10.12.08

Eksistensi Hitam

Siang itu panas sekali. Jalanan padat, bahkan sudah mulai macet. Pemandangan lumrah yang terjadi menjelang makan siang di daerah itu. Barangkali hari itu semua orang ingin makan di luar kantor karena punya duit lebih sambil membawa kendaraan. "Gubrak", terdengar suara keras menembus jendela kendaraan. Aku menengok ke belakang dan tampak sebuah mobil SUV hitam dari kelas yang paling mahal dan tahun terkini baru saja sukses menabrak taksi yang aku tumpangi. Supir segera turun untuk melihat kerusakan diikuti oleh dua lelaki berseragam hitam-hitam turun dari kendaraan besar itu.

Duh, di hari panas dengan kemacetan dan perut lapar, kondisi seperti ini membuat aku deg-degan, karena ini resep jitu untuk menaikan emosi, tokh?

Kekuatiranku terbukti. Muka garang dan suara menggelegar terdengar masuk ke dalam kendaraan. Adu mulut bisa terjadi kalau saja Pak Supir tidak menahan diri. Tidak lama, setelah berkata,"maju saja, kita selesaikan di depan," mereka malah berbelok dan kabur meninggalkan Pak Supir yang kecele berat.

Ada apa dengan lelaki berbaju hitam-hitam ya? Tampaknya saat ini ada trend baru untuk memperlengkapi orang-orang berbadan tegap dengan baju safari berwarna hitam. Lengkap dengan pin kecil berwarna keemasan yang lebih sering tidak jelas bergambar apa bagi mata silindrisku.

Entah ada apa pada warna hitam tersebut yang seakan-akan memberi kekuatan ekstra untuk orang yang memakainya untuk berkuasa atas orang lain. Perhatikan deh di mal-mal, di gedung-gedung bertingkat di ibukota ini, di kantor-kantor penting, semua memiliki para lelaki berbaju hitam.

Apa jadinya mereka tanpa seragam hitam tersebut? Apa jadinya mereka yang memakai jasa para manusia berseragam hitam? Apa jadinya kalau mereka memakai baju orange? Ye...itu sih jadi tukang parkir ya!

Memang selalu ada orang yang butuh atribut ini dan itu untuk bisa menunjukkan eksistensi dan kemampuan sebagai pengganti ketidakmampuan dan minimnya kapasitas. Tanpa itu semua, mereka bisa menjadi nothing, tak ada.


Eh, jangan-jangan warna hitam dipakai karena efek melangsingkannya itu ya? *wink*

4.12.08

Merindu

Perkenalanku dengannya terbilang cepat dan banyak kebetulannya. Pertama, kebetulan seorang kawan terlebih dulu mengenalnya. Kedua, kebetulan kami bertiga sama-sama berada di satu kota yang membuat pertemuan-pertemuan dengan orang-orang baru menjadi wajar, mudah dan biasa dilakukan.

Sungguh, aku agak jiper waktu mba tersayang (hey, selamat ulang tahun!) bilang mau memperkenalkanku dengannya. Namanya sudah terdengar dari beberapa orang. Aku membayangkan seseorang yang "sophisticated" dengan pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang banyak hal. Well, yang terakhir memang benar, dan dia bisa dikategorikan "sophisticated", tetapi dia super membumi. Dia begitu dekat dan begitu mudah diajak bercengkerama. Perkenalan pertama bersama mie kepiting itu betul-betul menyenangkan!

Jarak membuat hubunganku dan dia tidak terlalu langsung mulus berlangsung. Waktu itu, sebagian besar waktuku habis di Bandung, bolak balik ke Banda Aceh dan Jakarta. Tapi tokh, justru jarak membuat setiap kesempatan untuk berada di satu tempat dipergunakan sebaik-baiknya untuk bertemu.

Sebuah tempat ngopi di Dago menjadi salah satu tempat bertemu (di masa awal-awal perkenalan kami) yang bisa aku ingat. Duh, rasanya baru-baru saja terjadi. Pembicaraan masih banyak pembicaraan umum tentang banyak hal yang terjadi di luar sana dan teman-temen di sekitar kami.

Waktu berlalu, aku dan dia berada di satu kota yang sama. Tanpa diduga, aku dan dia bekerja di organisasi yang serupa tapi tak sama itu (walaupun jenis pekerjaan kami sebetulnya agak sedikit berbeda). Dari sini, aku belajar semakin banyak lagi dari dia. Seorang pekerja keras yang saklek, profesional, selalu berusaha menjadi lebih baik dan memberi yang terbaik. Aku menempatkannya menjadi salah satu orang yang menjadi tempatku menengok di kala aku mulai kelelahan dan kewalahan dengan tumpukan pekerjaan di depan mata. Apalagi, ini adalah kali pertama aku bekerja kantoran setelah 5 tahun menjalani kehidupan sebagai freelancer.

Kedekatanku dengannya tidak saja hanya karena pekerjaan tetapi kemudian meluas kemana-mana. Sulit dijelaskan bagaimana dia yang relatif baru aku kenal bisa aku begitu percaya sebagai tempat bercerita berbagi hal yang terjadi dalam hidup aku. Bahkan untuk hal-hal yang selama ini aku simpan baik-baik untuk diriku sendiri. Aku hanya tahu, bahwa dia selalu ada untuk aku. Siap dengan tawa canda aku, kegusaranku, kehebohanku, dan bahkan air mataku yang sering datang tanpa pertanda. Dia selalu berhasil membuat aku membuka hatiku padanya.

Sebaliknya, aku adalah orang yang pasrahan untuk urusan memahami orang lain. Buruk sekali. Aku sulit untuk memulai bertanya pada orang, apalagi mengenai hal yang aku tahu sangat personal. Aku lebih banyak menunggu dan sesekali berusaha bertanya. Maklum, aku sendiri lebih suka bercerita dengan inisiatif diri sendiri ketimbang dipaksa bercerita. Pengalaman panjang di belakang menunjukkan aku harus lebih berinisiatif dalam hal ini, tapi sulit. Waktu membuat dia pun menjadi lebih terbuka untuk banyak hal dalam hidup dia.

Beberapa bulan terakhir, pekerjaan menyita habis seluruh waktuku. Ditambah dengan perjalanan baru (yang sebetulnya adalah lanjutan dari sebuah perjalanan yang lama terhenti karena banyak hal) membuat aku seakan-akan menghilang dari peredaran. Ini semua terjadi justru di saat aku seharusnya bisa meluangkan lebih banyak waktu bersamanya. Bisa lebih sering menyediakan diriku untuknya.

Ketika ritme gila itu mulai menormal, aku mulai menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarku. Ada yang terasa hilang. Aku kehilangannya. Seorang perempuan yang sudah menjadi kakak yang tidak pernah aku punya, yang selalu ada ketika aku butuhkan tetapi tidak bisa aku balas dengan sikap yang sama.

Aku merindunya.

Teh, apa kabar ya?

3.12.08

Cara Berpikir KTP

Pernah memperhatikan, informasi apa saja yang ada di Kartu Tanda Penduduk (KTP)? Nama, alamat dan tempat tanggal lahir sih sudah pasti. Lengkap dengan RT/ RW, kecamatan dan kelurahan bahkan golongan darah. Dan, informasi tersebut seakan kurang lengkap sehingga pemerintah menambahkan status, pekerjaan dan agama. Ini nih, tiga hal yang sepanjang ingatan aku tidak ada di kartu tanda penduduk lain bukan dari negeri ini.

Bukan sekali dua aku terlibat dalam percakapan mengenai dua kolom di KTP yaitu status dan agama. Dua hal yang sifatnya personal tetapi menjadi sesuatu yang wajib dicantumkan, terlepas dari apakah hal tersebut benar atau tidak. Mau mengaku belum menikah, menikah, janda atau duda bukan masalah. Mudah saja. Jarang sekali diminta bukti dalam mengisi kolom itu, kok.

Itulah informasi yang harus selalu ada dalam identitas diri penduduk di Indonesia ini. Itu juga yang menjadi cerminan bagaimana setiap orang dikategorisasi. Tidak jarang, ketika berkenalan orang akan langsung bertanya,”Kerja dimana? Tinggal dimana? Sudah menikah?.” Ayayayayay!

Lebih payah lagi ketika orang mulai mengkotak-kotakan dengan status dan agama. Mau gabung dengan sini? Tunggu dulu, lihat-lihat diri dulu dong, ah. Situ tinggal dimana? Rumah di kawasan elit (ah, apa pula itu), atau kawasan banjir (ngacung berat deh, melihat alamat rumahku orang akan langsung mengasosiasikan dengan banjir, kok). Situ agamanya apa? Kalau gak sama dengan sini, sebaiknya kita tidak usah main sering-sering ya. Besi menajamkan besi, adalah salah satu alasan yang pernah diberikan seseorang kepadaku sebagai alasan kenapa dia lebih banyak bersosialisasi dengan mereka yang satu keyakinan. Dan gara-gara kolom agama inilah, kita mengenal istilah Islam KTP, Kristen KTP dan seterusnya, tokh? Situ statusnya apa? Belum menikah? Aduuh, kenapa belum menikah juga? Sini, tak cariin pasangan, asal situ jangan terlalu pilih-pilihlah, ingat umur. D’oh! Situ pekerjaannya apa? Coba lihat, kok mahasiswa (iya, aku belum mengganti status ku tuh!). Hmm, kalau begitu, lain kali pada waktu perpanjangan KTP aku akan minta di kolom pekerjaan ditulis “direktur” aja deh?

Ah, kenapa juga musti berpikir model KTP begitu ya? Mereka yang ada di sekitarku adalah orang-orang yang lebih perduli dengan film yang aku suka, makanan yang bisa dinikmati bersama, kebiasaan yang membuat aku senang (atau tidak senang) dan hal-hal lain yang mendefinisikan aku yang berasal dari dalam diriku sendiri. Aku beruntung dan bersyukur untuk mereka. Karena kalau mereka mau berteman dengan pola pikir KTP, aku bisa jadi sudah dicoret dari teman muka buku dari jaman dulu kala!

Kamu, bagaimana?