21.4.08

Embat Jatah Orang


Heran deh, aku kok suka ya ngembat makanan adek-adekku. Maklum, kadang (kadang-kadang banget) aku malas makan, tapi, begitu melihat makanan di piring orang kok rasanya nikmat ya. Memang enak ngembat jatah adek! Aku itu tidak begitu suka mie goreng, dan Maurice lebih suka mie goreng. Sudah bisa diduga, kalau Maurice bikin mie goreng, setidaknya sepertiganya akan aku habiskan (halo teman tidurku!). Jarang sih terjadi kebalikannya. Karena aku kalau makan itu cepat sekali, jarang sempat diembat oleh adik-adikku. Entah mereka takut atau mungkin kasihan melihat aku makan cepat-cepat kayak orang kelaparan ya? Padahal, aku sih tidak masalah kalau mereka juga mengembat makananku.

Tapi biarkan kebiasaan ini hanya untuk mengembat jatah makanan adik-adikku, yang aku yakin tidak membuat mereka kelaparan. Jangan deh aku musti ngembat jatah orang, mulai dari jatah makan orang sampe jatah laki orang. Sakit rasanya.


Gambar dari gettyimages.

18.4.08

Tantangan Pekerjaan

Menurutmu, pekerjaan yang menantang itu seperti apa sih? Tentunya bukan pekerjaan yang menantang maut saja yang layak disebut menantang. Itu tuh seperti pekerjaan stuntman atau melatih binantang buas. Ehm, kok yang ada di otak aku malah pekerjaan itu ya.

Ayo, coba lihat surat lamaran, pasti banyak deh yang menulis "menyukai tantangan" di dalamnya. Terus, nanti pas diwawancara dengan sigap menjawab,"saya menyukai tantangan." Waw. Terlihat keren mengundang dan meyakinkan. Padahal, tantangan seperti apa yang akan dihadapi belum terbayang, dan tingkat kesulitan seperti apa yang akan ditemui belum dipikirkan.

Harus bangun pagi setiap hari, bisa jadi tantangan terbesar untuk bekerja. Terlalu remeh? Tidak juga, loh! Kalau kamu pengidap sulit tidur, untuk bisa bangun pagi itu pasti tantangan besar. Jadi, boleh dong bilang,"pekerjaan saya menantang, soalnya saya harus bangun pagi setiap hari." Tidak usah malu, tidak usah takut. Sah saja untuk bilang seperti itu, tokh?

Bagaimana dengan pekerjaan yang *katanya* tidak ada tantangan. Tinggal datang ke kantor, salam kiri kanan, duduk, nyalain komputer, bikin kopi, kembali ke meja, main facebook sampai sore (ehm, kalo main puzzle di facebook itu menantang bukan ya? hihihi). (Terlihat) menggiurkan bukan? Lakukan itu 5 kali seminggu, 20 hari sebulan dan entah berapa hari deh dalam setahun. Hmmmm, kalau aku dijamin bosan setengah hidup *senyum sajalah*.

Sialnya, tantangan itu kadang-kadang memang bikin berdarah-darah. Dalam artian sesungguhnya, atau kiasan. Waktu tantangan lagi ada di depan mata, bohong besar deh kalau aku bilang aku tidak takut dan menikmatinya. Sumpah, menyeramkan dan bikin deg-degan. Kesadaran bahwa ini adalah tantangan semata dan bukan berarti dunia sudah berakhir yang membuat aku lebih tenang menghadapi tantangan itu. Tenang, tapi bukan berarti tanpa caci maki dan sumpah serapah, sih.

Bekerja menghadapi tantangan, membuat aku belajar untuk bekerja dengan berpikir dua sampai tiga langkah ke depan. Berpikir lebih tenang, berani mengambil keputusan dengan segala resikonya. Itu tantangannya. Harus berani mengambil resiko, tetapi bukan asal kena resiko ya. Bertemu tantangan, harus punya strategi. Resiko selalu ada!

Nah, kamu sendiri, apakah pekerjaanmu menantang?

11.4.08

Hujan Emas Hujan Batu

Kenapa sih, kalau orang Indonesia tinggal di luar sebentar, begitu balik musti shock gila-gilaan (maksudnya shock yang ditampilkan gila-gilaan ya)? Musti panik dengan makanan kotor, musti heboh dengan cuaca tidak bersahabat, musti kaget dengan kenyataan masih ada penyakit cacingan dan segala macam omelan dan keluhan lain. Seakan-akan tidak ada lagi hal baik yang terjadi disini!

Kalau begitu, kenapa juga masih balik ke Indonesia? Tidak ada duit? Beasiswa sudah selesai? Tidak punya pekerjaan? Ya sudah, jangan protes dong. Kalau memang tidak tahan untuk tinggal di Indonesia, silahkan tinggal di tempat lain. Usaha dong kalau memang ingin mendapat tempat yang katanya lebih baik dari disini itu. Jangan sekedar bilang,"inginnya sih gitu, tapi susah".

Sama saja, yang baru tinggal sekejap di luar Indonesia bisa kemudian menghina-dina berbagai kebiasaan disini. Kalau di Indonesia, yang kayak gini gak ada, loh. Kalau di Indonesia, mana mungkin kita bisa seperti ini. Tapi tokh, ternyata tetap kembali-kembali juga kan ke Indonesia, dan tetap kangen-kangen Indonesia juga.

Aku tidak bilang tinggal disini itu sempurna, tetapi setiap tempat dimanapun itu pasti ada kekurangan dan kelebihan. Sayangnya, hanya sedikit orang yang bisa melakukan omelan-omelan seperti itu dengan lebih bijak dan bisa dinikmati bersama (omelannya). D, adalah salah satu dari sedikit orang itu. Kekesalan dia tidak membuat aku jengkel, dan tidak membuat aku berpikir D itu belagu. Jauh, deh. Aku bisa merasakan keprihatinan dia.

Iya, disini banyak kuman penyakit, disini macet terus, disini matahari bikin gosong. Tapi tahu tidak, matahari itu menyenangkan sekali. Cobalah tinggal di negara yang sinar matahari palingan hanya sekitar 50 hari dalam setahun, dijamin anda akan sangat menghargai sinar itu. Pakai jaket tebal yang berat itu betul-betul tidak enak (disini jaket itu kan lebih sering dipake untuk gaya). Disini selalu macet, tapi banyak tukang jajanan menemani kemacetan (argumen yang lemah sekali, ya). Coba bayangkan 1001 macam makanan super enak yang hanya bisa didapatkan di Indonesia dengan harga bersahabat. Pilihan yang sedikit membuat aku pernah berkata bahwa Soto Warung Mini di sebuah kota sekian ribu kilometer dari Jakarta adalah soto paling nikmat sedunia. Kuman di makanan yang biasa aku temukan disini membuat perut aku lebih kuat (ini juga sebetulnya bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, but still...).

Tinggal di negara lain, atau bahkan sekedar tinggal di kota lain seharusnya bisa membuat pikiran menjadi lebih terbuka. Melihat kebiasaan yang berbeda, memahami itu dan menikmatinya seharusnya bisa menjadikan seseorang jadi lebih bersyukur terhadap berbagai perbedaan yang ada, kekurangan dan kelebihannya. Urusan ngomel, dimanapun pasti selalu ada keluhan, kok, dan memang menyenangkan. Hmm, menurutku sih, menyenangkan selama dilakukan di tempat yang tepat, dengan orang yang tepat dalam konteks yang juga tepat. Beberapa orang sebaiknya membatasi omelan di ruang pribadi sajalah.

Heran, kenapa juga masih tinggal di tempat yang selalu dicela-cela. Bodoh atau malas?




catatan lagi: fenomena ini biasa ditemukan pada orang yang hanya tinggal sekejap di luar Indonesia, atau baru tinggal sekejap. justru pada orang-orang yang tinggal cukup lama, atau terlalu sering berpindah-pindah, aku jarang menemukan kelakuan seperti ini.

Riwayat Akhir Sang Pekan

Hari Jumat! Menyenangkan sekali! Biarpun ada banyak pekerjaan dan tugas bertumpuk dan baru diomelin kiri kanan, tetap saja kalau Jumat itu terasa lebih ringan...sedikit.

Akhir pekan kalau kata orang hotel dimulai Jumat siang sampai Minggu siang. Buat aku juga sama saja. Bahkan perasaan senang sudah dimulai dari Rabu, loh! Jadi begini, kalau hari Rabu, berarti besoknya kan Kamis (ya iyalah), dan Kamis aku sudah semangat karena besoknya Jumat, hari terakhir bekerja. Jadi,buat aku suasana akhir pekan sudah resmi dimulai sejak Rabu. Begitu, deh.

Sudah lama sekali, aku membuat "setelan" mental bahwa aku tidak mau bekerja dan pusing mikir di akhir pekan. Tidak heran, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian dan masuk kantor di hari Sabtu menjadi barang tabu. Sejak Rabu (ingat siklus di atas) atau paling mentok Jumat pagi, aku sudah sibuk merancang ini itu untuk menghabiskan Jumat malam. Bisa pergi keluar bersama sahabat atau keluarga, atau sekedar "me time" yang aku manfaatkan untuk memuaskan keinginan aku seperti baca buku di rumah. Ada perasaan santai karena tidak harus bangun pagi.

Sebetulnya, ulang malam tidak hanya aku lakukan pada hari Jumat. Pulang lewat tengah malam di hari kerja saja bisa dilakukan, kok.

Sekarang sih, aku tidak terlalu ngotot tidak bekerja di hari Sabtu. Bisa jadi karena tuntutan pekerjaan sewaktu aku memilih menjadi pekerja independen. Dengan sedikit rancang ulang mental, aku mulai bisa menikmati kalau sesekali harus bekerja di akhir pekan.




Aku pikir, setiap orang perlu punya waktu akhir pekan, dan itu tidak terbatas pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Terserah deh, hari apa yang mau diniatkan menjadi hari bersenang-senang. Hari apapun yang dipilih, mudah-mudahan bisa memberi terang di hari-hari gelap. Tidak bisa tiap minggu juga tidak apa-apa, tapi harus tetap rutin.

Kamu sendiri, apa pilihan yang paling sering dilakukan di akhir pekan? Di rumah, di luar rumah yang santai bersama orang(-orang) terdekat? Keluar kota, dan barangkali berkontribusi pada kemacetan di luar sana?

psssstttt, kalau pacaran mah kan tidak selalu di akhir pekan, walaupun tetap menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu di akhir pekan.

Dari hati aku berharap apapun kondisi minggu ini atau hari ini, segelap apapun itu, akan ada titik terang dan mari kita lewati akhir pekan bersama-sama, selamat menikmati hari pekan.




9.4.08

Nazareno Kenjiro







Ingin cepat pulang, ingin lihat keponakan baru. Resmi sejak 08.04.08 (tanggal cantik?) kami kedatangan anggota baru. Nazareno Kenjiro Aprilano Silalahi. Setidaknya sampai saat ini, nama itu yang ditulis di atas kepala anak kedua adikku, Kris dan Lidya.

Tantangan terbesar kali ini adalah untuk membuat Salvatore, sang abang, untuk bisa sayang sama sang adik dan tidak cemburu pada sang adik. Di rumah sakit, Salva dengan senang mengelus dan mencium si adik kecil. Di rumah, Salva rewel dan sering mencari mama pagi-pagi buta.



Ada ide, bagaimana supaya anak sulung yang super diperhatikan, dimanja dan kesayangan semua keluarga bisa menerima dengan senang, dan tanpa cemburu bahwa sekarang dia sudah punya adik, dan bahwa ASI mama tidak lagi eksklusif untuk dia?

7.4.08

Konsisten

Menulis blog, adalah kegiatan asik-asik aja. Bisa dilakukan kalau ingat, kalau sempat, kalau ada ide, kalau ada koneksi dan kalau-kalau lainnya. Tidak ada keharusan seperti laporan kegiatan yang harus dibuat per tiga bulan, atau tidak seperti laporan pajak yang harus dibuat setiap tahun. Kalau lama tidak menulis, palingan akan ada yang bilang,"update dong". Wah, kalau ada yang komentar seperti itu musti bersyukur loh. Berarti ada yang baca blog, dan ada yang kangen dengan tulisan di blog itu.

Hanya saja, walaupun aku beri label "asik-asik aja" sayang sekali kalau media ini hanya dipakai untuk tulis menulis urusan gak penting. Tidak salah sih, tetapi kalau bisa lebih dari sekedar itu kenapa tidak?

Sekilas aku membaca tulisan-tulisanku di hari-hari pertama blog ini. Sampai urusan pergi kesana dan kesini pun pasti aku tulis. Cara penulisan sangat mirip dengan cara aku berbicara. Loncat sana, loncat sini. Menyesal? Tidak, dong. Justru aku menikmati setiap proses yang terjadi. Aku merasa blog ini betul betul "aku banget". Tulisan di sini menggambarkan aku yang juga -ternyata- berubah, walaupun ada tetap ada hal-hal yang dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.

Aku sendiri lebih sering menulis ketika emosi sedang kuat. Entah itu senang atau marah. Tidak terlalu tergantung waktu, karena tidak jarang aku semangat menulis di saat deadline pekerjaan. Biasa, mengalihkan perhatian dari kebosanan menyusun laporan. Jumlah tulisan biasanya menurun ketika aku sedang melakukan perjalanan, berpindah dari satu kota ke kota lain. Biasanya, banyak sekali ide menarik untuk ditulis, tetapi tidak pernah berhasil tertulis.

Dan akhirnya ide itu hanya menjadi tulisan angan-angan. Penyebab utama menurutku bukan karena tidak ada waktu dan bukan karena tidak ada koneksi. Penyebab utama ide hanya menjadi tulisan angan-angan adalah rasa malas. Iya, malas untuk mendisiplinkan diri untuk meluangkan waktu dan berlatih menulis. Bukan sekedar tulisan curcol (curhat colongan) asal jadi, tetapi tulisan yang bisa bercerita dengan runtut tentang apa yang ada di pikiranku, dan juga bisa dibaca dengan enak (emang makanan doang yang harus enak?).

Menulis memang mudah tetapi konsisten dalam menulis itu sulit dan lebih sulit lagi untuk tetap konsisten menulis lebih baik! Menurutku kuncinya ada di disiplin, mau terus belajar dan rendah hati menerima kritik yang seringkali bikin mangkel dan pengen nendang orang. Kunci itu ada di dalam diri sendiri, dan bukan ada di orang lain.