28.1.08

Ini adalah kisah sebuah dunia bermain anak-anak...

Alkisah, sekelompok anak-anak memutuskan bahwa mereka akan selalu bermain bersama. Sesuatu yang wajar, karena mereka berada di sekolah yang sama, tinggal di lingkungan yang sama, orang tua mereka pun bekerja di tempat yang sama, dan mereka semua lahir pada tahun yang sama. Kesamaan ini membuat mereka memutuskan untuk senantiasa bermain sebagai satu kelompok.

Ada tempat bermain sederhana tapi cukup luas untuk menampung berbagai aktivitas mereka. Itu mereka anggap lebih dari cukup.

Setiap hari, mereka memutuskan jenis permainan hari itu. Secara bersama-sama. Hari demi hari, secara pelan tapi pasti, muncul anak-anak yang lebih memimpin, sebagaimana ada anak-anak yang lebih memilih untuk mengikuti saja keputusan apapun yang dibuat. Tidak ada masalah, anak-anak yang lebih menonjol tersebut membuat keputusan untuk semua.

Satu hari, untuk pertama kali, ada perbedaan keinginan. Dua orang menerima permainan baru dari orang tua masing-masing. Dua orang ingin kelompok tersebut memainkan permainan baru tersebut. Dua permainan yang berbeda.

Kelompok itu, bisa saja dibagi dua, dan masing-masing anak memilih bermain sesuai dengan keinginan mereka. Tetapi, alas, mereka tidak melakukan itu, karena mereka sudah sepakat untuk selalu bermain bersama-sama. Atas nama kebersamaan itu, mereka harus memutuskan satu jenis permainan. Mereka pikir, tokh permainan satu lagi bisa dilakukan setelah ini. Dua-duanya menarik, apa salahnya mencoba salah satu terlebih dahulu.

Sayang sekali, keputusan itu menimbulkan kekesalan pada salah satu anak. Permainan baru yang dia miliki tidak menjadi pilihan. Marah mulai menguasai hatinya. Diam-diam dia berpikir, suatu saat nanti, seluruh temannya akan bermain dengan mainan dia, dan meninggalkan mainan baru yang sekarang terpilih untuk dimainkan.

Si anak sakit hati mulai bercerita tentang keburukan mainan baru tersebut. Dia bilang, mainan itu dibuat dari cat palsu, dan bisa membuat celaka. Dia tambahkan mainan itu sudah dilarang, dan karena itu orang tuanya membelikan mainan lain. Pelan tapi pasti dia sebarkan cerita itu. Dia memastikan, semua anak tahu tentang itu.

Sial, berita yang dia sebar tidak selalu diterima dengan baik. Ada ada saja anak yang tidak percaya. Anak-anak yang tahu tentang permainan baru yang ternyata aman dari orang tua mereka.


***

Oh, betapa dia hanya rindu teman-temannya memilih mainannya. Dia hanya ingin hanya dia yang didengarkan dan dituruti.

***

Dia tidak menginginkan kelompok itu hancur. Dia ingin semua tetap satu kelompok karena dengan demikian ada lebih banyak orang yang bersamanya. Dia harus memastikan itu. Anak-anak yang tahu terlalu banyak adalah anak-anak yang tidak percaya padanya. Anak-anak seperti itu lebih baik keluar dari tempat bermain itu. Sejauh mungkin. Selama-lamanya.

Apapun dia lakukan. Dia bukan anak-anak biasa, dia tahu dia punya orang tua yang punya posisi. Cukup kuat dan bisa memastikan orang tua mereka yang tidak dia sukai dipecat.

Ya, dia bukan anak-anak biasa. Kemarahan dan ambisinya membuat dia memiliki pikiran-pikiran yang tidak mungkin ada di benak kawan sebayanya. "Teman-teman tidak tahu kecerdikanku,"demikian pikir si anak yang emosi itu.

***

Itu semua masa lalu, saat ini kelompok bermain itu telah bersih dari anak-anak yang tidak memilih permainannya. Dia bukanlah lagi anak yang penuh emosi, dia malah sudah terlalu bosan bermain dengan mainan tersebut.

Sebentar lagi, dia harus pergi. Kali ini giliran orangtuanya yang dipecat. Entah karena apa. Konon, karena perusahaan tempat orang tuanya bekerja mengetahu kabar bahwa orang tuanya telah memecat pegawai-pegawai terbaik mereka dan menyebabkan kerugian luar biasa di perusahaan tersebut. Posisi orang tuanya akan digantikan oleh orang lama, si pegawai terbaik yang sempat dipecat.

Saatnya pergi.

Seluruh kawan bermainnya mengucapkan selamat tinggal, beberapa memberikan hadiah kenang-kenangan. Di kejauhan, dia melihat anak pemilik mainan yang pertama kali dipilih kelompok bermain itu. Ah, kenangan lama.

Dia tersenyum,"dan tidak pernah ada yang tahu bagaimana aku begitu cerdik dan karena itu bisa menikmati saat-saat memimpin kelompok bermain ."

24.1.08

24 Januari 2008

Taukah kamu, bahwa ada teori yang mengatakan bahwa tanggal 24 Januari adalah hari paling buruk dalam setahun, "the worst day of the year"?

Ternyata ada hitung-hitungannya kenapa tanggal 24 Januari mendapat predikat itu. Ada tujuh hal yang dianggap mempengaruhi suasana hati jadi gak keru-keruan: cuaca (W), hutang (D), gaji bulanan (d), waktu setelah Natal (T), waktu setelah gagal melakukan niatan berhenti sesuatu seperti berhenti makan malam yang enak-enak (Q), tingkat motivasi yang rendah (M) dan kebutuhan untuk ambil tindakan (NA).

Saking parahnya, ada loh divisi SDM yang memberikan peringatan ke perusahaan untuk meperhatikan pegawai-pegawai yang bisa jadi bakal bete berat pada hari itu. Kalau urusan SDM, musti tanya nana, tuh!

Jangan tanya sama aku bagaimana model itu bisa menghasilnya kesimpulan tanggal 24 Januari adalah hari bete sedunia. Aku tahu, bisa jadi hari ini cuaca mendung, tagihan-tagihan sudah datang, hari gajian masih lama (apalagi buat aku!), di hari Natal kemarin uang habis dengan cepat dan makanan-makanan enak menghasilkan celana yang kesempitan, tidak konsentrasi bekerja karena motivasi rendah (salahkan bulan purnama lagikah?) padahal laporan-laporan itu sudah ditunggu. Ini semua memang bisa membuat aku senewen dan uring-uringan. Tapi pada akhirnya, cuaca memang akan selalu berubah, pekerjaan akan selalu ada, timbangan selalu naik turun, dan konsentrasi memang harus selalu diusahakan.

Buat aku, dengan atau tanpa hitung-hitungan, tanggal 24 Januari adalah salah satu hari paling tidak bete sedunia. Justru kebalikan dari teori di atas tadi.

Hitung-hitungan aku bilang tanggal 24 Januari adalah hari bahagia! Variabel penentu hanya satu, yaitu Abang. Dialah yang membuat aku menunggu-nunggu hari ini. Dialah yang membuat aku menikmati hari ini. Dialah yang membuat aku melihat hari ini sebagai hari ucapan syukur. Kami menghabiskan tanggal 24 Januari dengan cinta. Banyak cinta.

Ini hari ulang tahunnya.

Selamat hari ulang tahun, Abang! The gifts belongs to whoever wishes to accept it. All you have to do is believe and not be afraid of making mistakes (diambil dari By the River Piedra ISsat Down and Wept - Paulo Coelho)







23.1.08

Bolos

Masih musim gak ya untuk bilang,"mabal yuk" di sekolah-sekolah? Ini nih kata yang dipakai untuk mengajak keluar dari kelas pada saat jam pelajaran. Tentu saja, tanpa ijin guru.

Untuk merayakan ulang taun salah seorang teman, kami -perempuan satu kelas- memutuskan jajan baso Ajo di sebelah lapangan Bali, di samping sekolah. Ada sekitar 20 perempuan makan bersama di jam istirahat. Sudah pasti pesanan datang terlambat dan lebih pasti lagi waktu makan jadi molor. Sampai di depan kelas, pelajaran sudah mulai. Adalah wali kelas kami yang kebetulan mengajar. Dia marah besar. Kami semua tidak boleh masuk kelas. Jadi, di kelas ada sekitar 20-an laki-laki dan satu perempuan, ibu guru kami. Sisanya - semua perempuan - duduk-duduk di depan kelas, sambil ngintip anak-anak di kelas depan, plus bergosip tentang mereka tentunya!

Menyesal? Hmmm, rasanya tidak *wink*.

Kegiatan OSIS juga bisa menjadi biang keluar dari kelas. Ini sih mabal setengah resmi. Pakai surat ijin, kan. Berhubung pengurus-pengurus utama OSIS ada di kelasku, kalau ada kegiatan OSIS bisa sampe sepertiganya kosong. Sebagian memang melakukan kegiatan OSIS, sisanya, melakukan rapat di kantin-kantin sekolah. Rapat yang tentu saja tidak ada hubungan dengan kegiatan OSIS.

Tapi, aku tidak pernah sendirian. Setidaknya tidak di SMA. Semua dilakukan beramai-ramai. Termasuk pulang dari sekolah lebih cepat karena guru tidak ada, dan berakhir dengan perjalanan pulang pergi ke Pangalengan.

Baru setelah kuliah, aku bolos kuliah sendiri. Bisa karena malas, ketiduran, atau biasanya karena mengerjakan tugas kuliah yang lain. Bolos paling gak penting adalah bolos karena mau nonton film Cassandra di hari Jumat siang. Aku lupa, apakah kami bertiga atau berempat waktu itu. Betul-betul garing. Aku sih senyam-senyum saja mengingat itu semua.

Termasuk senyam-senyum mengingat aku pernah keluar dari kantor tanpa ijin. Biasanya, aku sudah memastikan bahwa semua pekerjaan sudah selesai, tidak ada utang, dan aku dalam posisi menunggu hasil pekerjaan orang lain. Karena aturan cuti yang tidak jelas, dikombinasikan dengan kebosanan luar biasa, aku bisa memutuskan pergi begitu saja (sekarang sih lupakan mabal kantor, sudah dengan ijin saja susah deh keluar kantor, pekerjaan menumpuk dan email-email dadakan bikin hati dagdigdug untuk meninggalkan kantor).

Kemudian aku melihat pemandangan yang mengingatkan aku dengan jaman bolos sekolah dan kantor. Sekelompok anak SMA (satu almamater dengan aku, ouch!) yang memanfaatkan jam sekolah dengan minum 2 gelas juice untuk berlima dan satu bungkus rokok yang juga dinikmati bersama-sama.


Sekarang, giliran aku yang harus mengajar, aku menghadapi mahasiswa mabal. Kalau terserah aku, rasanya aku tidak perduli kalau mereka tidak masuk kelas selama mengerti bahan-bahan yang diberikan. Sayangnya, umunya sekolah mengajukan aturan administrasi 75% masuk kelas untuk bisa ikut ujian. Aku membuat aturan kalau tidak masuk harus membuat surat tertulis. Tidak usah dari orang tua, atau dokter, atau apapun. Semua bisa dibuat, tokh? Buat saja surat yang bertanggung jawab, ditulis oleh diri sendiri, ditandatangi oleh diri sendiri dengan alasan yang benar.

Sayang sampai sekarang belum pernah aku terima surat yang memberitahu dia tidak masuk karena malas masuk kelas. Kalau ada, aku akan kasih dia nilai ekstra 1 poin untuk kejujuran!


Cerita dong, pengalaman bolos sekolah yang paling heboh yang pernah kamu lakukan.

17.1.08

Bermain

Di seputaran Manggarai, pagi-pagi sekali di hari kerja, aku melihat pemandangan yang bikin sirik. Sejumlah anak-anak tengah bermain. Coba deh lihat dengan baik foto itu. Aku pikir, itu adalah sebuah becak yang dimodifikasi menjadi satu alat permainan. Aku akan menyebutnya becak bianglala, mengambil nama "bianglala" salah satu wahana di Dunia Fantasi. Mirip, kan?
Empat anak sedang ada di kursi becak bianglala, dan lima anak lainnya sedang antri.

Mereka bermain tanpa memperdulikan kemacetan lalu lintas yang terjadi di sekitar mereka. Sama-sama saling tidak ambil pusing. Mobil, motor dan bus saling membunyikan klakson untuk minta jalan. Anak-anak itu tetap tertawa dan menikmati genjotan bapak tukang becak.

Selalu ada cara untuk bermain. Dunia fantasi dengan harga tiket yang sampai 100 ribu rupiah di akhir pekan jelas bukan pilihan. Entah siapa yang lebih dulu punya ide untuk melakukan modifikasi seperti ini. Juga tidak aku ketahui apakah mereka dipungut bayaran untuk bisa naik becak bianglala. Aku baru pertama kali melihat hal ini.

Selalu ada cara untuk bermain, dan bermain jelas bukan monopoli anak-anak. Aku jadi ingin bermain, mengambil sedikit waktu luang melakukan yang aku suka dan tertawa lepas!

Mau ikut?


8.1.08

Bertemu Berkualitas

Seminggu sudah tahun 2008 dijabanin, hari-hariku penuh dengan pertemuan-pertemuan yang umumnya berlangsung di tempat makan.

Ketemu Kiki yang akan pindah koordinat ke arah selatan. Makan sambil berbelanja dan cuci mata di toko-toko buku itu. Aku dan dia, bisa sering sekali ketemu, tapi juga bisa agak lama tidak saling kirim kabar. Kalau yang terakhir sampai terjadi, ketahuan deh, dua-duanya sedang sibuk dengan pekerjaan kantor.

Akhir pekan menyenangkan bersama abang. Sarapan di warung kopi andalan. Secangkir kopi spesial phoenam dan sepiring nasi kuning. Komposisi yang tidak pernah gagal memberikan pagi terbaik. Berbicara tentang banyak hal. Barangkali matahari yang memutuskan bersinar membuat kami mampu membicarakan ini itu yang selama ini terlewat. Bisa jadi, komposisi kopi dan nasi yang tepat membuat kami bisa tertawa sekaligus menangis.

Teteh adalah salah satu orang yang banyak menemaniku mencari tempat-tempat tongkrongan terbaik di kawasan tengah. Tukar cerita sudah dimulai sejak hari pertama 2008 di kota ini. Tempat pertemuan terus berubah. Topik pembicaraan ada begitu banyak. Tidak pernah habis. Ada saja yang bisa diceritakan. Hal serius, hal tidak serius. Hal penting dan hal tidak penting tetapi jadi tampak penting untuk dibahas. Rasanya, selalu ada waktu yang tepat buat bertemu.

Hari Minggu, calon ibu ini ikut bergabung. Menikmati dan memenuhi keinginan hati makan yang manis-manis, sembari melihat dia menikmati kembali gemerlapnya kota yang hingar bingar ini. Selamat datang kembali ke peradaban ya!

Satu yang berbeda adalah pertemuan dengan Leon. Hmm, katakan saja, sepupuku. Teman masa kecil, dimana kami sering bergantian menginap. Rumah kami memang tidak terlalu jauh. Tapi itu dulu. Usia dan kesibukan membuat kami jarang berkomunikasi. Beberapa waktu lalu, kembali berhubungan. Dan, gosh, menyenangkan sekali. Berbicara ngalor ngidul, sesekali bernostalgia sambil menceritakan kehidupan yang dijabanin sekarang ini.

Bukan sekedar jumlah pertemuan yang menjadi ukuran kualitas pertemuan. Ini klasik. Ada pertemuan yang biarpun sering dilakukan tidak ada maknanya. Tetapi ada satu atau dua pertemuan yang walaupun sesekali, punya dampak yang besar. Dengan beberapa sahabat, bertemua dua kali seharipun sah, bahkan rasanya tidak pernah cukup. Ada orang-orang tertentu yang walaupun selalu berupaya membuat janji tetapi kok tidak pernah bisa terjadi. Dan, sedikit orang lagi yang hanya bisa bertemu sesekali, tetapi setiap pertemuan begitu menyenangkan dan pembicaraan bisa berlangsung dengan santai dan aku sangat menikmatinya.

Terkadang, bertemu dengan orang yang tidak tinggal sekota atau bahkan tidak tinggal satu negara lebih mungkin terjadi ketimbang bertemu dengan orang yang tinggal sekota atau bahkan searea. Lebih ngotot untuk bisa bertemu karena jarak yang jauh dan kemungkinan bertemu yang sangat kecil, jadi setiap ada kesempatan langsung dimanfaatkan. Heran, dengan mereka yang dekat, seringkali dianggap akan mudah bertemu. Ucapan,"nanti ketemuan, ya" sering jadi janji yang basi karena tidak pernah diikuti dengan telepon atau sms atau email untuk betul-betul bikin janji karena,"gampanglah, sering ketemu ini."

Ada pertemuan yang harus dilakukan. Ada pertemuan yang tidak perlu dilakukan. Ada pertemuan yang membutuhkan komitmen untuk bisa dilakukan sebagai bentuk komunikasi.

Bagaimana dengan kamu?


Malam ini, aku menunggu bertemu teman-teman dari kursus nulis dan ini oleh-oleh dari kongkow-kongkow seminggu ini, teman-teman di tiap pertemuan yang tadi aku ceritakan.



3.1.08

Tujuh Resolusi

Aku lebih memilih menghitung yang ada di belakang ketimbang membuat resolusi. Pertama kali terdorong bikin resolusi itu di awal tahun 2006. Lebih fokus, itu tulisku. Perjalanan panjang membuat aku bisa bilang, bahwa aku sekarang jauh lebih fokus dalam banyak hal ketimbang dua tahun lalu.

Tapi, Leon mentutuk aku, nih. Sama seperti Leon, aku lebih suka angka 7, jadi aku akan coba buat 7 hal yang aku harap bisa aku lakuin di tahun 2008 ini. Ehm, dia juga bilang,"you should make resolutions that wont be impossible to keep".

  1. Bikin daftar resolusi (selesai saat ini juga dong, dalam satu hari!)
  2. Kembali dengan kebiasaan ber-agenda dan ber-jadwal dengan baik. Ini alasan yang pas buat belanja agenda-agenda lucu-lucu itu dan menjual agenda elektronik itu, kan.
  3. Kembali ke gym (cukuplah sebulan saja bermalas-malasan dan memanjakan diri dengan makan siang bersama dia yang mau pindah lokasi kantor)
  4. Menabung. Tanpa target persen atau nominal, harus realistis tokh?
  5. Menyelesaikan utang tulisan(-tulisan). Folder "calon tulisan" harus segera dihapus.
  6. Be assertive, ini anjuran boss yang harusnya sudah aku lakukan sejak beberapa waktu lalu.
  7. Libur panjang. Aku berhak, walaupun kontrak baru tidak memberikan cuti sama sekali! Harus menemukan cara terbaik untuk bisa libur panjang dan bukan libur tanggal merah.
Untuk #2, aku bahkan mulai dengan mencatat semua yang aku kerjakan. Gampang saja, terimakasih teknologi untuk yang ini. Lihat saja gambar di bawah.



2.1.08

Pertama di 2008

Waktu aku masih di sekolah dasar, salah satu momen paling menyenangkan adalah saat kembali lagi ke kelas setelah libur panjang, libur kenaikan kelas. Biasanya kelas dimulai sekitar bulan Juli akhir atau Agustus. Seragam baru, buku tulis baru, dan buku pelajaran baru, adalah sedikit barang baru yang aku tunggu-tunggu. Kertas-kertas buku baru itu begitu harum. Halaman buku masih rapi. Terbayang teman-teman sekelas baru, walaupun semua sudah dikenal karena sekolahku kecil saja, satu kelas hanya ada sekitar 20 orang dan terdiri dari dua unit, kelas A dan B yang biasanya dirubah susunannya setiap kenaikan kelas.

Memulai sesuatu yang baru, sering membuat aku bersemangat!

Hanya saja, memulai tahun yang baru tidak pernah membuat aku terlalu bersemangat. Setidaknya tidak seperti memulai kelas baru di jaman SD yang sudah - ehm - terlalu lama deh buat dihitung jumlah tahunnya. Hari pertama di tahun yang baru memang terasa berbeda, tapi tidak begitu berbeda sehingga aku tidak sabar memulai hari itu. Ritual yang biasa dilakukan adalah kumpul keluarga, berdoa bersama, pergi ke gereja, menerima tamu dan keluarga. Itu saja.

Sebagai perempuan yang besar di keluarga Batak, tahun baru memang menjadi momen wajib kumpul. Tidak bisa tidak, semua harus ada di rumah. Bukan hanya kakak beradik, para sepupu pun menyambangi rumah kami. Ayahku anak tertua, dan ibuku biarpun anak bungsu adalah yang paling dituakan diantara para sepupuku di Bandung. Tahun baru adalah saat dimana kami sekeluarga harus kerja keras untuk membereskan rumah, mempersiapkan makan siang bersama, dan menjadi tuan rumah yang baik. Ini sih tidak seberapa, yang paling sulit adalah harus mampu terjaga untuk berdoa tengah malam bersama seluruh keluarga.

Hari ini, agak berbeda.

Hari ini, tanggal 2 Januari 2008. Sejak tengah malam, hujan terus-terusan turun. Membuat -biasanya- tempat tidur jauh lebih menarik ketimbang dunia di luar sana. Heran, aku malah bersemangat untuk bekerja. Kejutan besar! Ini sudah terjadi dari dua hari yang lalu, pada hari terakhir 2007. Tanggal 31 Desember 2007, aku sudah begitu tidak sabar untuk memulai tahun yang baru. Mirip dengan ketidaksabaran ketika aku harus memulai kelas yang baru, sewaktu masih pakai baju merah putih. Ini jelas bukan bagian dari ritual menghadapi tahun baru yang biasa aku hadapi.

Aku tidak sabar menunggu hari bekerja. Aku membayangkan pekerjaan baru yang menunggu (padahal sebetulnya, aku masih disibukan pekerjaan lama yang belum selesai dengan sempurna). Masih di kantor lama, sih. Tempat kerja yang dengan segala naik turunnya berhasil membuat aku kerasan meski aku harus melakukan rutinitas kantor selama hampir satu tahun lamanya. Rasanya, kali ini aku lebih siap untuk masuk pagi pulang sore dan melakukan perjalanan bermacet-macet setiap harinya untuk bisa tiba ke kantor. Lewat sudah masa-masa sakit kepala harus terus-menerus melakukan hal yang sama lebih dari tiga bulan.

Aku tidak sabar menunggu waktu-waktu minum kopi bersama para sahabat. Banyak diantara mereka baru saja aku 'temukan' di tahun 2007. Mereka adalah salah satu hadiah terbaik yang diberikan 2007 kepadaku. Aku tidak yakin bisa menjabani hari-hari di kota ini dengan sebahagia ini tanpa mereka di sekelilingku. Lewat dunia nyata maupun dunia maya. Dari dunia tulis menulis, blog, sampai facebook!

Aku tidak sabar menata kembali kamarku. Sebuah ruang kecil dengan banyak matahari, di sudut rumah milik adikku dan keluarga. Lama tidak diurusi karena lebih banyak ditinggal pulang ke Bandung pada tiap akhir pekan. Rasanya, ini waktu yang tepat untuk memberi perhatian lebih pada kamar yang menemani aku 5 hari dalam setiap minggunya.

PhotobucketYa, aku lebih siap memasuki tahun ini. Dengan berbagai agenda di tangan, sebuah hadiah dari dia dan dari diriku sendiri, aku akan kembali menjadi schedulaholic yang sempat kutinggalkan.

Aku serasa kembali ke masa lalu, ketika sekolah baru dimulai. Padahal, aku ada di sini, dengan pekerjaan menanti di depan. Tahun 2007 dan tahun-tahun di belakang adalah kaca spionku yang perlu dilihat dari waktu ke waktu, tetapi konsentrasi dan fokus aku ada di kaca depan, yang membuat aku melihat hari-hari yang harus aku hadapi.



Selamat Tahun Baru 2008




1.1.08

Menginap di Palungan

Bandung di saat libur panjang seperti saat natal dan tahun baru ini sangat tidak bersahabat bagi mereka yang mendadak ingin menginap di Bandung. Mencari hotel untuk bermalam bisa jadi merupakan misi takkan mungkin alias mission impossible. Cobalah cari tempat penginapan kelas gurem sampai hotel berbintang-bintang, pasti akan memperoleh gelengan kepala atau penolakan karena semua kamar sudah terisi, minimal sudah habis terpesan. Aku sendiri beberapa kali mencoba menyelesaikan misi pencarian kamar untuk beberapa kawan yang mendadak harus menginap di Bandung pada saat libur panjang. Gampangnya, mereka menginap di rumah aku, tapi itu sering ditolak dan tertolak dengan berbagai alasan. Karena itu, aku harus melakukan perburuan kamar hotel.

Di awal tahun 2000, aku cukup mengenal peta perhotelan di Bandung, dan pekerjaan mencari kamar menjadi pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan dalam sekejap mata. Tapi sekarang ini, dengan tingkat permintaan kamar yang begitu tinggi, koneksi apapun sulit membantu. Perburuan bisa dilakukan dengan berjalan dari satu hotel ke hotel lain, atau melalui telepon dari satu nomer ke nomer lain. Untunglah, masih ada sisa-sisa pengetahuan tentang tempat-tempat penginapan non-hotel yang sering tidak terpublikasikan. Tempat-tempat yang punya kamar dengan kebersihan terjamin dan harga masuk akal, walaupun lokasi seringkali harus sedikit nyungsep dan tidak bersahabat bagi mereka yang tidak membawa kendaraan pribadi ke Bandung.

Sekali dua, ada saja kejadian dimana teman-temanku harus membatalkan rencana menginap dan kembali pulang. Untungnya selama ini sebagian besar dari teman-teman yang berencana bermalam berasal dari Jakarta. Pulang kembali tidak begitu menjadi persoalan. Hanya membutuhkan kurang lebih dua jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Ini skenario positif, bahwa macet tidak ada dan jalan cukup lengang.

Tapi bayangkan, kalau saja pulang tidak bisa menjadi pilihan. Karena pulang berarti perjalanan berjam-jam dan bahkan beberapa hari, belum lagi kalau moda transportasi tidak selalu ada untuk bisa kembali pulang. Mau tidak mau harus menginap. Syukur kalau ada kerabat yang bisa ditumpangi untuk semalam dua malam. Kalau tidak? Mau menginap dimana?

Bayangkan Yusuf dan Maria yang terpaksa ke Betlehem untuk mencatatkan diri. Ada sensus yang harus diikuti. Hari sudah larut.Tempat penginapan sudah penuh. Pulang kembali jelas tidak bisa dilakukan. Menginap harus dilakukan, dimana pun itu. Kondisi ini masih dibuat lebih rumit dengan kenyataan bahwa Maria hamil tua. Boooo, perempuan hamil saja sudah membuat semua hal harus diperhitungkan cermat. Ini, bahkan sudah di detik-detik melahirkan! Boro-boro dokter dan tas berisi perlengkapan melahirkan, tempat tidur untuk bisa persalinanpun tidak ada.

Sebuah kandang dengan palungan menjadi tempat yang tampak tepat untuk itu semua.

Sama sekali tidak sebanding dengan kesulitan cari tempat tidur di Bandung saat libur panjang, seberapapun susahnya itu.

DIA dengan segala kesulitan yang DIA alami bahkan sebelum DIA lahir untuk memastikan kamu dan aku memperoleh hidup.


Selamat Natal lagi.

Aku ternyata menikmati tanggal 25 Desember bersama keluarga dengan kehangatan, cinta, gelak tawa dan senda gurau. Terimakasih, Tuhan.