28.8.08

Hujan dan Jarak Pandang

Senangnya, hujan [Ehm, iya nih, Jakarta *akhirnya* hujan juga, setelah beberapa hari mendung-mendung gak jelas]. Bukan saja selalu mengingatkanku pada salah satu kota yang akan selalu aku anggap rumah keduaku, tetapi juga mengingatkan aku pada Bandung. Agak aneh kalau hujan dikaitkan dengan Bandung, karena kota hujan adalah Bogor dan bukan Bandung.

Paling menyenangkan dari hujan adalah bau tanah yang naik ke udara, suara air hujan di genteng yang begitu mantap dan tetap, udara yang lebih dingin dan sejuk, warna dedaunan yang hijau cerah setelah hujan selesai.

Satu hal yang sering terjadi pada waktu hujan adalah jarak pandang yang pendek, terutama kalau hujan sedang kencang-kencangnya. Satu waktu aku dan Lusi, sobat lama yang sekarang tinggal terlalu jauh dari Jakarta, memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan kembali ke Bandung. Kami mempergunakan kendaraan pribadi, dan menyetir bergantian. Kondisi kendaraan cukup baik, tetapi wiper mobil kurang berfungsi. Hujan deras. Jarak pandang sekitar setengah meter. Di jalan tol!! Aku yang waktu itu berada di balik setir. Dengan muka hanya beberapa centimeter dari jendela depan. Berharap ada kendaraan di depan yang menyalakan lampu sebagai patokan arah menyetir. Dengan wiper sedang sakit, perjalanan di tol saat itu bikin hati deg-degan. Itu bukan pertama kali. Lain waktu, Lusi yang memegang setir, kami dalam perjalanan kembali ke Bandung dari Sukabumi. Pagi sekali, sekitar jam 5 pagi. Hujan deras, dan matahari belum lagi muncul. Badan harus condong ke depan, berusaha melihat lebih jauh ke depan.

Jarak pandang memang penting. Seringkali ada gangguan ini itu yang membuat kita tidak bisa melihat jauh ke depan. Gangguan itu bisa jadi berada di luar kekuasaan kita. Ada dua pilihan, berhenti sejenak sampai gangguan itu hilang, atau kalau sudah kebelet waktu terpaksa tetap melaju dengan jantung berpacu. Kalau di dalam kendaraan, mengurangi kecepatan dan mencari tanda seperti lampu membantu kita tetap berada di jalur yang benar, bukan? Jadi, hujan boleh turun, tapi masa aktivitas harus terganggu?


***
Kalau tentang becek setelah hujan, itu memang tidak menyenangkan, kecuali buat cinca lora dan semboyan beceknya!