30.9.08

Mengejar Lebaran

Dalam satu wawancara dengan dokter yang berpraktek di rumah sakit di daerah Cicadas, Bandung, aku memperoleh informasi bahwa rumah sakit itu "menyepi" menjelang Lebaran, dan kemudian menerima tumpahan pasien setelah Lebaran. Menurutnya, kalaupun sakit, biasanya ditahan-tahan tuh sebelum Lebaran, tetapi dengan pola makan habis-habisan pada hari Lebaran, tidak heran ada-ada saja yang terkena sakit seperti stroke. Setelah Lebaran, semua sakit baru dirasakan, dan dokter kemudian disambangi.

Ah, manusia dan kekuatan pikiran. Untuk menyambut satu hari yang ditunggu-tunggu dengan apapun alasan di balik itu semua, seorang manusia sanggup bertahan sehat dan menahan sakit. Pada hari yang ditunggu semua energi dicurahkan, terkadang tanpa kontrol, berakibat pada badan yang harus sakit juga karena berbagai alasannya.

Selamat Lebaran, jagalah untuk tidak hanya mengejar hari tersebut tetapi untuk mempertahankan apapun yang dikejar pada hari itu.

16.9.08

Misah Misuh

Aku memang jarang terbuka atas rasa yang ada untuk dirinya. Berbagai situasi yang ada di sekitar kami membuat aku terbiasa dan membiasakan diri untuk menikmatinya semuanya berdua saja. Aku memang tidak pandai menciptakan kata, rupa, dan bentuk untuk menggambarkan setiap emosi indah yang ada. Aku tidak perduli. Dia tahu itu.

Satu hal yang hampir selalu terjadi adalah bagaimana orang begitu sering mengklaim sebagai pihak yang paling tahu dirinya. Termasuk urusan hati. Ha! Siapakah dia yang bisa mengetahui isi hati terdalam? Siapakah dia yang bisa mengetahui peperangan yang senantiasa terjadi dalam pikiran? Siapakah dia yang bisa menghakimi orang berdasarkan kriteria yang diciptakan sendiri?

***

Disini, memang ada bagian khusus yang bercerita tentangnya tetapi itu menggambarkan hanya sepersepuluh dari kisah kami.

Perjalanan ini panjang dan berliku. Melewati hitungan tahunan. Sesuatu yang tidak pernah kami duga. Dalam masa tahunan tersebut, aku dan dia sama sama berproses menjadi diri sendiri yang lebih baik, menjadi mitra yang lebih baik. Aku dan berbagai kekuranganku, dan dia dengan berbagai kekurangannya. Kelebihan yang aku dan dia miliki adalah bonus yang bikin bahagia.

Perjalanan di depan, tidak kami ketahui. Kabut masih sering menghadang, hanya keyakinan yang menjadi pegangan bahwa di depan sana masih ada jalan.

Dalam perjalanan ini, kami hanya memiliki kami.