29.3.08

Tikus Golden Palu

Perjalanan ke Palu kali ini bukanlah perjalanan pertama. Selama setahun terakhir, aku sudah beberapa kali mengunjungi Palu. Perjalanan boleh sama, tapi tempat tinggal selama di Palu beberapa kali berganti-ganti.

Perjalanan sebelum ini, aku sempat bertemu Ei, teman kursus narasi yang sama sama datang dari Jakarta. Lucu juga. Sementara kawan-kawan kami dari Kursus Narasi Pantau sedang bertemu di Jakarta, kami berdua menghabiskan kaledo dan es kacang merah di Palu. Aku dan Ei menginap di tempat yang berbeda. Aku di sebuah hotel kecil bernama Nisfah yang berada tidak jauh dari kantor-kantor pemerintah, sedangkan Ei di Palu Golden yang terletak di ujung teluk, dekat dengan air laut.

Kali ini, aku diarahkan untuk menginap di Palu Golden. Hotel yang biasa aku tempati tidak punya kamar kosong. Kalau dilihat dari fisik dan harga kamar, Palu Golden ini berada jauh di atas Hotel Nisfah, atau hotel-hotel lain yang pernah aku tempati. Palu Golden juga lebih berumur ketimbang hotel-hotel yang biasa aku tempati. Palu Golden hotel lama, dan suasana "tua" terlihat dari pinggir jalan.

Palu Golden tampaknya sudah melewati masa keemasannya. Golden alias emas itu ada jauh sebelum aku menginap. Ini kesimpulan yang aku dapat waktu aku menginjakan kaki ke dalam hotel, bertemu petugas meja depan dan bertanya untuk sebuah kamar kosong untuk aku. Informasi yang aku dapat hotel sedang penuh dengan berbagai training dan acara KDI, tetapi ada kamar kosong kelas superior di lantai paling bawah yang langsung aku sambar.

Aku sudah melirik harga kamar dan bahkan meminta harga khusus yang tersedia. Potongan 10% diberikan. Tidak terlalu banyak membantu tapi aku setuju saja.

Untuk harga tersebut, aku memperoleh kamar yang cukup luas, dengan perabot yang mengingatkan aku pada film-film tahun delapan puluhan. Kamar dibagi jadi dua ruangan, yang pertama diisi dengan dua kursi dan meja dengan jendela besar memandang tembok di satu sisi, sedangkan kamar kedua terdiri dari dua tempat tidur, tivi dan meja rias.

Perlahan aku buka penutup tempat tidur, dan sepertinya aku harus memilih salah satu dari dua. Tempat tidur yang aku pilih ditutup seprei yang rapi, berbeda dengan kondisi tempat tidur satu lagi dengan sarung bantal yang kusut dan seprei dalam yang sama kusutnya. Hmmmm.

Aku hanya akan menghabiskan dua malam disini. Aku memilih untuk membuat kamar yang lebih luas dari kamar tidurku senyaman mungkin. Kumpulan buku yang aku bawa sangat membantu. Belum lagi barang-barang personal lain yang sudah menunggu keluar dari tas ransel hitamku. Laptop lengkap dengan modem IM2 membuat aku bisa duduk bekerja dengan tenang.

Sayang, ketenangan itu tidak lama ketika aku melihat, seekor tikus berlari bersemangat dari WC ke lemari pakaian!

Tidak ada suara apapun dari mulutku, tetapi aku lemas sekali.

Tikus itu bukan anak tikus, tapi tikus ABG. Tidak sebesar kucing (seperti di Jakarta), tapi sebesar anak kucing. Nah lo! Bayangkan dua kepalan tangan laki-laki dewasa, dan itulah ukuran tikus itu.

Protes segera aku lakukan. Bayangan binatang itu berkeliaran ketika aku tidur membuat aku gusar. Sial, tidak ada kamar kosong, dan hotel lain pun sedang penuh. Aku tinggalkan kamar dan menyerahkan urusan tikus kepada pihak hotel yang setelah satu setengah jam melaporkan bahwa tikus sudah berhasil ditangkap. Aku tidak tanya apa yang dilakukan pihak hotel ke tikus itu. Mereka hanya bilang kalau tikus muncul dari kakus.

Jadi? Apakah aku akan berani mempergunakan kakus di kamar?

Kita lihat ya. Untuk sementara aku menghindari WC dan terutama kakus, fokus saja di meja rias sambil siap-siap mau nonton DVD yang aku bawa dari Jakarta.



24.3.08

Terimakasih Untuk Paskah Ini.

Kalau di dalam kelas, dan guru sedang asik bertanya satu-satu ke setiap murid, bisa dipastikan bunyi lonceng tanda pelajaran sudah selesai itu betul-betul melegakan. Saved by the bell. Teriakan, dalam hati atau tidak, sering dikeluarkan teman-teman sekelas. Untung tu lonceng bunyi juga!

Itu masih terhitung sepele. Aku menonton Entertainment (iya, doyan) yang tengah bercerita tentang pengalaman hampir mati yang dialami selebriti-selebriti. Salah satunya adalah pengalaman lolos dari kejadian 9/11 di Amerika sana karena dia terlambat naik pesawat. Aku tidak begitu ingat keseluruhan cerita, tapi bisa merasakan kelegaannya! Aku membayangkan, kalau saja keterlambatan itu gara-gara menunggu kawan yang super lelet beberes, bisa jadi sepanjang perjalanan dia akan mengomeli kawan itu (aku setidaknya akan begitu). Apalagi waktu tahu dia betul-betul terlambat dan tidak bisa naik pesawat lagi. Ugk, bisa-bisa nyaris putus persahabatan tuh (ehm, berlebihan). Tapi, begitu sadar keterlambatan itu membuat dia tidak ikut menjadi korban 9/11 yang ada hanyalah ucapan terimakasih. Gila aja kalau tidak berterimakasih untuk itu, kan?

Untuk urusan sepele, seperti seorang teman yang mengorbankan kepingan coklat mint terakhir, aku bisa sangat berterimakasih, loh! Bayangkan kalau ada kawan yang mengorbankan nyawa. Edan itu sih. Hari gini, masih musim ya mengorbankan nyawa untuk orang lain? Apalagi kalau orang lain itu jelas salah?

Tapi DIA melakukannya. Untuk aku, untuk kamu, untuk siapa saja yang mau mempercayai itu.

Aneh dan absurd, bahwa ada yang mau mati untuk dosa yang tidak pernah dilakukan. Tidak masuk di akal, kalau DIA yang tanpa dosa harus melalui kematian. DIA memang mati dan sudah bangkit. Dia sudah menang, dan itu juga kemenangan kita.

Itulah cinta yang tidak mengharap apapun. Cinta yang tulus untuk mereka yang dikasihiNYA. Tidak mungkin aku tidak berterimakasih. Ucapan terimakasihku bahkan tidak akan pernah mampu membalas apa yang DIA lakukan di sana, di Golgota. Tapi aku tahu, DIA mengerti.

CintaNYA setia.

Untuk itu, setiap hariku dan napasku adalah bentuk terimakasih.



Selamat Paskah

18.3.08

Sore Impian

Selasa lalu, ketika badan sudah tidak lagi bersahabat, dan hasrat hanya ingin beristirahat.

Menikmati kamar di sore hari.

Ini adalah sebuah kemewahan, buat sebagian besar orang, termasuk aku. Padahal, bisa menikmat sore dengan santai adalah sumber energi untuk melakukan banyak hal. Aku menyukai sore, lengkap dengan sinar matahari yang berwarna kuning, merah dan ungu. Sayang, sore sering berlalu terlalu cepat. Suasana seperti itu berlangsung paling hanya dalam satu atau dua jam, sebelum akhirnya gelap datang.

Selain pagi hari, ini adalah waktu yang paling aku suka dalam sehari. Sore bisa dinikmati di luar ruangan, mau di tengah kota, dari lantai tertinggi di sebuah bangunan, atau sambil berjalan berkeliling kota dan tentu saja di pinggir pantai. Sore juga bisa dinikmati di dalam ruangan, sambil membaca, menghirup secangir minuman hangat lengkap dengan gorengan.

Aku tahu, sekarang ini tepat jam 12 siang di hari kerja. Sore hari di dalam kantor adalah waktu untuk bergegas menyelesaikan banyak hal yang ada dalam daftar pekerjaan. Satu kesamaan, sore selalu berjalan terlalu cepat.

Ah, aku ingin menikmati lebih banyak sore.

12.3.08

Pertunjukan Profesional

Sebuah kegiatan yang bisa berlangsung sampai 4 kali, sudah bisa menjadi bukti kegigihan, kerja keras dan profesionalitas pembuat kegiatan. Java Jazz Festival, pertama kali aku ikuti di tahun 2005. Setiap tahun, selalu lebih baik, walaupun tidak pernah sepi kritik.

Biar gampang, aku kasih maksud profesional yang aku pakai disini. Lagi-lagi berbahasa Inggris:
pro·fes·sion·al
adj.
1. a. Of, relating to, engaged in, or suitable for a profession: lawyers, doctors, and other professional people.
b. Conforming to the standards of a profession: professional behavior.
2. Engaging in a given activity as a source of livelihood or as a career: a professional writer.
3. Performed by persons receiving pay: professional football.
4. Having or showing great skill; expert: a professional repair job.

n.
1. A person following a profession, especially a learned profession.
2. One who earns a living in a given or implied occupation: hired a professional to decorate the house.
3. A skilled practitioner; an expert.
Dalam pengertian itulah, aku melihat para profesional bekerja di belakang dan depan layar Java Jazz Festival (JJF) 2008.

Bayangkan saja harus mengurus 18 panggung yang diisi oleh artis dalam dan luar negeri. Sebagai orang yang kerap berada di belakang layar untuk pertunjukan kecil, aku bisa membayangkan pekerjaan besar di balik semua ini. Tidak mudah, tapi toh bisa dilakukan.

JJF kerap memperkenalkan aku pada musisi yang tidak begitu aku kenal. Lebih tepat lagi, JJF sudah beberapa kali membuat aku menemukan cinta baru. Maliq adalah salah satu hasil JJF. Pertama kali aku lihat mereka tampil di Ruang Cendrawasih beberapa tahun lalu.

Kali ini, cinta baru aku adalah Omar Sosa. Sewaktu dia menampilkan Afrika, aku terbawa oleh emosi yang diberikan Omar Sosa. Sayang, nama tiga orang lain sulit sekali dilafalkan dan majalah Music yang jadi panduan tidak aku pegang (disitu ada nama-nama mereka). Omar, senantiasa tersenyum sambil bermain piano, sesekali melempar tawa ke teman-temannya. Energi mereka, betul-betul dahsyat. Musik yang keluar membuat pikiran aku berkelana ke rumah- home, dengan berbagai suara alam, keriangan dan juga kerinduan yang dalam. Ini yang membuat aku memilih menonton Omar dua kali, ketimbang melihat musisi lain.

Omar tampil dua kali, sebagaimana Bobby Caldwel, Manhattan Transfer, Renee Olstead, Duo Gabriel Grossi e Daniel Santiago, dan Incognito. Grup terakhir sebetulnya dijadwalkan tampil sekali, tetapi kemudian mereka menggantikan Matt Bianco yang mendadak menghilang. Aku tahu, ada pengunjung yang protes karena muka lama yang tampil kembali, atau pemain yang tampil dua kali di tahun yang sama. Aku malah senang. Sekilas menunjukkan jumlah musisi yang sedikit, tapi membuat penggemar puas. Dua kali nonton, dan tidak pernah bosan.

Incognito, Earth Wind and Fire Experience, Glenn Fredly, Bubi Chen, Ireng Maulana, Tetsuo Sakurai adalah sebagian nama yang aku lihat kembali tahun ini. Tetap selalu segar buat aku, sih! Aku bisa sedih, tertawa, senang, tersenyum dan bergoyang dengan penampilan mereka.

Kesegaran ini tidak bergantung dengan umur. Beberapa pemain senior bahkan bisa tampil sama energik. Salah satu musisi senior yang tampil adalah pemain piano Franco D'Andrea yang "jazz banget". Bermain sangat santun, murah senyum, lengkap dengan sepatu kanvas. Sudah berumur, tapi gerakan tangannya lincah sekali. Sekilas, kata Dita, mengingatkan pada musik latar Tom and Jerry. Aku merasa dibawa kesana kesini aja oleh permainannya. Penampilan dia membuat aku meminta foto bersama dan membuahkan tiket untuk melihat kembali Franco D'Andrea di Kedutaan Itali hari Senin yang lalu.

Tampaknya JJF memang banyak kerjasama dengan kedutaan asing. Kedutaan Itali membawa Franco D'Andrea dan The High Five Kuintet. Gabriel Grossi yang membuat aku melihat permainan harmonika bisa begitu dahsyat - walaupun dimainkan dengan sangat santai - datang dengan kerjasama JJF dan Kedutaan Brazil. Michiel Borstlap `Eldorado`yang pertunjukannya nyaris sepi pengunjung yang lebih memilih nonton Incognito adalah hasil kerjasama dengan Kedutaan Belanda. Ini, hanya sedikit contoh dari upaya yang dilakukan oleh JJF untuk membawa artis dari berbagai budaya untuk datang.

Rasanya, tidak akan habis cerita yang bisa ditulis tentang penampilan tiap-tiap musisi di JJF 2008.



Puncak pertunjukan bagi aku jelas James Ingram, The Manhattan Transfer dan Babyface.

James Ingram yang romantis. Nama besar yang sangat terasa di atas panggung. Ekspresif. Menyayat hati. Kalau tidak salah, dia pernah tampil di Indonesia dengan harga tiket yang juta-an. Betapa beruntungnya aku, bisa dapat dengan harga miring di JJF 2008. Siapa yang tidak kenal lagu-lagunya?

The Manhattan Transfer itu adalah mimpi yang terpendam. Kelompok yang menjadi panutan aku. Masa ABG aku dilalui bersama kelompok yang satu ini. Konon, mereka masih berlatih setiap hari. Vokal mereka adalah kekuatan mereka. Duh, kalau bisa membawakan lagu-lagu mereka itu pasti puas banget. Susah soalnya.

Babyface jelas penutup yang sempurna. Sepanjang pertunjukan dihabiskan dengan bernyanyi dan berteriak. Dia itu ternyata garing banget. Seorang pencerita yang bisa ngobrol dengan pengunjung, tentang masa kecil, kecintaan terhadap musik dan hal-hal yang menarik bagi dirinya. Dia tidak membawakan lagu dari album sendiri, tetapi lebih banyak lagu-lagu ciptaan dia yang dibawakan penyanyi lain. Dia memang pembuat hit, tidak heran pengunjung satu plenary hall hapal bener sama lagu-lagu dia. Pernah liat Babyface menirukan Michael Jacksong bilang "thank you"? Itu salah satu yang dilihat di JJF 2008. Aku yakin, semua sudah dipersiapkan dengan matang oleh Kenny Babyface Edmund, bukan sesuatu yang tiba-tiba kepikiran untuk dikatakan di atas panggung. Profesional.

Menyenangkan memang melihat hasil kerja keras yang dilakukan dengan hati. Aku menikmatinya kerja profesional mereka.

Disayangkan adalah kamera-kamera (semi) profesional yang banyak beredar di ruangan. Tidak sedikit dibawa oleh remaja tanggung yang barangkali masih SMA atau baru kuliah. Lengkap dengan lensa super panjang, tapi tanpa attitude. Blitz dimana-mana. Bukannya melihat penampilan si artis, malah sibuk membahas hasil jepretan dengan teman se-gank yang sama-sama bawa kamera. Ada rasa sirik, secara itu semua harganya tidak murah, bercampur kesal karena acara nonton agak terganggu dengan mereka yang nekad mencari spot terbaik untuk memotret, kadang tanpa memikirkan penonton lain. Ehm, jangan salah, ini bukan hanya dominasi ABG ya, ada kok non-ABG yang sama-sama payah kelakuannya. Pembawa kamera profesional yang sangat tidak profesional.

Jadi berpikir, mungkin sudah saatnya jadi pengunjung juga profesional. Tahu dan mengerti etika. Apalagi untuk festival besar yang jumlah pengunjungnya membuat susah sekali berjalan dari satu temapt ke tempat lain. Untuk aku, dimulai dengan kembali menabung untuk JJF 2009, dengar-dengar Al Jarreau, Jamiroquai dan Michael Buble ada di wish list.




10.3.08

Terpuaskan!

Terlalu banyak cerita, terlalu sedikit waktu. Janji belum bisa ditepati, untuk bagi-bagi cerita JJF 2008.
Satu hal, aku terpuaskan. Betul-betul menyenangkan akhir pekan kemarin itu, walaupun badan remuk redam dan ngantuk sekali hari ini.

Sebagian foto sudah ada di pojok foto. Mampir saja. Lebih banyak foto akan segera menyusul!

8.3.08

Jumat Romantis

Kali ini untuk ke empat kali aku datang ke Java Jazz Festival. Aku sudah bisa menikmati pesta ini dengan jauh lebih santai (sampai dihafal sama yang mengurus tiket tuh!).

Lupakan orang yang berjejal (padahal di luar sana, Jakarta sepi sekali!). Lupakan orang-orang yang merokok di dalam ruangan (ruangan bebas rokok hanya bertahan beberapa jam saja). Juga lupakan jadwal yang berantakan dan serba tidak pasti. Lupakan bahwa Matt Bianco tidak jadi tampil.

Nikmati Duo Grabriel Grossi dan Daniel Santiago yang jauh-jauh datang dari Brazil, memainkan gitar dan harmonika dengan santai. Bergoyang bersama Syaharani & The Queenfireworks. Terbawa alunan musik Jeff Lorber Band bersama Eric Darius. Terpesona oleh kecantikan wajah dan suara Sara Gazarek. Bernostalgia dengan Incognito dan James Ingram. Diakhiri dengan bernyanyi bersama Glenn Fredly dan Earth Wind & Fire Experience (untuk yang kesekian kali).

Satu kata untuk hari ini. Romantis.

Upload foto 1GB itu butuh waktu, komputer yang bersahabat (nge-hang terus, nih) dan koneksi internet yang oke. Sabar ya. Aku masih ingin menikmati hari ini dan besok.


6.3.08

Siapkan Tiket Untuk Pesta

Libur akhir pekan yang panjang kali ini tidak akan aku habiskan dengan menikmati Bandung sebagaimana yang selalu aku lakukan. Maklum, ada yang berhasil memikat hati dan mengikat kaki untuk tetap di Jakarta!


Sampai bertemu di JCC, mau ikut?

Obsesi

Si jaket biru, adalah salah satu orang yang menurut aku punya hasrat, passion, untuk pekerjaannya (belum pernah tahu, mampir deh kesana). Itu bisa mengingatkan aku bahwa hasrat terhadap apa yang kita lakukan itu penting. Aku sih tidak bisa membayangkan aku bekerja tanpa hati. Itu sangat sulit. Semua akan terasa berat.

Hasrat adalah sesuatu yang positif. Tapi kalau punya hasrat berlebih yang didorong emosi dan tidak terkontrol menurutku itu namanya terobsesi, dan obsesi itu punya konotasi yang negatif.

Berhubung tidak pegang kamus bahasa Indonesia, aku akan pakai definisi Bahasa Inggris saja. Dari sekian banyak arti, aku ambil dua diantaranya:
obsessed, adjective
1. having or showing excessive or compulsive concern with something; "became more and more haunted by the stupid riddle"; "was absolutely obsessed with the girl"; "got no help from his wife who was preoccupied with the children"; "he was taken up in worry for the old woman" [syn: haunted]
2. influenced or controlled by a powerful force such as a strong emotion; "by love possessed"

Obsesi itu dekat dengan berlebihan dan emosi. Lebih tepat lagi, emosi yang berlebihan dan seringkali mengalahkan akal sehat seorang manusia. Kalau sudah terobsesi, pikiran hanya dipenuhi oleh satu hal yang membuat kita terobsesi kan?

Obsesi itu kuat sekali. Seperti virus mematikan yang sangat menular. Efek buruknya bisa dirasakan bukan saja oleh yang terobsesi tetapi juga orang-orang yang secara langsung atau tidak langsung kena obsesi tersebut. Coba deh, obsesi untuk punya badan kurus yang sudah tidak masuk diakal pasti akan mempengaruhi teman-teman sekitar loh. Maklum, kalau sudah terobsesi pasti ada tindakan yang tidak masuk di akal. Entah itu memilih puasa seumur hidup (bisa ya?) dan termasuk memaksa teman-teman untuk ikut pola makan, sampai melakukan berbagai program pelangsingan yang bisa menguras isi dompet dan rekening bank! Kalau belum terobsesi, aku yakin, keinginan kurus itu akan dilakukan dengan lebih sehat dan tidak membuat sekitar kita gerah dan kesal.

Kalau sudah terobsesi, harus ada yang menampar sebagai obat mujarab. Pasti sulit. Maklum sudah terobsesi sih. Musti dimulai dari kesadaran diri, bahwa ada yang salah dan harus diperbaiki.

Tetapi kalau terkena dampak obsesi, itu beda lagi.

Apalagi kalau virus obsesi itu mulai menjalar kemana-mana. Belum sampai menginfeksi , tapi membuat ruang gerak sangat tidak nyaman, dan lama-lama bisa betul-betul menginfeksi banyak orang.

Jadi, aku memutuskan untuk mengambil masker, menutup hidung untuk sementara sampai udara segar bisa dihirup. Harapanku, virus obsesi itu tidak perlu aku hisap dan menjalari aku juga.

Karena itu, cukuplah. Kalau ada orang yang begitu terobsesi dan sepertinya tidak ingin bego sendirian dan berusaha membuat orang lain terkena penyakit itu dengan cara apapun, pergi jauh-jauh deh ya. Silahkan nikmati sendiri obsesi iti. Tapi ingat, virus itu akan terus merongrong dan menggerogoti hal-hal baik (jika masih ada).

Atau... mau dipaksa minum pil pahit biar sembuh dan tidak menularkan penyakit?