29.8.08

Tertinggal di Taksi: Bayi Perempuan

Majalah Bluebird, yang sering nongkrong di kursi belakang, memuat daftar barang-barang yang tertinggal di dalam taksi. Sekitar 4-6 halaman dihabis
kan untuk menampilkan informasi ini. Aku suka melihat bagian itu, dan memperhatikan jenis-jenis barang yang tertinggal. Mulai dari kantong keresek hitam berisi pakaian, sampai telepon genggam versi terkini bisa ditemukan di daftar itu.

Ayahku, pernah ketinggalan ponsel, dan dikembalikan dalam waktu cukup singkat oleh pengemudi taksi burung biru. Aku pernah menemukan kantong belanja berisi dompet dari sebuah merek terkenal dengan price tag yang bikin aku menelan ludah. Aku menyerahkan kepada si pengemudi yang aku yakini akan mengembalikannya pada si pemilik.

Pembicaraan di taksi berputar di urusan barang paling aneh yang pernah tertinggal di dalam taksi. Pak Kusuma -aku panggil seperti itu karena justru nama belakangnya yang aku ingat- berkata,"bayi".

Haaaa? Bayi? Aku bengong.

"Serius ah, Pak, ketinggalan bayi maksudnya?"ujarku sambil masih tidak percaya.

"Betul, Mba, bayi. Masuk koran kok itu," dengan tenang Pak Kusuma meyakinkan aku.

Kalau berita itu pernah masuk koran, aku belum pernah membacanya. Pak Kusuma bercerita bagaimana seorang ibu pernah tanpa sengaja membiarkan bayi perempuan berusia sekitar 5 bulan di kursi belakang. Si ibu saat itu sibuk dengan barang bawaan yang ada di bagasi mobil, dan supir pun tidak begitu memperhatikan ada apa di kursi belakang taksi yang dia kemudi. Baru berjalan sekitar setengah kilometer, Pak Kusuma mendengar suara anak kecil. Begitu ia melihat ke belakang, dia melihat bayi yang cantik dan memutuskan memindahkan bayi tersebut ke pangkuannya,"takut jatuh," katanya,"untung saya sudah punya anak, jadi saya ngerti gimana gendongnya." Tidak susah untuk menebak, bahwa Pak Kusuma memutuskan memutar balik kendaraan kembali ke rumah penumpang terakhir yang sedang menangis. Iya, ibu dan ayah dari bayi tersebut sedang menangis. Sang ayah malah sambil terus memarahi sang ibu.

"Saya dapat tip paling besar yang pernah saya terima, walaupun saya sudah menolak," bahkan, menurutnya, sang sang ayah memutuskan menambahkan nama "Kusuma" di belakang nama bayi perempuan tersebut.

Ah, memang ketika pikiran dipenuhi oleh terlalu banyak hal, bahkan terkadang hal remeh temeh yang bisa jadi tidak terlalu penting, kita bisa lupa akan hal-hal yang begitu kita sayangi, yang terlupakan tanpa sengaja. Beruntunglah kalau kita bisa terlebih dulu sadar akan hal-hal yang kita sayangi sebelum semua itu terlepas dan diambil dari kita.

28.8.08

Hujan dan Jarak Pandang

Senangnya, hujan [Ehm, iya nih, Jakarta *akhirnya* hujan juga, setelah beberapa hari mendung-mendung gak jelas]. Bukan saja selalu mengingatkanku pada salah satu kota yang akan selalu aku anggap rumah keduaku, tetapi juga mengingatkan aku pada Bandung. Agak aneh kalau hujan dikaitkan dengan Bandung, karena kota hujan adalah Bogor dan bukan Bandung.

Paling menyenangkan dari hujan adalah bau tanah yang naik ke udara, suara air hujan di genteng yang begitu mantap dan tetap, udara yang lebih dingin dan sejuk, warna dedaunan yang hijau cerah setelah hujan selesai.

Satu hal yang sering terjadi pada waktu hujan adalah jarak pandang yang pendek, terutama kalau hujan sedang kencang-kencangnya. Satu waktu aku dan Lusi, sobat lama yang sekarang tinggal terlalu jauh dari Jakarta, memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan kembali ke Bandung. Kami mempergunakan kendaraan pribadi, dan menyetir bergantian. Kondisi kendaraan cukup baik, tetapi wiper mobil kurang berfungsi. Hujan deras. Jarak pandang sekitar setengah meter. Di jalan tol!! Aku yang waktu itu berada di balik setir. Dengan muka hanya beberapa centimeter dari jendela depan. Berharap ada kendaraan di depan yang menyalakan lampu sebagai patokan arah menyetir. Dengan wiper sedang sakit, perjalanan di tol saat itu bikin hati deg-degan. Itu bukan pertama kali. Lain waktu, Lusi yang memegang setir, kami dalam perjalanan kembali ke Bandung dari Sukabumi. Pagi sekali, sekitar jam 5 pagi. Hujan deras, dan matahari belum lagi muncul. Badan harus condong ke depan, berusaha melihat lebih jauh ke depan.

Jarak pandang memang penting. Seringkali ada gangguan ini itu yang membuat kita tidak bisa melihat jauh ke depan. Gangguan itu bisa jadi berada di luar kekuasaan kita. Ada dua pilihan, berhenti sejenak sampai gangguan itu hilang, atau kalau sudah kebelet waktu terpaksa tetap melaju dengan jantung berpacu. Kalau di dalam kendaraan, mengurangi kecepatan dan mencari tanda seperti lampu membantu kita tetap berada di jalur yang benar, bukan? Jadi, hujan boleh turun, tapi masa aktivitas harus terganggu?


***
Kalau tentang becek setelah hujan, itu memang tidak menyenangkan, kecuali buat cinca lora dan semboyan beceknya!

22.8.08

Hubungan Terbalik Umur dan Teman

Dalam pembicaraan mengenai kabar terakhir diantara kami, lima orang sahabat, salah seorang temanku berpendapat bahwa,"Soal teman sih emang segitiga demografi. Semakin tua semakin atas mengerucut jadi tambah dikit n yang sesuai dengan kita juga tambah dikit. Teman sih banyak, tp yg buat cerita enak sih susah. Kita aja gak bs terbuka banget skg. Bukan karena gak enak, tapi lebih karena jauh dan kadang komunikasinya gak update."

Ini membuat aku berpikir, betulkah demikian? Apakah memang semakin bertambah umur, justru jumlah teman menjadi bertambah sedikit? Apakah umur berbanding terbalik dengan jumlah teman?

Walaupun kamu bisa berargumentasi bahwa yang terpenting adalah kualitas pertemanan ketimbang kuantitas pertemanan, aku tetap terusik dengan pernyataan itu.

***

Aku adalah orang yang -menurut pengakuan sendiri- sangat terbuka seperti buku yang terbuka dan tergeletak di ruang publik dan bisa dibaca oleh siapapun. Setidaknya, itu yang bisa aku ingat sampai masa kuliah berakhir. Aku ini pengidap sindrom curcol akut. Kepada siapapun aku bisa curhat tentang apapun. Peristiwa yang bikin bahagia, marah dan menangis semua harus aku bagikan ke kiri dan kanan. Penyaringnya nyaris tidak ada.

Aku ingat menghabiskan waktu di telepon sampai ketiduran hanya untuk berbicara dengan orang yang bahkan satu kelas dan satu bangku! Satu waktu, mami bertanya,"memang kalian di kelas tidak pernah ngobrol?" Tentu saja dijawab dengan penuh semangat,"ya iyalah, kan harus dengerin guru." Bohong besar ya. Kami tentu saja bertukar cerita selama di kelas, di luar kelas di waktu istirahat dan bahkan ketika sudah sampai di rumah.

Aku selalu ingin menceritakan apa yang aku alami, susah dan senang, kepada sahabat-sahabatku. Mulai dari hal penting seperti lagi-lagi ribut dengan orang tua (maklum, remaja tanggung tapi berasa udah paling pintar sedunia deh), sampai hal tidak penting seperti,"tadi dia telepon gue" (peha alias proyek hate alias proyek hati adalah satu topik terpenting sepanjang masa).

Dalam perjalanan waktu, aku merasa aku terlalu banyak membebani teman-temanku dengan berbagai curhat colongan tidak penting. Di masa kuliah, aku dikelilingin sahabat yang super plegma (hai kalian!) sampai-sampai aku merasa hidupku paling ajaib dibandingkan dengan mereka yang memiliki kehidupan super tenang. Aku merasa egois karena kisah hidup aku begitu terbuka, sedangkan kisah hidup mereka tersimpan dengan rapi. Ternyata kemudian ada urusan "kebiasaan" disitu. Aku terbiasa bercerita dan tidak begitu suka ditanya-tanya tentang kehidupan aku (apalagi yang mau ditanya ya? hehehehe), sedangkan sebagian dari mereka lebih baik ditanya tentang apa yang terjadi dan tidak biasa begitu saja bercerita ini itu seperti aku.

Aku musti akui, bahwa terkadang tanpa disengaja ada kelompok-kelompok pertemanan dalam hidup aku. Teman-teman tertentu untuk berbicara tentang hal-hal tertentu. Sebagai orang yang terlalu banyak keinginan (dan lupakan sejenak apakah kemampuanku bisa mengimbangi sejuta keinginanku), aku punya banyak minat yang akhirnya mempertemukan aku dengan berbagai orang dengan minat beragam. Tidak sedikit menjadi teman. Dalam kadar yang berbeda-beda, mereka semua adalah teman-teman yang mengisi hari-hariku dengan cara yang istimewa.


***


Tapi itulah pertemanan. Hubungan yang sampai pada titik dimana satu sama lain bisa saling mengerti, begitu saja. Tidak ada hitung-hitungan dalam pertemanan. Tidak ada ketakutan untuk terbuka dalam banyak hal. Tapi bukan berarti, pertemanan itu tidak tanpa usaha. Menurut aku, berteman membutuhkan cinta yang juga terus menerus dipupuk. Menurut aku, berteman membutuhkan pengertian yang harus terus dibangun. Menurut aku, berteman membutuhkan hati dan tangan yang terbuka untuk mereka yang kita kasihi.

Bukan seberapa banyak daftar nama di telepon, bukan seberapa sering kamu bertemu dan berkomunikasi dengan teman-temanmu (walaupun itu penting). Satu hal yang terpenting dalam pertemanan buat aku adalah hati, dan itu tidak melihat usia.






13.8.08

Obat Pahit Pengobat Luka

Pada dasarnya aku ini ceroboh dan suka asal, tidak heran kalau sering sekali luka. Tetapi sebetulnya, sudah sekian tahun ini aku mencoba super berhati-hati supaya tidak mudah terluka, tapi apa daya, tetap saja terluka.

Beberapa waktu lalu, aku kembali terluka. Padahal luka sebelumnya belum lagi kering, sedang gatal-gatalnya ingin digaruk. Eala, tetap saja, di lokasi yang sama, aku kembali terluka. Mungkin karena sudah berkali-kali, aku tidak terlalu kaget, tetapi sakitnya tetap luar biasa. Bahkan mungkin lebih sakit dari yang dulu-dulu, maklum di tempat yang sama, bo, dan mugkin lebih sakit karena aku kesal bahwa aku sudah membiarkan diriku terluka dengan mudahnya.

Kali ini, aku tidak mau membiarkan luka itu mengering dengan sendirinya. Aku takut, kalau dibiarkan terluka akan ada infeksi. Biasalah, kalau di luar sana kan banyak kuman pengganggu.

Kali ini, aku mengambil berbagai upaya untuk menjamin luka itu tidak kena infeksi, dan bahwa luka itu akan lebih cepat mengering. Bekasnya pasti ada, mau diapain lagi. Tidak apa-apa, biar jadi pengingat terhadap kebodohan diri.

Obat ini sakit luar biasa, setiap hari aku harus menahan diri menahan sakit. Konsentrasi di tempat kerja sulit dilakukan, tetapi aku yakin kalau luka sudah sembuh, aku bisa berkonsentrasi seperti biasa.

Penyebab luka sebaiknya dilupakan, mau ditabok juga sudah susah, sudah bawaan orok katanya.

7.8.08

20:40 - 20:50 Sepuluh Menit Saja

Angka di ujung kanan menunjukkan pukul 20:40. Ini berarti sudah 13 jam aku berada di kantor ini. Kalau dihitung dari jam keluar rumah, aku sudah keluar rumah lebih dari 15 jam, diawali dengan membakar kalori yang bertumpukan dari proses perbaikan gizi setelah pulang dari berlibur (informasi tidak penting: selama perjalanan aku memang makan banyak, tapi booo, jalan kaki merupakan menu utama selama berlibur!).

Ritme kerja sudah kembali normal, setelah selama dua hari pertama aku lebih banyak disibukan dengan menerima dan menyerap informasi dari kiri dan kanan. Sekaligus, adaptasi dengan ruang baru yang lebih sunyi ini. Kemarin, sebagian besar kegiatan melambat karena akses internet yang mogok bekerja.

Angka di ujung kanan sudah bergerak ke 20:44. Empat menit aku habiskan untuk menulis dua paragraf.

Seharusnya, aku membaca beberapa attachments yang dikirimkan dari para kolega. Seharusnya, aku mereview beberapa proposal yang sudah dibuat. Seharusnya, aku mempersiapkan materi-materi untuk pertemuan-pertemuan besok dan minggu depan. Seharusnya aku membereskan beberapa hal yang ternyata belum berhasil dilakukan sewaktu aku berlibur. Seharusnya, aku menghabiskan waktu bukan di halaman blogspot.

Tapi ternyata, otakku sudah menolak untuk bekerja sama. Aku tahu berapa panjang "to do list" yang ada di depan mata, tapi aku tidak sanggup bahkan untuk mengintip daftar tersebut. Barangkali, memang ada batas waktu dimana tingkat konsentrasi nge-drop ke titik terendah, tidak perduli seberapa ingin kita bisa berkonsentrasi.

Duh, membayangkan besok terpaksa harus memulai hari dengan terlebih dulu memikirkan apa yang seharusnya bisa aku lakukan malam ini terasa menyebalkan. Ini berarti, besok aku tidak bisa langsung tancap gas, tapi harus "manasin mobil" dulu, biar semua lancar. Ah sudahlah, mesin sudah ngebul, mari tutup warung, sekarang sudah 20:50.

4.8.08

Sedikit Kabar Setelah Kabur

Seminggu menghilang, bersembunyi dari keramaian. Terlalu cepat. Cerita-cerita akan segera menyusul. Negara-negara tetangga ternyata menawarkan banyak hal dan berhasil bikin semangat berkantor kembali naik! Foto yang bertumpukan harus segera dibereskan. Cerita yang tersimpan akan segera ditulis.





Ps: foto diambil oleh salah satu dari kami, dan di pemberhentian terakhir kelompok ini jadi berjumlah 8 orang!