25.6.08

Mata Melihat, Akal Memaknai

Apa yang ada di depan mata, bisa jadi bukan merupakan gambaran sebenarnya tentang sesuatu yang sedang terjadi.

Seperti kacamata kuda, kita melihat yang di depan mata, tetapi yang ada di sisi kiri dan kanan bisa terlewatkan. Seperti kungfu panda, ketika Po sang panda mau mengintip pemilihan kungfu dragon, di sebuah lubang bulat di tembok benteng, Po tidak bisa melihat terlalu luas dari lubang yang terbatas itu. Seperti ketika menelepon dengan telepon yang memiliki kamera di atas layar monitor ditambah jaringan 3G yang kuat, kita bisa melihat muka orang yang kita ajak ngobrol, tapi tidak bisa melihat situasi di sekitar orang tersebut, kecuali memang diperlihatkan oleh orang tersebut.

Semua tergantung kepada pencitraan yang disodorkan di depan mata, dan besar wilayah intip yang diberikan untuk melihat pencitraan itu.

Melihat berbagai kegiatan aksi dan kemarahan yang bikin kesal dalam konteks yang lebih besar untuk bisa memahami penyebab kegiatan itu bisa jadi terlupakan. Hanya rasa kesal yang tertinggal. Dan itu, memang sangat menyebalkan.

Mundur selangkah untuk melihat lebih jelas. Atau paksakan leher untuk bergerak lebih jauh dan menengok ke sudut kiri dan kanan. Ada apa sih disana?

17.6.08

Kampung Eropa di Gorontalo

Demam piala Eropa memang sedang merajalela. Teman tidurku semakin sulit ditemui, karena baru pulang pagi-pagi buta, dan beberapa kali bahkan tidak pulang. Menyebalkan sekali. Televisi, koran dan radio memuat hasil-hasil pertandingan. Silahkan sebut deh, berbagai kegiatan yang jadi ada gara-gara si piala Eropa ini, pasti sederet panjang!

Pertandingan sepak bola bisa mengilhami orang untuk lebih rajin bermain sepak bola, jadi komentator dadakan atau setidaknya berbelanja kaos serupa dengan tim favorit. Akan tetapi di Gorontalo, ada cara lain untuk menunjukkan kesetiaan mereka pada tim kesayangan.

Bendera negara tim kesayangan adalah jawabannya.

Iya, di sepanjang jalan, berbagai bendera dari negara-negara Eropa berkibar. Berbagai ukuran. Ada yang sekedar ukuran kecil sebesar handuk ukuran kecil yang pas dipakai melilit pinggang kebawah, tapi ada juga bendera ukuran super besar, yang bisa dipakai untuk menutup kasur ukuran double bed!


Pemandangan yang bisa membuat orang lupa, bahwa ini ada di Gorontalo, di Indonesia yang punya bendera dengan warna merah dan putih. Lupa, karena sejauh mata memandang ada berbagai macam bendera, tetapi bukan bendera merah putih. Memang ada warna merah dan putih, tetapi bersanding dengan warna biru, bahkan ada warna kuning, hitam dan hijau dengan berbagai kombinasinya.

Di bawah bendera besar berwarna merah putih dan biru ini, melaju sebuah kendaraan dinas. Perkampungan ini memang terletak di jalur utama menuju kawasan kantor pemerintah Propinsi Gorontalo. Meriah sekali.

Aku bertanya kepada Bang Eman, supir kendaraan yang aku pakai,"Bang, bendera apa yang Abang pasang?" Sebetulnya, aku tidak yakin dia memasang bendera tertentu, tetapi ternyata dia menjawab dengan bangga,"Portugal". Hayah! Menurutnya, itu selalu terjadi bukan saja pada saat Piala Eropa, tetapi juga pada saat Piala Dunia yang lalu.

Aku tidak tahu, apakah ini juga terjadi di tempat-tempat lain di Indonesia. Aku juga tidak tahu, apakah mereka memasang bendera hanya untuk pertandingan bola atau untuk semua pertandingan olah raga. Aku bertanya-tanya, apakah mereka memasang bendera merah putih pada saat Thomas dan Uber Cup diperebutkan. Aku curiga tidak ada, karena menurut informasi pemasangan bendera untuk perayaan hari kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus itu sulit sekali, tidak banyak yang memasang bendera merah putih. Tetapi, ketika musim Piala Eropa datang, mereka tidak segan untuk menyisihkan uang demi bendera negara tim kesayangan.

Barangkali bendera itu nanti bisa dipakai sebagai sprei tempat tidur?

2.6.08

Antiphonal Dangdut

Pernah denger antiphonal dangdut? Tidak? Sama dong. Aku juga baru pertama kali mendengar kata-kata itu. Apakah ini demonstrasi anti lagu dangdut? Atau ini sebuah antibodi terhadap lagu-lagu dangdut?

Arti dari kata-kata itu bisa ditemukan di Bandung, 7 Juni 2008 ini. Bukan dalam seminar atau workshop super penting yang bikin kening berlipat-lipat. Cukup duduk tenang, mendengarkan alunan musik yang buat aku sih bikin bahagia deh.

Silahkan ke ITB Choir in Concert dengan konduktor Indra Listiyanto. Konser dilakukan di Aula Barat ITB Bandung, tanggal 7 Juni 2008 pukul 19.30 WIB.



Tapi jangan ajak aku, harus pergi menyeberang laut lagi. Aku hanya bisa berkhayal, seandainya aku berada di foto itu, ikut bernyanyi dan akan dengan senang hati memberi tahu apa sih antiphonal dangdut.

ps: silahkan intip website itbchoir