1.1.08

Menginap di Palungan

Bandung di saat libur panjang seperti saat natal dan tahun baru ini sangat tidak bersahabat bagi mereka yang mendadak ingin menginap di Bandung. Mencari hotel untuk bermalam bisa jadi merupakan misi takkan mungkin alias mission impossible. Cobalah cari tempat penginapan kelas gurem sampai hotel berbintang-bintang, pasti akan memperoleh gelengan kepala atau penolakan karena semua kamar sudah terisi, minimal sudah habis terpesan. Aku sendiri beberapa kali mencoba menyelesaikan misi pencarian kamar untuk beberapa kawan yang mendadak harus menginap di Bandung pada saat libur panjang. Gampangnya, mereka menginap di rumah aku, tapi itu sering ditolak dan tertolak dengan berbagai alasan. Karena itu, aku harus melakukan perburuan kamar hotel.

Di awal tahun 2000, aku cukup mengenal peta perhotelan di Bandung, dan pekerjaan mencari kamar menjadi pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan dalam sekejap mata. Tapi sekarang ini, dengan tingkat permintaan kamar yang begitu tinggi, koneksi apapun sulit membantu. Perburuan bisa dilakukan dengan berjalan dari satu hotel ke hotel lain, atau melalui telepon dari satu nomer ke nomer lain. Untunglah, masih ada sisa-sisa pengetahuan tentang tempat-tempat penginapan non-hotel yang sering tidak terpublikasikan. Tempat-tempat yang punya kamar dengan kebersihan terjamin dan harga masuk akal, walaupun lokasi seringkali harus sedikit nyungsep dan tidak bersahabat bagi mereka yang tidak membawa kendaraan pribadi ke Bandung.

Sekali dua, ada saja kejadian dimana teman-temanku harus membatalkan rencana menginap dan kembali pulang. Untungnya selama ini sebagian besar dari teman-teman yang berencana bermalam berasal dari Jakarta. Pulang kembali tidak begitu menjadi persoalan. Hanya membutuhkan kurang lebih dua jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Ini skenario positif, bahwa macet tidak ada dan jalan cukup lengang.

Tapi bayangkan, kalau saja pulang tidak bisa menjadi pilihan. Karena pulang berarti perjalanan berjam-jam dan bahkan beberapa hari, belum lagi kalau moda transportasi tidak selalu ada untuk bisa kembali pulang. Mau tidak mau harus menginap. Syukur kalau ada kerabat yang bisa ditumpangi untuk semalam dua malam. Kalau tidak? Mau menginap dimana?

Bayangkan Yusuf dan Maria yang terpaksa ke Betlehem untuk mencatatkan diri. Ada sensus yang harus diikuti. Hari sudah larut.Tempat penginapan sudah penuh. Pulang kembali jelas tidak bisa dilakukan. Menginap harus dilakukan, dimana pun itu. Kondisi ini masih dibuat lebih rumit dengan kenyataan bahwa Maria hamil tua. Boooo, perempuan hamil saja sudah membuat semua hal harus diperhitungkan cermat. Ini, bahkan sudah di detik-detik melahirkan! Boro-boro dokter dan tas berisi perlengkapan melahirkan, tempat tidur untuk bisa persalinanpun tidak ada.

Sebuah kandang dengan palungan menjadi tempat yang tampak tepat untuk itu semua.

Sama sekali tidak sebanding dengan kesulitan cari tempat tidur di Bandung saat libur panjang, seberapapun susahnya itu.

DIA dengan segala kesulitan yang DIA alami bahkan sebelum DIA lahir untuk memastikan kamu dan aku memperoleh hidup.


Selamat Natal lagi.

Aku ternyata menikmati tanggal 25 Desember bersama keluarga dengan kehangatan, cinta, gelak tawa dan senda gurau. Terimakasih, Tuhan.