4.12.08

Merindu

Perkenalanku dengannya terbilang cepat dan banyak kebetulannya. Pertama, kebetulan seorang kawan terlebih dulu mengenalnya. Kedua, kebetulan kami bertiga sama-sama berada di satu kota yang membuat pertemuan-pertemuan dengan orang-orang baru menjadi wajar, mudah dan biasa dilakukan.

Sungguh, aku agak jiper waktu mba tersayang (hey, selamat ulang tahun!) bilang mau memperkenalkanku dengannya. Namanya sudah terdengar dari beberapa orang. Aku membayangkan seseorang yang "sophisticated" dengan pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang banyak hal. Well, yang terakhir memang benar, dan dia bisa dikategorikan "sophisticated", tetapi dia super membumi. Dia begitu dekat dan begitu mudah diajak bercengkerama. Perkenalan pertama bersama mie kepiting itu betul-betul menyenangkan!

Jarak membuat hubunganku dan dia tidak terlalu langsung mulus berlangsung. Waktu itu, sebagian besar waktuku habis di Bandung, bolak balik ke Banda Aceh dan Jakarta. Tapi tokh, justru jarak membuat setiap kesempatan untuk berada di satu tempat dipergunakan sebaik-baiknya untuk bertemu.

Sebuah tempat ngopi di Dago menjadi salah satu tempat bertemu (di masa awal-awal perkenalan kami) yang bisa aku ingat. Duh, rasanya baru-baru saja terjadi. Pembicaraan masih banyak pembicaraan umum tentang banyak hal yang terjadi di luar sana dan teman-temen di sekitar kami.

Waktu berlalu, aku dan dia berada di satu kota yang sama. Tanpa diduga, aku dan dia bekerja di organisasi yang serupa tapi tak sama itu (walaupun jenis pekerjaan kami sebetulnya agak sedikit berbeda). Dari sini, aku belajar semakin banyak lagi dari dia. Seorang pekerja keras yang saklek, profesional, selalu berusaha menjadi lebih baik dan memberi yang terbaik. Aku menempatkannya menjadi salah satu orang yang menjadi tempatku menengok di kala aku mulai kelelahan dan kewalahan dengan tumpukan pekerjaan di depan mata. Apalagi, ini adalah kali pertama aku bekerja kantoran setelah 5 tahun menjalani kehidupan sebagai freelancer.

Kedekatanku dengannya tidak saja hanya karena pekerjaan tetapi kemudian meluas kemana-mana. Sulit dijelaskan bagaimana dia yang relatif baru aku kenal bisa aku begitu percaya sebagai tempat bercerita berbagi hal yang terjadi dalam hidup aku. Bahkan untuk hal-hal yang selama ini aku simpan baik-baik untuk diriku sendiri. Aku hanya tahu, bahwa dia selalu ada untuk aku. Siap dengan tawa canda aku, kegusaranku, kehebohanku, dan bahkan air mataku yang sering datang tanpa pertanda. Dia selalu berhasil membuat aku membuka hatiku padanya.

Sebaliknya, aku adalah orang yang pasrahan untuk urusan memahami orang lain. Buruk sekali. Aku sulit untuk memulai bertanya pada orang, apalagi mengenai hal yang aku tahu sangat personal. Aku lebih banyak menunggu dan sesekali berusaha bertanya. Maklum, aku sendiri lebih suka bercerita dengan inisiatif diri sendiri ketimbang dipaksa bercerita. Pengalaman panjang di belakang menunjukkan aku harus lebih berinisiatif dalam hal ini, tapi sulit. Waktu membuat dia pun menjadi lebih terbuka untuk banyak hal dalam hidup dia.

Beberapa bulan terakhir, pekerjaan menyita habis seluruh waktuku. Ditambah dengan perjalanan baru (yang sebetulnya adalah lanjutan dari sebuah perjalanan yang lama terhenti karena banyak hal) membuat aku seakan-akan menghilang dari peredaran. Ini semua terjadi justru di saat aku seharusnya bisa meluangkan lebih banyak waktu bersamanya. Bisa lebih sering menyediakan diriku untuknya.

Ketika ritme gila itu mulai menormal, aku mulai menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarku. Ada yang terasa hilang. Aku kehilangannya. Seorang perempuan yang sudah menjadi kakak yang tidak pernah aku punya, yang selalu ada ketika aku butuhkan tetapi tidak bisa aku balas dengan sikap yang sama.

Aku merindunya.

Teh, apa kabar ya?