17.1.08

Bermain

Di seputaran Manggarai, pagi-pagi sekali di hari kerja, aku melihat pemandangan yang bikin sirik. Sejumlah anak-anak tengah bermain. Coba deh lihat dengan baik foto itu. Aku pikir, itu adalah sebuah becak yang dimodifikasi menjadi satu alat permainan. Aku akan menyebutnya becak bianglala, mengambil nama "bianglala" salah satu wahana di Dunia Fantasi. Mirip, kan?
Empat anak sedang ada di kursi becak bianglala, dan lima anak lainnya sedang antri.

Mereka bermain tanpa memperdulikan kemacetan lalu lintas yang terjadi di sekitar mereka. Sama-sama saling tidak ambil pusing. Mobil, motor dan bus saling membunyikan klakson untuk minta jalan. Anak-anak itu tetap tertawa dan menikmati genjotan bapak tukang becak.

Selalu ada cara untuk bermain. Dunia fantasi dengan harga tiket yang sampai 100 ribu rupiah di akhir pekan jelas bukan pilihan. Entah siapa yang lebih dulu punya ide untuk melakukan modifikasi seperti ini. Juga tidak aku ketahui apakah mereka dipungut bayaran untuk bisa naik becak bianglala. Aku baru pertama kali melihat hal ini.

Selalu ada cara untuk bermain, dan bermain jelas bukan monopoli anak-anak. Aku jadi ingin bermain, mengambil sedikit waktu luang melakukan yang aku suka dan tertawa lepas!

Mau ikut?