28.1.08

Ini adalah kisah sebuah dunia bermain anak-anak...

Alkisah, sekelompok anak-anak memutuskan bahwa mereka akan selalu bermain bersama. Sesuatu yang wajar, karena mereka berada di sekolah yang sama, tinggal di lingkungan yang sama, orang tua mereka pun bekerja di tempat yang sama, dan mereka semua lahir pada tahun yang sama. Kesamaan ini membuat mereka memutuskan untuk senantiasa bermain sebagai satu kelompok.

Ada tempat bermain sederhana tapi cukup luas untuk menampung berbagai aktivitas mereka. Itu mereka anggap lebih dari cukup.

Setiap hari, mereka memutuskan jenis permainan hari itu. Secara bersama-sama. Hari demi hari, secara pelan tapi pasti, muncul anak-anak yang lebih memimpin, sebagaimana ada anak-anak yang lebih memilih untuk mengikuti saja keputusan apapun yang dibuat. Tidak ada masalah, anak-anak yang lebih menonjol tersebut membuat keputusan untuk semua.

Satu hari, untuk pertama kali, ada perbedaan keinginan. Dua orang menerima permainan baru dari orang tua masing-masing. Dua orang ingin kelompok tersebut memainkan permainan baru tersebut. Dua permainan yang berbeda.

Kelompok itu, bisa saja dibagi dua, dan masing-masing anak memilih bermain sesuai dengan keinginan mereka. Tetapi, alas, mereka tidak melakukan itu, karena mereka sudah sepakat untuk selalu bermain bersama-sama. Atas nama kebersamaan itu, mereka harus memutuskan satu jenis permainan. Mereka pikir, tokh permainan satu lagi bisa dilakukan setelah ini. Dua-duanya menarik, apa salahnya mencoba salah satu terlebih dahulu.

Sayang sekali, keputusan itu menimbulkan kekesalan pada salah satu anak. Permainan baru yang dia miliki tidak menjadi pilihan. Marah mulai menguasai hatinya. Diam-diam dia berpikir, suatu saat nanti, seluruh temannya akan bermain dengan mainan dia, dan meninggalkan mainan baru yang sekarang terpilih untuk dimainkan.

Si anak sakit hati mulai bercerita tentang keburukan mainan baru tersebut. Dia bilang, mainan itu dibuat dari cat palsu, dan bisa membuat celaka. Dia tambahkan mainan itu sudah dilarang, dan karena itu orang tuanya membelikan mainan lain. Pelan tapi pasti dia sebarkan cerita itu. Dia memastikan, semua anak tahu tentang itu.

Sial, berita yang dia sebar tidak selalu diterima dengan baik. Ada ada saja anak yang tidak percaya. Anak-anak yang tahu tentang permainan baru yang ternyata aman dari orang tua mereka.


***

Oh, betapa dia hanya rindu teman-temannya memilih mainannya. Dia hanya ingin hanya dia yang didengarkan dan dituruti.

***

Dia tidak menginginkan kelompok itu hancur. Dia ingin semua tetap satu kelompok karena dengan demikian ada lebih banyak orang yang bersamanya. Dia harus memastikan itu. Anak-anak yang tahu terlalu banyak adalah anak-anak yang tidak percaya padanya. Anak-anak seperti itu lebih baik keluar dari tempat bermain itu. Sejauh mungkin. Selama-lamanya.

Apapun dia lakukan. Dia bukan anak-anak biasa, dia tahu dia punya orang tua yang punya posisi. Cukup kuat dan bisa memastikan orang tua mereka yang tidak dia sukai dipecat.

Ya, dia bukan anak-anak biasa. Kemarahan dan ambisinya membuat dia memiliki pikiran-pikiran yang tidak mungkin ada di benak kawan sebayanya. "Teman-teman tidak tahu kecerdikanku,"demikian pikir si anak yang emosi itu.

***

Itu semua masa lalu, saat ini kelompok bermain itu telah bersih dari anak-anak yang tidak memilih permainannya. Dia bukanlah lagi anak yang penuh emosi, dia malah sudah terlalu bosan bermain dengan mainan tersebut.

Sebentar lagi, dia harus pergi. Kali ini giliran orangtuanya yang dipecat. Entah karena apa. Konon, karena perusahaan tempat orang tuanya bekerja mengetahu kabar bahwa orang tuanya telah memecat pegawai-pegawai terbaik mereka dan menyebabkan kerugian luar biasa di perusahaan tersebut. Posisi orang tuanya akan digantikan oleh orang lama, si pegawai terbaik yang sempat dipecat.

Saatnya pergi.

Seluruh kawan bermainnya mengucapkan selamat tinggal, beberapa memberikan hadiah kenang-kenangan. Di kejauhan, dia melihat anak pemilik mainan yang pertama kali dipilih kelompok bermain itu. Ah, kenangan lama.

Dia tersenyum,"dan tidak pernah ada yang tahu bagaimana aku begitu cerdik dan karena itu bisa menikmati saat-saat memimpin kelompok bermain ."