dan dia benar, buku itu membuat aku tidak bisa begitu saja membuang ide untuk belajar selam buru-buru. Buku itu selalu aku lihat setiap aku menonton tivi karena aku letakan di jajaran buku persis di sebelah televisi. Tapi, sesekali melihat dan membaca buku itu tidak membuat aku menyelam, bukan?

Saking seringnya aku membuat rencana untuk ambil kursus satu ini, dua bulan lalu mantan boss aku sampai bertanya,”udah jadi ke Bali dan dapat sertifikatnya?”. Ouch. Aku buru-buru buat rencana baru. Kontak Unieng, pesan tiket (walaupun dengan perasaan ketar ketir karena pekerjaan di kantor sedang bertumpuk-tumpuk), dan kembali membaca buku manual dari awal!
Ah, pokoknya tiket sudah di tangan dan ijin cuti sudah diperoleh.


***

Maka terjadilah, perlawanan terhadap diri sendiri!

Untuk pertama kali aku menjejakan kaki di bagian timur Bali. Tiba dini hari, tidak banyak yang bisa aku lihat. Baru setelah bangun dari tidur, aku melihat alam yang indah di depan mata. Hijaunya pepohonan, laut yang tenang dengan air yang bening, pantai berpasir. Sempurna!

Tapi aku disini bukan untuk bermalas-malasan di tepi pantai sambil membaca buku. Aku datang untuk menuntaskan rencana yang sudah terlalu lama disimpan. Menuntaskan open water course, secepatnya!

Aku dan Unieng pergi ke daerah Tulamben, sekitar setengah jam dari Desa Lipah, Amed. Setengah dari materi hari itu berhasil aku selesaikan dengan mudah. Tidak ada masalah. Termasuk mendadak harus belajar mengapung dan melakukannya selama 10 menit tanpa berhenti. Rasa lapar menghentikan kegiatan siang itu!

Kembali ke kolam setelah makan siang ternyata tidak semudah yang aku kira. Ketika Unieng berkata bahwa kami akan mencoba melatih tanda kehabisan udara dan Unieng akan menutup tanki udara aku sebentar, aku langsung lemas. Jantungku berdebar begitu keras. Perutku mual bukan kepalang. Badanku begitu tegang. Walhasil, aku bahkan tidak berani berada di dalam air!
Gila! Betul-betul gila!

Aku bolak balik ke kamar mandi hanya untuk muntah. Rasa mual tidak berkurang. Kembali ke air, jantungku tidak keru-keruan sehingga napasku menjadi sangat tidak teratur. Aku merasa sesak napas. Padahal Unieng dengan sabar terus memberi tanda untuk mengambil napas panjang dan dalam. Satu cara yang paling baik untuk bernapas di dalam air dengan bantuan tanki udara itu.

Pelan-pelan, aku kembali ke kolam, melakukan setiap training satu demi satu. Sulit sekali. Aku nyaris selalu butuh berhenti setelah dua training. Aku menolak untuk masuk ke bagian kolam yang dalam. Ehm, dalam sekitar dua meter saja! Padahal sebelum makan siang, aku sudah berada di bawah sana dengan santai melakukan ini dan itu. Sore itu, aku seperti kehilangan akal sehatku!

Aku bahkan tidak tahan untuk tidak menangis karena kesal dengan diriku sendiri. Aku diberi kesempatan untuk menelepon untuk menenangkan diri. Unieng bahkan menemaniku ngobrol kesana kemari. Aku bisa melihat kelelahan di wajahnya, tapi dia masih tetap tersenyum, menemaniku berbicara.

Aku memang punya ketakutan terhadap ruang tertutup. Aku bahkan tidak bisa memakai helm tipe full-face karena biasanya aku menjadi panic dan bahkan tidak bisa membuka helm tersebut. Aku bisa sesak napas melihat adegan seseorang diceburkan ke air di film-film laga.

Anehnya, itu semua tidak terlihat mempengaruhiku pada sesi pagi sampai siang hari, loh!

Aku mencoba masuk ke kolam kembali. Unieng, sambil tersenyum mengingatkan bahwa semua kepanikanku itu hanyalah sesuatu yang “berlarian dari kuping kiri ke kuping kanan”. Semua hanya bayanganku.

Lewat telepon, Abang bercerita tentang masa-masa pelatihan naik gunung. Abang berbagi cerita mengenai orang-orang yang patah semangat untuk melanjutkan pendakian. Abang juga bercerita tentang pelatih yang membiarkan siswa tergantung di tebing ketika mulai mandek meneruskan pemanjatan.

Ah, betapa pikiran punya kekuatan yang begitu besar! Sugestiku membuat aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk sekedar bernapas dengan tenang pun sulit aku lakukan. Berbagai pikiran melintas, termasuk pikiran untuk menyerah. Aku bahkan menyesali kenapa aku bahkan berminat untuk melakukan hal ini. Mencari masalah untuk diri sendiri. Aku berpikir untuk keluar kolam dan menyudahi semuanya. Tokh, ini harusnya merupakan kegiatan senang-senang. Aku masih bisa menghabiskan sisa hariku dengan bersenang-senang di tepi pantai, snorkeling, atau sekedar berjalan-jalan.

Matahari semakin surut. Kolam semakin gelap. Ketakutanku semakin tinggi. Saat itu ada beberapa orang lain di sekitar kolam. Semua memberikan dukungan penuh kepadaku. Seorang perempuan muda dengan tenang berkata,”it is worthed.” Dia bilang, dia bahkan butuh waktu 5 minggu untuk melakukan apa yang aku lakukan di kolam. Unieng terus memompakan semangat dan tersenyum kepadaku. Tapi dia tidak pernah mengusulkan berhenti atau beristirahat. Unieng terus berkata,”sebentar lagi” atau “satu jam lagi” atau “satu lagi”. Ah!

Ternyata, hari pertama di kolam renang seperti tamparan keras di mukaku. Aku berpikir, bahwa cinta aku pada pantai dan laut serta waktu yang aku pakai untuk mempelajari manual open diver sudah cukup menjadi bekal mengambil kursus untuk open water. Aku tidak pernah berpikir bahwa butuh urusan non-teknis untuk bisa menyelam! Aku harus melawan ketakutan-ketakutan yang hanya ada di dalam pikiranku sendiri. Berlari-lari di antara kuping kiri dan kuping kananku. Pikiran yang begitu kuat, yang mampu membuat aku begitu lemah dan tidak bisa melakukan apapun.

Ketika aku berhasil menyelesaikan semua, badanku terasa lemas. Tidak aku hiraukan senyuman orang-orang di sekitarku. Aku hanya ingin berganti pakaian. Sepanjang perjalanan pulang ke Bayu Cottages, aku kembali memutar kejadian hari itu berulang kali di pikiranku. Aku masih tidak percaya betapa aku begitu ketakutan. Aku begitu lega semua bisa selesai. Aku menyadari bahwa aku baru saja melawan diriku sendiri, melawan pikiran-pikiran yang sering muncul di benakku yang sebetulnya merupakan ketakutan yang tidak diperlukan.

Bukan sekali dua kali, aku begitu bersemangat mengerjakan sesuatu, dan kemudian aku tinggalkan begitu saja karena aku bosan atau karena aku berpikir hal itu terlalu besar. Kejadian di kolam renang mengingatkanku untuk menjaga motivasi, menghiraukan pikiran negatif tidak berdasar, dan menyelesaikan sampai titik penghabisan!

Hari itu, aku tidur dengan satu kesadaran baru. Sebuah cermin besar yang diberikan pada hari itu membuat aku melihat diriku lebih jelas, termasuk melihat betapa aku mudah dibodohi oleh hal-hal yang sebetulnya hanya eksis di dalam pikiranku.



***

Gigitan Ikan Hijau

Pagi itu aku bangun dengan lebih segar. Kali ini, aku memutuskan untuk makan besar dan melupakan untuk sementara kebiasaanku untuk menghindari goring-gorengan. Nasi goreng lengkap dengan buah dan kopi Bali.

Hari itu, untuk pertama kali aku mengintip ada apa di bawah sana.

Beban tangki dan BCD yang nyaris sampai 20 kilogram itu langsung terasa ringan begitu masuk ke dalam air. Tidak ada suara lain kecuali napas aku. Melihat bintang laut hijau yang memukau yang tampaknya berada tidak jauh dari wilayah telur seekor tiger fish. Tidak heran, ikan itu langsung berenang kencang ke arah kami. Aku tidak berani bergerak dan hanya memegang tangan Unieng erat-erat. Tapi tidak ada yang terjadi, dia hanya berusaha mengusir kami. Aku melihat sekumpulan eel, naik dan turun, agak geli tapi menarik. Aku melihat sekilas bekas kapal perang yang karam tersebut. Tidak terlalu jauh, karena itu terlalu dalam dan gelap. Kami berhenti di satu tempat, mencoba mempraktekan beberapa hal dari latihan di kolam. Pada saat itu, segerombolan ikan menghampiri kami. Ah! Sampai-sampai seekor ikan super kecil berwarna hijau mengigit kecil lututku. Ehm, barangkali rasanya enak buatnya.

Hari itu, dua kali aku kembali ke laut. Aku menikmati keduanya, walaupun aku lebih senang ketika aku turun di pagi hari pada waktu matahari sedang cerah, air hangat, laut tampak cerah! Aku menikmati berbagai kehidupan di bawah air. Aku hanya tidak menikmati proses naik ke permukaan. Reverse block, katanya. Kupingku agak sakit. Sehingga kami harus naik perlahan-lahan. Menurut Unieng, barangkali aku ini memang malas untuk naik lagi ke permukaan dan lebih betah ngendon di bawah sana. Bisa jadi, Ning!

Hal yang sama aku lakukan keesokan harinya. Hari ketiga aku di Bali. Masih menyelam di sekitar Tulamben, tapi kali ini aku dibawa ke coral garden. Hari itu, lebih banyak diver berkeliaran, termasuk kapal-kapal yang mengantar para diver. Kami harus berhati-hati. Hari itu, aku menikmati pemandangan yang berbeda. Nudibranch hitam putih, napoleon fish, longnosed unicorn fish adalah sebagian kecil yang aku lihat hari itu. Unieng bercerita bahwa pada saat ramai, bisa ada 300 orang yang menyelam di daerah tersebut!

Hari itu, aku menyelam dengan lebih santai. Aku tokh tidak perlu bawa alat-alat. Seorang porter perempuan dengan gagah membawa tangki kami, berjalan dengan santai dan pasti di atas batu-batu itu. Aku saja mengalami kesulitan untuk berjalan disitu. Disitu memang ada beberapa porter yang siap membantu diver membawa tangki.

Dengan berakhirnya dive aku yang terakhir, berakhir juga kursus yang aku ikuti. Setelah menyelesaikan kuis dan test tertulis yang dilakukan di Bayu Cottages di pagi hari dan melalui 4 kali penyelaman, aku memperoleh open water diver certificate. Gila! Lega banget.

Aku merasa beruntung karena punya teman yang begitu sabar, tenang dan baik menemani aku melewati titik-titik tersulit. Unieng selalu tersenyum, tertawa dan menggoda aku untuk memastikan aku memahami semua aturan yang ada dan terutama memastikan aku menikmati alam bawah laut itu dengan penuh rasa senang. Abang juga tidak berhenti menggodaku dan memompa semangatku. Sampai sekarang, aku masih senyum-senyum mengingat semuanya. Setiap ingatanku membawaku kembali ke Amed dan Tulamben, aku kembali berterimakasih ke Unieng buat kegigihannya. Passion dia terhadap kehidupan bawah laut betul-betul menular!



***

Sampai nanti!

Berat rasanya untuk meninggalkan Amed yang begitu tenang. Pantai yang sepi dan jernih. Bawah laut yang menggoda. Sahabat yang begitu sabar.

Sepanjang perjalanan pulang, aku disuguhi pantai, sawah, gunung dan berbagai keindahan alam. Ah, aku menemukan titik favorit baru di Bali. Ning, sungguh, aku pengen balik lagi.



29.3.09

Adiksi

Ketika dokter cantik itu berkata bahwa aku memiliki "adiksi", aku kaget. Tidak pernah terlintas dalam benakku bahwa aku punya kecanduan yang harus dihentikan. Adiksi yang membuat pola makan aku menjadi jelek, dan berarti aku harus melewati masa-masa "sakau", sehingga mood dan konsentrasi aku tidak lagi tergantung kepada coklat dan makanan manis yang nikmat itu.

Informasi ini seperti alarm yang membuat aku bangun dari tidur panjang. Aku hanya mau memperbaiki pola makan dan aku mengharapkan sebuah tabel atau daftar makanan yang membantu aku merencanakan makanan yang harus aku masak sehari-hari, yang boleh dan tidak boleh aku makan. Ternyata, aku harus terlebih dulu menyembuhkan penyebab utama dari kekacauan tersebut.

Adiksi itu datang perlahan dan bahkan tidak pernah aku sadari. Masih jelas di ingatan, bagaimana aku heran ketika dokter tersebut dengan cepat menunjukkan berbagai gejala adiksi tersebut di tengah-tengah cerita mengenai kegiatan aku selama seminggu terakhir. Well, kalau aku sangat tergantung pada rokok, alkohol atau obat-obatan, barangkali aku akan lebih cepat mencari jalan keluar. Tapi siapa sangka bahwa ada begitu banyak hal lain, yang tampak remeh, yang bisa membuat kita mempunyai ketergantungan berlebihan?

Dokter tersebut memberi analogi menarik. Bagaimana demam bisa diturunkan dengan obat penurun demam, tetapi tanpa mengobat sumber penyakitnya maka demam yang merupakan gejala tersebut bisa muncul lagi. Berat badan berlebih atau sangat kurang yang muncul karena pola makan yang buruk bisa jadi merupakan gejala yang tampak di luar. Penyakit sebetulnya tersembunyi dengan baik di balik berbagai gejala tersebut. Ada banyak hal yang bisa menjadi sumbernya, dan bukan tidak mungkin terdapat lebih dari satu sumber.

Kesadaran ini membuat aku punya motivasi baru yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Karena aku mau, aku bisa melalui hari-hariku dengan konsentrasi dan mood yang lebih terjaga tanpa harus tergantung ini dan itu. Kalau dokter itu benar, hari-hari di depan akan kembali seperti menaiki roller coaster mood. Aku harus bertahan, bukan?




15.3.09

Aplikasi Utama Facebook: Reunian.

Aku cukup yakin kalau aku tidak berlebihan ketika mengatakan bahwa facebook telah mendorong ada begitu banyak acara “reunian”. Kegiatan kumpul-kumpul dengan teman lama biasanya teman lama ketika bersekolah di SD, SMP, SMA atau kuliah.

Reuni memang bukan barang baru. Ketika aku baru masuk SMA, aku ingat ada satu reuni besar alumni SMA dimana waktu itu aku sekolah. Aku juga ingat, bulan puasa merupakan salah satu waktu dimana banyak kegiatan kumpul-kumpul seperti itu dilakukan –sambil berbuka puasa tentunya.

Beberapa bulan terakhir, wacana yang biasanya berakhir dengan undangan reuni terus berdatangan. Reuni kecil SMP terjadi sekitar sebulan lalu. Reuni SMA angkatanku berlangsung Sabtu kemarin di Bandung. Reuni SD baru saja terjadi di tahun lalu. Tidak ada satu pun yang aku hadiri, semua terjadi dengan alasan pekerjaan.

Sebagian besar reuni memang mengambil waktu hari Sabtu atau Minggu, bukan hari kerja. Sayang sekali, terkadang aku berada di luar kota pada hari tersebut, atau ada pekerjaan yang baru diberikan Jumat sore untuk diserahkan Senin pagi.

Tetapi alasan terbesarku adalah aku tidak terlalu menikmati pertemuan skala besar sampai ratusan orang, misalnya. Aku tidak menyanggah bahwa pertemuan seperti itu bisa membuat aku bertemu teman-teman lama. Acara seperti itu jadi momen pas untuk bernostalgia dan terutama ujung-ujungnya adalah mengetahui kabar terbaru dari teman-teman lama. Coba deh bayangkan, kalau bukan pada waktu reuni, kapan lagi kita bisa bertemu sekian banyak teman lama?

Kalau pertanyaan itu ditanyakan kepadaku, aku akan jawab bahwa kita bisa berrtemu teman lama kapanpun! Aku memang patut bersyukur bahwa sampai saat ini aku masih bertukar kabar dengan satu dan dua kawan dari SD dan SMP, masih cukup sering bertemu dengan teman-teman dekatku di SMA, dan setiap ada kesempatan aku masih makan bareng dengan teman-teman kuliahku. Teman kuliah dari satu jurusan umumnya masih bergerak di lingkungan kerja yang mirip. Aku juga masih tahu kabar teman-teman kuliah bukan dari satu jurusan tetapi dari satu unit kegiatan mahasiswa, aku bahkan masih menghabiskan liburan panjang bersama mereka.

Facebook membuat aku mengetahui kabar sebagian besar teman yang hampir hilang kontak. Hampir, karena tokh akhirnya aku bertemu kembali di Facebook. Tetapi itu hanya salah satu media. Dengan sebagian besar teman dekat, aku masih berhubungan dengan cukup baik. Jika mereka ada di kota yang sama atau berdekatan, aku dan mereka masih bertemu sekedar untuk minum kopi atau makan baso. Jika mereka ada di luar Indonesia, ada YM, email dan sms yang membuat aku masih mengetahui kabar mereka, tokh?

Aku mungkin sedikit dari yang beruntung masih bisa punya komunikasi dengan teman-teman di masa lalu. Ehm, ralat. Teman-teman yang aku kenal karena berrsekolah di tempat yang sama itu jelas bukan teman di masa lalu, karena mereka masih teman-temanku hingga saat ini, masa sekarang.

Aku mungkin kalangan minoritas yang lebih memilih pertemuan kecil dengan beberapa teman, tanpa embel-embel reuni. Bertemu ketika kami berhasil memilih waktu dimana kami bisa bertemu, bercerita tentang apapun yang kami hadapi di masa sekarang. Obrolan nostalgia penuh kenangan memang pasti muncul, tetapi itu tidak terbatas pada masa sekolah dan itu tidak selalu harus jadi agenda utama. Memang tidak bisa seminggu sekali, bahkan sebulan sekali pun belum tentu, tapi yang pasti kami masih bisa bertemu setiap waktu memungkinkan. Ritme bertemu seperti sekarang, walaupun kurang, sudah cukup bagiku.

Maaf ya, girls, aku tidak bisa hadir kemarin. Tapi kalian tahu pasti, bahwa kita bisa bikin agenda sendiri, kan? Jadi, mari janjian untuk berburu makan sambil karaoke di tempat yang kalian bilang asik itu. Aku siap.

11.3.09

JJF 2009: tumbuh kembang anak baru gede!

Sejak tahun 2004, aku sudah jatuh cinta pada acara satu ini. Aku begitu menikmati JJF 2005 sampai sampai aku memutuskan untuk selalu menabung setiap bulan untuk bisa beli tiket di tahun berikutnya. Karena, saat itu harga tiket masih mahal dan gaji sangat tidak bersahabat untuk bisa dengan mudah membeli tiket.

Sejak itu, setiap tahun, aku tidak pernah melewatkan JJF, sampai tahun ini.

Tiket memang masih tidak murah, tetapi sebetulnya lebih murah daripada tiket-tiket tahun sebelumnya. Ini bukan karena aku dapat tiket burung kepagian, loh! Walaupun sudah dengan persiapan jauh-jauh hari, tidak berarti aku berhasil mendapat semua tiket yang aku butuhkan. 5 hari sebelum festival dimulai, aku butuh tiket lebih untuk adik-adik yang di saat terakhir diputuskan atau memutuskan menontong. Jangan tanya bagaimana perjuangan untuk memperoleh itu. Disitu aku sadar, aku tidak punya bakat calo dan bakat cari untung berlebih. Beberapa tiket di tanganku adalah tiket gratis dari sponsor utama acara itu yang dijual seharga beberapa ratus ribu -tetap dibawah harga pasaran saat itu. Kalau saja aku tahu itu tiket gratis, rasanya aku memilih beli tiket lebih mahal tapi memang dibandrol segitu! (Dan aku barangkali harus lebih ganas membeli tiket-tiket murah di awal penjualan itu).


Kali ini juga, aku memutuskan nonton beramai-ramai dengan abang dan adik-adikku. Biasanya, aku selalu menonton seorang diri, walaupun berakhir dengan nonton bersama karena bertemu teman atau berkenalan dengan orang baru disana. Itu bisa terjadi loh, karena entah kenapa ada keterikatan yang tidak terlihat antar sesama penonton: terikat pada musik jazz.

Ini yang paling aku rindu dari JJF dan tidak aku dapatkan di JJF 2009. Suasana akrab dan hangat baik antara penonton dan pengunjung maupun antar pengunjung. Bagaimana mau akrab kalau ada puluhan ribu orang di Jakarta Convention Center? Walhasil, semua ruangan penuh pengunjung. Antrian panjang tidak terelakan, baik itu untuk memasuki ruang pertunjukan, tempat makan sampai toilet! Kalau lihat obrolan di milis JJF, celoteh berputar di urusan ini dan bahwa festival ini kehilangan jiwa jazz-nya!

Ah, ini memang Java JAZZ Festival. Tapi aku pikir, jazz itu luas. Ini juga konsekuensi dari sebuah acara yang ingin membuat musik sebagai alat untuk menyatukan berbagai bakat, berbagi hasrat bermusik bersama. Siapalah aku untuk mencap musisi jazz dan non jazz. Aku bersyukur masih ada assembly 1 dan 3, tempat dimana pemusik jazz kelas wahid bermain. Oleta Adams, Laura Fygi, Diane Reeves, New York Voices, Ivan Lins dan masih banyak lagi bisa ditemukan disana. Walaupun harus mengantri dan ngomel pada mereka yang memotret dengan blitz, aku masih sangat menikmati jiwa dan semangat musisi-musisi itu. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kepuasan untuk itu memang jauh berkurang.

Kekecewaan terbesar adalah Brian McKnight. Dia memang bukan musisi jazz. Dia adalah musisi favorit sepanjang masa buatku. Sejak album pertama sampai sekarang, aku tergila-gila Brian McKnight. Sayang sekali, pertunjukannya ternyata adalah bagian dari promosi album dua anak lelakinya, yang walaupun tidak jelek tetapi tetap bukan Brian McKnight. (Aku juga tahu, Brian McKnight baru mengeluarkan album baru, jadi konser ini semi promo, deh). Apa mau dikata, harga tiket jauh lebih murah daripada konser tunggal Brian McKnight! Aku berharap dia bermain dengan grand piano, tetapi yang ada adalah minus one (ehm, yaaa Brian sempet bermain keyboard untuk beberapa lagu termasuk Never Felt This Way). Persis seperti konser Boyz II Men. Eh, tidak persis karena masih ada pemain drum dan bassist. Brian memang tetap oke, hanya aku kehilangan jiwa dari musisi sekaliber Brian. Kalah jauh dibandingkan jiwa yang aku dapat dari Sensual, sebuah band baru dari Belanda yang membuat aku langsung beli CD mereka. Aku nonton mereka tengah malam! Aku yang awalnya mengantuk, langsung bangun dan bertahan sampai pertunjukan usai.

Aku pikir, ini adalah bagian tak terelakan dari semakin besarnya JJF. Seperti anak baru gede (yang sering dijadikan kambing hitam kehebohan di JJF) yang masih terus cari jati diri, ingin cari perhatian sebanyak mungkin, terus bersolek dan tentu saja sesekali tergelincir. JJF tidak mungkin menyenangkan semua pihak, tapi menurut aku sih kehadirannya tetap penting bagi musik dan penikmat musik.


13.2.09

Pertemanan: Masa Lalu, Masa Kini dan FB

Secara keseluruhan, minggu ini dilalui dengan menyenangkan dengan cara yang santai. Berturut-turut menghabiskan malam dengan perempuan-perempuan yang berhasil membuat aku nyaman dengan mereka dan nyaman dengan diriku sendiri.

Machiato dan kue apel yang lezat, menemani obrolanku dengan seorang teteh. Kakak dalam Bahasa Sunda. Ngalor ngidul kemana-mana. Tidak terasa, tempat kami bertemu sudah mau tutup. Seorang kawan lain mampir ke rumah, dan kami menghabiskan malam di tempatku, mencoba meng-update hari-hari kami selama beberapa bulan terakhir. Maklum, kesibukan kami berdua (dan terutama karena kantor dia tidak lagi berada di jarak yang wajar untuk bisa makan siang bersama) membuat aku dan dia tidak bisa terlalu sering bertemu.

Dan, semalam, aku menghabiskan malam bersama mereka yang datang dari masa lalu. Tanpa disengaja direncanakan untuk terjadi seperti itu. Hanya reservasi di tempat yang selalu penuh itu yang menjadikan pertemuan ini memerlukan sedikit "perencanaan". Bitches Unite, begitu salah satu dari kami menyebut pertemuan kami. Bernostalgia sambil bercerita tentang berbagai hal yang terjadi di sekitar kami saat ini. Mereka bukanlah sahabat dari masa lalu, bukan sahabat dalam pengertian teman-teman dimana aku menghabiskan sebagian besar waktu bersama di masa lalu, tapi tampaknya waktu malah membuat kami menemukan lebih banyak kemiripan di masa ini.

Kecuali dua pertemuan pertama, pertemuan terakhir bisa ada karena status Facebook. Sebelumnya, aku dan dia sudah mencoba bertemu, tapi tokh tidak pernah berhasil karena -antara lain- jam kerja yang kurang kompak! Satu diantaranya betul-betul baru terkoneksi karena Facebook. Secara umum, kami tahu kabar satu sama lain dari situs satu itu.

Kalau kamu penikmat Facebook, pasti merasakan bagaimana beberapa bulan ini kita dihujani foto-foto dari masa lalu. Tidak semua menyenangkan, beberapa lebih membuka hal-hal yang tidak menyenangkan, walaupun sebagian besar berhasil membuat aku tersenyum. Lebih dari itu, ide yang dilanjutkan dengan undangan reuni pun berdatangan. Mulai dari reuni besar sampai reuni kecil-kecilan. Buat aku yang sedikit telmigapo -telat mikir gancang poho- aku mengalami kesulitan untuk mengingat sejarah yang ada di belakang. Muka yang sudah berubah dan nama yang tidak akrab di kuping membuat aku perlu sedikit kerja keras untuk mengingat semuanya.

Melihat foto masa lalu dan semua tawa canda di masa itu merupakan satu hal yang menyenangkan, tetapi apa yang ada pada saat ini merupakan hal yang perlu dinikmati. Orang berubah (atau mungkin tidak berubah?) menyebabkan tidak semua ikatan di masa lalu bisa terus bisa dinikmati pada masa kini. Tetapi, itu juga yang menciptakan pertemanan baru dari lingkungan lama yang begitu menyenangkan! Setiap orang maju dengan cara masing-masing, beberapa pertemanan bertahan dengan cara yang unik, beberapa berhenti pada tingkatan "apa kabar". Pertemuan dengan mereka yang membuat kita nyaman adalah pertemuan dengan teman-teman yang memang perlu dijaga!

Buat aku, teman-temanku adalah yang terbaik dan mereka selalu berhasil membuat aku berkata,"aku bahagia!"


11.2.09

Belajar Bahasa Inggris

"Aku lagi belajar, Mba", begitu katanya, ketika aku tanya kenapa dia masih ada di kantor sore-sore begini tanpa memasang musik apapun seperti yang biasa dia lakukan.

Jawaban yang bikin aku terdiam. Dia, seorang perempuan dari proyek tetangga dengan tugas seorang clerk. Dia membantu menerima telepon, mempersiapkan dan mengirimkan dokumen, membuat kopi atau teh untuk atasan atau tamu proyeknya. Di waktu senggang, dia asik dengan komputernya. Aku pikir, dia bermain game atau internet. Maklum, beberapa kali aku memergokinya sedang asik dengan permainan komputer.

Tapi ternyata tidak untuk kali ini. Dia berada di belakang komputer untuk belajar sendiri. Dia bilang dia belajar Bahasa Inggris. Ini membuat aku terkejut, karena aku tidak menyangka bahwa dia adalah seorang perempuan yang masih mau belajar Bahasa Inggris, secara mandiri pula. Dia tidak mau hanya berhenti sampai pada posisi dia sebagai janitor.

Aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku merinding waktu dia bilang sedang belajar. Barangkali karena aku sudah lama sekali tidak lagi belajar. Keinginan sih segunung: belajar menulis Bahasa Inggris lebih baik lagi (teteh......!!!!), belajar memotret khusus (mudah-mudahan ini tidak sekedar rencana, aku sudah tidak sabar ikut kursus itu), belajar main piano (pop saja, sebagai ambisi yang tidak pernah berakhir), belajar Bahasa Spanyol (bahkan aku tidak memanfaatkan 6 bulan serumah dengan seorang "native"). Semua itu menuntut aku meluangkan waktu secara khusus, berkomitmen untuk mencapai kemampuan tertentu, untuk menjadi aku yang lebih baik lagi.

Jadi, mari belajar?



28.1.09

Pria Pemimpiku

Bermimpi pun tidak, bahwa aku bisa kembali melewati 24 Januari bersamanya. Aku takut kecewa. Aku memilih untuk tidak bermimpi.

Tapi dia tidak pernah berhenti bermimpi. Tentang banyak hal. Tentang hasrat, tentang hidup, tentang kerja, tentang banyak hal. Mimpi yang selalu diletakan begitu tinggi, tapi tidak terlalu tinggi sehingga masih selalu terlihat oleh mata. Mimpi yang menjadi api, yang membakar energi dan menjadikannya berbagai kerja.

Berawal dari berbagai mimpi, banyak hal dia wujudkan. Satu demi satu. Perlahan tapi pasti. Tidak jarang, dia harus berhenti sejenak mengumpulkan energi yang habis sambil memandang pasti mimpi-mimpi di depan mata.

Dia pria pemimpiku, yang tidak pernah berhenti bermimpi dan terutama tidak pernah berhenti hanya sampai mimpi tetapi terus berkarya untuk membuat mimpi itu menjadi nyata.

Aku pun tidak takut lagi untuk bermimpi, bersamanya.



Selamat ulang tahun, mudah-mudahan kita bisa terus berbagi mimpi dan karya dan kasih.


20.1.09

Gila Kerja Gila

Baru minggu lalu, aku meledek salah satu mitra kerja utamaku karena ada di kantor di hari cuti. Dia adalah seorang kasubdit di institusi pemerintah yang bekerja pagi, siang dan malam (terkadang subuh), dan bahkan di hari libur sekalipun (dia pernah meneleponku dari kantor di tanggal merah atau hari Sabtu!). Pekerja keras, kataku. Waktu itu, aku kaget melihat dia sudah ada di kantor, sepengetahuanku hari itu dia masih terhitung cuti. "Tidak betah di rumah,"katanya.

Ah, rumah itu menyenangkan. Bisa nonton DVD sampai bego. Bisa baca buku sepuasnya. Bisa kerja di sofa nyaman. Bisa tidur siang. Bisa bermalas-malasan.

Itu pikirku.

Beberapa hari lalu, aku ke dokter. Aku terus-terusan batuk selama dua minggu, dan mulai terasa mengganggu. Sebetulnya, tujuan lain adalah mengantar dia yang sudah demam selama 2 hari. Aku takut dia terkena tipus atau demam berdarah. Aku sendiri sudah hampir membatalkan janji temu dengan dokter cantik itu, tapi aku lupa dengan niat itu sewaktu aku berhasil menemukan gedung tempat rumahsakit itu beroperasi.

Jadi, kami berdua harus diperiksa, diambil darah, menunggu hasil tes darah sambil makan siang. Pikirku, setelah ini aku bisa kembali lagi ke kantor.

Itu pikirku. Kenyataan berkata lain. Aku diminta untuk istirahat total selama 7 hari. Aku pikir, dia yang sakit, ternyata aku yang sakit. Aku mengidap semua yang aku pikir diidap oleh dia. Kacau, ada yang tidak beres ini. Aku merasa sehat, tetapi darahku berkata sebaliknya. Tidak kompak!

Inilah aku, di hari keenamku berada di rumah. Kemarin sore, keinginan untuk ke kantor begitu kuat. Dipicu oleh kemacetan arus pulang kantor dekat rumah, aku membayangkan tumpukan email, serentetan "to do list", krang kring telepon, orang hilir dan mudik, dan memikirkan sejumlah keputusan-keputusan cepat yang aku harus buat. Sial, aku kangen gila sama kerja gila aku sehari-hari.

Sehari lagi, dan aku sudah bisa kembali bekerja!

9.1.09

Rumah Di Balik Bukit

Rumah, adalah tempat dimana hati kita berada. Lebih dari sekedar batu bata yang dibangun oleh para tukang. Lebih dari sekedar sebuah alamat yang dipakai untuk melakukan surat menyurat.

Jangan menyerah, untuk bisa tiba di rumah. Percayalah, semua kelelahan itu akan terbayarkan.

Satu dari kelompok musik yang tidak pernah berhenti membuat aku terpesona...

3.1.09

Halilintar 2008

Kalau berkesempatan main ke Dunia Fantasi, cobalah naik "halilintar". Sebuah roller coaster. dan sekaligus pemompa adrenalin terbaik di tempat itu. Beberapa detik pertama adalah perjalanan awal yang "biasa-biasa" saja. Meluncur datar dan tidak terlalu cepat. Kemudian kereta akan beranjak naik dengan tempo lambat. Dari situ, kereta meluncur kencang kebawah. Duh, aku bisa merasakan jantungku berdebar kencang dan suaraku berteriak kencang. Sesampai di bawah, kereta diputar dalam tempo cepat. Dalam waktu cepat, kereta kembali ke stasiun awal dan berhenti. Cepat sekali, semua terjadi.

Seperti tahun 2008.

Pekerjaan lama dengan segudang tanggung jawab baru (terimakasih buat (mantan) boss yang memutuskan keluar *sigh*). Sebuah liburan panjang keliling Asia Tenggara yang membuat aku hitam gosong. Kecanduan facebook. Menikmat potret memotret. Keluar rumah dan menempati tempat tinggal baru. Sebagian besar di luar rencana dan tidak pernah aku duga. Terjadi dalam kecepatan tinggi lengkap dengan tikungan-tikungan yang membuat aku deg-degan sepanjang tahun.

Hubunganku dengan orang-orang yang aku kasihi pun tak luput dari "naik" dan "turun" dalam tempo yang berbeda-beda. Keluarga, sahabat dan tentu saja abang. Mereka adalah hal terbaik dalam hidupku. Mereka memberikan aku air mata karena bahagia, sedih, sukacita, marah, kecewa dan air mata penuh ucapan syukur. Hubunganku dengan DIA juga melewati titik terendah dan tertinggi. Ini sebuah perjalanan panjang yang masih harus aku jalani untuk terus menuju titik tertinggi.

Rasanya seperti baru kemarin saja memulai 2008. Membuat tujuh resolusi yang merupakan lemparan dari Leon. Tiba-tiba, aku sudah harus mengucapkan selamat tinggal kepada 2008!

***

Di penghujung tahun, aku dan keluarga memutuskan untuk melewati Natal di Bali. Berada di salah satu tujuan wisata terpopuler di Indonesia bahkan dunia, kami lebih dari sekedar bersenang-senang. Kami melewati beberapa pertengkaran hebat. Tapi... tahukah kamu, bagaimanapun kami bertengkar, kami selalu kembali tertawa-tawa dan berpelukan! Cinta mengatasi semua itu.

Sebuah penutup tahun yang manis untukku. Sebuah jaminan bahwa sekalipun tahun 2009 masih akan menjadi perjalanan halilintar tersendiri, cinta akan tetap menjadi kekuatan bagiku. Bukan saja dari orang-orang yang aku kasihi dan juga mengasihiku, tetapi terutama dari DIA yang BESAR dan PENUH KUASA yang mengasihi setiap kita tanpa syarat.

Selamat Natal dan Selamat Tahun Baru. Mari ngantri naik halilintar lagi...yuuukkk....