2.1.08

Pertama di 2008

Waktu aku masih di sekolah dasar, salah satu momen paling menyenangkan adalah saat kembali lagi ke kelas setelah libur panjang, libur kenaikan kelas. Biasanya kelas dimulai sekitar bulan Juli akhir atau Agustus. Seragam baru, buku tulis baru, dan buku pelajaran baru, adalah sedikit barang baru yang aku tunggu-tunggu. Kertas-kertas buku baru itu begitu harum. Halaman buku masih rapi. Terbayang teman-teman sekelas baru, walaupun semua sudah dikenal karena sekolahku kecil saja, satu kelas hanya ada sekitar 20 orang dan terdiri dari dua unit, kelas A dan B yang biasanya dirubah susunannya setiap kenaikan kelas.

Memulai sesuatu yang baru, sering membuat aku bersemangat!

Hanya saja, memulai tahun yang baru tidak pernah membuat aku terlalu bersemangat. Setidaknya tidak seperti memulai kelas baru di jaman SD yang sudah - ehm - terlalu lama deh buat dihitung jumlah tahunnya. Hari pertama di tahun yang baru memang terasa berbeda, tapi tidak begitu berbeda sehingga aku tidak sabar memulai hari itu. Ritual yang biasa dilakukan adalah kumpul keluarga, berdoa bersama, pergi ke gereja, menerima tamu dan keluarga. Itu saja.

Sebagai perempuan yang besar di keluarga Batak, tahun baru memang menjadi momen wajib kumpul. Tidak bisa tidak, semua harus ada di rumah. Bukan hanya kakak beradik, para sepupu pun menyambangi rumah kami. Ayahku anak tertua, dan ibuku biarpun anak bungsu adalah yang paling dituakan diantara para sepupuku di Bandung. Tahun baru adalah saat dimana kami sekeluarga harus kerja keras untuk membereskan rumah, mempersiapkan makan siang bersama, dan menjadi tuan rumah yang baik. Ini sih tidak seberapa, yang paling sulit adalah harus mampu terjaga untuk berdoa tengah malam bersama seluruh keluarga.

Hari ini, agak berbeda.

Hari ini, tanggal 2 Januari 2008. Sejak tengah malam, hujan terus-terusan turun. Membuat -biasanya- tempat tidur jauh lebih menarik ketimbang dunia di luar sana. Heran, aku malah bersemangat untuk bekerja. Kejutan besar! Ini sudah terjadi dari dua hari yang lalu, pada hari terakhir 2007. Tanggal 31 Desember 2007, aku sudah begitu tidak sabar untuk memulai tahun yang baru. Mirip dengan ketidaksabaran ketika aku harus memulai kelas yang baru, sewaktu masih pakai baju merah putih. Ini jelas bukan bagian dari ritual menghadapi tahun baru yang biasa aku hadapi.

Aku tidak sabar menunggu hari bekerja. Aku membayangkan pekerjaan baru yang menunggu (padahal sebetulnya, aku masih disibukan pekerjaan lama yang belum selesai dengan sempurna). Masih di kantor lama, sih. Tempat kerja yang dengan segala naik turunnya berhasil membuat aku kerasan meski aku harus melakukan rutinitas kantor selama hampir satu tahun lamanya. Rasanya, kali ini aku lebih siap untuk masuk pagi pulang sore dan melakukan perjalanan bermacet-macet setiap harinya untuk bisa tiba ke kantor. Lewat sudah masa-masa sakit kepala harus terus-menerus melakukan hal yang sama lebih dari tiga bulan.

Aku tidak sabar menunggu waktu-waktu minum kopi bersama para sahabat. Banyak diantara mereka baru saja aku 'temukan' di tahun 2007. Mereka adalah salah satu hadiah terbaik yang diberikan 2007 kepadaku. Aku tidak yakin bisa menjabani hari-hari di kota ini dengan sebahagia ini tanpa mereka di sekelilingku. Lewat dunia nyata maupun dunia maya. Dari dunia tulis menulis, blog, sampai facebook!

Aku tidak sabar menata kembali kamarku. Sebuah ruang kecil dengan banyak matahari, di sudut rumah milik adikku dan keluarga. Lama tidak diurusi karena lebih banyak ditinggal pulang ke Bandung pada tiap akhir pekan. Rasanya, ini waktu yang tepat untuk memberi perhatian lebih pada kamar yang menemani aku 5 hari dalam setiap minggunya.

PhotobucketYa, aku lebih siap memasuki tahun ini. Dengan berbagai agenda di tangan, sebuah hadiah dari dia dan dari diriku sendiri, aku akan kembali menjadi schedulaholic yang sempat kutinggalkan.

Aku serasa kembali ke masa lalu, ketika sekolah baru dimulai. Padahal, aku ada di sini, dengan pekerjaan menanti di depan. Tahun 2007 dan tahun-tahun di belakang adalah kaca spionku yang perlu dilihat dari waktu ke waktu, tetapi konsentrasi dan fokus aku ada di kaca depan, yang membuat aku melihat hari-hari yang harus aku hadapi.



Selamat Tahun Baru 2008