3.12.08

Cara Berpikir KTP

Pernah memperhatikan, informasi apa saja yang ada di Kartu Tanda Penduduk (KTP)? Nama, alamat dan tempat tanggal lahir sih sudah pasti. Lengkap dengan RT/ RW, kecamatan dan kelurahan bahkan golongan darah. Dan, informasi tersebut seakan kurang lengkap sehingga pemerintah menambahkan status, pekerjaan dan agama. Ini nih, tiga hal yang sepanjang ingatan aku tidak ada di kartu tanda penduduk lain bukan dari negeri ini.

Bukan sekali dua aku terlibat dalam percakapan mengenai dua kolom di KTP yaitu status dan agama. Dua hal yang sifatnya personal tetapi menjadi sesuatu yang wajib dicantumkan, terlepas dari apakah hal tersebut benar atau tidak. Mau mengaku belum menikah, menikah, janda atau duda bukan masalah. Mudah saja. Jarang sekali diminta bukti dalam mengisi kolom itu, kok.

Itulah informasi yang harus selalu ada dalam identitas diri penduduk di Indonesia ini. Itu juga yang menjadi cerminan bagaimana setiap orang dikategorisasi. Tidak jarang, ketika berkenalan orang akan langsung bertanya,”Kerja dimana? Tinggal dimana? Sudah menikah?.” Ayayayayay!

Lebih payah lagi ketika orang mulai mengkotak-kotakan dengan status dan agama. Mau gabung dengan sini? Tunggu dulu, lihat-lihat diri dulu dong, ah. Situ tinggal dimana? Rumah di kawasan elit (ah, apa pula itu), atau kawasan banjir (ngacung berat deh, melihat alamat rumahku orang akan langsung mengasosiasikan dengan banjir, kok). Situ agamanya apa? Kalau gak sama dengan sini, sebaiknya kita tidak usah main sering-sering ya. Besi menajamkan besi, adalah salah satu alasan yang pernah diberikan seseorang kepadaku sebagai alasan kenapa dia lebih banyak bersosialisasi dengan mereka yang satu keyakinan. Dan gara-gara kolom agama inilah, kita mengenal istilah Islam KTP, Kristen KTP dan seterusnya, tokh? Situ statusnya apa? Belum menikah? Aduuh, kenapa belum menikah juga? Sini, tak cariin pasangan, asal situ jangan terlalu pilih-pilihlah, ingat umur. D’oh! Situ pekerjaannya apa? Coba lihat, kok mahasiswa (iya, aku belum mengganti status ku tuh!). Hmm, kalau begitu, lain kali pada waktu perpanjangan KTP aku akan minta di kolom pekerjaan ditulis “direktur” aja deh?

Ah, kenapa juga musti berpikir model KTP begitu ya? Mereka yang ada di sekitarku adalah orang-orang yang lebih perduli dengan film yang aku suka, makanan yang bisa dinikmati bersama, kebiasaan yang membuat aku senang (atau tidak senang) dan hal-hal lain yang mendefinisikan aku yang berasal dari dalam diriku sendiri. Aku beruntung dan bersyukur untuk mereka. Karena kalau mereka mau berteman dengan pola pikir KTP, aku bisa jadi sudah dicoret dari teman muka buku dari jaman dulu kala!

Kamu, bagaimana?