26.5.08

BBM: Bodoh Bikin Miskin? No Way!

Dalam sebuah pertemuan, seorang pemandu acara bicara soal rencana menumbuhkan middle class society. Semua orang yang hadir di sana, diajak untuk menanamkan semangat bahwa setiap orang di ruangan itu adalah "Potential leader" yang "Never quit, move on, brighter future, its mine". Semua harus menyatakan dengan suara tegas kalimat itu dengan gerakan dan antusias tinggi. Tidak sulit, karena sebagian besar peserta memang bersemangat mengikuti itu semua. Sebagian besar, kecuali aku.

Aku malah merasa sangat gelisah di ruangan itu. Ada yang tidak tepat ketika ada pembagian mengenai 4 hal penting yang harus dimiliki oleh pemimpin berpontesi ini yaitu, kecerdasan, kreativitas, intuisi dan kemampuan komunikasi. Aku tidak hendak mengatakan keempat hal itu tidak penting, justru aku sepakat bahwa itu dibutuhkan untuk bisa melakukan banyak hal. Tanpa itu semua, seseorang bisa berada di satu titik, tidak bergerak kemana-mana.

Kegelisahanku muncul karena kegiatan terlebih dulu dibuka dengan masalah kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM yang sedang menghangat.

Beragam reaksi terhadap rencana pemerintah ini muncul dalam berbagai bentuk. Sebagian khawatir dan menolak kenaikan BBM. Tentu saja, kenaikan BBM akan memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan itu berarti pengurasan dompet, bahkan pengurangan kualitas hidup bagi sebagian besar orang di negara ini. Aku tahu ada berbagai upaya individu dilakukan dalam mengantisipasi kenaikan BBM. Ada yang memutuskan memberhentikan baby sitter, ada yang mulai membawa bekal makan siang dari rumah dan ada yang mengganti kendaraan dengan membeli kendaraan yang lebih hemat bahan bakar.

Semua itu adalah keputusan individu yang memang masih bisa dilakukan untuk menghadapi kenaikan harga BBM, tapi perlu melakukan penyesuaian di sana-sini untuk tetap bisa hidup. Bayangkan, membeli mobil baru yang lebih hemat bahan bakar butuh uang yang tidak sedikit, dan itu sudah merupakan kemewahan tersendiri yang tidak dipunya oleh sebagian besar orang, katakanlah buruh pabrik dengan gaji pas upah minimun, petani tanpa tanah yang sibuk memikirkan pembayaran utang, atau guru honorer di pedalaman yang tengah menunggu rapel gaji yang sepertinya terhambat di tengah jalan. Ini yang ada di benakku ketika kata "kenaikan BBM" muncul. Aku akan terpengaruh dan harus melakukan penyesuaian, tapi aku masih bisa bertahan. Di luar sana, ada yang terpengaruh lebih parah tetapi tidak akan mampu melakukan penyesuaian apapun.

Dengan bayangan itu di benakku, sulit melihat bahwa "Kita tidak perlu kuatir akan kenaikan BBM" dan "Kita harus cerdas, kreatif, punya intuisi dan kemampuan komunikasi" untuk mengatasi itu. Seakan-akan, karena tidak cerdas, tidak kreatif, tidak punya intuisi dan tidak punya kemampuan komunikasi orang menjadi takut harga BBM naik.

Pernyataan ini tepat untuk mereka yang barangkali memutuskan membeli apartemen di tengah kota Jakarta dan melepas rumah di pinggiran Jakarta untuk mengurangi penggunaan BBM. Cara ini tepat bagi orang yang masih mampu bertahan, punya uang sisa dari pendapatan, dan waktu untuk memikirkan berbagai hal yang dapat menciptakan pendapatan tambahan, dan syukur-syukur menciptakan lapangan kerja tambahan.

Oh, butuh lebih dari sekadar upaya individu untuk bertahan dari semakin mahalnya biaya hidup. Butuh lebih dari sekadar cerdas, kreatif, intuitif dan komunikatif untuk betul-betul bisa membantu bangsa, untuk bisa melakukan apa yang dikatakan sebagai "To impact the cities and to influence the nations".

Lihat kasus busway Pondok Indah, kasus pemblokiran berbagai situs seperti myspace dan sejenis yang membuat banyak orang hingar bingar. Padahal itu semua bukan masalah hidup dan mati. Coba saja, kasus naiknya harga BBM, informasi demo diperlukan, supaya bisa menghindari jalan-jalan yang dilalui para demonstran, dan bukan untuk sama-sama sepakat mengiyakan keinginan para demonstran (aku juga ngacung, nih!)

Aku tersadar, pandangan bahwa orang miskin menjadi miskin karena bodoh dan malas memang sudah menguat. Iya, kemalasan dan kebodohan bisa membuat orang menjadi miskin, tetapi lebih banyak lagi orang menjadi miskin karena sistem yang ada membuat mereka kesulitan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan itu.

Aku baru tahu ada istilah memanfaatkan orang ala orang miskin. Dikatakan orang miskin punya kebiasaan untuk "Dapat uang hari ini dan berpikir bagaimana menghabiskan uang hari ini", dan ini adalah cara pikir yang harus dihindari. "Orang pintar harus berpikir uang hari ini harus diinvestasi bagaimana?" Aku tidak bisa berkata-kata lagi.

Ketika kegiatan dilakukan untuk kelas menengah sebagai upaya untuk membentuk kelas menengah yang bisa punya dampak bagi kota dan negara, rasanya terlalu naif jika itu bisa dilakukan semata-mata oleh kegiatan individu semata, walaupun itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan tambahan. Upaya individu memang harus tetap dilakukan dan bukan berarti tidak bisa berdampak, tetapi kelas menengah harus mau melihat bahwa ada orang yang untuk bisa bertahanpun butuh bantuan dan itu bukan karena mereka bodoh dan malas tapi ada masalah sistem yang harus diperbaiki bersama-sama. Kesepahaman terhadap masalah dasar ini dan kesepakatan untuk mau menggalang kekuatan untuk menyelesaikan masalah ini menjadi sangat penting.

Jadilah cerdas, kreatif, intuitif yang disertai kemampuan komunikasi yang baik untuk menyelesaikan masalah-masalah di luar masalah individu!

Tulisan ini dibuat dan dimuat juga di Media Bersama. Mampir ya.