22.8.08

Hubungan Terbalik Umur dan Teman

Dalam pembicaraan mengenai kabar terakhir diantara kami, lima orang sahabat, salah seorang temanku berpendapat bahwa,"Soal teman sih emang segitiga demografi. Semakin tua semakin atas mengerucut jadi tambah dikit n yang sesuai dengan kita juga tambah dikit. Teman sih banyak, tp yg buat cerita enak sih susah. Kita aja gak bs terbuka banget skg. Bukan karena gak enak, tapi lebih karena jauh dan kadang komunikasinya gak update."

Ini membuat aku berpikir, betulkah demikian? Apakah memang semakin bertambah umur, justru jumlah teman menjadi bertambah sedikit? Apakah umur berbanding terbalik dengan jumlah teman?

Walaupun kamu bisa berargumentasi bahwa yang terpenting adalah kualitas pertemanan ketimbang kuantitas pertemanan, aku tetap terusik dengan pernyataan itu.

***

Aku adalah orang yang -menurut pengakuan sendiri- sangat terbuka seperti buku yang terbuka dan tergeletak di ruang publik dan bisa dibaca oleh siapapun. Setidaknya, itu yang bisa aku ingat sampai masa kuliah berakhir. Aku ini pengidap sindrom curcol akut. Kepada siapapun aku bisa curhat tentang apapun. Peristiwa yang bikin bahagia, marah dan menangis semua harus aku bagikan ke kiri dan kanan. Penyaringnya nyaris tidak ada.

Aku ingat menghabiskan waktu di telepon sampai ketiduran hanya untuk berbicara dengan orang yang bahkan satu kelas dan satu bangku! Satu waktu, mami bertanya,"memang kalian di kelas tidak pernah ngobrol?" Tentu saja dijawab dengan penuh semangat,"ya iyalah, kan harus dengerin guru." Bohong besar ya. Kami tentu saja bertukar cerita selama di kelas, di luar kelas di waktu istirahat dan bahkan ketika sudah sampai di rumah.

Aku selalu ingin menceritakan apa yang aku alami, susah dan senang, kepada sahabat-sahabatku. Mulai dari hal penting seperti lagi-lagi ribut dengan orang tua (maklum, remaja tanggung tapi berasa udah paling pintar sedunia deh), sampai hal tidak penting seperti,"tadi dia telepon gue" (peha alias proyek hate alias proyek hati adalah satu topik terpenting sepanjang masa).

Dalam perjalanan waktu, aku merasa aku terlalu banyak membebani teman-temanku dengan berbagai curhat colongan tidak penting. Di masa kuliah, aku dikelilingin sahabat yang super plegma (hai kalian!) sampai-sampai aku merasa hidupku paling ajaib dibandingkan dengan mereka yang memiliki kehidupan super tenang. Aku merasa egois karena kisah hidup aku begitu terbuka, sedangkan kisah hidup mereka tersimpan dengan rapi. Ternyata kemudian ada urusan "kebiasaan" disitu. Aku terbiasa bercerita dan tidak begitu suka ditanya-tanya tentang kehidupan aku (apalagi yang mau ditanya ya? hehehehe), sedangkan sebagian dari mereka lebih baik ditanya tentang apa yang terjadi dan tidak biasa begitu saja bercerita ini itu seperti aku.

Aku musti akui, bahwa terkadang tanpa disengaja ada kelompok-kelompok pertemanan dalam hidup aku. Teman-teman tertentu untuk berbicara tentang hal-hal tertentu. Sebagai orang yang terlalu banyak keinginan (dan lupakan sejenak apakah kemampuanku bisa mengimbangi sejuta keinginanku), aku punya banyak minat yang akhirnya mempertemukan aku dengan berbagai orang dengan minat beragam. Tidak sedikit menjadi teman. Dalam kadar yang berbeda-beda, mereka semua adalah teman-teman yang mengisi hari-hariku dengan cara yang istimewa.


***


Tapi itulah pertemanan. Hubungan yang sampai pada titik dimana satu sama lain bisa saling mengerti, begitu saja. Tidak ada hitung-hitungan dalam pertemanan. Tidak ada ketakutan untuk terbuka dalam banyak hal. Tapi bukan berarti, pertemanan itu tidak tanpa usaha. Menurut aku, berteman membutuhkan cinta yang juga terus menerus dipupuk. Menurut aku, berteman membutuhkan pengertian yang harus terus dibangun. Menurut aku, berteman membutuhkan hati dan tangan yang terbuka untuk mereka yang kita kasihi.

Bukan seberapa banyak daftar nama di telepon, bukan seberapa sering kamu bertemu dan berkomunikasi dengan teman-temanmu (walaupun itu penting). Satu hal yang terpenting dalam pertemanan buat aku adalah hati, dan itu tidak melihat usia.






No comments: