23.1.08

Bolos

Masih musim gak ya untuk bilang,"mabal yuk" di sekolah-sekolah? Ini nih kata yang dipakai untuk mengajak keluar dari kelas pada saat jam pelajaran. Tentu saja, tanpa ijin guru.

Untuk merayakan ulang taun salah seorang teman, kami -perempuan satu kelas- memutuskan jajan baso Ajo di sebelah lapangan Bali, di samping sekolah. Ada sekitar 20 perempuan makan bersama di jam istirahat. Sudah pasti pesanan datang terlambat dan lebih pasti lagi waktu makan jadi molor. Sampai di depan kelas, pelajaran sudah mulai. Adalah wali kelas kami yang kebetulan mengajar. Dia marah besar. Kami semua tidak boleh masuk kelas. Jadi, di kelas ada sekitar 20-an laki-laki dan satu perempuan, ibu guru kami. Sisanya - semua perempuan - duduk-duduk di depan kelas, sambil ngintip anak-anak di kelas depan, plus bergosip tentang mereka tentunya!

Menyesal? Hmmm, rasanya tidak *wink*.

Kegiatan OSIS juga bisa menjadi biang keluar dari kelas. Ini sih mabal setengah resmi. Pakai surat ijin, kan. Berhubung pengurus-pengurus utama OSIS ada di kelasku, kalau ada kegiatan OSIS bisa sampe sepertiganya kosong. Sebagian memang melakukan kegiatan OSIS, sisanya, melakukan rapat di kantin-kantin sekolah. Rapat yang tentu saja tidak ada hubungan dengan kegiatan OSIS.

Tapi, aku tidak pernah sendirian. Setidaknya tidak di SMA. Semua dilakukan beramai-ramai. Termasuk pulang dari sekolah lebih cepat karena guru tidak ada, dan berakhir dengan perjalanan pulang pergi ke Pangalengan.

Baru setelah kuliah, aku bolos kuliah sendiri. Bisa karena malas, ketiduran, atau biasanya karena mengerjakan tugas kuliah yang lain. Bolos paling gak penting adalah bolos karena mau nonton film Cassandra di hari Jumat siang. Aku lupa, apakah kami bertiga atau berempat waktu itu. Betul-betul garing. Aku sih senyam-senyum saja mengingat itu semua.

Termasuk senyam-senyum mengingat aku pernah keluar dari kantor tanpa ijin. Biasanya, aku sudah memastikan bahwa semua pekerjaan sudah selesai, tidak ada utang, dan aku dalam posisi menunggu hasil pekerjaan orang lain. Karena aturan cuti yang tidak jelas, dikombinasikan dengan kebosanan luar biasa, aku bisa memutuskan pergi begitu saja (sekarang sih lupakan mabal kantor, sudah dengan ijin saja susah deh keluar kantor, pekerjaan menumpuk dan email-email dadakan bikin hati dagdigdug untuk meninggalkan kantor).

Kemudian aku melihat pemandangan yang mengingatkan aku dengan jaman bolos sekolah dan kantor. Sekelompok anak SMA (satu almamater dengan aku, ouch!) yang memanfaatkan jam sekolah dengan minum 2 gelas juice untuk berlima dan satu bungkus rokok yang juga dinikmati bersama-sama.


Sekarang, giliran aku yang harus mengajar, aku menghadapi mahasiswa mabal. Kalau terserah aku, rasanya aku tidak perduli kalau mereka tidak masuk kelas selama mengerti bahan-bahan yang diberikan. Sayangnya, umunya sekolah mengajukan aturan administrasi 75% masuk kelas untuk bisa ikut ujian. Aku membuat aturan kalau tidak masuk harus membuat surat tertulis. Tidak usah dari orang tua, atau dokter, atau apapun. Semua bisa dibuat, tokh? Buat saja surat yang bertanggung jawab, ditulis oleh diri sendiri, ditandatangi oleh diri sendiri dengan alasan yang benar.

Sayang sampai sekarang belum pernah aku terima surat yang memberitahu dia tidak masuk karena malas masuk kelas. Kalau ada, aku akan kasih dia nilai ekstra 1 poin untuk kejujuran!


Cerita dong, pengalaman bolos sekolah yang paling heboh yang pernah kamu lakukan.