6.3.08

Siapkan Tiket Untuk Pesta

Libur akhir pekan yang panjang kali ini tidak akan aku habiskan dengan menikmati Bandung sebagaimana yang selalu aku lakukan. Maklum, ada yang berhasil memikat hati dan mengikat kaki untuk tetap di Jakarta!


Sampai bertemu di JCC, mau ikut?

Obsesi

Si jaket biru, adalah salah satu orang yang menurut aku punya hasrat, passion, untuk pekerjaannya (belum pernah tahu, mampir deh kesana). Itu bisa mengingatkan aku bahwa hasrat terhadap apa yang kita lakukan itu penting. Aku sih tidak bisa membayangkan aku bekerja tanpa hati. Itu sangat sulit. Semua akan terasa berat.

Hasrat adalah sesuatu yang positif. Tapi kalau punya hasrat berlebih yang didorong emosi dan tidak terkontrol menurutku itu namanya terobsesi, dan obsesi itu punya konotasi yang negatif.

Berhubung tidak pegang kamus bahasa Indonesia, aku akan pakai definisi Bahasa Inggris saja. Dari sekian banyak arti, aku ambil dua diantaranya:
obsessed, adjective
1. having or showing excessive or compulsive concern with something; "became more and more haunted by the stupid riddle"; "was absolutely obsessed with the girl"; "got no help from his wife who was preoccupied with the children"; "he was taken up in worry for the old woman" [syn: haunted]
2. influenced or controlled by a powerful force such as a strong emotion; "by love possessed"

Obsesi itu dekat dengan berlebihan dan emosi. Lebih tepat lagi, emosi yang berlebihan dan seringkali mengalahkan akal sehat seorang manusia. Kalau sudah terobsesi, pikiran hanya dipenuhi oleh satu hal yang membuat kita terobsesi kan?

Obsesi itu kuat sekali. Seperti virus mematikan yang sangat menular. Efek buruknya bisa dirasakan bukan saja oleh yang terobsesi tetapi juga orang-orang yang secara langsung atau tidak langsung kena obsesi tersebut. Coba deh, obsesi untuk punya badan kurus yang sudah tidak masuk diakal pasti akan mempengaruhi teman-teman sekitar loh. Maklum, kalau sudah terobsesi pasti ada tindakan yang tidak masuk di akal. Entah itu memilih puasa seumur hidup (bisa ya?) dan termasuk memaksa teman-teman untuk ikut pola makan, sampai melakukan berbagai program pelangsingan yang bisa menguras isi dompet dan rekening bank! Kalau belum terobsesi, aku yakin, keinginan kurus itu akan dilakukan dengan lebih sehat dan tidak membuat sekitar kita gerah dan kesal.

Kalau sudah terobsesi, harus ada yang menampar sebagai obat mujarab. Pasti sulit. Maklum sudah terobsesi sih. Musti dimulai dari kesadaran diri, bahwa ada yang salah dan harus diperbaiki.

Tetapi kalau terkena dampak obsesi, itu beda lagi.

Apalagi kalau virus obsesi itu mulai menjalar kemana-mana. Belum sampai menginfeksi , tapi membuat ruang gerak sangat tidak nyaman, dan lama-lama bisa betul-betul menginfeksi banyak orang.

Jadi, aku memutuskan untuk mengambil masker, menutup hidung untuk sementara sampai udara segar bisa dihirup. Harapanku, virus obsesi itu tidak perlu aku hisap dan menjalari aku juga.

Karena itu, cukuplah. Kalau ada orang yang begitu terobsesi dan sepertinya tidak ingin bego sendirian dan berusaha membuat orang lain terkena penyakit itu dengan cara apapun, pergi jauh-jauh deh ya. Silahkan nikmati sendiri obsesi iti. Tapi ingat, virus itu akan terus merongrong dan menggerogoti hal-hal baik (jika masih ada).

Atau... mau dipaksa minum pil pahit biar sembuh dan tidak menularkan penyakit?