12.3.08

Pertunjukan Profesional

Sebuah kegiatan yang bisa berlangsung sampai 4 kali, sudah bisa menjadi bukti kegigihan, kerja keras dan profesionalitas pembuat kegiatan. Java Jazz Festival, pertama kali aku ikuti di tahun 2005. Setiap tahun, selalu lebih baik, walaupun tidak pernah sepi kritik.

Biar gampang, aku kasih maksud profesional yang aku pakai disini. Lagi-lagi berbahasa Inggris:
pro·fes·sion·al
adj.
1. a. Of, relating to, engaged in, or suitable for a profession: lawyers, doctors, and other professional people.
b. Conforming to the standards of a profession: professional behavior.
2. Engaging in a given activity as a source of livelihood or as a career: a professional writer.
3. Performed by persons receiving pay: professional football.
4. Having or showing great skill; expert: a professional repair job.

n.
1. A person following a profession, especially a learned profession.
2. One who earns a living in a given or implied occupation: hired a professional to decorate the house.
3. A skilled practitioner; an expert.
Dalam pengertian itulah, aku melihat para profesional bekerja di belakang dan depan layar Java Jazz Festival (JJF) 2008.

Bayangkan saja harus mengurus 18 panggung yang diisi oleh artis dalam dan luar negeri. Sebagai orang yang kerap berada di belakang layar untuk pertunjukan kecil, aku bisa membayangkan pekerjaan besar di balik semua ini. Tidak mudah, tapi toh bisa dilakukan.

JJF kerap memperkenalkan aku pada musisi yang tidak begitu aku kenal. Lebih tepat lagi, JJF sudah beberapa kali membuat aku menemukan cinta baru. Maliq adalah salah satu hasil JJF. Pertama kali aku lihat mereka tampil di Ruang Cendrawasih beberapa tahun lalu.

Kali ini, cinta baru aku adalah Omar Sosa. Sewaktu dia menampilkan Afrika, aku terbawa oleh emosi yang diberikan Omar Sosa. Sayang, nama tiga orang lain sulit sekali dilafalkan dan majalah Music yang jadi panduan tidak aku pegang (disitu ada nama-nama mereka). Omar, senantiasa tersenyum sambil bermain piano, sesekali melempar tawa ke teman-temannya. Energi mereka, betul-betul dahsyat. Musik yang keluar membuat pikiran aku berkelana ke rumah- home, dengan berbagai suara alam, keriangan dan juga kerinduan yang dalam. Ini yang membuat aku memilih menonton Omar dua kali, ketimbang melihat musisi lain.

Omar tampil dua kali, sebagaimana Bobby Caldwel, Manhattan Transfer, Renee Olstead, Duo Gabriel Grossi e Daniel Santiago, dan Incognito. Grup terakhir sebetulnya dijadwalkan tampil sekali, tetapi kemudian mereka menggantikan Matt Bianco yang mendadak menghilang. Aku tahu, ada pengunjung yang protes karena muka lama yang tampil kembali, atau pemain yang tampil dua kali di tahun yang sama. Aku malah senang. Sekilas menunjukkan jumlah musisi yang sedikit, tapi membuat penggemar puas. Dua kali nonton, dan tidak pernah bosan.

Incognito, Earth Wind and Fire Experience, Glenn Fredly, Bubi Chen, Ireng Maulana, Tetsuo Sakurai adalah sebagian nama yang aku lihat kembali tahun ini. Tetap selalu segar buat aku, sih! Aku bisa sedih, tertawa, senang, tersenyum dan bergoyang dengan penampilan mereka.

Kesegaran ini tidak bergantung dengan umur. Beberapa pemain senior bahkan bisa tampil sama energik. Salah satu musisi senior yang tampil adalah pemain piano Franco D'Andrea yang "jazz banget". Bermain sangat santun, murah senyum, lengkap dengan sepatu kanvas. Sudah berumur, tapi gerakan tangannya lincah sekali. Sekilas, kata Dita, mengingatkan pada musik latar Tom and Jerry. Aku merasa dibawa kesana kesini aja oleh permainannya. Penampilan dia membuat aku meminta foto bersama dan membuahkan tiket untuk melihat kembali Franco D'Andrea di Kedutaan Itali hari Senin yang lalu.

Tampaknya JJF memang banyak kerjasama dengan kedutaan asing. Kedutaan Itali membawa Franco D'Andrea dan The High Five Kuintet. Gabriel Grossi yang membuat aku melihat permainan harmonika bisa begitu dahsyat - walaupun dimainkan dengan sangat santai - datang dengan kerjasama JJF dan Kedutaan Brazil. Michiel Borstlap `Eldorado`yang pertunjukannya nyaris sepi pengunjung yang lebih memilih nonton Incognito adalah hasil kerjasama dengan Kedutaan Belanda. Ini, hanya sedikit contoh dari upaya yang dilakukan oleh JJF untuk membawa artis dari berbagai budaya untuk datang.

Rasanya, tidak akan habis cerita yang bisa ditulis tentang penampilan tiap-tiap musisi di JJF 2008.



Puncak pertunjukan bagi aku jelas James Ingram, The Manhattan Transfer dan Babyface.

James Ingram yang romantis. Nama besar yang sangat terasa di atas panggung. Ekspresif. Menyayat hati. Kalau tidak salah, dia pernah tampil di Indonesia dengan harga tiket yang juta-an. Betapa beruntungnya aku, bisa dapat dengan harga miring di JJF 2008. Siapa yang tidak kenal lagu-lagunya?

The Manhattan Transfer itu adalah mimpi yang terpendam. Kelompok yang menjadi panutan aku. Masa ABG aku dilalui bersama kelompok yang satu ini. Konon, mereka masih berlatih setiap hari. Vokal mereka adalah kekuatan mereka. Duh, kalau bisa membawakan lagu-lagu mereka itu pasti puas banget. Susah soalnya.

Babyface jelas penutup yang sempurna. Sepanjang pertunjukan dihabiskan dengan bernyanyi dan berteriak. Dia itu ternyata garing banget. Seorang pencerita yang bisa ngobrol dengan pengunjung, tentang masa kecil, kecintaan terhadap musik dan hal-hal yang menarik bagi dirinya. Dia tidak membawakan lagu dari album sendiri, tetapi lebih banyak lagu-lagu ciptaan dia yang dibawakan penyanyi lain. Dia memang pembuat hit, tidak heran pengunjung satu plenary hall hapal bener sama lagu-lagu dia. Pernah liat Babyface menirukan Michael Jacksong bilang "thank you"? Itu salah satu yang dilihat di JJF 2008. Aku yakin, semua sudah dipersiapkan dengan matang oleh Kenny Babyface Edmund, bukan sesuatu yang tiba-tiba kepikiran untuk dikatakan di atas panggung. Profesional.

Menyenangkan memang melihat hasil kerja keras yang dilakukan dengan hati. Aku menikmatinya kerja profesional mereka.

Disayangkan adalah kamera-kamera (semi) profesional yang banyak beredar di ruangan. Tidak sedikit dibawa oleh remaja tanggung yang barangkali masih SMA atau baru kuliah. Lengkap dengan lensa super panjang, tapi tanpa attitude. Blitz dimana-mana. Bukannya melihat penampilan si artis, malah sibuk membahas hasil jepretan dengan teman se-gank yang sama-sama bawa kamera. Ada rasa sirik, secara itu semua harganya tidak murah, bercampur kesal karena acara nonton agak terganggu dengan mereka yang nekad mencari spot terbaik untuk memotret, kadang tanpa memikirkan penonton lain. Ehm, jangan salah, ini bukan hanya dominasi ABG ya, ada kok non-ABG yang sama-sama payah kelakuannya. Pembawa kamera profesional yang sangat tidak profesional.

Jadi berpikir, mungkin sudah saatnya jadi pengunjung juga profesional. Tahu dan mengerti etika. Apalagi untuk festival besar yang jumlah pengunjungnya membuat susah sekali berjalan dari satu temapt ke tempat lain. Untuk aku, dimulai dengan kembali menabung untuk JJF 2009, dengar-dengar Al Jarreau, Jamiroquai dan Michael Buble ada di wish list.