11.4.08

Hujan Emas Hujan Batu

Kenapa sih, kalau orang Indonesia tinggal di luar sebentar, begitu balik musti shock gila-gilaan (maksudnya shock yang ditampilkan gila-gilaan ya)? Musti panik dengan makanan kotor, musti heboh dengan cuaca tidak bersahabat, musti kaget dengan kenyataan masih ada penyakit cacingan dan segala macam omelan dan keluhan lain. Seakan-akan tidak ada lagi hal baik yang terjadi disini!

Kalau begitu, kenapa juga masih balik ke Indonesia? Tidak ada duit? Beasiswa sudah selesai? Tidak punya pekerjaan? Ya sudah, jangan protes dong. Kalau memang tidak tahan untuk tinggal di Indonesia, silahkan tinggal di tempat lain. Usaha dong kalau memang ingin mendapat tempat yang katanya lebih baik dari disini itu. Jangan sekedar bilang,"inginnya sih gitu, tapi susah".

Sama saja, yang baru tinggal sekejap di luar Indonesia bisa kemudian menghina-dina berbagai kebiasaan disini. Kalau di Indonesia, yang kayak gini gak ada, loh. Kalau di Indonesia, mana mungkin kita bisa seperti ini. Tapi tokh, ternyata tetap kembali-kembali juga kan ke Indonesia, dan tetap kangen-kangen Indonesia juga.

Aku tidak bilang tinggal disini itu sempurna, tetapi setiap tempat dimanapun itu pasti ada kekurangan dan kelebihan. Sayangnya, hanya sedikit orang yang bisa melakukan omelan-omelan seperti itu dengan lebih bijak dan bisa dinikmati bersama (omelannya). D, adalah salah satu dari sedikit orang itu. Kekesalan dia tidak membuat aku jengkel, dan tidak membuat aku berpikir D itu belagu. Jauh, deh. Aku bisa merasakan keprihatinan dia.

Iya, disini banyak kuman penyakit, disini macet terus, disini matahari bikin gosong. Tapi tahu tidak, matahari itu menyenangkan sekali. Cobalah tinggal di negara yang sinar matahari palingan hanya sekitar 50 hari dalam setahun, dijamin anda akan sangat menghargai sinar itu. Pakai jaket tebal yang berat itu betul-betul tidak enak (disini jaket itu kan lebih sering dipake untuk gaya). Disini selalu macet, tapi banyak tukang jajanan menemani kemacetan (argumen yang lemah sekali, ya). Coba bayangkan 1001 macam makanan super enak yang hanya bisa didapatkan di Indonesia dengan harga bersahabat. Pilihan yang sedikit membuat aku pernah berkata bahwa Soto Warung Mini di sebuah kota sekian ribu kilometer dari Jakarta adalah soto paling nikmat sedunia. Kuman di makanan yang biasa aku temukan disini membuat perut aku lebih kuat (ini juga sebetulnya bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, but still...).

Tinggal di negara lain, atau bahkan sekedar tinggal di kota lain seharusnya bisa membuat pikiran menjadi lebih terbuka. Melihat kebiasaan yang berbeda, memahami itu dan menikmatinya seharusnya bisa menjadikan seseorang jadi lebih bersyukur terhadap berbagai perbedaan yang ada, kekurangan dan kelebihannya. Urusan ngomel, dimanapun pasti selalu ada keluhan, kok, dan memang menyenangkan. Hmm, menurutku sih, menyenangkan selama dilakukan di tempat yang tepat, dengan orang yang tepat dalam konteks yang juga tepat. Beberapa orang sebaiknya membatasi omelan di ruang pribadi sajalah.

Heran, kenapa juga masih tinggal di tempat yang selalu dicela-cela. Bodoh atau malas?




catatan lagi: fenomena ini biasa ditemukan pada orang yang hanya tinggal sekejap di luar Indonesia, atau baru tinggal sekejap. justru pada orang-orang yang tinggal cukup lama, atau terlalu sering berpindah-pindah, aku jarang menemukan kelakuan seperti ini.

Riwayat Akhir Sang Pekan

Hari Jumat! Menyenangkan sekali! Biarpun ada banyak pekerjaan dan tugas bertumpuk dan baru diomelin kiri kanan, tetap saja kalau Jumat itu terasa lebih ringan...sedikit.

Akhir pekan kalau kata orang hotel dimulai Jumat siang sampai Minggu siang. Buat aku juga sama saja. Bahkan perasaan senang sudah dimulai dari Rabu, loh! Jadi begini, kalau hari Rabu, berarti besoknya kan Kamis (ya iyalah), dan Kamis aku sudah semangat karena besoknya Jumat, hari terakhir bekerja. Jadi,buat aku suasana akhir pekan sudah resmi dimulai sejak Rabu. Begitu, deh.

Sudah lama sekali, aku membuat "setelan" mental bahwa aku tidak mau bekerja dan pusing mikir di akhir pekan. Tidak heran, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian dan masuk kantor di hari Sabtu menjadi barang tabu. Sejak Rabu (ingat siklus di atas) atau paling mentok Jumat pagi, aku sudah sibuk merancang ini itu untuk menghabiskan Jumat malam. Bisa pergi keluar bersama sahabat atau keluarga, atau sekedar "me time" yang aku manfaatkan untuk memuaskan keinginan aku seperti baca buku di rumah. Ada perasaan santai karena tidak harus bangun pagi.

Sebetulnya, ulang malam tidak hanya aku lakukan pada hari Jumat. Pulang lewat tengah malam di hari kerja saja bisa dilakukan, kok.

Sekarang sih, aku tidak terlalu ngotot tidak bekerja di hari Sabtu. Bisa jadi karena tuntutan pekerjaan sewaktu aku memilih menjadi pekerja independen. Dengan sedikit rancang ulang mental, aku mulai bisa menikmati kalau sesekali harus bekerja di akhir pekan.




Aku pikir, setiap orang perlu punya waktu akhir pekan, dan itu tidak terbatas pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Terserah deh, hari apa yang mau diniatkan menjadi hari bersenang-senang. Hari apapun yang dipilih, mudah-mudahan bisa memberi terang di hari-hari gelap. Tidak bisa tiap minggu juga tidak apa-apa, tapi harus tetap rutin.

Kamu sendiri, apa pilihan yang paling sering dilakukan di akhir pekan? Di rumah, di luar rumah yang santai bersama orang(-orang) terdekat? Keluar kota, dan barangkali berkontribusi pada kemacetan di luar sana?

psssstttt, kalau pacaran mah kan tidak selalu di akhir pekan, walaupun tetap menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu di akhir pekan.

Dari hati aku berharap apapun kondisi minggu ini atau hari ini, segelap apapun itu, akan ada titik terang dan mari kita lewati akhir pekan bersama-sama, selamat menikmati hari pekan.