1.5.08

Para Profesional

Sekian tahun, aku bekerja secara mandiri dan terlepas dari jam kantor. Aku bekerja untuk masa waktu tertentu untuk pemberi kerja yang berbeda-beda. Freelance. Part-time. Independent Consultant. Apapun namanya itu.

Selama satu setengah tahun terakhir, aku bekerja secara ekslusif untuk satu lembaga tertentu. Aku harus datang 8 jam sehari, 5 hari seminggu, tidak jarang lebih dari 8 jam dalam sehari, sesekali lebih dari 5 hari dalam seminggu.

Pekerjaan yang aku lakukan beranekaragam. Pekerjaan utama sesuai dengan latar belakang pendidikan aku. Aku katakan utama, karena itu adalah embel-embel yang lebih sering aku berikan ketika ditanya “pekerjaanmu apa sih?”. Seorang sarjana lanjutan dengan bekal pendidikan ilmu aplikatif yang membuat aku lebih banyak berhubungan dengan pemerintah. Pekerjaan lain yang aku lakukan sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan utamaku. Melakukan berbagai sampingan – begitu orang biasanya membahasakan – yang tidak jarang mengambil komitmen waktu yang lebih banyak dari pekerjaan utama.

Mesti diakui, pekerjaan yang aku lakukan sering dianggap pekerjaan menyenangkan oleh orang-orang di sekitarku. Ketika masih bekerja mandiri, sebagian teman cemburu dengan keleluasaan aku mengatur waktu – terutama waktu berlibur. Setelah aku memilih menjadi pekerja kantoran – yang berarti tidak ada lagi keleluasaan itu – aku tetap dianggap beruntung bisa bekerja di lembaga yang cukup baik, melakukan pekerjaan yang aku suka dan memperoleh imbalan yang sepadan.

Imbalan yang sepadan itu adalah uang yang diterima secara rutin sebagai biaya waktu, tenaga dan pikiran. Sepadan itu sangat relatif, tetapi –menurut aku- memiliki makna apa yang diterima, sesuai dengan apa yang diberikan. Ya, aku merasa cukup beruntung untuk imbalan itu. Aku tidak sekedar melihat ke nominal yang diberikan, tetapi terkadang lebih dari itu. Maklum, ada imbalan yang bisa membuat orang membelalak mata, bukan karena begitu besar, tetapi karena –menurut mereka- begitu kecil.

Imbalan, upah, gaji atau honor. Sesuatu yang sering menjadi tujuan utama seseorang bekerja.

Ya, upah yang aku terima lebih baik dari banyak orang dan masih bisa menabung sedikit dari situ. Menabung bukan karena sekedar ada sisa, tetapi menabung sebagai upaya berjaga-jaga pada saat transfer bulanan itu berhenti.

Berhenti berarti tidak ada lagi uang, karena aku tidak lagi bekerja. Jangan berpikir bahwa aku memutuskan berhenti bekerja hanya karena aku ingin berhenti bekerja, atau karena alasan lain yang datang dari diriku sendiri, tetapi berhenti bekerja karena memang pekerjaan itu tidak ada lagi, karena berbagai alasan dan biasanya melibatkan pihak ketiga.

Ini potret lain dari pekerjaan yang sering dilihat sebagai pekerjaan idaman, menjadi profesional dengan gaya hidup yang sering terlihat glamour. Aku pun dulu membayangkan betapa indahnya bisa bekerja bagi diri sendiri seperti itu. Naomi Klein, penulis buku No Logo pun menuliskan “I admit to being lured by the sirens of free agency myself ”.



*
Free Agent Nation. Sebuah istilah yang muncul dari apa yang disebut Tom Peter – pakar management itu – sebagai Brand Called You. Menurut logika ini, kalau mau sukses di ekonomi baru ini, kita semua harus terinkoporasi ke dalam merek kita sendiri itu “Brand Called You” atau apa yang aku terjemahkan secara bebas sebagai “Merek Diri Sendiri”. Seseorang bernama “Daniel H. Pink berkata semakin banyaknya pekerja seperti aku, entah itu sebagai temporer dan kontrakan, dan juga pekerja independen yang bekerja untuk diri sendiri merupakan bukti kedatangan “Free Agent Nation” lagi lagi akan aku terjemahkan bebas sebagai Bangsa Agen yang Bebas. Pink sendiri berhenti dari pekerjaan bergensi di White House sebagai penulis pidato Al Gore, menulis buku dengan judul di atas dan melakukan perjalanan untuk mencari penganut “agen yang bebas” tadi .

Bukan hanya Naomi Klein yang tertarik, aku pun demikian. Aku bisa bangun siang, bekerja dengan pakai kaos rombeng-tapi-nyaman dan celana pendek, bisa bekerja dimana pun dan bahkan bisa memutuskan untuk tidak bekerja dan memilih berlibur jika aku menginginkannya. Aku memutuskan mencicil laptop dan kemudian menjadi aksesoris wajib yang senantiasa aku bawa kemana-mana. Gayalah!

Pekerjaan menulis, sesuatu yang paling sering aku lakukan dalam sebagian besar pekerjaanku, memang dapat dilakukan dimanapun. Kecanggihan telekomunikasi dan dunia internet memungkinkan itu terjadi.

Sayangnya, tidak semua pekerjaan bisa dilakukan seperti itu.

Bayangkan, jika pekerjaan membuat laptop yang aku bawa-bawa ini dilakukan secara “freelance”. Ah, itu tidak mungkin. Bayangkan, jika sawah bisa diurus via dunia virtual. Saat ini, itu sama dengan mimpi. Bayangkan, berbagai pekerjaan yang memang tidak bisa dilakukan dengan cara nyaman super gaya yang aku lakukan. Tidak semua jenis pekerjaan dapat dilakukan dengan cara itu, bukan?

Menjadi pekerja bebas itu tidak selalu seindah yang dibayangkan. Laptop adalah satu hal yang menguras tabunganku. Investasi, menurut teman-teman. Harus aku lakukan, karena pihak yang mempekerjakan aku tidak akan menyediakan apapun untuk aku, bahkan tidak ada meja dan kursi untuk aku duduk dan bekerja. Pemberi pekerjaan hanya tahu bahwa aku harus menyelesaikan tugas tersebut. Tentang bagaimana cara aku menyelesaikan, apakah aku memiliki seluruh sumber daya yang dibutuhkan, apakah aku sehat atau sakit, dan berapa ongkos untuk transportasi dan komunikasi bukan urusan mereka. Upah yang diberikan adalah satu-satunya kewajiban pemberi pekerjaan, tidak lebih. Itu pun, tidak sedikit yang berusaha mangkir.

Aku harus bertanggungjawab terhadap diriku sendiri. Aku harus selalu menjaga agar aku selalu sehat. Aku harus selalu memiliki perlengkapan dasar bekerja. Aku harus selalu siap.

Nasibku, jauh lebih baik daripada buruh yang saat ini sedang demonstrasi di berbagai belahan dunia. Aku masih punya sisa lebih dari upah yang aku terima, yang masih bisa aku tabung untuk berbagai keperluan. Aku masih memiliki gaya hidup yang –menurut sebagian besar orang- menyenangkan.

Tetapi, sungguh, kondisi aku sama sekali tidak lebih baik dilihat dari bahwa aku bekerja tanpa kepastian dan tanpa jaminan apapun dari pemberi kerja. Kondisi ini tetap terjadi bahkan ketika bekerja pada lembaga yang berjuang untuk memperbaiki kondisi hidup manusia. Aku bekerja dengan posisi yang tidak lebih baik dari para buruh.

Aku berada pada kelas dimana buruh berada, yang hanya hidup selama aku mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerjaku memperbesar kapital.

Selamat Hari Buruh!