10.12.08

Eksistensi Hitam

Siang itu panas sekali. Jalanan padat, bahkan sudah mulai macet. Pemandangan lumrah yang terjadi menjelang makan siang di daerah itu. Barangkali hari itu semua orang ingin makan di luar kantor karena punya duit lebih sambil membawa kendaraan. "Gubrak", terdengar suara keras menembus jendela kendaraan. Aku menengok ke belakang dan tampak sebuah mobil SUV hitam dari kelas yang paling mahal dan tahun terkini baru saja sukses menabrak taksi yang aku tumpangi. Supir segera turun untuk melihat kerusakan diikuti oleh dua lelaki berseragam hitam-hitam turun dari kendaraan besar itu.

Duh, di hari panas dengan kemacetan dan perut lapar, kondisi seperti ini membuat aku deg-degan, karena ini resep jitu untuk menaikan emosi, tokh?

Kekuatiranku terbukti. Muka garang dan suara menggelegar terdengar masuk ke dalam kendaraan. Adu mulut bisa terjadi kalau saja Pak Supir tidak menahan diri. Tidak lama, setelah berkata,"maju saja, kita selesaikan di depan," mereka malah berbelok dan kabur meninggalkan Pak Supir yang kecele berat.

Ada apa dengan lelaki berbaju hitam-hitam ya? Tampaknya saat ini ada trend baru untuk memperlengkapi orang-orang berbadan tegap dengan baju safari berwarna hitam. Lengkap dengan pin kecil berwarna keemasan yang lebih sering tidak jelas bergambar apa bagi mata silindrisku.

Entah ada apa pada warna hitam tersebut yang seakan-akan memberi kekuatan ekstra untuk orang yang memakainya untuk berkuasa atas orang lain. Perhatikan deh di mal-mal, di gedung-gedung bertingkat di ibukota ini, di kantor-kantor penting, semua memiliki para lelaki berbaju hitam.

Apa jadinya mereka tanpa seragam hitam tersebut? Apa jadinya mereka yang memakai jasa para manusia berseragam hitam? Apa jadinya kalau mereka memakai baju orange? Ye...itu sih jadi tukang parkir ya!

Memang selalu ada orang yang butuh atribut ini dan itu untuk bisa menunjukkan eksistensi dan kemampuan sebagai pengganti ketidakmampuan dan minimnya kapasitas. Tanpa itu semua, mereka bisa menjadi nothing, tak ada.


Eh, jangan-jangan warna hitam dipakai karena efek melangsingkannya itu ya? *wink*

4.12.08

Merindu

Perkenalanku dengannya terbilang cepat dan banyak kebetulannya. Pertama, kebetulan seorang kawan terlebih dulu mengenalnya. Kedua, kebetulan kami bertiga sama-sama berada di satu kota yang membuat pertemuan-pertemuan dengan orang-orang baru menjadi wajar, mudah dan biasa dilakukan.

Sungguh, aku agak jiper waktu mba tersayang (hey, selamat ulang tahun!) bilang mau memperkenalkanku dengannya. Namanya sudah terdengar dari beberapa orang. Aku membayangkan seseorang yang "sophisticated" dengan pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang banyak hal. Well, yang terakhir memang benar, dan dia bisa dikategorikan "sophisticated", tetapi dia super membumi. Dia begitu dekat dan begitu mudah diajak bercengkerama. Perkenalan pertama bersama mie kepiting itu betul-betul menyenangkan!

Jarak membuat hubunganku dan dia tidak terlalu langsung mulus berlangsung. Waktu itu, sebagian besar waktuku habis di Bandung, bolak balik ke Banda Aceh dan Jakarta. Tapi tokh, justru jarak membuat setiap kesempatan untuk berada di satu tempat dipergunakan sebaik-baiknya untuk bertemu.

Sebuah tempat ngopi di Dago menjadi salah satu tempat bertemu (di masa awal-awal perkenalan kami) yang bisa aku ingat. Duh, rasanya baru-baru saja terjadi. Pembicaraan masih banyak pembicaraan umum tentang banyak hal yang terjadi di luar sana dan teman-temen di sekitar kami.

Waktu berlalu, aku dan dia berada di satu kota yang sama. Tanpa diduga, aku dan dia bekerja di organisasi yang serupa tapi tak sama itu (walaupun jenis pekerjaan kami sebetulnya agak sedikit berbeda). Dari sini, aku belajar semakin banyak lagi dari dia. Seorang pekerja keras yang saklek, profesional, selalu berusaha menjadi lebih baik dan memberi yang terbaik. Aku menempatkannya menjadi salah satu orang yang menjadi tempatku menengok di kala aku mulai kelelahan dan kewalahan dengan tumpukan pekerjaan di depan mata. Apalagi, ini adalah kali pertama aku bekerja kantoran setelah 5 tahun menjalani kehidupan sebagai freelancer.

Kedekatanku dengannya tidak saja hanya karena pekerjaan tetapi kemudian meluas kemana-mana. Sulit dijelaskan bagaimana dia yang relatif baru aku kenal bisa aku begitu percaya sebagai tempat bercerita berbagi hal yang terjadi dalam hidup aku. Bahkan untuk hal-hal yang selama ini aku simpan baik-baik untuk diriku sendiri. Aku hanya tahu, bahwa dia selalu ada untuk aku. Siap dengan tawa canda aku, kegusaranku, kehebohanku, dan bahkan air mataku yang sering datang tanpa pertanda. Dia selalu berhasil membuat aku membuka hatiku padanya.

Sebaliknya, aku adalah orang yang pasrahan untuk urusan memahami orang lain. Buruk sekali. Aku sulit untuk memulai bertanya pada orang, apalagi mengenai hal yang aku tahu sangat personal. Aku lebih banyak menunggu dan sesekali berusaha bertanya. Maklum, aku sendiri lebih suka bercerita dengan inisiatif diri sendiri ketimbang dipaksa bercerita. Pengalaman panjang di belakang menunjukkan aku harus lebih berinisiatif dalam hal ini, tapi sulit. Waktu membuat dia pun menjadi lebih terbuka untuk banyak hal dalam hidup dia.

Beberapa bulan terakhir, pekerjaan menyita habis seluruh waktuku. Ditambah dengan perjalanan baru (yang sebetulnya adalah lanjutan dari sebuah perjalanan yang lama terhenti karena banyak hal) membuat aku seakan-akan menghilang dari peredaran. Ini semua terjadi justru di saat aku seharusnya bisa meluangkan lebih banyak waktu bersamanya. Bisa lebih sering menyediakan diriku untuknya.

Ketika ritme gila itu mulai menormal, aku mulai menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarku. Ada yang terasa hilang. Aku kehilangannya. Seorang perempuan yang sudah menjadi kakak yang tidak pernah aku punya, yang selalu ada ketika aku butuhkan tetapi tidak bisa aku balas dengan sikap yang sama.

Aku merindunya.

Teh, apa kabar ya?

3.12.08

Cara Berpikir KTP

Pernah memperhatikan, informasi apa saja yang ada di Kartu Tanda Penduduk (KTP)? Nama, alamat dan tempat tanggal lahir sih sudah pasti. Lengkap dengan RT/ RW, kecamatan dan kelurahan bahkan golongan darah. Dan, informasi tersebut seakan kurang lengkap sehingga pemerintah menambahkan status, pekerjaan dan agama. Ini nih, tiga hal yang sepanjang ingatan aku tidak ada di kartu tanda penduduk lain bukan dari negeri ini.

Bukan sekali dua aku terlibat dalam percakapan mengenai dua kolom di KTP yaitu status dan agama. Dua hal yang sifatnya personal tetapi menjadi sesuatu yang wajib dicantumkan, terlepas dari apakah hal tersebut benar atau tidak. Mau mengaku belum menikah, menikah, janda atau duda bukan masalah. Mudah saja. Jarang sekali diminta bukti dalam mengisi kolom itu, kok.

Itulah informasi yang harus selalu ada dalam identitas diri penduduk di Indonesia ini. Itu juga yang menjadi cerminan bagaimana setiap orang dikategorisasi. Tidak jarang, ketika berkenalan orang akan langsung bertanya,”Kerja dimana? Tinggal dimana? Sudah menikah?.” Ayayayayay!

Lebih payah lagi ketika orang mulai mengkotak-kotakan dengan status dan agama. Mau gabung dengan sini? Tunggu dulu, lihat-lihat diri dulu dong, ah. Situ tinggal dimana? Rumah di kawasan elit (ah, apa pula itu), atau kawasan banjir (ngacung berat deh, melihat alamat rumahku orang akan langsung mengasosiasikan dengan banjir, kok). Situ agamanya apa? Kalau gak sama dengan sini, sebaiknya kita tidak usah main sering-sering ya. Besi menajamkan besi, adalah salah satu alasan yang pernah diberikan seseorang kepadaku sebagai alasan kenapa dia lebih banyak bersosialisasi dengan mereka yang satu keyakinan. Dan gara-gara kolom agama inilah, kita mengenal istilah Islam KTP, Kristen KTP dan seterusnya, tokh? Situ statusnya apa? Belum menikah? Aduuh, kenapa belum menikah juga? Sini, tak cariin pasangan, asal situ jangan terlalu pilih-pilihlah, ingat umur. D’oh! Situ pekerjaannya apa? Coba lihat, kok mahasiswa (iya, aku belum mengganti status ku tuh!). Hmm, kalau begitu, lain kali pada waktu perpanjangan KTP aku akan minta di kolom pekerjaan ditulis “direktur” aja deh?

Ah, kenapa juga musti berpikir model KTP begitu ya? Mereka yang ada di sekitarku adalah orang-orang yang lebih perduli dengan film yang aku suka, makanan yang bisa dinikmati bersama, kebiasaan yang membuat aku senang (atau tidak senang) dan hal-hal lain yang mendefinisikan aku yang berasal dari dalam diriku sendiri. Aku beruntung dan bersyukur untuk mereka. Karena kalau mereka mau berteman dengan pola pikir KTP, aku bisa jadi sudah dicoret dari teman muka buku dari jaman dulu kala!

Kamu, bagaimana?

17.11.08

Dua Sisi Mata Uang

Ketika masih ikut kursus, aku belajar melakukan verifikasi. Waktu itu, aku masih mangkel dengan peristiwa ultimus dimana berita bisa dikeluarkan tanpa ada upaya verifikasi terlebih dahulu. Tapi, kemudian aku belajar bahwa hal itu memang sudah menjadi kewajaran. "Naikkan saja dulu, perbaiki kemudian", begitulah kurang lebih prinsip yang dipakai.

Ah, konon setiap peristiwa selalu punya dua sisi, seperti halnya mata uang. Untuk satu kisah, bisa ada dua cerita yang tampak bertolak belakang. Memperoleh kedua sisi cerita tersebut menjadi penting untuk mendapat gambaran penuh dari sebuah peristiwa. Tanpa verifikasi, sebuah cerita bisa jadi salah, atau tidak imbang. Mengemukakan kedua sisi sebuah cerita, dengan verifikasi kepada setiap pihak yang terlibat akan membuat mereka yang membaca dapat membuat "informed decision". Terserah mereka, mau memutuskan memihak kepada siapa. Terserah mereka, mau melihat peristiwa tersebut sebagai peristiwa baik atau buruk. Terserah mereka, mau mengambil keputusan apapun atas informasi penuh.

ps: memang enak punya blog, tulis suka-suka, tak perlu verifikasi dan bisa memainkan kata sesuka hati sambil cari balad. Iya tokh?

13.11.08

Tidak Ada Buku Lanjutan?

Pertama kali, aku mengenalnya lewat Rising Sun. Dipinjam lewat seorang kawan, dibaca selama perjalanan berlibur ke Anyer, belasan tahun yang lalu. Sebuah film dengan judul yang sama sudah nongol di bioskop, tapi aku tidak pernah melihat film itu. Rising Sun aku kenal lewat buku, dan aku menikmati setiap halamannya.

Sekembali ke Bandung, aku main ke Taman Bacaan Hendra di Jalan Sabang (masih ada gak ya?) dan berburu buku-buku lainnya. Kali ini, justru aku membaca buku yang ditulis dengan nama pseudo yaitu A Case of Need. Sebuah buku yang bercerita seputar pro dan kontra kasus aborsi. Buku yang memukau menurut aku. Buku itu mampu membuat aku lebih memahami kenapa ada yang orang yang bisa begitu pro, dan ada orang yang bisa begitu kontra. Menurut aku, inilah penyebab aku menyukai buku-bukunya. Setiap buku bukan saja diteliti secara menyeluruh tetapi juga mampu memberi gambaran terhadap sisi-sisi lain yang jarang terungkap. Tidak heran, buku-buku dia umumnya memiliki daftar pustaka yang panjang, dan juga beberapa seri lampiran!

Aku sering tidak merasa sedang membaca buku fiksi. Buat aku, sebagian besar bukunya berisi fakta yang diramu dan ditulis dalam tutur kata bercerita. Tidak jarang ada berbagai catatan kaki di dalam bukunya. Salah satu yang kontroversial adalah State of Fear. Sebuah buku yang bercerita tentang konspirasi para pengkampanye isyu lingkungan. Sebuah buku yang menggambarkan bagaimana sebuah tsunami diciptakan sedemikian rupa supaya isyu global warming punya bukti dan menjadi berbunyi. Buku ini keluar di tahun 2005, dimana di akhir 2005 tsunami terjadi salah satunya di Indonesia. Sebuah pidato panjang terkait dengan isyu ini dibuat dan diberi judul "The Case for Skepticism on Global Warming".

ER adalah salah satu film seri yang aku gemari. Dia adalah penciptanya. Dia memang seorang dokter yang beralih menjadi novelis. Berbeda dengan Grisham dengan buku-buku yang hampir semuanya berkisar tentang masalah hukum, dia menulis buku dengan topik yang sangat luas. Kedokteran, hukum, komputer, nano-teknologi, lingkungan dan banyak lagi. Kalau saja aku bisa mengintip rak bukuku di Bandung...membaca buku-bukunya membuat aku mendapat banyak hal baru dengan cara menyenangkan.

Next adalah buku terakhirnya. Tetapi tampaknya tidak akan ada next book - buku selanjutnya - dari dia.




Selamat jalan Michael Crichton. Sedih rasanya, tidak ada lagi yang ditunggu setiap tahunnya.

5.11.08

Di Luar Lagi Hujan, Loh!

Rabu dan Sabtu lalu, aku berada di dalam ruang pameran yang besar dan nyaman, tanpa jendela. Pada satu saat, aku melihat beberapa orang yang datang berambut basah. Ternyata di luar sana, hujan sudah deras ditambah dengan angin kencang. Kalau tidak ada orang yang kebasahan itu, aku sama sekali tidak tahu tentang apa yang terjadi di luar sana.

Aku jadi teringat sebuah ruang kerja yang terdiri dari sekitar 10 orang di sebuah instansi pemerintah. Untuk mengetahui cuaca (atau kabar apapun di luar gedung), situs detik menjadi referensi! Jadi nanti keluar kalimat,”eh, kata detik di luar lagi hujan deras loh.”

Sama saja dengan jalan-jalan di mall-mall yang menjamur di Jakarta. Aku bisa asik melihat-lihat ini itu, window shopping dengan rasa nyaman. Eh, sewaktu mau pulang aku baru mengetahui bahwa di luar sana hujan deras sekali. Berhubung aku harus berjalan kaki, buru-buru cari tukang jualan payung deh.

Berada dalam ruangan super nyaman tetapi sayangnya tanpa jendela untuk melihat ke luar ruangan membuat kondisi di luar ruangan sama sekali tidak diketahui. Hujan, panas, angin atau apapun menjadi tidak diperdulikan, sampai kondisi mengharuskan kita keluar ruangan. Biasanya, kalau tidak mesti mesti amat, aku akan memutuskan diam di ruangan sampai cuaca jelek apapun itu berhenti. Sial memang kalau mau tidak mau harus tetap keluar dari ruang nyaman itu. Berbeda dengan berada di dalam ruangan dengan jendela. Cuaca mendung bisa segera diketahui. Ini mendorong aku menyusun rencana, apa mau pulang selagi mendung dan belum hujan, atau lebih baik meneruskan pekerjaan karena tokh sebentar lagi hujan.

Kenyamanan tanpa ruang untuk melihat di luar ruang kita, memang bisa membutakan. Dari waktu ke waktu, perlu melihat ada apa di luar sana.


30.9.08

Mengejar Lebaran

Dalam satu wawancara dengan dokter yang berpraktek di rumah sakit di daerah Cicadas, Bandung, aku memperoleh informasi bahwa rumah sakit itu "menyepi" menjelang Lebaran, dan kemudian menerima tumpahan pasien setelah Lebaran. Menurutnya, kalaupun sakit, biasanya ditahan-tahan tuh sebelum Lebaran, tetapi dengan pola makan habis-habisan pada hari Lebaran, tidak heran ada-ada saja yang terkena sakit seperti stroke. Setelah Lebaran, semua sakit baru dirasakan, dan dokter kemudian disambangi.

Ah, manusia dan kekuatan pikiran. Untuk menyambut satu hari yang ditunggu-tunggu dengan apapun alasan di balik itu semua, seorang manusia sanggup bertahan sehat dan menahan sakit. Pada hari yang ditunggu semua energi dicurahkan, terkadang tanpa kontrol, berakibat pada badan yang harus sakit juga karena berbagai alasannya.

Selamat Lebaran, jagalah untuk tidak hanya mengejar hari tersebut tetapi untuk mempertahankan apapun yang dikejar pada hari itu.

16.9.08

Misah Misuh

Aku memang jarang terbuka atas rasa yang ada untuk dirinya. Berbagai situasi yang ada di sekitar kami membuat aku terbiasa dan membiasakan diri untuk menikmatinya semuanya berdua saja. Aku memang tidak pandai menciptakan kata, rupa, dan bentuk untuk menggambarkan setiap emosi indah yang ada. Aku tidak perduli. Dia tahu itu.

Satu hal yang hampir selalu terjadi adalah bagaimana orang begitu sering mengklaim sebagai pihak yang paling tahu dirinya. Termasuk urusan hati. Ha! Siapakah dia yang bisa mengetahui isi hati terdalam? Siapakah dia yang bisa mengetahui peperangan yang senantiasa terjadi dalam pikiran? Siapakah dia yang bisa menghakimi orang berdasarkan kriteria yang diciptakan sendiri?

***

Disini, memang ada bagian khusus yang bercerita tentangnya tetapi itu menggambarkan hanya sepersepuluh dari kisah kami.

Perjalanan ini panjang dan berliku. Melewati hitungan tahunan. Sesuatu yang tidak pernah kami duga. Dalam masa tahunan tersebut, aku dan dia sama sama berproses menjadi diri sendiri yang lebih baik, menjadi mitra yang lebih baik. Aku dan berbagai kekuranganku, dan dia dengan berbagai kekurangannya. Kelebihan yang aku dan dia miliki adalah bonus yang bikin bahagia.

Perjalanan di depan, tidak kami ketahui. Kabut masih sering menghadang, hanya keyakinan yang menjadi pegangan bahwa di depan sana masih ada jalan.

Dalam perjalanan ini, kami hanya memiliki kami.

29.8.08

Tertinggal di Taksi: Bayi Perempuan

Majalah Bluebird, yang sering nongkrong di kursi belakang, memuat daftar barang-barang yang tertinggal di dalam taksi. Sekitar 4-6 halaman dihabis
kan untuk menampilkan informasi ini. Aku suka melihat bagian itu, dan memperhatikan jenis-jenis barang yang tertinggal. Mulai dari kantong keresek hitam berisi pakaian, sampai telepon genggam versi terkini bisa ditemukan di daftar itu.

Ayahku, pernah ketinggalan ponsel, dan dikembalikan dalam waktu cukup singkat oleh pengemudi taksi burung biru. Aku pernah menemukan kantong belanja berisi dompet dari sebuah merek terkenal dengan price tag yang bikin aku menelan ludah. Aku menyerahkan kepada si pengemudi yang aku yakini akan mengembalikannya pada si pemilik.

Pembicaraan di taksi berputar di urusan barang paling aneh yang pernah tertinggal di dalam taksi. Pak Kusuma -aku panggil seperti itu karena justru nama belakangnya yang aku ingat- berkata,"bayi".

Haaaa? Bayi? Aku bengong.

"Serius ah, Pak, ketinggalan bayi maksudnya?"ujarku sambil masih tidak percaya.

"Betul, Mba, bayi. Masuk koran kok itu," dengan tenang Pak Kusuma meyakinkan aku.

Kalau berita itu pernah masuk koran, aku belum pernah membacanya. Pak Kusuma bercerita bagaimana seorang ibu pernah tanpa sengaja membiarkan bayi perempuan berusia sekitar 5 bulan di kursi belakang. Si ibu saat itu sibuk dengan barang bawaan yang ada di bagasi mobil, dan supir pun tidak begitu memperhatikan ada apa di kursi belakang taksi yang dia kemudi. Baru berjalan sekitar setengah kilometer, Pak Kusuma mendengar suara anak kecil. Begitu ia melihat ke belakang, dia melihat bayi yang cantik dan memutuskan memindahkan bayi tersebut ke pangkuannya,"takut jatuh," katanya,"untung saya sudah punya anak, jadi saya ngerti gimana gendongnya." Tidak susah untuk menebak, bahwa Pak Kusuma memutuskan memutar balik kendaraan kembali ke rumah penumpang terakhir yang sedang menangis. Iya, ibu dan ayah dari bayi tersebut sedang menangis. Sang ayah malah sambil terus memarahi sang ibu.

"Saya dapat tip paling besar yang pernah saya terima, walaupun saya sudah menolak," bahkan, menurutnya, sang sang ayah memutuskan menambahkan nama "Kusuma" di belakang nama bayi perempuan tersebut.

Ah, memang ketika pikiran dipenuhi oleh terlalu banyak hal, bahkan terkadang hal remeh temeh yang bisa jadi tidak terlalu penting, kita bisa lupa akan hal-hal yang begitu kita sayangi, yang terlupakan tanpa sengaja. Beruntunglah kalau kita bisa terlebih dulu sadar akan hal-hal yang kita sayangi sebelum semua itu terlepas dan diambil dari kita.

28.8.08

Hujan dan Jarak Pandang

Senangnya, hujan [Ehm, iya nih, Jakarta *akhirnya* hujan juga, setelah beberapa hari mendung-mendung gak jelas]. Bukan saja selalu mengingatkanku pada salah satu kota yang akan selalu aku anggap rumah keduaku, tetapi juga mengingatkan aku pada Bandung. Agak aneh kalau hujan dikaitkan dengan Bandung, karena kota hujan adalah Bogor dan bukan Bandung.

Paling menyenangkan dari hujan adalah bau tanah yang naik ke udara, suara air hujan di genteng yang begitu mantap dan tetap, udara yang lebih dingin dan sejuk, warna dedaunan yang hijau cerah setelah hujan selesai.

Satu hal yang sering terjadi pada waktu hujan adalah jarak pandang yang pendek, terutama kalau hujan sedang kencang-kencangnya. Satu waktu aku dan Lusi, sobat lama yang sekarang tinggal terlalu jauh dari Jakarta, memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan kembali ke Bandung. Kami mempergunakan kendaraan pribadi, dan menyetir bergantian. Kondisi kendaraan cukup baik, tetapi wiper mobil kurang berfungsi. Hujan deras. Jarak pandang sekitar setengah meter. Di jalan tol!! Aku yang waktu itu berada di balik setir. Dengan muka hanya beberapa centimeter dari jendela depan. Berharap ada kendaraan di depan yang menyalakan lampu sebagai patokan arah menyetir. Dengan wiper sedang sakit, perjalanan di tol saat itu bikin hati deg-degan. Itu bukan pertama kali. Lain waktu, Lusi yang memegang setir, kami dalam perjalanan kembali ke Bandung dari Sukabumi. Pagi sekali, sekitar jam 5 pagi. Hujan deras, dan matahari belum lagi muncul. Badan harus condong ke depan, berusaha melihat lebih jauh ke depan.

Jarak pandang memang penting. Seringkali ada gangguan ini itu yang membuat kita tidak bisa melihat jauh ke depan. Gangguan itu bisa jadi berada di luar kekuasaan kita. Ada dua pilihan, berhenti sejenak sampai gangguan itu hilang, atau kalau sudah kebelet waktu terpaksa tetap melaju dengan jantung berpacu. Kalau di dalam kendaraan, mengurangi kecepatan dan mencari tanda seperti lampu membantu kita tetap berada di jalur yang benar, bukan? Jadi, hujan boleh turun, tapi masa aktivitas harus terganggu?


***
Kalau tentang becek setelah hujan, itu memang tidak menyenangkan, kecuali buat cinca lora dan semboyan beceknya!

22.8.08

Hubungan Terbalik Umur dan Teman

Dalam pembicaraan mengenai kabar terakhir diantara kami, lima orang sahabat, salah seorang temanku berpendapat bahwa,"Soal teman sih emang segitiga demografi. Semakin tua semakin atas mengerucut jadi tambah dikit n yang sesuai dengan kita juga tambah dikit. Teman sih banyak, tp yg buat cerita enak sih susah. Kita aja gak bs terbuka banget skg. Bukan karena gak enak, tapi lebih karena jauh dan kadang komunikasinya gak update."

Ini membuat aku berpikir, betulkah demikian? Apakah memang semakin bertambah umur, justru jumlah teman menjadi bertambah sedikit? Apakah umur berbanding terbalik dengan jumlah teman?

Walaupun kamu bisa berargumentasi bahwa yang terpenting adalah kualitas pertemanan ketimbang kuantitas pertemanan, aku tetap terusik dengan pernyataan itu.

***

Aku adalah orang yang -menurut pengakuan sendiri- sangat terbuka seperti buku yang terbuka dan tergeletak di ruang publik dan bisa dibaca oleh siapapun. Setidaknya, itu yang bisa aku ingat sampai masa kuliah berakhir. Aku ini pengidap sindrom curcol akut. Kepada siapapun aku bisa curhat tentang apapun. Peristiwa yang bikin bahagia, marah dan menangis semua harus aku bagikan ke kiri dan kanan. Penyaringnya nyaris tidak ada.

Aku ingat menghabiskan waktu di telepon sampai ketiduran hanya untuk berbicara dengan orang yang bahkan satu kelas dan satu bangku! Satu waktu, mami bertanya,"memang kalian di kelas tidak pernah ngobrol?" Tentu saja dijawab dengan penuh semangat,"ya iyalah, kan harus dengerin guru." Bohong besar ya. Kami tentu saja bertukar cerita selama di kelas, di luar kelas di waktu istirahat dan bahkan ketika sudah sampai di rumah.

Aku selalu ingin menceritakan apa yang aku alami, susah dan senang, kepada sahabat-sahabatku. Mulai dari hal penting seperti lagi-lagi ribut dengan orang tua (maklum, remaja tanggung tapi berasa udah paling pintar sedunia deh), sampai hal tidak penting seperti,"tadi dia telepon gue" (peha alias proyek hate alias proyek hati adalah satu topik terpenting sepanjang masa).

Dalam perjalanan waktu, aku merasa aku terlalu banyak membebani teman-temanku dengan berbagai curhat colongan tidak penting. Di masa kuliah, aku dikelilingin sahabat yang super plegma (hai kalian!) sampai-sampai aku merasa hidupku paling ajaib dibandingkan dengan mereka yang memiliki kehidupan super tenang. Aku merasa egois karena kisah hidup aku begitu terbuka, sedangkan kisah hidup mereka tersimpan dengan rapi. Ternyata kemudian ada urusan "kebiasaan" disitu. Aku terbiasa bercerita dan tidak begitu suka ditanya-tanya tentang kehidupan aku (apalagi yang mau ditanya ya? hehehehe), sedangkan sebagian dari mereka lebih baik ditanya tentang apa yang terjadi dan tidak biasa begitu saja bercerita ini itu seperti aku.

Aku musti akui, bahwa terkadang tanpa disengaja ada kelompok-kelompok pertemanan dalam hidup aku. Teman-teman tertentu untuk berbicara tentang hal-hal tertentu. Sebagai orang yang terlalu banyak keinginan (dan lupakan sejenak apakah kemampuanku bisa mengimbangi sejuta keinginanku), aku punya banyak minat yang akhirnya mempertemukan aku dengan berbagai orang dengan minat beragam. Tidak sedikit menjadi teman. Dalam kadar yang berbeda-beda, mereka semua adalah teman-teman yang mengisi hari-hariku dengan cara yang istimewa.


***


Tapi itulah pertemanan. Hubungan yang sampai pada titik dimana satu sama lain bisa saling mengerti, begitu saja. Tidak ada hitung-hitungan dalam pertemanan. Tidak ada ketakutan untuk terbuka dalam banyak hal. Tapi bukan berarti, pertemanan itu tidak tanpa usaha. Menurut aku, berteman membutuhkan cinta yang juga terus menerus dipupuk. Menurut aku, berteman membutuhkan pengertian yang harus terus dibangun. Menurut aku, berteman membutuhkan hati dan tangan yang terbuka untuk mereka yang kita kasihi.

Bukan seberapa banyak daftar nama di telepon, bukan seberapa sering kamu bertemu dan berkomunikasi dengan teman-temanmu (walaupun itu penting). Satu hal yang terpenting dalam pertemanan buat aku adalah hati, dan itu tidak melihat usia.






13.8.08

Obat Pahit Pengobat Luka

Pada dasarnya aku ini ceroboh dan suka asal, tidak heran kalau sering sekali luka. Tetapi sebetulnya, sudah sekian tahun ini aku mencoba super berhati-hati supaya tidak mudah terluka, tapi apa daya, tetap saja terluka.

Beberapa waktu lalu, aku kembali terluka. Padahal luka sebelumnya belum lagi kering, sedang gatal-gatalnya ingin digaruk. Eala, tetap saja, di lokasi yang sama, aku kembali terluka. Mungkin karena sudah berkali-kali, aku tidak terlalu kaget, tetapi sakitnya tetap luar biasa. Bahkan mungkin lebih sakit dari yang dulu-dulu, maklum di tempat yang sama, bo, dan mugkin lebih sakit karena aku kesal bahwa aku sudah membiarkan diriku terluka dengan mudahnya.

Kali ini, aku tidak mau membiarkan luka itu mengering dengan sendirinya. Aku takut, kalau dibiarkan terluka akan ada infeksi. Biasalah, kalau di luar sana kan banyak kuman pengganggu.

Kali ini, aku mengambil berbagai upaya untuk menjamin luka itu tidak kena infeksi, dan bahwa luka itu akan lebih cepat mengering. Bekasnya pasti ada, mau diapain lagi. Tidak apa-apa, biar jadi pengingat terhadap kebodohan diri.

Obat ini sakit luar biasa, setiap hari aku harus menahan diri menahan sakit. Konsentrasi di tempat kerja sulit dilakukan, tetapi aku yakin kalau luka sudah sembuh, aku bisa berkonsentrasi seperti biasa.

Penyebab luka sebaiknya dilupakan, mau ditabok juga sudah susah, sudah bawaan orok katanya.

7.8.08

20:40 - 20:50 Sepuluh Menit Saja

Angka di ujung kanan menunjukkan pukul 20:40. Ini berarti sudah 13 jam aku berada di kantor ini. Kalau dihitung dari jam keluar rumah, aku sudah keluar rumah lebih dari 15 jam, diawali dengan membakar kalori yang bertumpukan dari proses perbaikan gizi setelah pulang dari berlibur (informasi tidak penting: selama perjalanan aku memang makan banyak, tapi booo, jalan kaki merupakan menu utama selama berlibur!).

Ritme kerja sudah kembali normal, setelah selama dua hari pertama aku lebih banyak disibukan dengan menerima dan menyerap informasi dari kiri dan kanan. Sekaligus, adaptasi dengan ruang baru yang lebih sunyi ini. Kemarin, sebagian besar kegiatan melambat karena akses internet yang mogok bekerja.

Angka di ujung kanan sudah bergerak ke 20:44. Empat menit aku habiskan untuk menulis dua paragraf.

Seharusnya, aku membaca beberapa attachments yang dikirimkan dari para kolega. Seharusnya, aku mereview beberapa proposal yang sudah dibuat. Seharusnya, aku mempersiapkan materi-materi untuk pertemuan-pertemuan besok dan minggu depan. Seharusnya aku membereskan beberapa hal yang ternyata belum berhasil dilakukan sewaktu aku berlibur. Seharusnya, aku menghabiskan waktu bukan di halaman blogspot.

Tapi ternyata, otakku sudah menolak untuk bekerja sama. Aku tahu berapa panjang "to do list" yang ada di depan mata, tapi aku tidak sanggup bahkan untuk mengintip daftar tersebut. Barangkali, memang ada batas waktu dimana tingkat konsentrasi nge-drop ke titik terendah, tidak perduli seberapa ingin kita bisa berkonsentrasi.

Duh, membayangkan besok terpaksa harus memulai hari dengan terlebih dulu memikirkan apa yang seharusnya bisa aku lakukan malam ini terasa menyebalkan. Ini berarti, besok aku tidak bisa langsung tancap gas, tapi harus "manasin mobil" dulu, biar semua lancar. Ah sudahlah, mesin sudah ngebul, mari tutup warung, sekarang sudah 20:50.

4.8.08

Sedikit Kabar Setelah Kabur

Seminggu menghilang, bersembunyi dari keramaian. Terlalu cepat. Cerita-cerita akan segera menyusul. Negara-negara tetangga ternyata menawarkan banyak hal dan berhasil bikin semangat berkantor kembali naik! Foto yang bertumpukan harus segera dibereskan. Cerita yang tersimpan akan segera ditulis.





Ps: foto diambil oleh salah satu dari kami, dan di pemberhentian terakhir kelompok ini jadi berjumlah 8 orang!

22.7.08

Kembali Ke 25

Kalau ada mesin waktu, dan aku bisa kembali ke masa lalu, aku mengalami kesulitan untuk memilih ke umur berapa. Ada banyak umur yang ingin aku kunjungi ulang. Banyak sekali. Kalau memang harus betul-betul memilih, aku pergi ke umur 25 saja deh!

Angka yang bagus, bukan? 25

Aku awali bersama sahabat-sahabat dari berbagai negara, dan justru jauh dari keluarga. Aku membuka hari itu di sebuah kamar di lantai 7, diselingi oleh berbagai telepon jarak jauh, sambil berbagi cerita dan doa untuk mebuka hari itu dengan seorang sahabat terbaik, Pawel. Ketika aku kembali ke kamarku, ternyata teman-teman sudah menghias kamarku sedemikian rupa dan memberi berbagai kejutan. Aku menutup hari pertama di umur 25 tahun itu dengan sebuah makan malam kecil di rumah sendiri, dengan nasi kuning lengkap untuk para sahabat. Pesta besar baru dilakukan di akhir pekan, bersama dengan lebih banyak teman, menghabiskan waktu semalam suntuk untuk bersenang-senang.

Tentu saja, angka 25 menjadi berarti bukan karena perayaan hari ulang tahun, tetapi karena berbagai hal yang terjadi yang membawa perubahan besar dalam hidup aku.

Untuk pertama kali, aku hidup jauh dari keluarga. Untuk pertama kali, aku memiliki lingkungan pertemanan yang begitu beragam. Untuk pertama kali, aku dihadapi oleh kebebasan yang nyaris mutlak tetapi sekaligus membuat aku lebih menghargai makna tanggung jawab. Untuk pertama kali, aku merasa menjadi perempuan yang yakin dan sangat memanfaatkan (!) semua hal baik (dan, ehm, buruk) yang ada di dalam diriku.

Empat musim. Tinggal sendiri. Pesta rutin. Bacardi Breezer. Wine. Dudok. Sepeda tidak henti. Mencinta kereta api. Long coat. Sepatu boot tinggi. Stocking. Taman. Museum. Eropa. Van Googh. Ciuman lembut. Ciuman berhasrat. Kohanye. Po Polska. Tram. Albert Heijn. Erasmus. Tulip. Patat. Richard Meier. Rem Koolhas. Koningindag. Lantai 10. Lantai 7. Basement.

Kepingan hati yang tertinggal dan barangkali memang sengaja ditinggal disana. Sebuah tempat dimana aku menghabiskan hampir semua hari di usia itu, di angka 25.

Kamu sendiri, ingin kembali ke umur berapa? Dita, Kiki, Dinda, Inka dan Hera, aku ingin tahu jawaban kalian, nih!

ps: Din, makasih buat paksaannya ya. Seru kok seru!

21.7.08

Sahabat Terhebat

Ternyata, teman-teman akan selalu menjadi bagian penting dalam hidup aku. Tidak mungkin aku bisa selamat melewati tiga minggu terakhir ini tanpa mereka. Kegilaan di tempat kerja, berbagai "mission impossible" yang harus dilakukan, tanggung jawab yang bertambah-tambah ditambah berbagai drama kecil dan besar yang mewarnai tiga minggu terakhirku menjadi bisa aku lewati karena mereka.

Kali ini, aku punya teman-teman gila di tempat kerja. Orang-orang baru yang mengisi meja-meja yang selama ini kosong melompong. Kantor lama dengan judul yang lama, tetapi sebetulnya ini adalah sesuatu yang baru, dengan tim yang baru. Menyenangkan rasanya mendengar berbagai celetukan dari kiri dan kanan, punya rekan kerja untuk berbagi kerja. Memang masih masa masa bulan madu, tapi mudah-mudahan tim ini memang tahan uji dan tahan banting.

Di luar jam kerja, ada orang-orang gila lain yang siap sedia menampung 1001 curhat colongan gak penting. Bertemu larut malam. Ditemani makanan Jepang, wine, dan gosip seputar dunia pertemanan, kerja dan tentu saja dunia blog yang tampak bertambah aneh (ya, terlalu banyak ratu drama di luar sana, dan terlalu banyak orang yang masih terkaget-kaget dengan kekuatan blog, dan terlalu banyak orang yang terlalu serius menghadapi semuanya).

Beberapa sahabat terbaikku hanya bisa aku kontak melalui dunia maya. Email, YM dan sms menjadi alat paling manjur. Itupun, tidak selalu bisa dilakukan dengan mudah. Aku, lebih sering baru bisa menarik napas dan berada di belakang meja setelah sore, dengan setumpuk tugas yang menanti untuk diselesaikan. Mereka adalah sahabat yang sudah teruji oleh waktu.

Adik-adikku juga menjadi sahabat yang luar biasa. Tabah menghadapi emosi yang naik turun. Sabar menemani aku. Setia mengingatkan ini dan itu. Mereka bukan cuman adik, tapi juga sahabat terbaikku, seperti juga seorang abang yang bukan sekedar abang, tetapi juga sahabat yang selalu siap menjadi pasang ketika aku surut dan menjadi surut ketika aku pasang.

Tulisan mengenai sahabat adalah salah satu yang paling banyak mewarnai blog ini. Tetapi memang, tanpa mereka, sulit rasanya melewati banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Karena mereka, aku merasa punya kekuatan lebih untuk menghadapi hari demi hari. Bisa jadi, ini "basi" banget buat banyak orang, tapi mau gimana lagi, aku merasa perlu untuk bilang pada mereka semua, betapa aku berbahagia dan bersyukur bisa menjadi sahabat mereka (itu termasuk kamu yang tetap mau meninggalkan pesan disini, padahal aku belum sempat merespon komentar-komentar kamu).

Ada satu sahabat yang paling setia, tidak pernah gagal dan selalu menepati janji. DIA, sahabat yang selalu bisa aku jadikan tempat curhat kapanpun aku perlu, selalu bisa memberi kekuatan di saat aku begitu lemah. Menemani aku di malam-malam di kamar hotel yang sepi, mengajak aku berdiskusi di tengah penerbangan yang kadang kurang bersahabat, dan juga membisiku aku bahwa DIA selalu ada ketika aku merasa sudah tidak mungkin menyelesaikan apa yang ada di depan mata. SAHABAT SETIA, terimakasih ya!

Kamu sendiri, siapa sahabat setiamu?

2.7.08

Gelap Menjadi Terang

Untuk menakut-nakuti adik bontot, aku dan adik-adik lain sering memantikan lampu kamar mandi. Tujuan utama, jelas membuat takut si bontot. Biasanya, dia nanti berteriak-teriak marah, dan kami kakak-kakaknya kabur sambil tertawa-tawa. Jahat ya (Maaf ya, Di, kan sekarang kami semua selalu ada buat kamu). Kejailan ini jelas tidak berlaku buat anak kecil yang justru terbiasa gelap-gelapan.

Beberapa orang, memilih mematikan lampu selagi tidur. Alasan mereka, kamar yang gelap menjadikan mereka mudah tidur. Aku sebagai orang yang doyan tidur, lampu nyala atau mati tidak memberi pengaruh, deh. Kalau memungkinkan, aku memilih mematikan lampu waktu tidur, tetapi dengan jendela yang tidak tertutup. Enak banget tuh pas bangun, langsung bisa melihat sinar matahari.

Barangkali, pada dasarnya aku ini penakut ya, tidak terlalu suka ruangan gelap, walaupun untuk kamar tidur, aku juga tidak suka lampu yang terlalu terang.

Ah, suka atau tidak suka ruang gelap tidak terlalu masalah, selama bukan karena urusan byar-pet listrik yang asik mati-hidup. Gak penting banget ya, cerita soal kamar gelap dan tidak gelap. Tapi gak apa-apa deh, daripada sibuk mikirin suka atau tidak suka jadi kekasih gelap, bukan?


25.6.08

Mata Melihat, Akal Memaknai

Apa yang ada di depan mata, bisa jadi bukan merupakan gambaran sebenarnya tentang sesuatu yang sedang terjadi.

Seperti kacamata kuda, kita melihat yang di depan mata, tetapi yang ada di sisi kiri dan kanan bisa terlewatkan. Seperti kungfu panda, ketika Po sang panda mau mengintip pemilihan kungfu dragon, di sebuah lubang bulat di tembok benteng, Po tidak bisa melihat terlalu luas dari lubang yang terbatas itu. Seperti ketika menelepon dengan telepon yang memiliki kamera di atas layar monitor ditambah jaringan 3G yang kuat, kita bisa melihat muka orang yang kita ajak ngobrol, tapi tidak bisa melihat situasi di sekitar orang tersebut, kecuali memang diperlihatkan oleh orang tersebut.

Semua tergantung kepada pencitraan yang disodorkan di depan mata, dan besar wilayah intip yang diberikan untuk melihat pencitraan itu.

Melihat berbagai kegiatan aksi dan kemarahan yang bikin kesal dalam konteks yang lebih besar untuk bisa memahami penyebab kegiatan itu bisa jadi terlupakan. Hanya rasa kesal yang tertinggal. Dan itu, memang sangat menyebalkan.

Mundur selangkah untuk melihat lebih jelas. Atau paksakan leher untuk bergerak lebih jauh dan menengok ke sudut kiri dan kanan. Ada apa sih disana?

17.6.08

Kampung Eropa di Gorontalo

Demam piala Eropa memang sedang merajalela. Teman tidurku semakin sulit ditemui, karena baru pulang pagi-pagi buta, dan beberapa kali bahkan tidak pulang. Menyebalkan sekali. Televisi, koran dan radio memuat hasil-hasil pertandingan. Silahkan sebut deh, berbagai kegiatan yang jadi ada gara-gara si piala Eropa ini, pasti sederet panjang!

Pertandingan sepak bola bisa mengilhami orang untuk lebih rajin bermain sepak bola, jadi komentator dadakan atau setidaknya berbelanja kaos serupa dengan tim favorit. Akan tetapi di Gorontalo, ada cara lain untuk menunjukkan kesetiaan mereka pada tim kesayangan.

Bendera negara tim kesayangan adalah jawabannya.

Iya, di sepanjang jalan, berbagai bendera dari negara-negara Eropa berkibar. Berbagai ukuran. Ada yang sekedar ukuran kecil sebesar handuk ukuran kecil yang pas dipakai melilit pinggang kebawah, tapi ada juga bendera ukuran super besar, yang bisa dipakai untuk menutup kasur ukuran double bed!


Pemandangan yang bisa membuat orang lupa, bahwa ini ada di Gorontalo, di Indonesia yang punya bendera dengan warna merah dan putih. Lupa, karena sejauh mata memandang ada berbagai macam bendera, tetapi bukan bendera merah putih. Memang ada warna merah dan putih, tetapi bersanding dengan warna biru, bahkan ada warna kuning, hitam dan hijau dengan berbagai kombinasinya.

Di bawah bendera besar berwarna merah putih dan biru ini, melaju sebuah kendaraan dinas. Perkampungan ini memang terletak di jalur utama menuju kawasan kantor pemerintah Propinsi Gorontalo. Meriah sekali.

Aku bertanya kepada Bang Eman, supir kendaraan yang aku pakai,"Bang, bendera apa yang Abang pasang?" Sebetulnya, aku tidak yakin dia memasang bendera tertentu, tetapi ternyata dia menjawab dengan bangga,"Portugal". Hayah! Menurutnya, itu selalu terjadi bukan saja pada saat Piala Eropa, tetapi juga pada saat Piala Dunia yang lalu.

Aku tidak tahu, apakah ini juga terjadi di tempat-tempat lain di Indonesia. Aku juga tidak tahu, apakah mereka memasang bendera hanya untuk pertandingan bola atau untuk semua pertandingan olah raga. Aku bertanya-tanya, apakah mereka memasang bendera merah putih pada saat Thomas dan Uber Cup diperebutkan. Aku curiga tidak ada, karena menurut informasi pemasangan bendera untuk perayaan hari kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus itu sulit sekali, tidak banyak yang memasang bendera merah putih. Tetapi, ketika musim Piala Eropa datang, mereka tidak segan untuk menyisihkan uang demi bendera negara tim kesayangan.

Barangkali bendera itu nanti bisa dipakai sebagai sprei tempat tidur?

2.6.08

Antiphonal Dangdut

Pernah denger antiphonal dangdut? Tidak? Sama dong. Aku juga baru pertama kali mendengar kata-kata itu. Apakah ini demonstrasi anti lagu dangdut? Atau ini sebuah antibodi terhadap lagu-lagu dangdut?

Arti dari kata-kata itu bisa ditemukan di Bandung, 7 Juni 2008 ini. Bukan dalam seminar atau workshop super penting yang bikin kening berlipat-lipat. Cukup duduk tenang, mendengarkan alunan musik yang buat aku sih bikin bahagia deh.

Silahkan ke ITB Choir in Concert dengan konduktor Indra Listiyanto. Konser dilakukan di Aula Barat ITB Bandung, tanggal 7 Juni 2008 pukul 19.30 WIB.



Tapi jangan ajak aku, harus pergi menyeberang laut lagi. Aku hanya bisa berkhayal, seandainya aku berada di foto itu, ikut bernyanyi dan akan dengan senang hati memberi tahu apa sih antiphonal dangdut.

ps: silahkan intip website itbchoir


26.5.08

BBM: Bodoh Bikin Miskin? No Way!

Dalam sebuah pertemuan, seorang pemandu acara bicara soal rencana menumbuhkan middle class society. Semua orang yang hadir di sana, diajak untuk menanamkan semangat bahwa setiap orang di ruangan itu adalah "Potential leader" yang "Never quit, move on, brighter future, its mine". Semua harus menyatakan dengan suara tegas kalimat itu dengan gerakan dan antusias tinggi. Tidak sulit, karena sebagian besar peserta memang bersemangat mengikuti itu semua. Sebagian besar, kecuali aku.

Aku malah merasa sangat gelisah di ruangan itu. Ada yang tidak tepat ketika ada pembagian mengenai 4 hal penting yang harus dimiliki oleh pemimpin berpontesi ini yaitu, kecerdasan, kreativitas, intuisi dan kemampuan komunikasi. Aku tidak hendak mengatakan keempat hal itu tidak penting, justru aku sepakat bahwa itu dibutuhkan untuk bisa melakukan banyak hal. Tanpa itu semua, seseorang bisa berada di satu titik, tidak bergerak kemana-mana.

Kegelisahanku muncul karena kegiatan terlebih dulu dibuka dengan masalah kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM yang sedang menghangat.

Beragam reaksi terhadap rencana pemerintah ini muncul dalam berbagai bentuk. Sebagian khawatir dan menolak kenaikan BBM. Tentu saja, kenaikan BBM akan memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan itu berarti pengurasan dompet, bahkan pengurangan kualitas hidup bagi sebagian besar orang di negara ini. Aku tahu ada berbagai upaya individu dilakukan dalam mengantisipasi kenaikan BBM. Ada yang memutuskan memberhentikan baby sitter, ada yang mulai membawa bekal makan siang dari rumah dan ada yang mengganti kendaraan dengan membeli kendaraan yang lebih hemat bahan bakar.

Semua itu adalah keputusan individu yang memang masih bisa dilakukan untuk menghadapi kenaikan harga BBM, tapi perlu melakukan penyesuaian di sana-sini untuk tetap bisa hidup. Bayangkan, membeli mobil baru yang lebih hemat bahan bakar butuh uang yang tidak sedikit, dan itu sudah merupakan kemewahan tersendiri yang tidak dipunya oleh sebagian besar orang, katakanlah buruh pabrik dengan gaji pas upah minimun, petani tanpa tanah yang sibuk memikirkan pembayaran utang, atau guru honorer di pedalaman yang tengah menunggu rapel gaji yang sepertinya terhambat di tengah jalan. Ini yang ada di benakku ketika kata "kenaikan BBM" muncul. Aku akan terpengaruh dan harus melakukan penyesuaian, tapi aku masih bisa bertahan. Di luar sana, ada yang terpengaruh lebih parah tetapi tidak akan mampu melakukan penyesuaian apapun.

Dengan bayangan itu di benakku, sulit melihat bahwa "Kita tidak perlu kuatir akan kenaikan BBM" dan "Kita harus cerdas, kreatif, punya intuisi dan kemampuan komunikasi" untuk mengatasi itu. Seakan-akan, karena tidak cerdas, tidak kreatif, tidak punya intuisi dan tidak punya kemampuan komunikasi orang menjadi takut harga BBM naik.

Pernyataan ini tepat untuk mereka yang barangkali memutuskan membeli apartemen di tengah kota Jakarta dan melepas rumah di pinggiran Jakarta untuk mengurangi penggunaan BBM. Cara ini tepat bagi orang yang masih mampu bertahan, punya uang sisa dari pendapatan, dan waktu untuk memikirkan berbagai hal yang dapat menciptakan pendapatan tambahan, dan syukur-syukur menciptakan lapangan kerja tambahan.

Oh, butuh lebih dari sekadar upaya individu untuk bertahan dari semakin mahalnya biaya hidup. Butuh lebih dari sekadar cerdas, kreatif, intuitif dan komunikatif untuk betul-betul bisa membantu bangsa, untuk bisa melakukan apa yang dikatakan sebagai "To impact the cities and to influence the nations".

Lihat kasus busway Pondok Indah, kasus pemblokiran berbagai situs seperti myspace dan sejenis yang membuat banyak orang hingar bingar. Padahal itu semua bukan masalah hidup dan mati. Coba saja, kasus naiknya harga BBM, informasi demo diperlukan, supaya bisa menghindari jalan-jalan yang dilalui para demonstran, dan bukan untuk sama-sama sepakat mengiyakan keinginan para demonstran (aku juga ngacung, nih!)

Aku tersadar, pandangan bahwa orang miskin menjadi miskin karena bodoh dan malas memang sudah menguat. Iya, kemalasan dan kebodohan bisa membuat orang menjadi miskin, tetapi lebih banyak lagi orang menjadi miskin karena sistem yang ada membuat mereka kesulitan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan itu.

Aku baru tahu ada istilah memanfaatkan orang ala orang miskin. Dikatakan orang miskin punya kebiasaan untuk "Dapat uang hari ini dan berpikir bagaimana menghabiskan uang hari ini", dan ini adalah cara pikir yang harus dihindari. "Orang pintar harus berpikir uang hari ini harus diinvestasi bagaimana?" Aku tidak bisa berkata-kata lagi.

Ketika kegiatan dilakukan untuk kelas menengah sebagai upaya untuk membentuk kelas menengah yang bisa punya dampak bagi kota dan negara, rasanya terlalu naif jika itu bisa dilakukan semata-mata oleh kegiatan individu semata, walaupun itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan tambahan. Upaya individu memang harus tetap dilakukan dan bukan berarti tidak bisa berdampak, tetapi kelas menengah harus mau melihat bahwa ada orang yang untuk bisa bertahanpun butuh bantuan dan itu bukan karena mereka bodoh dan malas tapi ada masalah sistem yang harus diperbaiki bersama-sama. Kesepahaman terhadap masalah dasar ini dan kesepakatan untuk mau menggalang kekuatan untuk menyelesaikan masalah ini menjadi sangat penting.

Jadilah cerdas, kreatif, intuitif yang disertai kemampuan komunikasi yang baik untuk menyelesaikan masalah-masalah di luar masalah individu!

Tulisan ini dibuat dan dimuat juga di Media Bersama. Mampir ya.

23.5.08

Ruang Goler di Kantor

Sirik rasanya pada para perokok yang bisa punya alasan untuk keluar ruangan atau keluar gedung untuk bisa menghirup nikotin itu. Terutama di gedung yang memberi ruangan khusus bagi pecandu nikotin itu. Jangan salah, aku tidak betul-betul sirik bahwa dengan kotak yang sering tidak manusiawi dalam luas terbatas yang berisi asap-asap dari rokok-rokok itu. Aku hanya sirik kepada keberadaan alasan untuk keluar meja, dan keberadaan ruangan khusus walaupun minimalis.

Aku mendambakan bisa bilang, maaf aku mau ke ruang tidur/ baca/ sofa di depan sana. Kepala mumet, pengen baca buku sambil goler-goleran sebentar saja barang 10 menit. Kalau aku punya kantor sendiri, tidak cukup ada ruangan perpustakaan, tapi harus ada ruangan dengan sofa super enak lengkap dengan berbagai majalan terbaru dan mesin pembuat berbagai minuman.

Hmmm, bukan ide bagus, karena aku bisa berakhir ketiduran dan tidak bekerja ya. Sudahlah lebih baik hari Sabtu bangun lebih pagi, membaca berbagai majalah atau buku sambil bermalas-malasan di ranjang kesayangan. Berharap ada yang mengantar secangkir kopi hitam panas, pekat dan pahit. Syukur-syukur dengan peluk dan kecup.

Stop!

Kembali bekerja, tinggal sebentar lagi kok dan untuk kamu semua... SELAMAT AKHIR PEKAN!

Janji akan Ingatan

Thinking back when we first met
I remember what You said,

You said You never leave me


Sebuah janji bisa menjadi kekuatan, untuk melangkah, untuk melakukan banyak hal.Disisi lain, sebuah janji bisa membuat sesuatu hancur, ketika janji itu tidak bisa lagi dipegang dan ditepati. Demikian juga dengan ingatan. Kenangan yang ada bisa menjadi kekuatan untuk melangkah tetapi juga bisa membunuh langkah yang baru mau dilakukan.

Semua terletak pada janji dan ingatan itu sendiri. Gombal adalah janji berlebihan yang keluar dengan mudah tetapi sulit terwujud sedangkan selalu teringat-ingat akan kenangan di belakang membuat orang terperangkap.

Aku percaya, janji itu akan selalu ditepati, karena dia bukan tukang gombal. Perjalanan hidupku adalah bukti perwujudan janji-janjinya. Kenangan yang dibelakang tidak pernah aku hapus, bukan karena aku berkubang di kenangan, karena itu selalu menjadi kekuatan untuk maju dan menanti janji. Kenangan indah yang bukan sekedar lucu-lucuan untuk diingat dan disimpan bukan untuk terus menerus menahan.

Ingatan membuat aku percaya janjiNya akan selalu ditepati.


And I'm not gonna rest,
until
You choose me and use me.

- home, brian mcknight-

22.5.08

Tidak Penting Sama Sekali

Untuk segala sesuatu ada waktunya, dan itu berarti ada waktu untuk menulis berbagai hal tidak penting yang tiba-tiba melintas di tengah rasa ngantuk di kantor.

* Baru sadar bahwa aku tidak punya bra warna kulit atau coklat kecuali korset untuk kebaya. Soalnya aku tidak suka daleman dengan warna coklat. Aku punya warna hitam, putih, broken white, merah, biru dan ungu. Urutan warna disesuaikan dengan tingkat rasa suka. Sekarang terpaksa harus berburu, supaya bisa pakai baju baru itu dan gak "nemplak".

* Kalau bersalah, orang cenderung melakukan hal yang berlebihan dan malah membuat kesalahan jadi semakin tampak. Ini termasuk, berlebihan dalam memberi perhatian. Baru ketemu harus sun pipi atau tiba-tiba kirim sms penuh perhatian sembari menikam dari belakang.

* Hari gini, sulit menghapus apa yang sudah tertulis, terutama di dunia maya. Ada berbagai cara yang memastikan bahwa semua akan selalu terekam. Ya, menyesal kemudian tidak berguna, jauh lebih baik untuk senantiasa berhati-hati.

* Termasuk berhati-hati untuk berpikir bahwa apa yang kamu lakukan tidak diketahui oleh siapapun. Mari bergabung menjadi kelompok lima sekawan sembari jalan-jalan dengan sepeda membawa limun jahe dan irisan roti berburu para narsis di luar sana.

* Minum kopi dan makan bersama dengan orang yang tinggal di luar kota atau di luar negara tempat kita tinggal lebih mungkin terjadi ketimbang melakukan hal itu dengan orang yang tinggal satu kota dan bahkan berada pada satu bangunan.

* Menghabiskan uang banyak lebih mudah dilakukan lewat beberapa kali transaksi belanja barang-barang tidak penting ketimbang satu kali transaksi senilai sama untuk barang yang penting



Mari kita pulang, sudah tiga menit menjelang jam 5. Rekor bisa pulang teng go, nih.

17.5.08

Ketetapan Waktu dan Masa

Sering sesuatu terjadi tanpa pernah kita pahami penyebab dan alasannya. Beberapa memilih memikirkan ulang seribu satu kali untuk mencari penyebab dan alasan. Beberapa memilih pasrah untuk menerima itu. Tidak sedikit yang berjuang keras untuk mengulang atau melupakan hal itu. Tergantung kepada apa yang terjadi dalam perjalanan hidup ini.

Sering sesuatu terjadi tanpa harus dipertanyakan walaupun keinginan mempertanyakan begitu kuat. Terutama karena sebuah keyakinan bahwa DIA punya rencana terbaik dan tidak pernah kedua terbaik serta selalu mempersiapkan amunisi yang tepat untuk setiap keadaan.

Aku tidak akan lagi bertanya kenapa tetapi aku tidak akan berhenti mengucapkan doa.

Saat ini mereka harus melepas buah cinta itu, yang sudah langsung Engkau panggil duluan, tetapi jangan biarkan mereka melepas cinta diantara mereka. Biarlah cinta itu terus ada dan semakin kuat tanpa perlu dipertanyakan. Karena keyakinan dan kasih menjadi sumber kekuatan mereka menghadapi kemarin, hari ini dan hari di depan.


Kalian berdua, peluk erat ya! Seperti kamu bilang, she's gorgeous.



14.5.08

Pembenaran Si Pemalas

Salah satu hal yang paling menyenangkan dari pekerjaan-pekerjaanku selama ini adalah bagian bepergian ke luar Jakarta, atau bahkan lebih sering lagi ke luar Pulau Jawa. Perjalanan ini seperti udara segar yang datang di saat aku sudah mulai kehabisan nafas dan mau meledak karena rasa bosan. Biarpun sudah beberapa kali mengunjungi tempat-tempat itu, aku tetap semangat loh.

Nah, untuk urusan yang satu ini, bagian paling tidak menyenangkan justru datang setelah perjalanan berakhir!

Urusan boarding pass, kuitansi pembayaran ini dan itu, plus sejumlah dokumen yang harus diberikan setelah sampai di Jakarta hanya sebagian kecil dari bagian yang sering bikin pusing kepala. Satu hal yang paling terasa adalah mailbox yang penuh membludak! Aku sebetulnya masih bisa cek email dalam perjalanan-perjalanan itu, tapi dengan koneksi yang seperti siput dan sangat tidak bisa diandalkan, aku hanya membuka email-email tertentu. Walhasil, sebagian besar email masih belum terbaca dan (terpaksa) masih disimpan di dalam mailbox. Tidak heran, pekerjaan pertama yang aku lakukan setelah menyalakan komputer adalah mendownload seluruh email. Senin kemarin, ada hampir 20MB email yang aku terima! Aku tidak sempat membaca seluruh email, hanya email yang masuk pada folder tertentu yang aku paksakan untuk dibaca.

Hari pertama kembali ke kantor tidak bisa dihabiskan hanya dengan membaca email, bukan? Daftar telepon yang harus dibuat sudah menunggu, janji pertemuan sudah dibuat. Apa mau dikata, semua menuntut perhatian yang sama, setelah hampir seminggu tidak ada di kantor.

Jadi, sebetulnya aku baru bisa memulai pekerjaan itu di hari kedua, itu pun sore-sore, karena pagi harinya dihabiskan untuk membalas email-email yang masuk, termasuk yang personal (kalau tidak begitu, aku bakal dikemplang sahabat-sahabat tersayang dong ah).

Aku mah tidak berminat membanggakan email yang masuk sebegitu besar atau banyak, justru sebagian besar yang masuk itu ternyata email sampah. Menyebalkan sekali! Sisanya email pekerjaan yang tentu saja selalu menyertakan file-file berukuran lumayan besar. Email personal sendiri tidak terlalu banyak, tapi membalas email personal -seperti biasa- memakan waktu lebih banyak daripada email pekerjaan. Lebih seru, sih!

Seharusnya, untuk setiap hari mission, ada satu jam cuti diberikan ya, untuk kasih kesempatan melakukan beberapa hal yang mentok tidak bisa dilakukan di lapangan. Lebih oke, untuk setiap mission, ada satu hari cuti untuk melakukan itu semua. Jadi, begitu selesai cuti, kita bisa mulai bekerja. Akan lebih oke, kalau ada mesin khusus yang menyimpan seluruh dokumen yang dibutuhkan sebagai laporan perjalanan (aku sudah kehilangan dua kuitansi, nih, padahal sudah aku simpan baek-baek loh).

Tapi, tunggu dulu. Aku kembali dari Gorontalo hari Sabtu, berarti ada Sabtu siang-sore dan sepanjang hari Minggu untuk beristirahat dan menulis hasil perjalanan ke lapangan. Hmmm, kalau semua baru selesai tadi siang, astaga, berarti aku memang pemalas berat. Hihihihihihi. Betul-betul terasa seperti ingin meninggalkan semua tumpukan di depan meja dan kabur ke lapangan lagi. Yuukk.


1.5.08

Para Profesional

Sekian tahun, aku bekerja secara mandiri dan terlepas dari jam kantor. Aku bekerja untuk masa waktu tertentu untuk pemberi kerja yang berbeda-beda. Freelance. Part-time. Independent Consultant. Apapun namanya itu.

Selama satu setengah tahun terakhir, aku bekerja secara ekslusif untuk satu lembaga tertentu. Aku harus datang 8 jam sehari, 5 hari seminggu, tidak jarang lebih dari 8 jam dalam sehari, sesekali lebih dari 5 hari dalam seminggu.

Pekerjaan yang aku lakukan beranekaragam. Pekerjaan utama sesuai dengan latar belakang pendidikan aku. Aku katakan utama, karena itu adalah embel-embel yang lebih sering aku berikan ketika ditanya “pekerjaanmu apa sih?”. Seorang sarjana lanjutan dengan bekal pendidikan ilmu aplikatif yang membuat aku lebih banyak berhubungan dengan pemerintah. Pekerjaan lain yang aku lakukan sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan utamaku. Melakukan berbagai sampingan – begitu orang biasanya membahasakan – yang tidak jarang mengambil komitmen waktu yang lebih banyak dari pekerjaan utama.

Mesti diakui, pekerjaan yang aku lakukan sering dianggap pekerjaan menyenangkan oleh orang-orang di sekitarku. Ketika masih bekerja mandiri, sebagian teman cemburu dengan keleluasaan aku mengatur waktu – terutama waktu berlibur. Setelah aku memilih menjadi pekerja kantoran – yang berarti tidak ada lagi keleluasaan itu – aku tetap dianggap beruntung bisa bekerja di lembaga yang cukup baik, melakukan pekerjaan yang aku suka dan memperoleh imbalan yang sepadan.

Imbalan yang sepadan itu adalah uang yang diterima secara rutin sebagai biaya waktu, tenaga dan pikiran. Sepadan itu sangat relatif, tetapi –menurut aku- memiliki makna apa yang diterima, sesuai dengan apa yang diberikan. Ya, aku merasa cukup beruntung untuk imbalan itu. Aku tidak sekedar melihat ke nominal yang diberikan, tetapi terkadang lebih dari itu. Maklum, ada imbalan yang bisa membuat orang membelalak mata, bukan karena begitu besar, tetapi karena –menurut mereka- begitu kecil.

Imbalan, upah, gaji atau honor. Sesuatu yang sering menjadi tujuan utama seseorang bekerja.

Ya, upah yang aku terima lebih baik dari banyak orang dan masih bisa menabung sedikit dari situ. Menabung bukan karena sekedar ada sisa, tetapi menabung sebagai upaya berjaga-jaga pada saat transfer bulanan itu berhenti.

Berhenti berarti tidak ada lagi uang, karena aku tidak lagi bekerja. Jangan berpikir bahwa aku memutuskan berhenti bekerja hanya karena aku ingin berhenti bekerja, atau karena alasan lain yang datang dari diriku sendiri, tetapi berhenti bekerja karena memang pekerjaan itu tidak ada lagi, karena berbagai alasan dan biasanya melibatkan pihak ketiga.

Ini potret lain dari pekerjaan yang sering dilihat sebagai pekerjaan idaman, menjadi profesional dengan gaya hidup yang sering terlihat glamour. Aku pun dulu membayangkan betapa indahnya bisa bekerja bagi diri sendiri seperti itu. Naomi Klein, penulis buku No Logo pun menuliskan “I admit to being lured by the sirens of free agency myself ”.



*
Free Agent Nation. Sebuah istilah yang muncul dari apa yang disebut Tom Peter – pakar management itu – sebagai Brand Called You. Menurut logika ini, kalau mau sukses di ekonomi baru ini, kita semua harus terinkoporasi ke dalam merek kita sendiri itu “Brand Called You” atau apa yang aku terjemahkan secara bebas sebagai “Merek Diri Sendiri”. Seseorang bernama “Daniel H. Pink berkata semakin banyaknya pekerja seperti aku, entah itu sebagai temporer dan kontrakan, dan juga pekerja independen yang bekerja untuk diri sendiri merupakan bukti kedatangan “Free Agent Nation” lagi lagi akan aku terjemahkan bebas sebagai Bangsa Agen yang Bebas. Pink sendiri berhenti dari pekerjaan bergensi di White House sebagai penulis pidato Al Gore, menulis buku dengan judul di atas dan melakukan perjalanan untuk mencari penganut “agen yang bebas” tadi .

Bukan hanya Naomi Klein yang tertarik, aku pun demikian. Aku bisa bangun siang, bekerja dengan pakai kaos rombeng-tapi-nyaman dan celana pendek, bisa bekerja dimana pun dan bahkan bisa memutuskan untuk tidak bekerja dan memilih berlibur jika aku menginginkannya. Aku memutuskan mencicil laptop dan kemudian menjadi aksesoris wajib yang senantiasa aku bawa kemana-mana. Gayalah!

Pekerjaan menulis, sesuatu yang paling sering aku lakukan dalam sebagian besar pekerjaanku, memang dapat dilakukan dimanapun. Kecanggihan telekomunikasi dan dunia internet memungkinkan itu terjadi.

Sayangnya, tidak semua pekerjaan bisa dilakukan seperti itu.

Bayangkan, jika pekerjaan membuat laptop yang aku bawa-bawa ini dilakukan secara “freelance”. Ah, itu tidak mungkin. Bayangkan, jika sawah bisa diurus via dunia virtual. Saat ini, itu sama dengan mimpi. Bayangkan, berbagai pekerjaan yang memang tidak bisa dilakukan dengan cara nyaman super gaya yang aku lakukan. Tidak semua jenis pekerjaan dapat dilakukan dengan cara itu, bukan?

Menjadi pekerja bebas itu tidak selalu seindah yang dibayangkan. Laptop adalah satu hal yang menguras tabunganku. Investasi, menurut teman-teman. Harus aku lakukan, karena pihak yang mempekerjakan aku tidak akan menyediakan apapun untuk aku, bahkan tidak ada meja dan kursi untuk aku duduk dan bekerja. Pemberi pekerjaan hanya tahu bahwa aku harus menyelesaikan tugas tersebut. Tentang bagaimana cara aku menyelesaikan, apakah aku memiliki seluruh sumber daya yang dibutuhkan, apakah aku sehat atau sakit, dan berapa ongkos untuk transportasi dan komunikasi bukan urusan mereka. Upah yang diberikan adalah satu-satunya kewajiban pemberi pekerjaan, tidak lebih. Itu pun, tidak sedikit yang berusaha mangkir.

Aku harus bertanggungjawab terhadap diriku sendiri. Aku harus selalu menjaga agar aku selalu sehat. Aku harus selalu memiliki perlengkapan dasar bekerja. Aku harus selalu siap.

Nasibku, jauh lebih baik daripada buruh yang saat ini sedang demonstrasi di berbagai belahan dunia. Aku masih punya sisa lebih dari upah yang aku terima, yang masih bisa aku tabung untuk berbagai keperluan. Aku masih memiliki gaya hidup yang –menurut sebagian besar orang- menyenangkan.

Tetapi, sungguh, kondisi aku sama sekali tidak lebih baik dilihat dari bahwa aku bekerja tanpa kepastian dan tanpa jaminan apapun dari pemberi kerja. Kondisi ini tetap terjadi bahkan ketika bekerja pada lembaga yang berjuang untuk memperbaiki kondisi hidup manusia. Aku bekerja dengan posisi yang tidak lebih baik dari para buruh.

Aku berada pada kelas dimana buruh berada, yang hanya hidup selama aku mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerjaku memperbesar kapital.

Selamat Hari Buruh!

21.4.08

Embat Jatah Orang


Heran deh, aku kok suka ya ngembat makanan adek-adekku. Maklum, kadang (kadang-kadang banget) aku malas makan, tapi, begitu melihat makanan di piring orang kok rasanya nikmat ya. Memang enak ngembat jatah adek! Aku itu tidak begitu suka mie goreng, dan Maurice lebih suka mie goreng. Sudah bisa diduga, kalau Maurice bikin mie goreng, setidaknya sepertiganya akan aku habiskan (halo teman tidurku!). Jarang sih terjadi kebalikannya. Karena aku kalau makan itu cepat sekali, jarang sempat diembat oleh adik-adikku. Entah mereka takut atau mungkin kasihan melihat aku makan cepat-cepat kayak orang kelaparan ya? Padahal, aku sih tidak masalah kalau mereka juga mengembat makananku.

Tapi biarkan kebiasaan ini hanya untuk mengembat jatah makanan adik-adikku, yang aku yakin tidak membuat mereka kelaparan. Jangan deh aku musti ngembat jatah orang, mulai dari jatah makan orang sampe jatah laki orang. Sakit rasanya.


Gambar dari gettyimages.

18.4.08

Tantangan Pekerjaan

Menurutmu, pekerjaan yang menantang itu seperti apa sih? Tentunya bukan pekerjaan yang menantang maut saja yang layak disebut menantang. Itu tuh seperti pekerjaan stuntman atau melatih binantang buas. Ehm, kok yang ada di otak aku malah pekerjaan itu ya.

Ayo, coba lihat surat lamaran, pasti banyak deh yang menulis "menyukai tantangan" di dalamnya. Terus, nanti pas diwawancara dengan sigap menjawab,"saya menyukai tantangan." Waw. Terlihat keren mengundang dan meyakinkan. Padahal, tantangan seperti apa yang akan dihadapi belum terbayang, dan tingkat kesulitan seperti apa yang akan ditemui belum dipikirkan.

Harus bangun pagi setiap hari, bisa jadi tantangan terbesar untuk bekerja. Terlalu remeh? Tidak juga, loh! Kalau kamu pengidap sulit tidur, untuk bisa bangun pagi itu pasti tantangan besar. Jadi, boleh dong bilang,"pekerjaan saya menantang, soalnya saya harus bangun pagi setiap hari." Tidak usah malu, tidak usah takut. Sah saja untuk bilang seperti itu, tokh?

Bagaimana dengan pekerjaan yang *katanya* tidak ada tantangan. Tinggal datang ke kantor, salam kiri kanan, duduk, nyalain komputer, bikin kopi, kembali ke meja, main facebook sampai sore (ehm, kalo main puzzle di facebook itu menantang bukan ya? hihihi). (Terlihat) menggiurkan bukan? Lakukan itu 5 kali seminggu, 20 hari sebulan dan entah berapa hari deh dalam setahun. Hmmmm, kalau aku dijamin bosan setengah hidup *senyum sajalah*.

Sialnya, tantangan itu kadang-kadang memang bikin berdarah-darah. Dalam artian sesungguhnya, atau kiasan. Waktu tantangan lagi ada di depan mata, bohong besar deh kalau aku bilang aku tidak takut dan menikmatinya. Sumpah, menyeramkan dan bikin deg-degan. Kesadaran bahwa ini adalah tantangan semata dan bukan berarti dunia sudah berakhir yang membuat aku lebih tenang menghadapi tantangan itu. Tenang, tapi bukan berarti tanpa caci maki dan sumpah serapah, sih.

Bekerja menghadapi tantangan, membuat aku belajar untuk bekerja dengan berpikir dua sampai tiga langkah ke depan. Berpikir lebih tenang, berani mengambil keputusan dengan segala resikonya. Itu tantangannya. Harus berani mengambil resiko, tetapi bukan asal kena resiko ya. Bertemu tantangan, harus punya strategi. Resiko selalu ada!

Nah, kamu sendiri, apakah pekerjaanmu menantang?

11.4.08

Hujan Emas Hujan Batu

Kenapa sih, kalau orang Indonesia tinggal di luar sebentar, begitu balik musti shock gila-gilaan (maksudnya shock yang ditampilkan gila-gilaan ya)? Musti panik dengan makanan kotor, musti heboh dengan cuaca tidak bersahabat, musti kaget dengan kenyataan masih ada penyakit cacingan dan segala macam omelan dan keluhan lain. Seakan-akan tidak ada lagi hal baik yang terjadi disini!

Kalau begitu, kenapa juga masih balik ke Indonesia? Tidak ada duit? Beasiswa sudah selesai? Tidak punya pekerjaan? Ya sudah, jangan protes dong. Kalau memang tidak tahan untuk tinggal di Indonesia, silahkan tinggal di tempat lain. Usaha dong kalau memang ingin mendapat tempat yang katanya lebih baik dari disini itu. Jangan sekedar bilang,"inginnya sih gitu, tapi susah".

Sama saja, yang baru tinggal sekejap di luar Indonesia bisa kemudian menghina-dina berbagai kebiasaan disini. Kalau di Indonesia, yang kayak gini gak ada, loh. Kalau di Indonesia, mana mungkin kita bisa seperti ini. Tapi tokh, ternyata tetap kembali-kembali juga kan ke Indonesia, dan tetap kangen-kangen Indonesia juga.

Aku tidak bilang tinggal disini itu sempurna, tetapi setiap tempat dimanapun itu pasti ada kekurangan dan kelebihan. Sayangnya, hanya sedikit orang yang bisa melakukan omelan-omelan seperti itu dengan lebih bijak dan bisa dinikmati bersama (omelannya). D, adalah salah satu dari sedikit orang itu. Kekesalan dia tidak membuat aku jengkel, dan tidak membuat aku berpikir D itu belagu. Jauh, deh. Aku bisa merasakan keprihatinan dia.

Iya, disini banyak kuman penyakit, disini macet terus, disini matahari bikin gosong. Tapi tahu tidak, matahari itu menyenangkan sekali. Cobalah tinggal di negara yang sinar matahari palingan hanya sekitar 50 hari dalam setahun, dijamin anda akan sangat menghargai sinar itu. Pakai jaket tebal yang berat itu betul-betul tidak enak (disini jaket itu kan lebih sering dipake untuk gaya). Disini selalu macet, tapi banyak tukang jajanan menemani kemacetan (argumen yang lemah sekali, ya). Coba bayangkan 1001 macam makanan super enak yang hanya bisa didapatkan di Indonesia dengan harga bersahabat. Pilihan yang sedikit membuat aku pernah berkata bahwa Soto Warung Mini di sebuah kota sekian ribu kilometer dari Jakarta adalah soto paling nikmat sedunia. Kuman di makanan yang biasa aku temukan disini membuat perut aku lebih kuat (ini juga sebetulnya bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, but still...).

Tinggal di negara lain, atau bahkan sekedar tinggal di kota lain seharusnya bisa membuat pikiran menjadi lebih terbuka. Melihat kebiasaan yang berbeda, memahami itu dan menikmatinya seharusnya bisa menjadikan seseorang jadi lebih bersyukur terhadap berbagai perbedaan yang ada, kekurangan dan kelebihannya. Urusan ngomel, dimanapun pasti selalu ada keluhan, kok, dan memang menyenangkan. Hmm, menurutku sih, menyenangkan selama dilakukan di tempat yang tepat, dengan orang yang tepat dalam konteks yang juga tepat. Beberapa orang sebaiknya membatasi omelan di ruang pribadi sajalah.

Heran, kenapa juga masih tinggal di tempat yang selalu dicela-cela. Bodoh atau malas?




catatan lagi: fenomena ini biasa ditemukan pada orang yang hanya tinggal sekejap di luar Indonesia, atau baru tinggal sekejap. justru pada orang-orang yang tinggal cukup lama, atau terlalu sering berpindah-pindah, aku jarang menemukan kelakuan seperti ini.

Riwayat Akhir Sang Pekan

Hari Jumat! Menyenangkan sekali! Biarpun ada banyak pekerjaan dan tugas bertumpuk dan baru diomelin kiri kanan, tetap saja kalau Jumat itu terasa lebih ringan...sedikit.

Akhir pekan kalau kata orang hotel dimulai Jumat siang sampai Minggu siang. Buat aku juga sama saja. Bahkan perasaan senang sudah dimulai dari Rabu, loh! Jadi begini, kalau hari Rabu, berarti besoknya kan Kamis (ya iyalah), dan Kamis aku sudah semangat karena besoknya Jumat, hari terakhir bekerja. Jadi,buat aku suasana akhir pekan sudah resmi dimulai sejak Rabu. Begitu, deh.

Sudah lama sekali, aku membuat "setelan" mental bahwa aku tidak mau bekerja dan pusing mikir di akhir pekan. Tidak heran, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian dan masuk kantor di hari Sabtu menjadi barang tabu. Sejak Rabu (ingat siklus di atas) atau paling mentok Jumat pagi, aku sudah sibuk merancang ini itu untuk menghabiskan Jumat malam. Bisa pergi keluar bersama sahabat atau keluarga, atau sekedar "me time" yang aku manfaatkan untuk memuaskan keinginan aku seperti baca buku di rumah. Ada perasaan santai karena tidak harus bangun pagi.

Sebetulnya, ulang malam tidak hanya aku lakukan pada hari Jumat. Pulang lewat tengah malam di hari kerja saja bisa dilakukan, kok.

Sekarang sih, aku tidak terlalu ngotot tidak bekerja di hari Sabtu. Bisa jadi karena tuntutan pekerjaan sewaktu aku memilih menjadi pekerja independen. Dengan sedikit rancang ulang mental, aku mulai bisa menikmati kalau sesekali harus bekerja di akhir pekan.




Aku pikir, setiap orang perlu punya waktu akhir pekan, dan itu tidak terbatas pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Terserah deh, hari apa yang mau diniatkan menjadi hari bersenang-senang. Hari apapun yang dipilih, mudah-mudahan bisa memberi terang di hari-hari gelap. Tidak bisa tiap minggu juga tidak apa-apa, tapi harus tetap rutin.

Kamu sendiri, apa pilihan yang paling sering dilakukan di akhir pekan? Di rumah, di luar rumah yang santai bersama orang(-orang) terdekat? Keluar kota, dan barangkali berkontribusi pada kemacetan di luar sana?

psssstttt, kalau pacaran mah kan tidak selalu di akhir pekan, walaupun tetap menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu di akhir pekan.

Dari hati aku berharap apapun kondisi minggu ini atau hari ini, segelap apapun itu, akan ada titik terang dan mari kita lewati akhir pekan bersama-sama, selamat menikmati hari pekan.




9.4.08

Nazareno Kenjiro







Ingin cepat pulang, ingin lihat keponakan baru. Resmi sejak 08.04.08 (tanggal cantik?) kami kedatangan anggota baru. Nazareno Kenjiro Aprilano Silalahi. Setidaknya sampai saat ini, nama itu yang ditulis di atas kepala anak kedua adikku, Kris dan Lidya.

Tantangan terbesar kali ini adalah untuk membuat Salvatore, sang abang, untuk bisa sayang sama sang adik dan tidak cemburu pada sang adik. Di rumah sakit, Salva dengan senang mengelus dan mencium si adik kecil. Di rumah, Salva rewel dan sering mencari mama pagi-pagi buta.



Ada ide, bagaimana supaya anak sulung yang super diperhatikan, dimanja dan kesayangan semua keluarga bisa menerima dengan senang, dan tanpa cemburu bahwa sekarang dia sudah punya adik, dan bahwa ASI mama tidak lagi eksklusif untuk dia?

7.4.08

Konsisten

Menulis blog, adalah kegiatan asik-asik aja. Bisa dilakukan kalau ingat, kalau sempat, kalau ada ide, kalau ada koneksi dan kalau-kalau lainnya. Tidak ada keharusan seperti laporan kegiatan yang harus dibuat per tiga bulan, atau tidak seperti laporan pajak yang harus dibuat setiap tahun. Kalau lama tidak menulis, palingan akan ada yang bilang,"update dong". Wah, kalau ada yang komentar seperti itu musti bersyukur loh. Berarti ada yang baca blog, dan ada yang kangen dengan tulisan di blog itu.

Hanya saja, walaupun aku beri label "asik-asik aja" sayang sekali kalau media ini hanya dipakai untuk tulis menulis urusan gak penting. Tidak salah sih, tetapi kalau bisa lebih dari sekedar itu kenapa tidak?

Sekilas aku membaca tulisan-tulisanku di hari-hari pertama blog ini. Sampai urusan pergi kesana dan kesini pun pasti aku tulis. Cara penulisan sangat mirip dengan cara aku berbicara. Loncat sana, loncat sini. Menyesal? Tidak, dong. Justru aku menikmati setiap proses yang terjadi. Aku merasa blog ini betul betul "aku banget". Tulisan di sini menggambarkan aku yang juga -ternyata- berubah, walaupun ada tetap ada hal-hal yang dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.

Aku sendiri lebih sering menulis ketika emosi sedang kuat. Entah itu senang atau marah. Tidak terlalu tergantung waktu, karena tidak jarang aku semangat menulis di saat deadline pekerjaan. Biasa, mengalihkan perhatian dari kebosanan menyusun laporan. Jumlah tulisan biasanya menurun ketika aku sedang melakukan perjalanan, berpindah dari satu kota ke kota lain. Biasanya, banyak sekali ide menarik untuk ditulis, tetapi tidak pernah berhasil tertulis.

Dan akhirnya ide itu hanya menjadi tulisan angan-angan. Penyebab utama menurutku bukan karena tidak ada waktu dan bukan karena tidak ada koneksi. Penyebab utama ide hanya menjadi tulisan angan-angan adalah rasa malas. Iya, malas untuk mendisiplinkan diri untuk meluangkan waktu dan berlatih menulis. Bukan sekedar tulisan curcol (curhat colongan) asal jadi, tetapi tulisan yang bisa bercerita dengan runtut tentang apa yang ada di pikiranku, dan juga bisa dibaca dengan enak (emang makanan doang yang harus enak?).

Menulis memang mudah tetapi konsisten dalam menulis itu sulit dan lebih sulit lagi untuk tetap konsisten menulis lebih baik! Menurutku kuncinya ada di disiplin, mau terus belajar dan rendah hati menerima kritik yang seringkali bikin mangkel dan pengen nendang orang. Kunci itu ada di dalam diri sendiri, dan bukan ada di orang lain.


29.3.08

Tikus Golden Palu

Perjalanan ke Palu kali ini bukanlah perjalanan pertama. Selama setahun terakhir, aku sudah beberapa kali mengunjungi Palu. Perjalanan boleh sama, tapi tempat tinggal selama di Palu beberapa kali berganti-ganti.

Perjalanan sebelum ini, aku sempat bertemu Ei, teman kursus narasi yang sama sama datang dari Jakarta. Lucu juga. Sementara kawan-kawan kami dari Kursus Narasi Pantau sedang bertemu di Jakarta, kami berdua menghabiskan kaledo dan es kacang merah di Palu. Aku dan Ei menginap di tempat yang berbeda. Aku di sebuah hotel kecil bernama Nisfah yang berada tidak jauh dari kantor-kantor pemerintah, sedangkan Ei di Palu Golden yang terletak di ujung teluk, dekat dengan air laut.

Kali ini, aku diarahkan untuk menginap di Palu Golden. Hotel yang biasa aku tempati tidak punya kamar kosong. Kalau dilihat dari fisik dan harga kamar, Palu Golden ini berada jauh di atas Hotel Nisfah, atau hotel-hotel lain yang pernah aku tempati. Palu Golden juga lebih berumur ketimbang hotel-hotel yang biasa aku tempati. Palu Golden hotel lama, dan suasana "tua" terlihat dari pinggir jalan.

Palu Golden tampaknya sudah melewati masa keemasannya. Golden alias emas itu ada jauh sebelum aku menginap. Ini kesimpulan yang aku dapat waktu aku menginjakan kaki ke dalam hotel, bertemu petugas meja depan dan bertanya untuk sebuah kamar kosong untuk aku. Informasi yang aku dapat hotel sedang penuh dengan berbagai training dan acara KDI, tetapi ada kamar kosong kelas superior di lantai paling bawah yang langsung aku sambar.

Aku sudah melirik harga kamar dan bahkan meminta harga khusus yang tersedia. Potongan 10% diberikan. Tidak terlalu banyak membantu tapi aku setuju saja.

Untuk harga tersebut, aku memperoleh kamar yang cukup luas, dengan perabot yang mengingatkan aku pada film-film tahun delapan puluhan. Kamar dibagi jadi dua ruangan, yang pertama diisi dengan dua kursi dan meja dengan jendela besar memandang tembok di satu sisi, sedangkan kamar kedua terdiri dari dua tempat tidur, tivi dan meja rias.

Perlahan aku buka penutup tempat tidur, dan sepertinya aku harus memilih salah satu dari dua. Tempat tidur yang aku pilih ditutup seprei yang rapi, berbeda dengan kondisi tempat tidur satu lagi dengan sarung bantal yang kusut dan seprei dalam yang sama kusutnya. Hmmmm.

Aku hanya akan menghabiskan dua malam disini. Aku memilih untuk membuat kamar yang lebih luas dari kamar tidurku senyaman mungkin. Kumpulan buku yang aku bawa sangat membantu. Belum lagi barang-barang personal lain yang sudah menunggu keluar dari tas ransel hitamku. Laptop lengkap dengan modem IM2 membuat aku bisa duduk bekerja dengan tenang.

Sayang, ketenangan itu tidak lama ketika aku melihat, seekor tikus berlari bersemangat dari WC ke lemari pakaian!

Tidak ada suara apapun dari mulutku, tetapi aku lemas sekali.

Tikus itu bukan anak tikus, tapi tikus ABG. Tidak sebesar kucing (seperti di Jakarta), tapi sebesar anak kucing. Nah lo! Bayangkan dua kepalan tangan laki-laki dewasa, dan itulah ukuran tikus itu.

Protes segera aku lakukan. Bayangan binatang itu berkeliaran ketika aku tidur membuat aku gusar. Sial, tidak ada kamar kosong, dan hotel lain pun sedang penuh. Aku tinggalkan kamar dan menyerahkan urusan tikus kepada pihak hotel yang setelah satu setengah jam melaporkan bahwa tikus sudah berhasil ditangkap. Aku tidak tanya apa yang dilakukan pihak hotel ke tikus itu. Mereka hanya bilang kalau tikus muncul dari kakus.

Jadi? Apakah aku akan berani mempergunakan kakus di kamar?

Kita lihat ya. Untuk sementara aku menghindari WC dan terutama kakus, fokus saja di meja rias sambil siap-siap mau nonton DVD yang aku bawa dari Jakarta.



24.3.08

Terimakasih Untuk Paskah Ini.

Kalau di dalam kelas, dan guru sedang asik bertanya satu-satu ke setiap murid, bisa dipastikan bunyi lonceng tanda pelajaran sudah selesai itu betul-betul melegakan. Saved by the bell. Teriakan, dalam hati atau tidak, sering dikeluarkan teman-teman sekelas. Untung tu lonceng bunyi juga!

Itu masih terhitung sepele. Aku menonton Entertainment (iya, doyan) yang tengah bercerita tentang pengalaman hampir mati yang dialami selebriti-selebriti. Salah satunya adalah pengalaman lolos dari kejadian 9/11 di Amerika sana karena dia terlambat naik pesawat. Aku tidak begitu ingat keseluruhan cerita, tapi bisa merasakan kelegaannya! Aku membayangkan, kalau saja keterlambatan itu gara-gara menunggu kawan yang super lelet beberes, bisa jadi sepanjang perjalanan dia akan mengomeli kawan itu (aku setidaknya akan begitu). Apalagi waktu tahu dia betul-betul terlambat dan tidak bisa naik pesawat lagi. Ugk, bisa-bisa nyaris putus persahabatan tuh (ehm, berlebihan). Tapi, begitu sadar keterlambatan itu membuat dia tidak ikut menjadi korban 9/11 yang ada hanyalah ucapan terimakasih. Gila aja kalau tidak berterimakasih untuk itu, kan?

Untuk urusan sepele, seperti seorang teman yang mengorbankan kepingan coklat mint terakhir, aku bisa sangat berterimakasih, loh! Bayangkan kalau ada kawan yang mengorbankan nyawa. Edan itu sih. Hari gini, masih musim ya mengorbankan nyawa untuk orang lain? Apalagi kalau orang lain itu jelas salah?

Tapi DIA melakukannya. Untuk aku, untuk kamu, untuk siapa saja yang mau mempercayai itu.

Aneh dan absurd, bahwa ada yang mau mati untuk dosa yang tidak pernah dilakukan. Tidak masuk di akal, kalau DIA yang tanpa dosa harus melalui kematian. DIA memang mati dan sudah bangkit. Dia sudah menang, dan itu juga kemenangan kita.

Itulah cinta yang tidak mengharap apapun. Cinta yang tulus untuk mereka yang dikasihiNYA. Tidak mungkin aku tidak berterimakasih. Ucapan terimakasihku bahkan tidak akan pernah mampu membalas apa yang DIA lakukan di sana, di Golgota. Tapi aku tahu, DIA mengerti.

CintaNYA setia.

Untuk itu, setiap hariku dan napasku adalah bentuk terimakasih.



Selamat Paskah

18.3.08

Sore Impian

Selasa lalu, ketika badan sudah tidak lagi bersahabat, dan hasrat hanya ingin beristirahat.

Menikmati kamar di sore hari.

Ini adalah sebuah kemewahan, buat sebagian besar orang, termasuk aku. Padahal, bisa menikmat sore dengan santai adalah sumber energi untuk melakukan banyak hal. Aku menyukai sore, lengkap dengan sinar matahari yang berwarna kuning, merah dan ungu. Sayang, sore sering berlalu terlalu cepat. Suasana seperti itu berlangsung paling hanya dalam satu atau dua jam, sebelum akhirnya gelap datang.

Selain pagi hari, ini adalah waktu yang paling aku suka dalam sehari. Sore bisa dinikmati di luar ruangan, mau di tengah kota, dari lantai tertinggi di sebuah bangunan, atau sambil berjalan berkeliling kota dan tentu saja di pinggir pantai. Sore juga bisa dinikmati di dalam ruangan, sambil membaca, menghirup secangir minuman hangat lengkap dengan gorengan.

Aku tahu, sekarang ini tepat jam 12 siang di hari kerja. Sore hari di dalam kantor adalah waktu untuk bergegas menyelesaikan banyak hal yang ada dalam daftar pekerjaan. Satu kesamaan, sore selalu berjalan terlalu cepat.

Ah, aku ingin menikmati lebih banyak sore.

12.3.08

Pertunjukan Profesional

Sebuah kegiatan yang bisa berlangsung sampai 4 kali, sudah bisa menjadi bukti kegigihan, kerja keras dan profesionalitas pembuat kegiatan. Java Jazz Festival, pertama kali aku ikuti di tahun 2005. Setiap tahun, selalu lebih baik, walaupun tidak pernah sepi kritik.

Biar gampang, aku kasih maksud profesional yang aku pakai disini. Lagi-lagi berbahasa Inggris:
pro·fes·sion·al
adj.
1. a. Of, relating to, engaged in, or suitable for a profession: lawyers, doctors, and other professional people.
b. Conforming to the standards of a profession: professional behavior.
2. Engaging in a given activity as a source of livelihood or as a career: a professional writer.
3. Performed by persons receiving pay: professional football.
4. Having or showing great skill; expert: a professional repair job.

n.
1. A person following a profession, especially a learned profession.
2. One who earns a living in a given or implied occupation: hired a professional to decorate the house.
3. A skilled practitioner; an expert.
Dalam pengertian itulah, aku melihat para profesional bekerja di belakang dan depan layar Java Jazz Festival (JJF) 2008.

Bayangkan saja harus mengurus 18 panggung yang diisi oleh artis dalam dan luar negeri. Sebagai orang yang kerap berada di belakang layar untuk pertunjukan kecil, aku bisa membayangkan pekerjaan besar di balik semua ini. Tidak mudah, tapi toh bisa dilakukan.

JJF kerap memperkenalkan aku pada musisi yang tidak begitu aku kenal. Lebih tepat lagi, JJF sudah beberapa kali membuat aku menemukan cinta baru. Maliq adalah salah satu hasil JJF. Pertama kali aku lihat mereka tampil di Ruang Cendrawasih beberapa tahun lalu.

Kali ini, cinta baru aku adalah Omar Sosa. Sewaktu dia menampilkan Afrika, aku terbawa oleh emosi yang diberikan Omar Sosa. Sayang, nama tiga orang lain sulit sekali dilafalkan dan majalah Music yang jadi panduan tidak aku pegang (disitu ada nama-nama mereka). Omar, senantiasa tersenyum sambil bermain piano, sesekali melempar tawa ke teman-temannya. Energi mereka, betul-betul dahsyat. Musik yang keluar membuat pikiran aku berkelana ke rumah- home, dengan berbagai suara alam, keriangan dan juga kerinduan yang dalam. Ini yang membuat aku memilih menonton Omar dua kali, ketimbang melihat musisi lain.

Omar tampil dua kali, sebagaimana Bobby Caldwel, Manhattan Transfer, Renee Olstead, Duo Gabriel Grossi e Daniel Santiago, dan Incognito. Grup terakhir sebetulnya dijadwalkan tampil sekali, tetapi kemudian mereka menggantikan Matt Bianco yang mendadak menghilang. Aku tahu, ada pengunjung yang protes karena muka lama yang tampil kembali, atau pemain yang tampil dua kali di tahun yang sama. Aku malah senang. Sekilas menunjukkan jumlah musisi yang sedikit, tapi membuat penggemar puas. Dua kali nonton, dan tidak pernah bosan.

Incognito, Earth Wind and Fire Experience, Glenn Fredly, Bubi Chen, Ireng Maulana, Tetsuo Sakurai adalah sebagian nama yang aku lihat kembali tahun ini. Tetap selalu segar buat aku, sih! Aku bisa sedih, tertawa, senang, tersenyum dan bergoyang dengan penampilan mereka.

Kesegaran ini tidak bergantung dengan umur. Beberapa pemain senior bahkan bisa tampil sama energik. Salah satu musisi senior yang tampil adalah pemain piano Franco D'Andrea yang "jazz banget". Bermain sangat santun, murah senyum, lengkap dengan sepatu kanvas. Sudah berumur, tapi gerakan tangannya lincah sekali. Sekilas, kata Dita, mengingatkan pada musik latar Tom and Jerry. Aku merasa dibawa kesana kesini aja oleh permainannya. Penampilan dia membuat aku meminta foto bersama dan membuahkan tiket untuk melihat kembali Franco D'Andrea di Kedutaan Itali hari Senin yang lalu.

Tampaknya JJF memang banyak kerjasama dengan kedutaan asing. Kedutaan Itali membawa Franco D'Andrea dan The High Five Kuintet. Gabriel Grossi yang membuat aku melihat permainan harmonika bisa begitu dahsyat - walaupun dimainkan dengan sangat santai - datang dengan kerjasama JJF dan Kedutaan Brazil. Michiel Borstlap `Eldorado`yang pertunjukannya nyaris sepi pengunjung yang lebih memilih nonton Incognito adalah hasil kerjasama dengan Kedutaan Belanda. Ini, hanya sedikit contoh dari upaya yang dilakukan oleh JJF untuk membawa artis dari berbagai budaya untuk datang.

Rasanya, tidak akan habis cerita yang bisa ditulis tentang penampilan tiap-tiap musisi di JJF 2008.



Puncak pertunjukan bagi aku jelas James Ingram, The Manhattan Transfer dan Babyface.

James Ingram yang romantis. Nama besar yang sangat terasa di atas panggung. Ekspresif. Menyayat hati. Kalau tidak salah, dia pernah tampil di Indonesia dengan harga tiket yang juta-an. Betapa beruntungnya aku, bisa dapat dengan harga miring di JJF 2008. Siapa yang tidak kenal lagu-lagunya?

The Manhattan Transfer itu adalah mimpi yang terpendam. Kelompok yang menjadi panutan aku. Masa ABG aku dilalui bersama kelompok yang satu ini. Konon, mereka masih berlatih setiap hari. Vokal mereka adalah kekuatan mereka. Duh, kalau bisa membawakan lagu-lagu mereka itu pasti puas banget. Susah soalnya.

Babyface jelas penutup yang sempurna. Sepanjang pertunjukan dihabiskan dengan bernyanyi dan berteriak. Dia itu ternyata garing banget. Seorang pencerita yang bisa ngobrol dengan pengunjung, tentang masa kecil, kecintaan terhadap musik dan hal-hal yang menarik bagi dirinya. Dia tidak membawakan lagu dari album sendiri, tetapi lebih banyak lagu-lagu ciptaan dia yang dibawakan penyanyi lain. Dia memang pembuat hit, tidak heran pengunjung satu plenary hall hapal bener sama lagu-lagu dia. Pernah liat Babyface menirukan Michael Jacksong bilang "thank you"? Itu salah satu yang dilihat di JJF 2008. Aku yakin, semua sudah dipersiapkan dengan matang oleh Kenny Babyface Edmund, bukan sesuatu yang tiba-tiba kepikiran untuk dikatakan di atas panggung. Profesional.

Menyenangkan memang melihat hasil kerja keras yang dilakukan dengan hati. Aku menikmatinya kerja profesional mereka.

Disayangkan adalah kamera-kamera (semi) profesional yang banyak beredar di ruangan. Tidak sedikit dibawa oleh remaja tanggung yang barangkali masih SMA atau baru kuliah. Lengkap dengan lensa super panjang, tapi tanpa attitude. Blitz dimana-mana. Bukannya melihat penampilan si artis, malah sibuk membahas hasil jepretan dengan teman se-gank yang sama-sama bawa kamera. Ada rasa sirik, secara itu semua harganya tidak murah, bercampur kesal karena acara nonton agak terganggu dengan mereka yang nekad mencari spot terbaik untuk memotret, kadang tanpa memikirkan penonton lain. Ehm, jangan salah, ini bukan hanya dominasi ABG ya, ada kok non-ABG yang sama-sama payah kelakuannya. Pembawa kamera profesional yang sangat tidak profesional.

Jadi berpikir, mungkin sudah saatnya jadi pengunjung juga profesional. Tahu dan mengerti etika. Apalagi untuk festival besar yang jumlah pengunjungnya membuat susah sekali berjalan dari satu temapt ke tempat lain. Untuk aku, dimulai dengan kembali menabung untuk JJF 2009, dengar-dengar Al Jarreau, Jamiroquai dan Michael Buble ada di wish list.