16.9.08

Misah Misuh

Aku memang jarang terbuka atas rasa yang ada untuk dirinya. Berbagai situasi yang ada di sekitar kami membuat aku terbiasa dan membiasakan diri untuk menikmatinya semuanya berdua saja. Aku memang tidak pandai menciptakan kata, rupa, dan bentuk untuk menggambarkan setiap emosi indah yang ada. Aku tidak perduli. Dia tahu itu.

Satu hal yang hampir selalu terjadi adalah bagaimana orang begitu sering mengklaim sebagai pihak yang paling tahu dirinya. Termasuk urusan hati. Ha! Siapakah dia yang bisa mengetahui isi hati terdalam? Siapakah dia yang bisa mengetahui peperangan yang senantiasa terjadi dalam pikiran? Siapakah dia yang bisa menghakimi orang berdasarkan kriteria yang diciptakan sendiri?

***

Disini, memang ada bagian khusus yang bercerita tentangnya tetapi itu menggambarkan hanya sepersepuluh dari kisah kami.

Perjalanan ini panjang dan berliku. Melewati hitungan tahunan. Sesuatu yang tidak pernah kami duga. Dalam masa tahunan tersebut, aku dan dia sama sama berproses menjadi diri sendiri yang lebih baik, menjadi mitra yang lebih baik. Aku dan berbagai kekuranganku, dan dia dengan berbagai kekurangannya. Kelebihan yang aku dan dia miliki adalah bonus yang bikin bahagia.

Perjalanan di depan, tidak kami ketahui. Kabut masih sering menghadang, hanya keyakinan yang menjadi pegangan bahwa di depan sana masih ada jalan.

Dalam perjalanan ini, kami hanya memiliki kami.