29.2.08

Kehidupan Kantor

Aku, nyaris tidak memiliki kehidupan kantor. Maklum, perjalanan cari duit lebih banyak dilakukan dengan cara berkantor di rumah. Kalaupun punya kantor, sifatnya sementara saja. Super pendek. Paling lama sekitar 2 atau 3 bulan. Itupun tidak selalu setiap hari berkantor. Meja kerja pun lebih sering meja rapat atau meja staff yang sedang tidak ada di tempat.

Tidak heran, aku jarang mengenal yang namanya kebiasaan berkantor. Jalan-jalan, makan bareng, berlibur, atau sekedar bertukar gosip hampir tidak pernah aku lakukan. Pertemanan sih jalan, tapi biasanya terbatas pada kebutuhan pekerjaan. Kalaupun ada satu dua yang cukup dekat, ya hanya satu atau dua orang itu.

Setelah setahun berkantor, aku jadi mulai bersinggungan dengan kehidupan itu. Tapi tokh, aku semakin sadar, aku tetap tidak pernah menjalani kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan bersama orang-orang kantor. Makan siang bareng bisa dihitung pakai jari tangan, cukup satu tangan pula! Apalagi untuk jalan-jalan setelah berkantor. Bergosip juga tidak aku lakukan. Biasanya aku tahu kalau ada yang berbaik hati untuk memberi tahu.

Satu hal yang sering aku lihat tapi tidak pernah aku alami adalah ngomongin boss. Memang paling nikmat, kata orang-orang! Aku sering bertemu beberapa teman, dan salah satu obrolan paling seru mereka bersama teman sekantor adalah boss atau teman sekerja. Bagian ini juga tidak ada dalam agenda hidup berkantor aku.

Tantangan untuk berkantor rutin bukan saja membunuh rasa bosan terhadap rutinitas. Urusan ini, termasuk bagian paling sering aku ceritakan disini. Salah satu tantangan yang baru-baru ini semakin aku rasakan adalah untuk nyaman di kantor dan juga menganggap teman kantor adalah teman, tanpa harus embel-embel kantor yang bisa diajak hahahihi dan senang-senang seperti dengan teman-teman lain.

Tetap saja susah.
Barangkali karena berbeda aliran permainan dan pergosipan?

Minggu lalu, aku berkesempatan untuk mencicipi kehidupan kantor dari bagian yang lain (maklum, "teman kantornya" bisa melebar kemana-mana sih). Mulai dari mikir bareng, makan bareng, maen bareng, sampai karaoke bareng dijabanin. Menyenangkan sekali. Unsur gosip, bisalah dimasukan. Aku menikmati kegiatan itu. Sangat. Seperti sedang berlibur rasanya.

Dunia yang lain, dunia yang berbeda, dunia baru buat aku.

Aku sendiri belum tahu, berapa lama aku bertahan dengan gaya kantoran seperti ini dan apakah aku bisa suatu saat nanti berkata,"iya nih lagi ngopi-ngopi sama anak-anak kantor". Tsah. Gaya!

Asal itu tidak dilakukan 4 tahun sekali, emang tanggal 29 Februari musti di tahun kabisat baru kejadian.




Sudah, lupakan urusan kantor dan mari ber-happy hour!!!!

20.2.08

Berbagi Energi

Berada di kelas narasi, selalu membuat aku bersemangat. Sebetulnya aku sudah lupa bagaimana rasanya, sampai kemarin itu! Setelah pulang dari daerah Kebayoran Lama itu, aku begitu bersemangat.

Dua jam bersama Samuel Mulia dan juga teman-teman dari kelas narasi II. Kami mendengar, saling bertanya dan saling menanggapi. Buat aku, pertemuan semalam lebih dari sekedar mendengarkan Samuel Mulia. Kelas itu seakan-akan jadi "charger" buat aku.

Aku kembali bertemu teman-teman lama dari kelas narasi II. Well, sebetulnya kami masih sering bertemu satu sama lain. Minggu lalu pun aku baru saja bertemu dengan sebagian dari mereka. Hanya saja, ada sensasi yang berbeda dalam pertemuan di daerah Kebayoran Lama itu. Saat itu, kami semua punya hasrat yang sama. Kami ingin bisa menulis lebih baik. Kami punya kehausan yang mirip.

Barangkali itu, atau hal lain yang membuat ada banyak energi malam itu. Saling berbagi energi yang justru malah membuat aku merasa mendapat energi lebih. Aku bisa mengesampingkan hal-hal negatif yang beberapa hari terakhir terus menerus membayangiku.

Sewaktu Samuel bertanya pada Ei kenapa kami mau meluangkan waktu dua jam seminggu setelah bekerja, malam-malam, untuk datang kursus. Kok ya mau-maunya dan tahan ya? Aku pikir jawabannya memang ada pada energi yang ada pada tiap pertemuan. Bukan menguras energi, justru menambah energi untuk dapat melakukan banyak hal.

Malam yang menyenangkan.


Terimakasih algooth, ambri, buyung, ei, hagi, herni, mai, mba mona, nenden. Sayang sekali Jon tidak bisa bergabung, dan Coy berada di pulau seberang sedangkan Mba Kiki sibuk dengan para selebriti kondang. Untung Pantau masih memberi kesempatan buat kami untuk ikut kelas-kelas yang mereka adakan.



ps: kok jadi kayak ucapan terimakasih buat penerimaan semacam award gitu ya *ngakak*.

19.2.08

Terapi Belanja

Aku menyerah.

Aku memutuskan mengambil terapi yang selama ini lebih banyak aku ragukan. Memang, penganut terapi ini cukup banyak, tetapi selama ini aku merasa terapi itu malah membuat aku tambah sakit kepala. Pusing dan uring-uringan adalah akibat dari terapi andalan itu.

Tapi tidak untuk hari ini. Terapi itu manjur.

Tadi siang, kepalaku sudah terlalu pusing. Sejak pagi, relatif tidak ada sesuatu yang produktif yang berhasil aku lakukan (kecuali kalau menyelesaikan beberapa kuis di facebook dapat dikategorikan kegiatan produktif ya). Kerjaan sih jelas ada. Tapi, kemampuan untuk berkonsentrasi sedang berada pada titik terendah. Aku malah berakhir dengan memelototi layar monitor tanpa ada hasil apapun, kecuali kepala yang bertambah nyut-nyut.

Mau gila rasanya.

Jadi, aku memutuskan melakukan sesuatu. Harus dong! Apalagi dengan situasi hati yang sama gak keruannya. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat buku dan stationary lucu-lucu. Aku memutuskan untuk melakukan kegiatan itu. Aku pergi berbelanja. Aku mengambil terapi belanja!

Dua toko buku favorit jadi tujuan. Menghabiskan waktu kurang lebih sejam disana. Putar-putar dengan tenang. Melihat-lihat buku-buku baru. Menikmati barang-barang lucu yang ada disana. Membaca-baca sebentar. Termasuk membandingkan harga di dua toko itu untuk barang-barang yang sama. Hasil terapi adalah setumpukan buku dan tabungan yang semakin berkurang dalam jumlah yang signifikan.

Lega.

Tinggal cari waktu untuk membaca, nih :)


15.2.08

14.2.08

Selalu menyenangkan menghabiskan waktu bersama-sama orang-orang yang kita sayangi.
Selalu menyenangkan bisa berbagi tawa dan tangis bersama mereka yang mengasihi kita.
Selalu menyenangkan untuk bisa punya orang seperti itu di sekitar kita.

Orang datang dan pergi, tapi tempat mereka selalu aku simpan. Tidak akan bikin sesak, karena selalu ada tempat di hati aku untuk kamu. Hati adalah ruang yang sangat lentur dan bisa selalu memuat orang-orang terkasih.


Dan, hati DIA yang memberi aku dan kamu nafas pada hari ini jauh lebih besar lagi, dan tentunya ada lebih banyak tempat lagi menunggu.

Selamat menikmati kasihNya hari ini.



11.2.08

Hapus!

Bermain ke silverlines, aku sedih. Dia tidak lagi menulis. Di situ hanya ada satu posting. Sisanya? Entahlah. Besar dugaanku semua sudah dihapus.

Sedih sekali. Sedih seperti anak kecil yang tiba-tiba kehilangan teman bermain yang menyenangkan. Iya, tulisan silverlines itu menyenangkan! Aku tidak akan bilang bahwa tulisan dia penuh inspirasi. Aku tidak akan memuja bahwa tulisan dia membuat aku lebih pintar atau semacamnya. Tidak. Tulisan dia sering menjadi penyemangat di pagi hari, selingan menyenangkan di tengah tumpukan pekerjaan, ditunggu-tunggu di sore hari. Terkadang membuat aku senyum, tertawa dan menyerengitkan muka dan pernah juga menangis. Aku menyukai setiap kata yang dipilihnya. Tulisan itu jelas menunjukkan kecintaan silverlines terhadap kata dan bahasa (agak sok tahu, I know, kecuali diprotes, aku tidak akan meralat dugaanku ini).

Atas keputusannya tentang seluruh tulisan yang menghilang, aku tidak ingin memborbardir dengan pertanyaan "kenapa".

Aku pikir setiap orang akan punya alasan atau tidak punya alasan untuk menghapus tulisan di blog sendiri. Terserah.

Aku sendiri pernah menghapus dua tulisan di pojok sebelah. When will you go back to Banda Aceh adalah salah satunya. Ada tiga tulisan yang aku buat dengan rasa marah yang sangat. Tiga tulisan yang terkait dengan seseorang yang pernah dan masih aku sayang. Tiga tulisan penuh emosi itu kemudian aku hapus.Aku punya alasan kenapa aku menghapus tulisan tersebut. Tulisan itu penuh praduga yang terbukti salah. Tulisan penuh emosi itu dipicu antara lain oleh komunikasi yang buruk. Tulisan itu, memang harus ditarik karena memuat terlalu banyak hal yang tidak benar.

Dibutuhkan seminggu penuh telepon yang intens, kerendahan hati, maaf dan rasa sayang membuat segala kesalahpahaman bisa diselesaikan dengan segera. Aku memutuskan untuk mengganti isi tulisan tersebut, tetapi tidak menghapus judul tulisan. Biarlah itu menjadi tanda pengingat bagiku, untuk berpikir sebelum bertindak.

Aku tahu, menghapus posting merupakan hal yang biasa dan memang bisa dilakukan oleh siapapun, dan dengan alasan apapun. Aku menghapus tulisan yang tidak benar yang aku tulis karena emosi. Aku sudah meminta maaf dan mengakui kesalahanku (sebetulnya kami saling minta maaf). Aku semakin sadar bahwa kata-kata punya kekuatan yang luar biasa, termasuk kekuatan untuk menyakiti perasaan.

Mudah-mudahan posting itu tidak pernah dibaca oleh orang lain, dan terutama tidak dibaca melalui bloglines, misalnya. Maklum, kalau dibaca lewat bloglines, dan diberi tanda tertentu posting itu akan selalu bisa diintip. Apalagi kalau ada yang cukup cerdas melakukan print screen dan menyimpan bukti itu, yaitu tulisan asli yang penuh emosi salah sasaran. Aku tidak bisa ngeles, deh.

Posting boleh dihapus, tapi sejarah tidak.

Jadi, apa kamu pernah menghapus posting?



ps: untuk kalian di luar sana yang terpaksa menghapus tulisan atau blog karena ancaman berbahaya *bukan laten* aku menghaturkan simpati sebesar-besarnya. kata-kata memang punya kekuatan besar, termasuk kekuatan menciptakan obsesi berlebihan dan kebodohan tiada tara bagi pembaca yang tidak cukup cerdas dan tanpa hati.

10.2.08

Tas Bawaan

Tidak sampai dua bulan, aku sudah harus kembali melakukan perjalanan. Ternyata, lama tidak bepergian membuat kemampuan beberes aku menurun. Aku akhirnya butuh 1 jam packing, dan itu tidak termasuk waktu melamun memikirkan apa-apa saja yang harus aku bawa, dan bahkan tidak termasuk waktu yang dibutuhkan untuk membeli satu tas hanya beberapa saat sebelum berangkat.

Salahkan tumpukan kertas menjulang yang ternyata harus dibawa. Salahkan gulungan kabel demi kabel yang merupakan napas untuk berbagai barang elektronik yang harus aku bawa. Kali ini, buku bacaan harus dipilih matang, karena tas sudah penuh!

Rasanya, aku tiba-tiba tidak punya tas yang tepat untuk bepergian selama 3 hari. Tas punggung hitam yang biasa aku bawa mulai terasa sesak. Gara-gara itu, aku ngotot untuk cari tas sebesar bego untuk menampung dokumen-dokumen pekerjaan. Sudah bisa aku bayangkan tas itu harus berbentuk kotak, besar, kokoh, dan ada resluiting-nya. Berhubung hanya ada sekitar 20 menit, aku cukup puas dengan temuan sementara. Ini berarti ada alasan untuk belanja tas!

Ehm, rasanya untuk berbelanja tas dan sepatu, selalu ada alasan bukan?

Iya, aku selalu ngiler melihat tas. Besar, kecil. Resmi atau yang lucu-lucu. Ada banyak macam tas yang bisa dipilih, walaupun pemakaian lebih sering jatuh ke tas pilihan.

Inilah salah satu barang yang ingin aku miliki. Kalau ada waktu luang, yuk mari berbelanja tas, anting-anting lucu-lucu, gelang silver besar-besar yang cantik itu, agenda-agenda dengan halaman yang tidak bergaris, jam meja unik, kaca mata gaya, kotak-kotak penyimpan barang, kamera lomo atau d40 *nabung dulu*, dan aduh terlalu banyak barang-barang yang bikin aku nagih belanja belanji.

Ntar deh, pergi dulu ya. Nanti kalau sudah kembali, serbu toko-toko itu ya.

1.2.08

Boss Bicara Banjir

"Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengingatkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Kepala Suku Dinas PU memanggil para kontraktor yang mengerjakan pemasangan drainase di Jakarta beberapa waktu lalu. Fauzi menilai, pekerjaan kontaktor tersebut buruk sehingga menyebabkan Jakarta tergenang."
Fauzi Bowo Salahkan Kontraktor di portal Kompas siang ini.

"Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan cuaca buruk ini akibat climate change atau perubahan iklim, menurutnya kondisi di Jakarta masih lumayan dibanding China yang terkena badai salju"



Bisa dilihat dengan superjelas kan?