11.2.08

Hapus!

Bermain ke silverlines, aku sedih. Dia tidak lagi menulis. Di situ hanya ada satu posting. Sisanya? Entahlah. Besar dugaanku semua sudah dihapus.

Sedih sekali. Sedih seperti anak kecil yang tiba-tiba kehilangan teman bermain yang menyenangkan. Iya, tulisan silverlines itu menyenangkan! Aku tidak akan bilang bahwa tulisan dia penuh inspirasi. Aku tidak akan memuja bahwa tulisan dia membuat aku lebih pintar atau semacamnya. Tidak. Tulisan dia sering menjadi penyemangat di pagi hari, selingan menyenangkan di tengah tumpukan pekerjaan, ditunggu-tunggu di sore hari. Terkadang membuat aku senyum, tertawa dan menyerengitkan muka dan pernah juga menangis. Aku menyukai setiap kata yang dipilihnya. Tulisan itu jelas menunjukkan kecintaan silverlines terhadap kata dan bahasa (agak sok tahu, I know, kecuali diprotes, aku tidak akan meralat dugaanku ini).

Atas keputusannya tentang seluruh tulisan yang menghilang, aku tidak ingin memborbardir dengan pertanyaan "kenapa".

Aku pikir setiap orang akan punya alasan atau tidak punya alasan untuk menghapus tulisan di blog sendiri. Terserah.

Aku sendiri pernah menghapus dua tulisan di pojok sebelah. When will you go back to Banda Aceh adalah salah satunya. Ada tiga tulisan yang aku buat dengan rasa marah yang sangat. Tiga tulisan yang terkait dengan seseorang yang pernah dan masih aku sayang. Tiga tulisan penuh emosi itu kemudian aku hapus.Aku punya alasan kenapa aku menghapus tulisan tersebut. Tulisan itu penuh praduga yang terbukti salah. Tulisan penuh emosi itu dipicu antara lain oleh komunikasi yang buruk. Tulisan itu, memang harus ditarik karena memuat terlalu banyak hal yang tidak benar.

Dibutuhkan seminggu penuh telepon yang intens, kerendahan hati, maaf dan rasa sayang membuat segala kesalahpahaman bisa diselesaikan dengan segera. Aku memutuskan untuk mengganti isi tulisan tersebut, tetapi tidak menghapus judul tulisan. Biarlah itu menjadi tanda pengingat bagiku, untuk berpikir sebelum bertindak.

Aku tahu, menghapus posting merupakan hal yang biasa dan memang bisa dilakukan oleh siapapun, dan dengan alasan apapun. Aku menghapus tulisan yang tidak benar yang aku tulis karena emosi. Aku sudah meminta maaf dan mengakui kesalahanku (sebetulnya kami saling minta maaf). Aku semakin sadar bahwa kata-kata punya kekuatan yang luar biasa, termasuk kekuatan untuk menyakiti perasaan.

Mudah-mudahan posting itu tidak pernah dibaca oleh orang lain, dan terutama tidak dibaca melalui bloglines, misalnya. Maklum, kalau dibaca lewat bloglines, dan diberi tanda tertentu posting itu akan selalu bisa diintip. Apalagi kalau ada yang cukup cerdas melakukan print screen dan menyimpan bukti itu, yaitu tulisan asli yang penuh emosi salah sasaran. Aku tidak bisa ngeles, deh.

Posting boleh dihapus, tapi sejarah tidak.

Jadi, apa kamu pernah menghapus posting?



ps: untuk kalian di luar sana yang terpaksa menghapus tulisan atau blog karena ancaman berbahaya *bukan laten* aku menghaturkan simpati sebesar-besarnya. kata-kata memang punya kekuatan besar, termasuk kekuatan menciptakan obsesi berlebihan dan kebodohan tiada tara bagi pembaca yang tidak cukup cerdas dan tanpa hati.