17.11.08

Dua Sisi Mata Uang

Ketika masih ikut kursus, aku belajar melakukan verifikasi. Waktu itu, aku masih mangkel dengan peristiwa ultimus dimana berita bisa dikeluarkan tanpa ada upaya verifikasi terlebih dahulu. Tapi, kemudian aku belajar bahwa hal itu memang sudah menjadi kewajaran. "Naikkan saja dulu, perbaiki kemudian", begitulah kurang lebih prinsip yang dipakai.

Ah, konon setiap peristiwa selalu punya dua sisi, seperti halnya mata uang. Untuk satu kisah, bisa ada dua cerita yang tampak bertolak belakang. Memperoleh kedua sisi cerita tersebut menjadi penting untuk mendapat gambaran penuh dari sebuah peristiwa. Tanpa verifikasi, sebuah cerita bisa jadi salah, atau tidak imbang. Mengemukakan kedua sisi sebuah cerita, dengan verifikasi kepada setiap pihak yang terlibat akan membuat mereka yang membaca dapat membuat "informed decision". Terserah mereka, mau memutuskan memihak kepada siapa. Terserah mereka, mau melihat peristiwa tersebut sebagai peristiwa baik atau buruk. Terserah mereka, mau mengambil keputusan apapun atas informasi penuh.

ps: memang enak punya blog, tulis suka-suka, tak perlu verifikasi dan bisa memainkan kata sesuka hati sambil cari balad. Iya tokh?

13.11.08

Tidak Ada Buku Lanjutan?

Pertama kali, aku mengenalnya lewat Rising Sun. Dipinjam lewat seorang kawan, dibaca selama perjalanan berlibur ke Anyer, belasan tahun yang lalu. Sebuah film dengan judul yang sama sudah nongol di bioskop, tapi aku tidak pernah melihat film itu. Rising Sun aku kenal lewat buku, dan aku menikmati setiap halamannya.

Sekembali ke Bandung, aku main ke Taman Bacaan Hendra di Jalan Sabang (masih ada gak ya?) dan berburu buku-buku lainnya. Kali ini, justru aku membaca buku yang ditulis dengan nama pseudo yaitu A Case of Need. Sebuah buku yang bercerita seputar pro dan kontra kasus aborsi. Buku yang memukau menurut aku. Buku itu mampu membuat aku lebih memahami kenapa ada yang orang yang bisa begitu pro, dan ada orang yang bisa begitu kontra. Menurut aku, inilah penyebab aku menyukai buku-bukunya. Setiap buku bukan saja diteliti secara menyeluruh tetapi juga mampu memberi gambaran terhadap sisi-sisi lain yang jarang terungkap. Tidak heran, buku-buku dia umumnya memiliki daftar pustaka yang panjang, dan juga beberapa seri lampiran!

Aku sering tidak merasa sedang membaca buku fiksi. Buat aku, sebagian besar bukunya berisi fakta yang diramu dan ditulis dalam tutur kata bercerita. Tidak jarang ada berbagai catatan kaki di dalam bukunya. Salah satu yang kontroversial adalah State of Fear. Sebuah buku yang bercerita tentang konspirasi para pengkampanye isyu lingkungan. Sebuah buku yang menggambarkan bagaimana sebuah tsunami diciptakan sedemikian rupa supaya isyu global warming punya bukti dan menjadi berbunyi. Buku ini keluar di tahun 2005, dimana di akhir 2005 tsunami terjadi salah satunya di Indonesia. Sebuah pidato panjang terkait dengan isyu ini dibuat dan diberi judul "The Case for Skepticism on Global Warming".

ER adalah salah satu film seri yang aku gemari. Dia adalah penciptanya. Dia memang seorang dokter yang beralih menjadi novelis. Berbeda dengan Grisham dengan buku-buku yang hampir semuanya berkisar tentang masalah hukum, dia menulis buku dengan topik yang sangat luas. Kedokteran, hukum, komputer, nano-teknologi, lingkungan dan banyak lagi. Kalau saja aku bisa mengintip rak bukuku di Bandung...membaca buku-bukunya membuat aku mendapat banyak hal baru dengan cara menyenangkan.

Next adalah buku terakhirnya. Tetapi tampaknya tidak akan ada next book - buku selanjutnya - dari dia.




Selamat jalan Michael Crichton. Sedih rasanya, tidak ada lagi yang ditunggu setiap tahunnya.

5.11.08

Di Luar Lagi Hujan, Loh!

Rabu dan Sabtu lalu, aku berada di dalam ruang pameran yang besar dan nyaman, tanpa jendela. Pada satu saat, aku melihat beberapa orang yang datang berambut basah. Ternyata di luar sana, hujan sudah deras ditambah dengan angin kencang. Kalau tidak ada orang yang kebasahan itu, aku sama sekali tidak tahu tentang apa yang terjadi di luar sana.

Aku jadi teringat sebuah ruang kerja yang terdiri dari sekitar 10 orang di sebuah instansi pemerintah. Untuk mengetahui cuaca (atau kabar apapun di luar gedung), situs detik menjadi referensi! Jadi nanti keluar kalimat,”eh, kata detik di luar lagi hujan deras loh.”

Sama saja dengan jalan-jalan di mall-mall yang menjamur di Jakarta. Aku bisa asik melihat-lihat ini itu, window shopping dengan rasa nyaman. Eh, sewaktu mau pulang aku baru mengetahui bahwa di luar sana hujan deras sekali. Berhubung aku harus berjalan kaki, buru-buru cari tukang jualan payung deh.

Berada dalam ruangan super nyaman tetapi sayangnya tanpa jendela untuk melihat ke luar ruangan membuat kondisi di luar ruangan sama sekali tidak diketahui. Hujan, panas, angin atau apapun menjadi tidak diperdulikan, sampai kondisi mengharuskan kita keluar ruangan. Biasanya, kalau tidak mesti mesti amat, aku akan memutuskan diam di ruangan sampai cuaca jelek apapun itu berhenti. Sial memang kalau mau tidak mau harus tetap keluar dari ruang nyaman itu. Berbeda dengan berada di dalam ruangan dengan jendela. Cuaca mendung bisa segera diketahui. Ini mendorong aku menyusun rencana, apa mau pulang selagi mendung dan belum hujan, atau lebih baik meneruskan pekerjaan karena tokh sebentar lagi hujan.

Kenyamanan tanpa ruang untuk melihat di luar ruang kita, memang bisa membutakan. Dari waktu ke waktu, perlu melihat ada apa di luar sana.